BOPM Wacana

Undangan

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Yulien Lovenny Ester Gultom

Ilustrasi: Maria Patricia Sidabutar
Ilustrasi: Maria Patricia Sidabutar

Foto Yulien

Raja Matara sibuk mondar-mandir, kepulan asap rokok dihembuskan dari bibirnya yang tebal. Seminggu lagi akan diadakan pesta untuk mencari calon mantunya. Cerita punya cerita, si putri tengah dirundung duka sebab calon suaminya mati ketika berburu satwa. Sibuk cari pengganti Raja menelepon sanak saudara. Tua-muda, miskin-kaya dihubunginya.

Orang yang dihubunginya pertama ialah Raja Hula, ia punya seorang anak laki-laki gagah dan bijaksana. Termahsyur namanya di kota Gemerlap, kota para konglomerat. Raja Matara menghubunginya penuh harap agar kelak bisa ia jadi mantunya.

Teringat puluhan tahun silam, ketika Raja Hula tengah melarat dagangannya digulung para pengerat, Raja Matara datang dengan gagahnya membawa sekantung koin emas. “Terima sajalah, bangun kembali usahamu,” ujar Raja Matara waktu itu. Raja Hula menatapnya penuh harap dan dengan asa yang ia punya ratusan kedai di kota diolah sedemikian rupa dan jadi miliknya, kini ia kembali makmur.

Mendapat undangan dari Raja Matara, Raja Hula tak berani menolak walau dalam hati bergejolak meminta untuk tidak bisa hadir karena punya perhelatan sendiri, tapi apa daya demi sebuah undangan dan budi Raja Matara, ia pun mengamininya.

Telepon kembali berdering, kini Atuk Awan mendapat giliran. Ya, ia pernah melayani Raja Matara di kediamannya sepuluh tahun silam, ia bekerja siang malam dan belakangan sering sakit-sakitan, kata datuk terserang angin malam. Tak punya tenaga maka ia diberhentikan, tapi ia punya banyak anak yang mungkin bisa membantu di pesta Raja Matara, jadi pelayan sehari semalam. “Maaf saya tak bisa datang tuan, tapi biarlah tenaga anakku jadi hadiah untuk tuan putri,” ucapnya terbata. Raja Matara tersenyum di balik teleponnya, “Terima kasih,” balasnya.

Uda Ringgit juga dapat undangan, saudagar asal tanah Menang diminta untuk datang, ia diminta untuk mengundang pemuda di desanya sebab katanya pemuda asal tanah Menang tampan rupawan dan baik perangainya. Pemuda yang terpilih bukan sembarang pemuda, ada berbagai jenisnya, mancung-pesek, mata besar-sipit, tinggi dan sedang badannya dan banyak lagi rupanya. Ia berharap ada yang sesuai dengan hati sang putri.

Di tempat lain, di bagian selatan, matahari sedang terik-teriknya, Uak Tepo sedang berladang. Anaknya Mariam memanggil, katanya ada telepon Raja Matara di rumah tetua, berlarilah Uak Tepo tergesa-gesa, kakinya masih berlumpur dan badannya bau. Ya, ia mendapat undangan untuk datang pada perhelatan tuan putri, apa daya, kerjaan di ladang masih banyak, Mariam putri semata wayangnya, masih harus bersekolah esok. Uak Tepo minta ampun pada Raja Matara, ia tak bisa hadir karena hal tadi.

Raja Matara murka undangannya ditolak. “Tak kah Uak ingat aku yang membantu proses kelahiran Mariam, tega sekali kau tak datang!,” ujarnya marah. Usai dimakinya, diperintahkannya ajudan istana untuk mengangkut alat-alat pertaniannya. “Supaya jera, dasar tak tahu balas budi!,” ujarnya.

Ratusan nomor telepon sudah diputar dan sudah ada lebih empat ratus orang diundang, semua bersedia hadir. Perasaan Raja Matara semakin menggebu, ia berharap putrinya tersenyum bahagia melihat calon lakinya.

Hari yang dinanti pun tiba. Putri bersolek, parasnya yang cantik bertambah cantik, bibirnya yang merah jambu dipulas menjadi lebih menggoda. Pakaiannya menjuntai indah, warnanya emas dan merah penuh gairah.

Gerbang mulai dibuka, ratusan tamu memasuki istana, puluhan pelayan mulai membawa makanan dan minuman, musik untuk berdansa juga diputar.

Putri duduk disinggasana dengan anggunnya. Matanya masih sendu, begitu pula hatinya. Enggan menatap pria-pria tampan yang datang sebab lukanya juga belum sembuh benar. Kemudian dilihatnya ayahnya di sebelah kursinya, diperhatikannya jenggot dan kumis yang mulai memutih, ubannya pun sangat banyak. “Ayah tak punya banyak waktu untukku,” pikir sang putri.

Putri mengingat kenangan masa kecil bersama Ayah dan Bunda, kenangan itu berseliweran dalam kepalanya. Tekad untuk memiliki suami, dianggapnya sebagai sebuah mandat yang harus ia laksanakan. Akhirnya ia pun berdiri dan mulai mencari. Dihampirinyalah pria-pria yang sedang makan, bukan bermaksud untuk menggoda, hanya ingin melihat lebih dekat calon suaminya.

Semua undangan pria yang hadir berparas tampan dan kelihatan sangat sopan dan baik, tapi tak ada satu pun yang sepertinya dikenalinya. Tapi ternyata tidak. Iban, ia melihatnya, anak Raja Hula, teman masa kecil yang sering membantunya. Aku inginkan Iban jadi suamiku, ia baik dan rupawan, “Kurasa ia cocok untuk mendampingi sisa hidupku,” harapnya.

Malam telah larut dan sang putri telah menjatuhkan pilihan pada Iban, teman masa kecil yang sering membantunya. Seminggu kemudian mereka menikah di depan gereja. Beberapa jam sebelumnya mereka berbicang di belakang.

“Apakah kau mencintaiku?” tanyanya pada Iban.

“Maaf, tuan putri, sejujurnya aku tak pernah mencintaimu, Aku melakukannya karena hutang budi ayahku kepada keluargamu,” jawab Iban.

“Kepadamu pun demikian, aku menerimamu karena hutang budimu ketika masa kecilku,” ujarnya.

“Haha, begitu pula undangan ini, aku datang masih karena hutang budi, padahal di hari yang sama, keluarga kami punya perhelatan penting,” katanya lagi.

“Maafkan sifat memaksa ayahku, hmm, jadi sudah tak benar lagikah bahwa hutang budi dibawa mati?” tanya sang putri.

“Kurasa tidak, tidak di kota ini. Apa yang kau beri itulah yang kau tuai dan apa yang tidak kau beri jangan harap kau menerimanya dan untuk pernikahan kita, kasihku kepadamu jauh lebih besar dari sekadar cinta,” pungkasnya.

Keduanya pun memutuskan untuk menikah.

Seminggu sebelumnya, Raja Matara sudah mulai memutar tombol teleponnya, mengundang orang-orang untuk menghadiri pernikahan putrinya dan memaki mereka yang tak datang karena tak tahu balas budi.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).