BOPM Wacana

Janjimu Lima Belas Tahun Lalu

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Gio Ovanny Pratama

Ilustrasi: Yulien Lovenny Ester G
Ilustrasi: Yulien Lovenny Ester G

2014 - Gio

Jam sepuluh pagi aku dibangunkan oleh nada dering di handphone. Kulihat, rupanya adikku yang menelepon.

Adikku baru berumur lima belas tahun. Ia giat berlatih sepak bola di tim lokal kampungku.Mereka tiap hari latihan di sebuah lapangan, lapangan itu jugalah yang membesarkanku hingga jadi pemain sepak bola profesional.

“Ada apa, To?”

“Halo, Mas. Ini Mas Bambang, kan? Oh iya, Mas, selamat, ya, tadi malam menang. Hehe,” ucapnya membalas tanpa menghiraukan pertanyaanku.

“Oh iya, Rinto, makasih, ya.” Aku menjawab sekenanya karena mata ini masih ngantuk.

“Mas, kapan bisa ke sini? Cepat balik, Mas, Pak Tino mau gusur lapangan kita. Kalau lapangan itu digusur, kami mau main di mana lagi.Ndak ada lapangan yang bagus selain lapangan itu.”

Seketika aku terkejut mendengar ucapan adikku. Aku setengah tak percaya mendengarnya, karena lapangan sepak bola yang kami cintai hendak digusur oleh Tino, seorang anggota DPRD di kota tempat tinggalku.

Setelah dapat penjelasan dari adikku, aku baru tahu, rupanya mereka hendak melakukan eksekusi lahan satu hari lagi. Itu artinya besok! Setelah minta izin pada pelatih aku langsung menuju lapangan tersebut. jaraknya hanya tiga jam perjalanan darat.

Tino terpilih tiga tahun lalu. Seingatku dulu ia berjanji akan meningkatkan perekonomian rakyat kecil dan juga memajukan olahraga dari tingkat kampung.

Tino tak lain adalah temanku semenjak kecil, sejak SD hingga SMA kami selalu satu sekolah. Tiap sore kami selalu bermain sepak bola bersama teman-teman lainnya. Di tingkat SMA ia pernah membaca sebuah berita tentang berkurangnya jumlah lapangan sepak bola karena pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah.

Ia merasa kesal kepada pemerintah, maka semenjak itu ia mulai terobsesi untuk menjadi anggota DPRD agar bisa memperjuangkan hak-hak masyarakat kecil.

Kau tahu, Bambang? Jika aku jadi anggota DPRD maka lapangan sepak bola tempat bermain anak-anak ini tak akan kubiarkan tergusur oleh pemerintah. Begitu janjinya yang masih terngiang di benakku.

Namun janji itu sepertinya tak akan terwujud, setelah apa yang kuketahui barusan. Selama di perjalanan aku coba mencari informasi tentang pembangunan apa yang hendak Tino lakukan di lapangan itu.

Setelah sepuluh menit mencari, mataku berhenti pada salah satu situs pemerintah, situs itu menerangkan tentang proyek pembangunansupermall berlantai lima. Dijelaskan juga bahwa di sekitar supermall itu akan dibangun pula perumahan elite lengkap dengan fasilitas penunjang lainnya.

Aku tertegun membaca informasi itu. Bagaimana tidak, dengan dibangunnya proyek itu bukan hanya lapangan sepak bola yang dikorbankan. Tetapi juga beberapa rumah penduduk yang telah bertahun-tahun dihuni di daerah tersebu.

Walaupun di situs itu dijelaskan juga mengenai ganti rugi pembebasan lahan dan wilayah pemukiman penduduk, namun tetap saja aku tak mengerti apa yang dipikirkan oleh Tino dan anggota dewan terhormat itu sampai-sampai rela mengorbankan rumah penduduk di sana.

Pukul dua siang aku sampai di lapangan itu. Aku serasa bernostalgia melihat pemandangan di sana.

