BOPM Wacana

Bersimpuh Cerita Dalam Senja

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Suratman

Ilustrasi: Vanisof Kristin Manalu
Ilustrasi: Vanisof Kristin Manalu

screenshot_2016-10-06-23-24-36-1

Seiring senja menghitam, lekas semi beruntut berakhir pula. Seperti langkahku yang kian jauh menapak seiring itu pula usiaku terus bertambah. Tak cukup waktu singkat tiba di sini. Aku yakin pastilah kau mengerti juga memahami. Aku sudah dewasa. Aku pun lebih tinggi darimu sekarang. Usiaku pun sudah dua puluh tahun bulan depan.

Walaupun terlampau sering kita terpaut dalam kursi yang sama, terjerat dalam jarak langkah yang lekat-lekat, bahkan terpaut dalam atap yang sama pula. Seolah tidak ada yang spesial di antara kita seperti ada jarak. Terlepas memang dirimu selalu aku abaikan. Memang buruk tapi ingatlah satu hal, pernahkah aku menolak keinginanmu? Pastilah tidak, pintamu sering aku turuti perlahan untuk memahamimu. Karenanya terpikir olehku banyak tingkahku selalu merepotkanmu. Menjadikan tidurmu tak pernah nyenyak pikiranmu pun gusar sebabku. Aku pun tidak ingat bahkan aku lupa. Kapan aku melukis senyum di wajahmu? Tapi, ya sudahlah.

Sejenak kemudian aku mendiam harus ada sedikit ritme menurutku. Tak khayal aku bersiul lidah dalam kata terus. Pastilah dia sesak mendengarnya. Sesekali kulirik tatapannya. Banyak pertanyaan yang aku lihat tapi kebisuan membungkamnya. Tatapannya begitu kosong pun tapi terlihat gumam pertanyaan.

Kubiarkan sejenak kiasan matanya. Perlahan kutarik kembali jiwanya dalam percakapan sajak tadi. Perlahan kutarik napas dan tatapannya untukku. Sedetik kemudian kulafalkan kembali frasaku. Kulihat jiwanya, tatapannya, dan napasnya pun mulai sibuk terfokus. Lekas kusimpuhkan dirinya dalam cerita.

Kian jauh jarum jam merotasi, seiring itu hari pun sudah beranjak dari peraduannya. Hampir dua puluh tahun sudah berlalu. Aku ingin mengingatkan, dia yang kau timang kini sudah tumbuh dewasa. Langkah kakinya tak perlu kau tuntun lagi sembari ia melangkah dan dia sudah mampu makan tanpa perlu suapan darimu lagi. Dia bukan lelaki kecil milikmu. Lelaki kecil milikmu sudah hilang bersama waktu. Lukanya pun tak perlu kau obati kembali. Dia bukan anak manja lagi sebab dirinya telah berubah karena pendewasan.

Tapi teringatkah kau akan satu hal? Kenangan saat senja yang telah tercipta oleh kita. Saat di mana kau bercerita telah memanipulasi dunia dan tak luput lontaran-lontaran akan aneka pertanyaan. Tentang apa yang aku impikan ketika belum terbesit olehku. Pemahaman yang belum aku mengerti sebab usia belum mumpuni. Tak banyak yang aku mengerti jadi aku hanya diam. Tapi lidahmu terus bersilat menggambar seribu cerita dalam pilihan. Apakah kau masih ingat? Pastilah kau mengingatnya.

Sekilas tatapanku teralihkan kembali olehnya dan dia hanya diam. Hanya terfokus dalam duduknya yang tersimpuh di ayaman rotan itu. Matanya terus menatap seolah ingin melafalkan kata. “Tidak,” ucapku, “dengarlah,” aku memohon. Sekali saja dengarkan aku pasti kau akan paham.

Saat itu mungkin dan pasti telah berlalu. Sekarang semua telah kumengerti bahkan jawaban dari aneka pertanyaan yang pernah terlontar olehmu sudah aku miliki. Sekarang aku mulai bicara, menjawab aneka pertanyaan yang pernah kau lontarkan dulu. Kini semua telah terjawab pilihan pun telah aku  ambil. Tak khayal jauh berbeda tak sama denganmu. Bukan seorang dokter ataupun pengusaha maupun ilmuwan, melainkan seorang pengabdi masyarakat–yang menyuarakan hak masyarakat dan yang menjunjung tinggi martabat masyarakat rendahan. Aku akan tinggal dan bergulat dalam kekumuhan.

