BOPM Wacana

Saga Pangkal Paha dan Kloset si Tuan

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Amelia Ramadhani

Ilustrasi: Vanisof Kristin Manalu
Ilustrasi: Vanisof Kristin Manalu

Foto Amel

Mataharinya terlalu terik, Tuan. Tak sanggup sahaya untuk berjalan sejauh itu dengan kaki telanjang. Sahaya bukanlah orang berada seperti yang Tuan harapkan. Sahaya hanyalah kumpulan dari orang kampung kurang pendidikan. Sudahilah Tuan. Malam semakin larut.

Apalah daya sahaya yang tidak berpendidikan ini. Jangankan sekolah, berbuku pun tidak. Orang boleh saja berkumpul riuh di lapo tuak untuk menonton serial Uttaran di televisi. Tapi sahaya hanya anak desa yang tidak akan diizinkan untuk ikut bersama mereka.

Tuan, malam terlalu larut. Pulanglah ke peraduan umat manusia. Temuilah ajal dan kepicikan manusia-manusia yang sok baik di alam barzah nan kelam itu. Apalah daya sahaya, Tuan. Anak terbuang di setiap sinar yang memancar. Mari beranjak ke kasur dan menutup mata.

Sudahlah, Tuan. Apalagi yang patut dipertanyakan selain ilmu anak-anak desa. Itu pun akan membutuhkan waktu yang lama untuk menjawabnya. Kalaupun dapat hanya Tuan dan kepala desa yang akan menentukannya. Menikahinya dengan usia belia lalu membuangnya ketika telah beranak pinak dan tak berputing lagi.

Angin kembali berhembus menyambut datangnya musim hujan. Mungkin saja ini musim hujan terakhirmu di bumi ini. Mungkin esok atau lusa kau akan mati digerogoti penyakit kelamin itu. Ah Tuan, sahaya hanyalah anak desa yang baru belajar untuk bercinta.

Sahaya meninggalkan desa untuk mencari kehidupan yang mapan, Tuan. Setidaknya tidur berselimut, makan bersama ayam dan juga beberapa potong irisan babi. Sahaya merangkai kata supaya indah saja, Tuan. Bukan tujuan utama yang harusnya sahaya nostalgiakan pada Tuan.

Benar Tuan, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Rumput di taman sahaya tidaklah tumbuh sesubur ini. Mungkin karena kurang pupuk urea atau mata ini kurang jeli dalam memilih antara pupuk subsidi dan pupuk oplosan. Sahaya memang polos, Tuan. Sepolos kain putih yang Tuan gunakan untuk mengikatkan kaki ini ke kaki tempat tidur supaya tak bergerak lagi saat pesta di kamar tidur dimulai.

Sudah puaskah Tuan? Atau masih mau kehangatan lebih hingga melepuh sampai ke tulang?

Tuan, pulanglah. Masih ada seseorang yang menunggumu. Sahaya akan selalu di sini, Tuan. Bergumal dengan kehidupan yang ini-ini saja.

“Tuan, masih adakah sisa-sisa keadilan di bumi ini?” sahaya mulai bertanya dengan suara yang dibuat semanis mungkin.

“Cukup duduk diam dan makan dari selangkanganku.”

Cobalah untuk berhenti mengelus leherku, Tuan. Aku sudah tidak tahan. Aku sudah di ambang batas hendak keluar menumpah semua yang menyesakkan dada ini. Tapi Tuan, sahaya tak punya kuasa yang kuat macam harimau campa yang selalu jadi ilustrasi terbaikmu.

Tuan, matahari menyambut pagi dengan kehangatan. Memberikan sentuhan cahaya nan indah. Pasir-pasir memantulkan kembali cahaya itu, tepat menerpa wajah Tuan yang semakin tua. Tuan, siapa perempuan itu? Ia bisa duduk di sampingmu sambil memegang dasi dan menjilat celah bibirmu.

Proyek apa lagi yang sedang kalian bicarakan sekarang?

Tuan, ia mengibaskan roknya di depan muka Tuan. Ia merekahkan bibirnya yang ranum itu dengan gincu merah muda. Tuan tersenyum kepadanya. Senyum yang berbeda ketika Tuan menatap sahaya di atas kapuk berisikan dolar itu.

Sreeet. Amplop itu masuk ke dalam celah dadanya, Tuan. Ia tersenyum dan berbisik di telingamu. “Beres, Tuan. Semua bisa dilobi.”

Adegan sineas apakah itu, Tuan? Apakah kejadian ini hanya sebuah skenario dunia perfilman dan anteng-anteng saja untuk dipertontonkan? Tidak, Tuan. Sahaya tidak berani untuk bertanya. Jangankan bertanya, menatap mata Tuan saja sahaya masih ragu. Sahaya takut Tuan marah dan menghancurkan harapan segelintir orang yang juga menginginkan cipratan uang panas itu.

Tuan terlalu lama untuk sadar. Sahaya kembali berdarah. Mungkin sudah waktunya si Gatot Kaca untuk lahir. “Ahhh…” Tuan, rasanya sakit sekali. Bagai pisau tumpul yang disayatkan ke badan. Sungguh luar biasa sakit, Tuan.

Pagi akan selalu datang. Mungkin saja berakhir setelah hari kiamat datang menghancurkan bumi pertiwi ini. Apa sahaya bilang Tuan, hari ini pun pagi masih datang kembali. Mari kumpulkan keping-keping rupiah ke dalam pundi dan jadilah pejantan tangguh pemuas istri.

Seberapa banyak jiwa yang makan dari belahan paha Tuan? Bisa jadi manusia seperti sahaya masuk menjadi salah satu daftar yang ada. Tuan, apakah kita harus naik ke ranjang lagi hingga pagi nanti?

Tuan. Tuan. Tuan.

Kabarnya di negara Tiongkok dan Jepang peraturan tentang air sangatlah pelik, Tuan. Banyak hal dan pasalnya. Di negara ini hanyalah tanah, air, dan udara adalah milik negara. Itu saja. Beruntunglah Tuan, urusan menyiram jamban dan urusan mandi tidak diatur di sini.

Sahaya mengetuk pintu. Memastikan Tuan ada di dalam atau tidak. Sahaya agak sedikit cemburu ketika wanita bahenol dan berdada sebesar semangka keluar dari kamar mandi Tuan. Ia hanya mengenakan kain panjang sederhana. Ia menutup bagian dada dan setengah paha saja, Tuan. “Lagi mencari celana dalam,” ia berlalu begitu saja.

Sahaya tidak berani menatapnya, Tuan. Terlalu hina untuk menatap manusia semacam wanita Tuan itu.

Gubrak. Wanita itu menabrak sahaya, Tuan. Sahaya terjatuh dan sedikit memar pada bagian pangkal paha. Dia menginjak sahaya serta menarik rambut hingga rusak dan patah. Padahal sahaya sudah olesi dengan minyak kelapa sawit tadi pagi.

Tuan, seberapa perlukah menyiram kloset di rumah ini? Maafkan sahaya Tuan, tidak terlalu paham karena terbiasa menggunakan jamban. Saat keluar tinggal cemplung masuk ke kolam atau hanyut ke sungai.

Maafkan sahaya, Tuan. Polisi datang hari ini. Polisi bawa surat perintah untuk tangkap Tuan. Kasus pencucian uang katanya.

Tuan. Kenapa harus dolar yang dibuang di kloset? Kenapa rupiah yang di pundi-pundi itu tinggal amplop warna coklat saja?

Tuan. Gatot Kaca menangis. Ia lapar dan minta makan. Mana jatah makan untuk para negarawan?

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).