BOPM Wacana

Ramuan

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

Setelah beberapa hari tidak ada panggilan. Kepolisian mendapat panggilan darurat di salah satu rumah. Pihaknya bergegas dan mereka punya firasat buruk.

Tengah malam suara sirene mobil polisi nyaring terdengar. Seseorang menghubungi polisi melalui panggilan darurat. Kondisi hujan membuat semua orang mungkin tengah nyeyak tertidur dan suara sirene membangunkan mereka. Polisi berhenti di salah satu rumah beberapa di antaranya menggunakan pistol dan sebagian lagi bersenjata laras panjang berseragam lengkap dengan baju anti pelurunya.

Warga setempat hanya bisa mengintip dari jendela mereka masing-masing. Beberapa ada yang menggurutu kerena tidurnya terganggu dan sebagian lagi tengah menyiapkan gawainya merekam momen langka tersebut. Pengrebekan itu tidak berlangsung lama. Tidak ada tanda ricuh, tidak juga terdengar suara senapan seperti video-video pengerabakan viral yang tersebar di internet. Polisi berhasil masuk dan hanya terlihat mengelingi rumah saja. Selang 10 menit sebuah ambulans tiba, mereka membawa tiga kantung mayat. Warga kembali tertidur dan keesokan harinya berjalan seperti hari-hari biasa seakan mereka lupa kejadian tengah malam sebelumnya.

Penemuan tiga mayat itu tak tersebar di internet dan berita. Kejadian ditemukannya mayat bahkan tidak membuat warga sekitar gempar dan ketakutan. Rumah yang digrebek juga tidak ada terpasang garis kuning polisi. Semua hal berjalan normal senormalnya masyarakat pada umumnya. Rumah tersebut juga tampak rapi seakan tidak ada tanda kejadian apapun.

Keesokan harinya seseorang polisi membaca artikel di salah satu koran lokal yang menceritakan kejadian malam itu. Tulisan tersebut ditulis di kolom kontributor dalam bentuk cerita pendek tanpa nama penulis. Di akhir cerita juga seakan tak menggambarkan ada ending dalam cerita. Kalimat terakhir di akhiri tanda koma bukan titik seakan cerita tersebut belum berakhir dan ada sambunganya. Cerita yang dimuat cukup jadi perbincangan karena cerita itu bukanlah cerita biasa. Isinya adalah kisah kriminal yang isinya deskripsi pembunuhan yang terjadi di beberapa kasus di dunia nyata. Tentunya tidak secara jelas dijabarkan namun bagi kepolisian meraka sadar cerita tersebut punya ciri yang sama dengan kejadian-kejadian yang baru-baru saja terjadi.

Hari itu juga kantor berita koran lokal didatangi beberapa orang polisi yang menanyakan tentang siapa penulis kolom. Pihak redaksi hanya mengatakan mereka menemukan naskah tersebut dari surat yang dikirim ke kantor tiga hari yang lalu. Redaksi berita menjabarkan bahwa mereka akan menerbitkan apapun ketika tulisan tersebut layak terbit. Polisi kembali tanpa mengetahui siapa penulis dan pengirimnya namun mereka punya fakta unik bahwa tulisan tersebut ditulis sebelum kejadian pembunuhan berlangsung.

***

Suara mesin tik sangat merdu lebih merdu dari suara nampan yang beradu dengan pisau dapur ketika memotong daging atau suara ketika ibu mengiris bawang di dapur. Jariku terus menari bahkan lebih lihai dari ketika berada di dapur menggunakan pisau. Pikiranku mengalir dan ide selalu muncul layaknya cahaya dari pintu surga meski aku sendiripun tak percaya adanya surga dan neraka.  Aku percaya aku tengah menciptakan suatu mahakarya. Karya nyata yang dikenang semua manusia bahkan penghargaan nobel pun tak layak disematkan padaku karena tidak ada satu penghargaan pun yang layak mereka berikan padaku kecuali pengorbanan.

Aku terus mengetik dan mengetik dan kalimat-kalimat yang kutulis mengeluarkan setiap tetes air mataku. Di beberapa paragraf aku menangis sejadi-jadinya, di paragraf setelahnya aku terbahak-bahak sampai terbatuk-batuk. Aku mencintai setiap jengkal kata yang kuhasilkan. Layaknya susu segar, aku memeras setiap kata-kata dari puting-puting yang paling berkualitas. Aku menyajikan kata-kata segar sehingga setiap kalimatnya menjadikannya stimulan mereka yang membacanya.

Menjelang tengah malam aku menyelesaikannya. Esok aku segera mengirimkan ke surat kabar. Semua orang harus membaca karyaku, menikmatinya tanpa mengenal penulisnya. Aku ingin tulisanku jadi bahan obrolan minum teh di sore hari, diskusi warung kopi di malam hari dan ketika mereka menceritakanya mereka akan tersenyum dan tertawa terbahak-bahak. Hal itu lah yang kuimpikan, kata-kataku menjadi pemicu bahagia, lelucon yang menjadikan mereka terhubung.  Dan aku harus mengikat mereka dengan kata-kataku.

***

2 hari setelahnya..

Polisi kembali mendatangi sebuah rumah. Seperti sebelumnya kedatangan ini tanpa di ketahui media dan mereka memastikan kedatangan mereka tidak akan tersebar di surat kabar. Berseragam lengkap mereka menorobos masuk melalui pintu belakang, menelusuri setiap sudut dan ruangan rumah. Mereka tak menemukan apapun hanya bercak merah di beberapa cermin dan lantai. Polisi memanjat langit-langit rumah dan akhirnya menemukan sesuatu. Dua karung yang berisi potongan kaki dan tangan yang sengaja disembunyikan di atap. Setiap karungnya polisi menganggapnya satu tubuh jika ada dua karung artinya mereka menumukan dua tubuh.

