BOPM Wacana

Musim  Kemarau dan Langit Biru

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Retno Andriani

Ilustrasi: Retno Andriani
Ilustrasi: Retno Andriani

Retno

Langit hari itu tampak cantik dihiasi awan tipis yang bergerak lambat. Aku dan Mbak Asih merebahkan tubuh di atas tanah yang kering. Tak peduli kotor, kami hanya ingin menikmati langit sore. Mumpung masih biru, belum berubah hitam. Kalau sudah hitam, biasanya kami tak akan berani berada di luar seperti ini.

“Itu kuda!” sesekali aku berseru melihat awan yang bergerak-gerak. Meskipun aku tahu itu tak seperti kuda, tapi khayalanku ingin awan itu berbentuk kuda.

“Iya. Itu kakinya. Yang itu kepalanya. Sayang, ekornya besar sekali,” Mbak Asih justru memainkan jemarinya. Setelah ia berkata, aku semakin senang. Kulihat awan itu lamat-lamat benar serupa kuda.

Itu segelintir kenanganku bersama Mbak Asih. Waktu itu, aku belum bersekolah dan Mbak Asih masih kelas dua sekolah dasar. Ritual melihat langit di musim kemarau biasa kami lakukan sebelum Mamak berteriak menyuruh kami mandi. Pastinya setelah bermain guli, gateng, ataupun dompu.

Kalau musim hujan datang, ritual melihat langit tak kami lakukan. Biasanya kami tak suka hujan. Hujan hanya membuat langit menjadi jelek. Awannya tidak bergerak, gambar kuda atau kepala rusa sangat sulit untuk dikhayalkan.

Kalau sudah begitu, akan ada hal lain lagi yang biasa kami lakukan. Sambil melihat rintik-rintik hujan lewat jendela kamar, kami menceritakan pengalaman masing-masing. Mbak Asih selalu bercerita tentang teman-temannya di sekolah, sementara aku menceritakan kejadian saat dia tak berada di rumah.

Pernah suatu kali di musim kemarau, kami bertengkar hanya karena perkara yang sepele. Aku memaksanya untuk percaya bahwa uang merupakan buah dari pohon besar. Aku bersikukuh kalau pernah melihat pohon uang secara langsung. Aku dengan keras kepala bilang, jika musim kemarau daun pohon uang akan menjadi lembaran uang kertas, sementara uang receh merupakan biji dari uang kertas yang sudah membusuk.

Seketika Mbah Asih tak mau percaya. Ia mengatai aku bodoh. Aku tak terima dengan perkataan itu, aku memukul kepalanya dengan tangan kananku. Maksudku hanya ingin memberinya pelajaran kalau khayalanku benar adanya. Aku berteriak dengan keras, “Kalau bukan dari pohon, dari mana datangnya uang!”

Bukan menjawab, Mbak Asih malah menangis. Pukulanku tampaknya terlalu keras mendarat di kepalanya. Aku merasa bersalah, tapi aku diam saja. Kubiarkan Mbak Asih masuk ke dalam kamar, sementara aku berjalan ke luar rumah. Aku duduk di tempat biasa kami menikmati langit. Ah, ternyata langit tak cantik kalau dilihat seorang diri.

Sambil memandangi langit yang tak secantik biasanya, aku kembali merenungkan tentang khayalanku yang bodoh kata Mbak Asih. Aku ingat betul, waktu itu aku melihat sebuah pohon yang batangnya agak hitam. Daunnya sudah tak ada lagi. Pohon itu tumbuh di tengah gurun pasir yang panas. Aku awalnya hanya melihat pohon itu dari kejauhan, tapi karena rasa penasaran yang tinggi, aku menghampiri pohon itu. Di salah satu pucuk ranting yang mengering, kulihat di sana ada beberapa lembar uang bergambar kapal layar berwarna merah.

Kemudian aku diam mematung. Langit dan awan-awan itu tak kuhiraukan. Timbul beberapa pertanyaan di benakku; mengapa tak kuambil lembar uang-uang itu? Bukankah itu bisa membayar sejumlah cokelat tanpa harus merengek kepada Mamak? Lagi pula, di mana gurun itu?

Aku mengerti. Waktu itu aku memang selalu berlagak lebih pintar. Aku selalu membenarkan khayalanku. Entah itu khayalan yang direncanakan, atau khayalan yang berpadu dengan mimpi.

Mbak Asih masih di kamar. Kepalanya pasti juga masih sakit.

Mbak Asih memang seperti itu. Ia tak pernah memukul atau mencubitku. Dia tak akan pernah marah jika aku mengikutinya ke mana pun dia pergi. Sebisa mungkin Mbak Asih berusaha membuatku tidak merajuk karena ia tahu, jika aku merajuk tak ada siapa pun dapat menghibur. Meskipun begitu, aku tak melihat apa pun dari Mbak Asih. Aku selalu iri ketika sesekali Mamak memanjakannya.

Dalam hati aku selalu senang bila Bapak memarahi Mbak Asih. Tapi sebaliknya, Mbak Asih selalu menghiburku ketika Mamak memarahi aku.

Masa kecilku tak pernah sekali pun tanpa Mbak Asih. Sejak aku belum mengenyam bangku sekolah, sampai akhirnya dia pergi dari rumah.

***

Lebaran tahun ini akan sangat berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Kami sekeluarga sudah pindah rumah. Aku juga baru saja mempunyai keluarga baru. Tahun ini pertama kalinya aku pulang kampung. Banyak hal yang aku rindukan di kampung. Mamak-Bapak juga pasti merindukanku.

Sehari sebelum pulang kampung, kusempatkan diri untuk berbelanja. Kubelikan mukena untuk Mamak, dan sarung untuk Bapak. Hadiah lebaran yang tak terlalu mewah.

Perjalanan pulang kampung pasti akan sangat menyenangkan. Tak sabar rasanya bersimpuh memohon maaf kepada Bapak dan Mamak. Tak sabar pula kembali mengenang masa kecil di kampung halaman yang nanti akan sangat jarang kukunjungi.

Diam-diam aku juga merindukan Mbak Asih. Apa dia pulang kampung tahun ini?

***

Langit sore itu sangat lembut. Warna biru selalu menyisipkan beberapa liter kedamaian hidup, itulah yang selalu Mbak Asih katakan ketika ditanyai mengapa ia suka warna biru. Sore itu Mbak Asih tampak sibuk mengurus dua anak lelakinya yang mulai nakal. Dua anak lelaki yang selalu bertengkar. Kalau bukan si adik yang menangis, si abanglah yang mengamuk.

Sambil menggendong ransel besar, aku tersenyum menyaksikan pemandangan itu. Mbak Asihku tersayang, ketika kita bergumul dengan kesibukan masing-masing, mungkinkah kau ingat hari di mana kita melihat langit?

Kudekati wanita setengah baya itu. Wajahnya tampak lebih dewasa dari terakhir kali kami bertatap muka. Dia tersenyum menyambut kedatanganku.

“Mohon maaf lahir batin,” ucap Mbak Asih sebelum aku sempat mencium tangannya.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).