Sekilas kulihat tak ada yang berubah dari lapangan tersebut, dua buah gawang berukuran lima kali dua meter masih terpasang di sana. Lapangan itu memiliki rumput hijau yang bagus, lapangannya datar.Sehingga orang kampung kami menyebutnya ‘Stadion Gelora Bung Karno’ kampung ini.

Kuarahkan pandangan ke segala penjuru lapangan, hingga mataku kembali terhenti pada sebuah papan pengumuman. Aku coba dekati papan itu karena terakhir kali aku ke sana, lima tahun lalu, papan itu belum ada.

Lapangan ini milik pemerintah kota dan akan digunakan sebagai lahan pembangunan supermall!

Begitulah pengumuman yang terpampang di sana.

Aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat kali ini. Namun belum sempat aku memercayai mataku, kudengar dari kejauhan suara sireneiring-iringan mobil.

Kulihat ada lima mobil mewah dan tiga truk. Salah satu mobil mewah di sana meneriakkan pengumuman bahwa hari ini akan dilakukan pemasangan tanda pembatas dan garis tanda dilarang melintas.

Kulihat juga ada kerumunan massa yang mendekati iring-iringan mobil itu. mereka membawa spanduk bertuliskan: Tolak penggusuran lahan!Salah seorangnya juga membawa pengeras suara. Ia dengan lantang meneriakkan penolakan masyarakat terhadap penggusuran lahan tersebut.

Iring-iringan mobil tersebut berhenti oleh aksi massa itu. Satu per satu orang di dalam mobil keluar dan mulai menampakan batang hidungnya. Pasukan pengaman pun langsung membentuk barisan pelindung.

Kulihat salah seorang keluar dari mobil paling belakang, ia keluar sambil berbicara melalui handphone-nya. Ia melepas kacamata hitamnya. Aku langsung mengingat sosok itu, kumisnya dan bekas luka di bawah matanya mengingatkanku pada satu orang, Ya itulah Tino! Inilah pertemuan pertama kami semenjak sepuluh tahun lalu.

Massa langsung meneriakkan kata pengkhianat pada Tino, sebab ialah dalang di balik semua ini. Ia warga asli daerah ini, ia pula yang mengkhianati kepercayaan masyarakat. Tingkahnya angkuh sekali, ia tak merespon teriakan massa, alih-alih melihat pada sumber suara ia masih saja bertelepon ria sambil tertawa.

Tingkahnya membuatku muak, rasanya aku ingin memukulnya. Padahal kami dulu adalah sahabat karib.

Langsung saja aku berlari menuju Tino—bak mengejar bola yang siap ditendang. Barisan pasukan pengaman langsung mengerubungiku. “Mau apa kau?” tanya salah satunya.

Sontak massa yang dari tadi diam di tempat juga ikut berlari ke arahku. Massa mulai tak terkendali, pasukan pengaman mulai kewalahan menghadapi massa. Kerumunan itu berhasil membuat diriku terlepas dari hadangan pasukan pengaman. Aku langsung menuju Tino dan memakinya.

“Hei, Tino, apa yang kau lakukan, mengapa kau menggusur lapangan ini? Kau tak punya hak sedikit pun untuk mengambil alih lapangan ini,” ucapku.

Seketika ia kelabakan hingga handphone-nya terjatuh. Ia langsung memerintahkan salah satu pasukan pengaman untuk melindunginya dan menjauhkanku darinya. Ia sepertinya tak mengenaliku lagi.

Beberapa menit kemudian polisi datang. Massa langsung pontang-panting lari ke sana ke mari. Mungkin dari tadi Tino menghubungi polisi untuk mengamankan proses hari ini karena ia tahu hal ini akan terjadi.

“Sialan kau, Tino apa yang kau lakukan pada lapangan kita. Apa kau sudah lupa janjimu lima belas tahun lalu?” Aku coba ingatkan dia pada janjinya dulu sembari digiring oleh salah satu pasukan pengaman menjauhi Tino.

Namun dengan wajah polosnya, Tino hanya berucap: “Maaf, Andasiapa? Saya rasa Anda salah orang.”

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).