BOPM Wacana

Transparansi Dana Setahun USU ASRI

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Ridho Nopriansyah

Ragam aliran dana banjiri program USU ASRI. Pemanfaatannya tak asal-asalan dengan hitungan rumit. Alhasil, rektorat enggan untuk merinci pendanaan.

Pecah | Paving block yang rusak di trotoar Jalan Universitas Pintu 1 USU, Minggu (14/4). Renovasi trotoar ini menghabiskan dana dengan HPS mencapai 1.9 miliar. | Andika Syahputra
Pecah | Paving block yang rusak di trotoar Jalan Universitas Pintu 1 USU, Minggu (14/4). Renovasi trotoar ini menghabiskan dana dengan HPS mencapai 1.9 miliar. | Andika Syahputra

Pagi itu sekitarpukul 08.00 WIB Prof Moenaf Regar, seorang dosensenior, keluar dari kediamannya di Jalan Dr Hamzah nomor 8 komplek perumahan dosen menuju Fakultas Ekonomi (FE). Kala itu ia memilih berjalan kaki lewati trotoar Pintu 3, Biro Pusat Administrasi (BPA), Fakultas Teknik (FT), perpustakaan, hingga tiba di lantai dua FE.

Prof Moenaf menyempatkan berhenti di gedung Arsitektur FT senilai Rp 7 miliar yang baru saja diresmikan pada 13 April 2013 bersama empat gedung lain, tersebar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Fakultas Psikologi (FPsi), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dengan total biaya Rp 36,6 miliar. Keningnya berkerut, ia bergumam, “Gedung ini sudah salah.”

Menurut Direktur Proyek Bantuan Asian DevelopmentBank yang konsen menata USU rentang tahun 80­-an ini, seharusnya pembangunan gedung perkuliahan minimal empat lantai bukan dua lantai. “Saya yakin  USU punya dana,” tambahnya.

Walau dapat gedung baru, Pembantu Dekan (PD) II FPsi, Lili Garliah menyesalkan pemeliharaan gedung yang tidak memenuhi kebutuhan fakultas. Yang dilakukan hanya sekadar pengecatan eksterior bangunan saja. “USU ASRI cuma kasih cat eksterior, interiornya enggak ada,” terangnya. Selain itu, gipsum di gedung FPsi diganti oleh USU ASRI yang sebenarnya tidak rusak. “Yang enggak rusak,kayak gipsum, malah diganti, mubazir,” tambah Lili.

Seluruh fakultas memang menerima jatah USU ASRI. Paling dasar perawatan fisik bangunan gedung mendapat jatah diatas Rp 100 juta. Mulai Fakultas Pertanian, Fakultas Hukum, hingga Fakultas Kedokteran. Namun pihak fakultas mengaku tidak tahu tentang pembangunan di kampusnya. Terlebih dana yang digelontorkan. Fakultas hanya dilibatkan ketika mengusul apa yang akan dibangun. Rosmiani, PD II FISIP berkata pihaknya merasa terbantu dengan gedung baru 18 ruangan senilai Rp 7 miliar. Namun ia enggan berkomentar jauh terkait pelibatan fakultas. “Saya bukan insinyur sipil, jadi kata-kata saya tidak bisa dijadikan alasan,” ungkapnya.

Fakultas seolah kompak untuk diam dan memberikan jawaban normatif perihal USU ASRI. Misalnya PD II Fakultas Farmasi Suryanto, malah enggan berkomentar soal dana USU ASRI di fakultasnya. “No comment-lah soal itu (USU ASRI  -red) silakan tanya saja ke universitas,” pungkas Suryanto.

***

Bangunan itu berdiri melintang di Jalan Universitas (Pintu 1) dan Jalan Tri Dharma (Pintu 4) USU. Badan bangunan berwarna dasar hijau muda dan garis hijau tua yang ditempatkan pada sisi­-sisi tiang berjumlah sebelas memberikan kesan etnik. Entah mengadaptasi budaya Melayu atau Batak. Di sisi kiri dan kanan bangunan sejajar tiang utama ada anak bangunan yang menjulang lebih tinggi seperti menara kecil dengan dua bola lampu yang tak menyala. Yang dimaksud adalah gerbang Pintu 1 dan Pintu 4 USU yang telah alami pemeliharaan tahun lalu dengan biaya lebih dari Rp 236 juta.

Memasuki Pintu 1, sepanjang kanan­-kiri Jalan Universitas terdapat trotoar khusus pejalan kaki dengan paving block berwarna seperti beton. Paving block tersebut direnovasi pada 2012 dengan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) mencapai Rp 1,9 miliar. Kemudian di Jalan Sivitas Akademika (Pintu 2) dan Jalan Almamater (Pintu 3) juga terdapat penggantian paving block yang juga diberi cat pewarna berpola sejajar dengan HPS Rp 912,7 juta.

