BOPM Wacana

Kisah Sang Hitam dan Makian

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Mutia Aisa Rahmi

 

Makian di sana sini

Celaan datang tak henti

Dia diam tak hayati

Menyerap tangis yang tak mungkin ia turuti

 

Tawa celaan makin tak bisa ia bendung

Bak awan yang tlah gemuk karena menampung

Ia berteriak memanggil Tuhan Agung

Berharap ia hapuskan semua makian tak ada untung

 

Tuhan tak lantas kabulkan

Ia hanya renggut sedikit penghayatan

Sang hitam kini tak pedulikan

Ia terus memakan habis kebahagiaannya sendiri

 

Sang hitam tak lagi peduli makian

Sang hitam tak lagi peduli cacian

Sang hitam tak lagi peduli kucilan

Sang hitam tak lagi peduli celaan

 

Berhenti sejenak.

 

Sang hitam kelewatan

Ia tak seharusnya begitu

Ada baiknya celaan mereka

Ada baiknya cacian mereka

 

Sang hitam bisa kembali baik

Tak harus serta merta berbalik

‘Jangan langsung jadi putih, lewati abu-abu terlebih dahulu’

Dengarlah. Hadir sang hitam tak bisa diterima. Karena mereka tak suka ada hitam

 

Sayang, sang hitam tak bisa dengar

Ia tetap tak gentar

Berdiam diri tak pedulikan

Ia tetap lakukan, tak ada perubahan

Tuhan yang wujudkan hati sang hitam

Lalu, siapa lagi yang harus disesalkan?

Setelah sang Tuhan Agung yang berikan.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).