BOPM Wacana

Secangkir Teh Manis

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Yayu Yohana

“Neng ambil teh manis dimeja dulu ya sebelum pergi kuliah.”

“Aduh pak, jangan ganggu! Neng lagi sibuk nih ada tugas yang belum selesai,” jawabku ketus.

Ia tak menjawab apa-apa, lelaki tua itu hanya memandangiku mengerjakan tugas kuliahku.

Aku tak peduli dengan lelaki tua yang duduk di teras di atas kursi kayu kesayangannya.

Sejak ibu meninggal, akulah yang harus masak, menyuci, hingga menyediakan teh manis setiap paginya.

Jam dinding tua yang hanya ada satu di rumahku tepat di depan ruang tamu menunjukkan pukul 07.35, artinya aku punya waktu 25 menit lagi untuk menerobos macetnya kota medan dengan angkot warna merah itu.

Aku pergi tanpa pamitan kepada si bapak , pagi itu hujan deras dan aku sangat takut jikalau dosen kiler itu masuk ke ruang kuliah sebelum aku.

Entah mengapa dalam perjalanan menuju kampus hatiku tak tenang, debar tak tahu apa maksud firasat. Mungkinkah karena saking takutnya terlambat dan tugasku belum selesai? Hatiku sendiri bertanya-tanya.

Hingga tiba-tiba aku teringat dengan bapak yang belum aku sediain sarapan atau sekadar meyuguhkan segelas teh hangat pagi ini. Perasaan bersalah pun muncul, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah saja.

Bapak hanya mengandalkan tongkat untuk berjalan karena satu kakinya harus diamputasi akibat tertimpa broti besar saat bekerja di sebuah bangunan.

Tubuhnya yang mulai renta menyebabkan penyakit datang silih berganti, dan membuat tubuhnya semakin kurus tak kekar seperti dulu. Bapak orang yang hebat, mampu menguliahkanku dengan uang tabungan yang selama ini disimpannya. Jurusan Farmasi menjadi jurusan pilihanku, dan karena dukungan bapak aku bisa mendapat beasiswa selama 2 tahun kuliah.

Akhirnya aku bisa pulang juga, jam menunjukkan pukul tiga sore. Aku sengaja membelikan bapak sebungkus soto karena pagi tadi aku tidak menyediakan sarapan untuknya. Bergegas aku pulang ke rumah takut jika soto kesukaan si bapak bakal dingin.

Setibanya di rumah aku melihat bapak tersenyum damai kepadaku. Tak seperti biasa, kini ia lebih bersih menggunakan pakaian koko putih, dengan sarung cokelat kesayangannya.

Hatiku tenang, perasaan bersalahku hilang. Aku duduk di lantai sambil meminta maaf karena tidak memedulikannya pagi tadi.

“Sudah neng, jangan sedih. Bapak minta maaf ya udah nyusahin neng selama ini.”

Mukanya terlihat begitu sedih, tangan kasarnya yang hitam legam itu mengelus lembut rambutku. Aku mencium tangannya, dan ada rasa haru yang tak pernah aku rasakan.

Tiba-tiba aku teringat dengan sebungkus soto itu. “Sebentar ya pak, neng ambil mangkok dulu, kita makan soto sama-sama. Bapak mau neng buatin teh manis juga?”

“Tadi pagi bapak buatin neng teh manis biar hangat, tapi neng sibuk sekali sepertinya.”

Ternyata bapak buatin aku teh? Aku pikir bapak yang ganggu minta dibuatin pagi tadi, pikirku dalam hati.

Sesampai di dapur aku melihat teh manis buatan bapak sudah dikelilingi puluhan semut hitam. Aku mengambil mangkok dan menyeduh segelas teh hangat buat bapak.

Tiba-tiba…

Suara sirine ambulan terdengar perlahan hingga akhirnya semakin deras bunyinya terdengar dekat rumahku. Hingga entah mengapa ambulan itu berhenti tepat di teras rumahku. Mungkin saja tetangga sebelah melahirkan pikirku. Tetapi tidak, sekerumun tetangga yang aku kenal berbondong-bondong masuk ke rumahku.

“Ada apa ya bapak-bapak, ibu-ibu?”

Mereka seakan menyembunyikan sesuatu kepadaku. Hingga aku berlari keluar melihat bapak takut kalau terjadi apa-apa. Aku semakin kaget saat petugas rumah sakit membawa seorang jenazah berlapisi kain kafan itu masuk ke rumahku tanpa izin.

“Jenazah siapa ini Pak?” aku berani bertanya. Hingga ada tetangga yang kukenal baik memelukku dalam-dalam sambil menangis. Aku belum mengerti apa maksudnya.

Aku pun nekat melihat siapa yang ada dibalik kafan putih itu.

Seperti tak percaya, seakan petir menyambarku di siang bolong. Bapak, seseorang yang ada di dalam kafan itu. “Tidak mungkiiiiiin,” aku berteriak histeris.

“Sabar nak, ikhlaskan kepergiannya, doakan dia agar….

“Diaaaam, ini tidak mungkin , saya baru saja duduk di depan bu bersama bapak.” Aku memotong ucapannya. Seluruh orang yang hadir memandang iba padaku.

Aku berlari ke serambi rumah tempat aku duduk bersama bapak tadi, kakiku bergetar hebat, seluruh sendiku linu, ternyata bapak tak ada disana. Lalu tadi siapa?

Aku masuk kedalam sambil tertatih memberanikan melihat jenazah itu. Berulang kali aku melihatnya tetap sama, lelaki berbungkus kafan itu adalah bapakku.

Pandangan tiba-tiba menjadi gelap gulita hingga akhirnya aku terbangun di samping lelaki yang sangat kucintai dengan dikelilingi orang yang sedang melayat. Aku sangat tidak kuat, rasanya ingin mati saja jika ini adalah kenyataan. Tapi inilah kenyataannya, bapak meninggal di teras rumah karena serangan jantung, begitulah kata tetanggaku.

Setelah beberapa kali pingsan aku mencoba untu tegar, seengaknya terakhir kali melihat jenazah beliau. Aku punya waktu beberapa jam untuk memeluknya sebelum ia dikebumikan.

Pertemuan tadi sore ternyata pertemuan terakhirku, terakhir kali aku mencium tangannya, dan terakhir kali ia mengelus rambutku

Sore itu bapak hadir dengan wajah yang ceria,bersih, dan damai. Sepertinya ia tenang dialam sana dan teh manis buatan bapak yang tak sempat ku minum itu adalah hadiah terakhir untukku.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).