Bedanya, jika di Pintu 1,paving block dipasang pada kedua sisi trotoar, di Pintu 2 hanya pada sisi kanan dan Pintu 3 pada sisi sebelah saja. Pintu 4 tidak dapat jatah perbaikan pada paving block. HPS adalah harga barang dan jasa yang dikalkulasikan berdasarkan taksiran biaya. Nilai total HPS terbuka dan tidak rahasia. Harga HPS memang belum menjadi harga final. Tetapi total biaya akhir tidak akan jauh berbeda dengan dana pagu tersebut. Contohnya, HPS gerbang Pintu 1 dan Pintu 4 senilai Rp 243,6 juta dan total dana akhir yang dikeluarkan tidak jauh berbeda, sekitar Rp 236 juta.

Siang itu, Kamis (18/4) Pembantu Rektor (PR) II Prof Armansyah Ginting duduk di lobi kantornya. Sembari senyum ia memberikan penjelasan terkait dana yang digelontorkan. Sebut saja pemeliharaan Pintu 1 dan Pintu 4 yang menelan biaya lebih Rp 236 juta.

Prof Armansyah menegaskan, USU ASRI telah melakukan perencanaan matang terlebih dahulu. Mencocokkan apa yang dibutuhkan baik oleh fakultas maupun universitas, kemudian menyesuaikannya dengan dana yang ada. Ia membantah apabila USU ASRI mengambil alih hak fakultas. “Pilih mana, satu fakultas saya bangun, atau merata seluruh fakultas,” tukas Prof Armansyah.

Tahun 2012, USU ASRI siapkan anggaran Rp 50 miliar dan Rp 70 miliar di tahun 2013. Dana tersebut berdasarkan penuturan Kepala Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Suhardi diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), dan dana hibah dari pihak luar.

Harga material pemeliharaan Pintu 1 serta semua pembangunan USU ASRI diklaim mengacu pada Harga Satuan Upah dan Pembangunan Provinsi Sumatera Utara yang selalu diperbarui melalui Surat Keputusan Gubernur Sumatera utara (Sumut). Dalam draf acuan diatur detil standarisasi harga mulai dari paku, semen, cat, kayu, harga satuan tanah per meter persegi, biaya tukang, mandor, hingga jasa konsultan yang kemudian dirincikan sampai ke jenis dan ukuran yang dipakai.

Dengan landasan itu pulalah, menurut Prof Armansyah mengapa biaya pem bangunan lima gedung baru di FKM, FIB, FT, FISIP, dan FPsi menyentuh angka Rp 36,6 miliar. Berdalih kepada SK Gubernur tadi, pembangunan satu meter persegi telan biaya hingga Rp 7 juta dengan luas bangunan seribu meter persegi. USU ASRI pakai material terbaik untuk mendapat kualitas yang baik, sehingga biaya yang dikeluarkan juga besar.

Hal ini pula yang kemudian mendasari pemilihan bahan seperti cat yang dipakai untuk seluruh unit USU ASRI seperti Pintu 1 dan Pintu 4, pemeliharaan dan pembangunan gedung baru, trotoar, tulisan penanda halte bus lintas USU dan pavingblock yang dibangun menggunakan merek cat pabrikan asal Norwegia seharga Rp 250 ribu per liter. “Cat ini tahan tiga sampai empat tahun,” tegas Prof Armansyah.

Alasan penggantianpaving block karena model baru memiliki faktor daya tahan yang lebih tinggi. Faktor yang dimaksud adalah kekerasan beton (K) dengan tipe K250 yang artinya mampu menahan beban hingga 250 kilogram per meter persegi. Hal ini diklaim lebih baik dibanding paving block berwarna merah sebelumnya yang jauh rapuh sebab memiliki harga K di bawah 250.

Cerita berlanjut ke topik drainase di lingkungan USU. Pertama, pekerjaan peningkatan kualitas drainase menelan biaya HPS Rp 912.7 juta. Kedua, pemeliharaan drainase memakan Rp 1,8 miliar untuk HPS. Titik yang diperbaiki adalah goronggorong, pengerukan, perbaikan aliran air. Total dana HPS lebih dari Rp 2,7 miliar ini digelontorkan demi menghindari banjir yang kerap melanda USU. Prof Armansyah menjamin sendiri kalau USU tidak akan banjir lagi. “Potong kuping saya ini, kalau USU masih banjir,” jamin Prof Armansyah.

***

Ketika diminta merinci dana satu atau dua program USU ASRI yang telah selesai pembangunannya, Prof Armansyah menolak. Hal tersebut dinilai tak layak jadi konsumsi mahasiswa. “Kamu tanya siapa yang menang berapa tawarannya, itu enggak akan kami kasih tahu, kalem aja,” tegas Prof Armansyah.

