BOPM Wacana

Sebuah Ironi

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Guster CP Sihombing

Ilustrasi: Yulien Lovenny Ester G
Ilustrasi: Yulien Lovenny Ester G

2014 - Guster

Pagi-pagi sekali, aku bangun dari tidurku. Mengambil handuk di depan kamar, bergegas ke kamar mandi. Kuguyur beberapa gayung air ke badan, sikat gigi, guyur lagi, selesai.

Kuambil sembarang kaus oblong dari lemari berderit di sebelah kasur kapuk yang tak lagi empuk. Aku sudah lupa kapan terakhir kali kasur itu empuk ditiduri. Barangkali waktu aku beli pun sudah tak empuk lagi. Ah, sudahlah. Aku juga lupa kapan terakhir kali lemari kayu tua itu tak berderit.

***

Pagi-pagi sekali, jam beker di sebelah kasur membangunkanku. Sengaja kuletakkan di atas meja lampu tidur yang remang di kala malam tiba, supaya bisa bangunkan aku ketika waktunya salat subuh.

Mengambil wudu di kamar mandi, bergegas memanjatkan syukur pada Tuhan atas hari baru. Kuambil perlahan sebuah sajadah dari lemari susun di sebelah kasur. Alhamdulillah, aku masih bisa merasakan empuknya kasur di malam hari. Terima kasih, Tuhan.

***

Berlari kecil sambil mengudap roti tawar sisa semalam, kujawab panggilan masuk di telepon genggamku. Ternyata dari dia.

“Iya, aku udah di jalan! Sabar ajantar lagi nyampe, kok.”

Kulirik sebuah jam dinding besar di ujung gang senggol daerah tempatku tinggal. Pukul 06.03 WIB.

Disebut gang senggol karena setiap melewati gang sempit ini, mau tak mau aku harus bersenggolan dengan orang lain. Sebenarnya gang ini cukup lengang dilalui dua orang dewasa. Tapi, pasti selalu dilewati sepeda pedagang sayur, becak dayung, belum lagi sepeda motor yang ikut melintas di sini. Senggol menyenggol, deh.

***

Berjalan perlahan, aku menuju dapur yang ada di lantai satu. Hari sudah mulai terang, kicauan burung nuri milik mendiang papaku juga menyambut pagi. Seperti biasa.

Jam tanganku menunjukkan pukul 06.03 WIB. Kuambil telepon genggam yang ada di saku kanan celana jeans-ku. Ada panggilan masuk dari dia. “Iya, aku masih di rumah. Jam delapan aku pasti sudah ada di kantor.”

Aku memasak seporsi nasi goreng sosis dengan sebuah telur mata sapi di atasnya. Biasanya, aku memasak ini karena paling gampang. Seperti biasa pula, aku sarapan seorang diri.

***

“Lama kali kau! Jam berapa kau rupanya bangun?”

“Banyak tanya kau ini! Udah jalan aja.”

“Kalau enggak aku, siapa lagi yang nanya kau?”

“Ribut kali kau, ayo jalan aja kita. Udah mulai siang ini.”

***

“Sudah dilengkapi semua berkas-berkas laporannya?”

“Sudah, nih. Semua tinggal di-print.”

“Kalau sudah selesai semua, antar ke ruangan aku ya.”

Sip, masbro.”

***

Biasanya, dia menjemputku jam segitu. Soalnya jalanan selalu macet di pagi hari.

Belum lagi kami harus melewati titian kecil untuk melewati sungai. Terkadang, kalau banyak orang kami harus mendorong sepeda motornya, berebut dengan anak-anak yang mau berangkat sekolah.. Rutinitas seperti ini sudah biasa kami lewati. Sampai di sana biasanya sekujur tubuh sudah berpeluh.

Kulirik sebuah jam dinding di sebuah surau desa. Sudah pukul 10.03 WIB. Ah, terlambat lagi.

***

Biasanya, dia menghampiri meja kerjaku untuk menanyakan berkas laporan atau terkadang ia menanyakan hal lain. Soalnya, semua berkas biasanya diaudit di ruanganku. Terkadang, kalau banyak berkas laporan kami harus lembur hingga malam. Rutinitas sibuk seperti ini sudah biasa kami lewati.

Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 10.03. Aku mengantar print outlaporan ke ruangannya. Dia yang akan mengecek apakah semua laporan sudah diaudit sesuai kemauan bos.

***

Anak-anak mulai berdesakan memasuki halaman surau desa. Baju mereka kebanyakan masih sama dengan baju yang dipakai kemarin. Aku dan dia membagi anak-anak dalam dua kelompok. Kelompok usia empat hingga lima tahun dan usia enam hingga tujuh tahun.

Aku memimpin kelompok empat hingga lima tahun dan dia mempimpin kelompok enam hingga tujuh tahun. Kami mengajari mereka baca tulis. Sesekali, kami mengajak mereka bernyanyi dan bermain.

Sesuai usia, mereka ternyata lebih doyan bermain. Sesekali juga kami mengajari mereka bahasa inggris dasar. Memang efektif belajar bahasa melalui nyanyian. Twinkle-twinkle little star, na na na na na na na.

Lucu sekali tingkah anak-anak ini.

Jam dinding di surau desa menunjukkan pukul 13.03 WIB. Waktunya makan siang.

Siang ini orang tua anak-anak datang ke surau desa membawakan makan siang. Mereka istirahat sejenak setelah setengah hari bekerja di ladang dan sawah. Sederhana bukan?

***

Anak-anak sekantor mulai memasuki restoran-restoran seberang kantor.

Di sana berjejer puluhan jenis restoran. Ada restoran cepat saji, tradisional, internasional, hingga restoran vegetarian.

Kami memasuki sebuah restoran makanan tradisional. Jam tanganku menunjukkan pukul 13.03 WIB.

Aku dan dia mengambil tempat untuk berdua di sudut kiri restoran. Alunan musik khas Sunda mengiringi makan siang kami hari ini.

Aku memesan seporsi nasi dengan gepuk , sedangkan dia memesan seporsi nasi timbel. Panasnya hari ini juga diselingi segelas cendol.

Berkas laporan keuangan proyek sebuah kementerian di daerah Puncak menjadi pekerjaan rumah bagi kami hari ini. Selain kami, banyak kontraktor lain yang menjalani proyek ini.

Untuk audit laporan kali ini, ratusan porsi nasi timbel dan ratusan gelas cendol sekiranya bisa kami dapatkan. Hanya ada satu syarat, sesuai kemauan bos. Itu saja. Sederhana, bukan? Alhamdulillah-lah pokoknya.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).