BOPM Wacana

Dia Punya Rahasia

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Aulia Adam

Dia punya rahasia. Namanya Rahasia. Maksudku, pacarku yang bernama Rahasia punya rahasia.

Sebenarnya tak heran kalau seseorang punya rahasia. Toh semua orang punya rahasia. Pun aku juga punya rahasia. Jadi tak apa kalau Rahasia punya rahasia.

Tapi yang membuatku kesal adalah dia tak ingin aku tahu rahasianya. Padahal aku tak punya rahasia yang kusembunyikan darinya. Semua rahasia yang kumiliki sudah kubagi dengannya. Bahkan sesuatu yang kurencanakan akan jadi rahasiaku kuberitahukan terlebih dahulu pada Rahasia.

Sebenarnya dia juga melakukan hal yang sama. Banyak rahasianya yang ia bagikan padaku. Katanya, suatu waktu, sudah semua. Tak ada yang ia rahasiakan lagi.

Rasanya menyenangkan mengetahui rahasia pasanganmu. Hal tersebut membuatmu merasa dipercaya. Merasa istimewa dan diistimewakan oleh pasanganmu. Meski kadang yang ia anggap rahasia adalah hal sederhana yang tak kau sangka. Seperti punya tahi lalat besar di tengkuk kepalanya.

Intinya, tak penting apa yang dirahasiakan pasanganmu darimu. Karena meskipun ia punya rahasia kalau dia sebenarnya adalah makhluk gaib yang dikutuk Tuhan dari neraka sekalipun, kau akan tetap mencintainya selamanya. Berulang-ulang kali jatuh hati saat melihat matanya yang tengah memandangmu. Atau meleleh-leleh saat melihat senyum paling indah yang hanya dimilikinya. Itu semua karena kau telah jatuh cinta padanya. Telah memilih untuk menghabiskan seluruh eksistensi hidupmu bersamanya.

Karena tak ada hal indah lain di dunia ini selain hidup bersamanya. Karena tak ada lagi yang kau inginkan selain bersamanya. Jadi rahasia apa pun yang ia punya, sadar atau tidak disadarinya sudah kau terima sejak memilih dia sebagai pasanganmu.

Yang membuatku bahagia sekali adalah kesukarelaan Rahasia membagikan rahasianya padaku. Dahulu aku tak pernah meminta. Ia dengan sangat girang akan bercerita tentang segala hal mengenai dirinya. Tentangnya yang selama ini tak pernah ia ceritakan pada orang lain. Tentang hubungannya dengan ayah, ibu, kakak dan adiknya. Pun tentang perasaannya pada beberapa orang sebelum ia bertemu denganku.

Meski sedikit sakit hati di beberapa bagian, terutama saat dia bercerita tentang perasaannya terhadap beberapa pria, aku tetap senang bukan main. Karena Rahasia telah membuatku menjadi istimewa karena bisa mendengarkan rahasia-rahasianya.

Tapi itu dahulu.

Beberapa bulan lalu, tiba-tiba Rahasia bilang ia masih punya satu rahasia lagi dariku dan seluruh dunia. Aku sumringah karena siap diistimewakan lagi olehnya. Merasa siap mendengar satu lagi rahasia dari orang yang paling kucintai.

Tapi prediksiku salah. Rahasia bilang dia memang punya rahasia, tapi dia tak bilang akan memberitahuku saat itu juga. Jadilah aku kecewa.

Aku kecewa karena tak bisa merasa istimewa lagi. Tapi kututupi kekecewaanku. Aku dijanjikan Rahasia akan diceritakan tentang rahasia satu itu, suatu waktu nanti. Jadi aku bersabar saja. Toh kami punyaselamanya.

Tapi meskipun selamanya ada di genggaman tangan, tapi ia tak sembarang diberi nama selamanya. Ada alasan untuk nama itu. Selamanya dibuat untuk menggambarkan waktu yang sangat lama. Dan berbulan-bulan setelah Rahasia menjanjikan hal tersebut padaku, niatnya untuk menepati tak kunjung terjadi.

Aku tetap menutupi kekecewaan. Pasalnya aku lebih senang kalau Rahasia yang ingat sendiri tentang janjinya dan langsung menjelaskannya padaku. Tapi hal itu tak pernah terjadi.

Lama kelamaan aku merasa tak istimewa lagi bagi Rahasia. Ia merahasiakan sesuatu dariku dan seluruh dunia. Lantas apa bedanya aku dengan seluruh dunia? Karena bagiku Rahasia-ku berbeda dari orang-orang lain di dunia ini. Setidaknya di mataku dialah yang paling istimewa.

Maka aku mulai menduga-duga rahasianya. Rahasia apa yang ia punya, yang membuatnya begitu merahasiakannya. Bahkan dariku yang sudah sangat mengenalnya luar dalam. Dariku yang sangat ia cintai.

Aku tak punya pikiran lain selain, bahwa rahasianya Rahasia adalah sesuatu yang membuatku akan lebih bahagia. Misalnya catatan pribadinya tentang segala sesuatu yang ia puja dariku. Biarlah sedikit narsis.

Itu jauh lebih baik daripada berpikiran buruk tentang rahasia itu. Memikirkan Rahasia punya rahasia saja sudah membuat kepalaku sempoyongan selalu, belum lagi sakit hati yang muncul kalau pikiran dia tidak lagi percaya padaku muncul.

Hah!

Ah ya, Rahasia pernah bilang alasan kenapa rahasia tersebut belum dia beritahukan padaku. Katanya, “Aku takut kamu marah. Aku belum siap kamu tahu. Cuma itu kok alasannya. Jadi tenang saja ya, pasti bakal aku beritahu nanti.”

Bisa bayangkan apa yang kurasakan? Tak perlu kau bilang, aku sudah merasakannya. Aku kesal. Kecewa, sangat, sangat kecewa. Terutama pada diri sendiri. Ternyata aku terlalu naif kalau berpikiran dia sengaja mengistimewakan diriku dengan sejuta rahasianya. Bukankah aku baru istimewa jika dia memberitahuku satu –satu saja– rahasia yang paling dirahasiakannya itu?

Jadi kupaksa ia untuk memberitahuku. Untuk membuktikan bahwa aku memang seistimewa itu.
“Enam hari lagi!” kataku
“Aku belum siap.”
“Enam hari lagi.”
“Nanti saja kalau kita sudah punya rumah sendiri. Aku janji,” tambahnya.
“Kau bukan Tuhan! Bagaimana kalau aku mati besok?”
Ndak boleh.”
“Kau bukan Tuhan! Enam hari lagi…” aku memutuskan hubungan jarak jauh kami.
Sialnya, sebelum enam hari yang paling kutunggu datang, ajalku mendahului semuanya. Ia datang mendahului hari di mana aku akan melihat Rahasia melunturkan egoisnya untukku atau membuatku merasa tidak istimewa selamanya.

Sekarang aku hanya bisa melihatnya menangis menyesal dari atas langit. Sebentar lagi dia pasti akan membisikkan rahasianya ke telinga mayatku. Lagi pula sudah kubilang dia bukan Tuhan!

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).