Ia menegaskan semua yang dilakukan sudah sesuai prosedur. Laporan keuangan serta pertanggungjawaban masing-­masing proyek telah diaudit baik oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), hingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “USU mendapat predikat tertinggi, WTP (Wajar Tanpa Pengecualian -red),” tambah Prof Armansyah.

Lebih lanjut Prof Armansyah bilang rincian HPS itu bersifat rahasia. Jika mahasiswa diberitahu, maka akan menyebabkan kegaduhan. Ia menuturkan pihaknya sengaja mengkondisikan keadaan seperti ini agar pembangunan tetap berlangsung. “Sudah pasti enggak bakal kami kasih tahu, karena itu berpotensi membuat keributan. Bisa geger nanti semua,” lanjut Prof Armansyah.

Lebih lanjut ia menantang, “kalau ada penyelewengan, silakan kita buktikan, saya siap diperiksa,” tegas Prof Armansyah.

Kepala Jurusan Departemen Teknik Sipil Prof Johannes Tarigan juga mengkritisi soal transparansi dana USU ASRI, walau mendapat status WTP, tapi hal tersebut tetap dapat diperiksa dan perlu diketahui rinciannya. Seperti dikutip dari portal berita antaranews.com Kamis, 1 tahun lalu, Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hasan Bisri mengatakan predikat opini WTP yang diberikan KPK kepada pihak-­pihak yang diauditnya belum tentu menggambarkan satu instansi bebas korupsi. Ia menjelaskan, kewajaran dalam suatu laporan keuangan tergantung dari kesepakatan target program dan kriteria yang telah ditentukan bersama.

Satu suara, Kepala Tim Pelaksana USU ASRI, Devin Defriza Harisdani juga sependapat. Ia bilang, walau laporan keuangan USU ASRI mendapat grade WTP, namun apabila banyak intervensi dari pihak luar yang ingin bermain kotor, maka proses pengerjaan USU ASRI ke depan bisa terbengkalai dan lari dari tenggat waktu yang telah diproyeksikan. “Jadinya kita bakal ngurusinmereka (pihak luar -red) aja nanti, pekerjaan kita bisa terganggu,” ungkap Devin, Jumat (19/4).

***

Prof Johannes mengatakan standarisasi pembangunan yang baik adalah pembangunan yang memenuhi kriteria visibilitystudy. Meliputi perencanaan matang yang berbasis kepada tujuan dan manfaatnya bagi manusia dan alam, desain, pengadaan material, konstruksi, hingga akhirnya pengoperasian bangunan. Untuk USU ASRI, Prof Johannes tidak dapat menentukan bagus atau tidak. Ia bilang pemeliharaan gerbang Pintu 1 dan Pintu 4 misalnya, walau menelan biaya yang besar, harusnya bangunan tersebut maintenance free atau bebas biaya pemeliharaan berkala.

Jika menggunakan cat memang akan bertahan tiga sampai empat tahun, lewat waktu tersebut maka habis pula nilai guna barang sehingga akan keluar lagi biaya yang minimal sama dan berpotensi lebih mahal. Jika pakai prinsip maintenancefree contohnya menggunakan batu alam, memang lebih mahal biaya di awal, tapi biaya akhir lebih murah karena usianya lebih tahan lama dan bebas biaya perawatan berkala. “Pembangunan itu jangan setengah-setengah, dipikirkan efesiensinya. Harus tahu mana prioritasnya,” tambah Prof Johannes.

Hal ini sepertinya tergambarkan dengan kondisipaving block di Pintu 1 tepat di bawah plang penunjuk bekas tempat penukaran kartu keluar masuk USU, terdapatpaving block yang lepas. Lagi, rekahan sepanjang lebih 2 meter juga tampak di depan Kantor Pos USU. Beton pinggiran trotoar retak akibatnya satu baris lebih lepas. Belum lagi cat yang menggunakan salah satu cat terbaik juga terkelupas di trotoar Pintu 1 atau sepanjang Jalan Alumni. “Yang dulu masih bagus, kok diganti. Terkesan boros, sia­-sia,” tutur Prof Johannes lebih lanjut.

Prof Johannes akui pada dasarnya USU ASRI ini baik. Ia contohkan perbaikan trotoar dan Bus Lintas USUyang mampu memangkas waktu tempuh antarfakultas. Namun, ia lebih setuju kalau dana USU ASRI untuk pengadaan laboratorium, ketimbang trotoar. Selain itu, fasiltas vital seperti kamar mandi dan air bersih seharusnya juga lebih diperhatikan. “Saya sering harus keluar kampus untuk urusan kamar mandi saja,” tegas Prof Johannes.

Koordinator Liputan: Ridho Nopriansyah
Reporter: Andika Syahputra, Fredick Broven E Ginting, Sofiri Ananda, dan Ridho
Nopriansyah

Laporan ini dimuat dalam Tabloid SUARA USU Edisi 93 yang terbit Mei 2013.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).