Penemuan itu mengejutkan pihak kepolisian hal ini menguatkan mereka bahwa di luar sana seseorang pemangsa tengah berkeliaran bebas. Ia mungkin seorang yang buas yang memandang lingkungan sebagai hutan dan semua isinya bisa dijadikannya mangsa. Kali ini polisi tak diam mereka mulai terbuka jika ada yang bertanya tentang kasus kematian baru-baru ini. Mereka mengumumkan akhir-akhir ini terjadi banyak kasus kematian tiba-tiba. Sontak hal ini jadi berita bagus bagi wartawan surat kabar yang menganut istillah “berita yang baik adalah berita yang buruk”.

Informasi tersebar cepat dan luas siaran televisi mulai ramai mengadakan diskusi dan mengundang para ahli kriminologi. Berita mengenai kabar adanya pemangsa terpampang di halaman muka surat kabar. Setiap hari kantor kepolisian dipenuhi ratusan wartawan. Gedung presiden dipadati oleh ratusan pendemo yang mempertanyaakan kinerja kepala negara dan menuntut digantinya kepala kepolisian yang baru. Warung-warung kopi dipenuhi dengan obrolan serupa mereka tertawa tak percaya sambil bermain catur ada juga yang cemas selalu memperhatikan jam agar ia segera kembali sebelum tengah malam karena takut ia akan dimangsa.

Dari semua keributan yang terjadi seseorang tengah santai menyeruput minumanya tiba-tiba menangis. Ia meremas surat kabar yang digenggamnya dan membuangnya ke tempat sampah, untuk sesaat sekitarnya mendadak hening. Seketika itu juga ia keluar dari tempat tersebut dan mengabaikan orang-orang yang tengah memandangnya heran.

***

Bermodal cahaya lampu meja seseorang tengah tertawa di depan mesin tiknya. Ia bergumam, “Indahnya. Mereka yang tak merasakan penderitaan tak pernah mengerti keindahan, bukan begitu?”. Ia terus tertawa sampai air matanya perlahan keluar. Ia mengelus mesin tik sambil cengengesan, sesekali menciumnya dan mengusap beberapa tuas huruf yang ada. Tingkahnya terhenti ketika menerima pesan dari kantor surat kabar yang memuat tulisannya. Isinya seperti ini :

Kepada Yth : …

Mohon maaf jika tulisan Anda untuk saat ini belum bisa kami muat. Untuk sementara kami tidak menerbitkan beberapa cerita. Terimakasih telah percayakan tulisan Anda kepada kami.

Redaksi

Pesan itu mengubah suasana hatinya. Ia mengerutu dan terlihat gelisah berjalan mondar-mandir di kamarnya. Itu adalah satu-satunya surat kabar yang menerima tulisannya. Keesokan harinya ia memeriksa semua surat kabar ia langsung menuju kolom cerita. Namun ia tak menemukan satupun kolom cerita didalamnya. Semua berisi berita dan analisis atau opini mengenai si pemangsa. Semua orang fokus pada si pemangsa dan ia merasa terabaikan.

Malamnya ia begumul kembali dengan mesin tiknya menulis beberapa cerita dan mengirimkanya ke surat kabar yang sama. Ia juga menulis beberapa analisis dan artikel mengenai si pemangsa agar tulisanya dimuat. Keesokan harinya salah satu ceritanya akhir dipublikasi.

***

Polisi masih belum mengetahui siapa penulis kolom tersebut. Setelah polisi memilih untuk mempublikasikan kasus itu sampai sekarang mereka tak menemukan adanya garak-gerik si pemangsa. Surat kabar yang biasanya menulis tentang detail kejadian juga tidak menerbitkan artikel tanpa nama penulis itu. Mungkin saja surat kabar lagi tidak memprioritaskan kolom yang memuat cerita semua fokus pada adanya si pemangsa.

Setelah beberapa hari tidak ada panggilan. Kepolisian mendapat panggila darurat di salah satu rumah. Pihaknya bergegas dan mereka punya firasat buruk.

Keeseokan harinya surat kabar kembali merilis cerita mengenai kejadian yang baru saja ditangani kepolisian. Namun hal ini tak sama dengan kejadian yang baru. Semua latar dan gaya eksekusi berbeda. Polisi yang menduga bahwa penulis kolom ada hubungannya dengan si pemangsa mulai meragukan analisanya.

***

Ia tak percaya bahwa baru kali ini karyanya tidak sesuai dengan hal yang diharapkanya. Ia tahu bahwa pihak kepolisian pasti membacanya dan itu sengaja di buatnya kepada mereka. Namun kali ini berbeda ia membaca surat kabar mengenai analisa kepolisian tentang kejadian baru saja terjadi dan hal itu tidak sesuai dengan yang dipikirkanya. Ia tak percaya dengan hal itu apakah polisi juga mengabaikan adanya dirinya.

Di tempat yang berbeda seseorang tengah menangis di atas tumpukan surat kabat. Ia menangis seperti anak kecil ditinggal ibunya. Ia mengenggam sebuah tangan tanpa tubuh. Ia mendemontrasikan tangan tersebut layaknya sang ibu saat mengelus anaknya yang menangis. Sentuhan itu layakanya ramuan menenangkannya dan air matanya pun terhenti.

Komentar Facebook Anda
Thariq Ridho

Thariq Ridho

Penulis adalah Mahasiswa Psikologi USU Stambuk 2017.