Aku terus diam. Dia terus menatap dan aku melihatnya. Raut wajahnya kini telah berubah melukiskan rasa tidak suka.

“Tidak, tidak boleh,” sambil mengacungkan telunjuknya ke wajahku. “Jangan seperti itu. Apa kau bodoh? Lihat dirimu dan siapa sebenarnya dirimu?” tegasnya. Suaranya terdengar lantang, wajahnya memerah dan tangannya memegang kuat-kuat menunjukkan kegeraman.

“Apa kau tidak malu? Lihat siapa kami. Mereka semua menghormati kami. Tidakkah kau mengetahuinya?” Emosinya terus meluap dan aku hanya tersenyum.

“Apa kau khawatir? Sepertinya iya,” sambutku.

Tatapanmu mengisyaratkan layaknya kecemasan. Kendati tak sesuai maumu tapi jangan takut. Pahami dan mengerti. Bukan sebatas jabatan yang aku mau. Lebih dari itu.

****

Ibu, lelaki kecil yang senang dalam pelukanmu kini sudah beranjak ke dunia luar. Dia sudah mengenal dunia. Jangan gusar. Lelaki kecilmu mampu bangkit saat dia jatuh, lukanya pun bisa diobatinya sendiri. Jadi jangan khawatir.

Dunianya telah ia miliki. Dunia yang menyamankan dan mengubahnya. Lekas-lekas pahamlah. Buang jauh pikiran kolotmu karena ini zaman baru. Ini bukan zaman otoriternya Soeharto ataupun Siti Nurbaya yang keluh akan paksaan. Semua berbeda, semua bersuara dan semua punya pilihan. Tidak seperti yang dulu zaman kini sudah pudar. Bijak-bijak, Bu. Kita berbeda. Zamanmu dan pikiranmu sudah tidak berlaku. Ada cita rasa baru sekarang memang keluh di lidahmu, nikmatilah. Memang semua butuh proses.

“Tapi apa kau yakin? Aku takut nak,” wajahnya sangat memelas guratan di sudut matanya tampak tak yakin.

“Ibu, ingatlah aku sudah dewasa percayalah padaku.”

“Apakah kau memang tolol? Kuliah dan bekerjalah sesuai apa yang kami katakan. Jadilah seorang dokter ataupun ilmuwan buatlah citra yang bagus. Kau hidup dalam keluarga terhormat. Dan kau mengertikan?”

“Ibu, itu bukan keinginanku, cobalah mengerti. Aku tidak menyukainya, aku tertarik dengan masyarakat. Ingin membantu mereka turun dan langsung tanggap dalam hidup mereka. Demi keadilan, Ibu, mengertilah pasti kau akan paham.”

Aku tidak seperti si Pulan, yang suka akan sensasi kekinian hingga zaman baru menikamnya. Walau dalam zaman yang sama, kami berbeda. Aku punya cerita, punya pedoman, dan punya tuntutan. Kendati bar-bar sujud memuja Tuhan tidak terlupa dalam diriku. Lekas-lekas paham. Bijak-bijaklah. Walau lambat tapi tidak apa.

Maaf, Bu. Tidak mungkin langkahku terhenti sampai di sini. Sudah jauh, cukup jauh bahkan. Perbedaan kita terlalu jauh. Pandangan kita berbeda. Paham-pahamlah. Seperti langit yang tidak selalu sama warnanya, seperti bayi kembar yang tak luput dari perbedaan. Kita juga seperti itu.

Larut hampir sirna, Bu, hari baru hampir tiba. Mengisyaratkan aku akan pergi. Maaf untuk semuanya aku harus pergi. Kita harus berpisah. Tidak mungkin kita bersama selalu. Ada kalanya kita harus berpisah. Maaf aku harus meninggalkanmu. Aku pergi dengan ideologiku meninggalkan persepektifmu. Hanya bayang-bayang wajahmu yang bisa kuingat.

Alunan jam telah berdenting hari telah berganti. Hari ini hari baru awal dari cerita baru juga. Aku pamit dulu mengejar duniaku dahulu. Kita hanya terpisah dalam jarak ribuan kilo saja. Tetapi tetap dalam ruang dan waktu yang sama.

Sampai berjumpa di lain waktu. Jumpai Tuhanmu jika kau merindukan aku. Di sana pasti kita bertemu.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).