BOPM Wacana

Paradoks

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Fredick BE Ginting

Suara dentuman meriam masih sesekali kudengar malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya. Suasana mencekam terus kami alami, entah kapan akan berakhir. Selama para pemberontak belum menyerah, aku yakin kami tidak akan dikembalikan ke kesatuan kami di negara kami. Karena misi kami dikirim ke sini adalah menghabiskan para pemberontak yang ingin menumbangkan pemerintahan di ibukota Luanda.

Aku adalah seorang marinir Amerika Serikat, USMC, United States Marine Corps. Baru dua tahun menjalani dinas di kesatuanku. Dua tahun lalu aku masih menjalani pendidikan marinir di Fort Blue Point. Berkat prestasi selama menjalani pendidikan aku sudah dikirim di usiaku yang masih 22 tahun. Termuda di divisiku saat ini.

Sekujur tubuhku masih lemas akibat sempat beradu fisik dengan seorang pemberontak yang aku tangkap di pinggiran sungai tadi sore.

“Carlos!” dengarku dari luar tenda medis ini. Komandan kompi Letnan Leary mencariku. “Cepat bangkit! Gabung dengan pasukan di tenda utama!” bentaknya.

Ternyata seluruh pasukan sedang dikumpulkan malam ini oleh komandan divisi, Kolonel Jackson. “Brukkkk..”

Tanpa ampun Kolonel Jackson yang terkenal kejam di kalangan marinir menghantam perutku dengan telapak sepatunya saat aku tiba. Sifatnya memang demikian. Dingin dan bengis. “Saya tidak menyukai prajurit yang bersantai di tengah konflik seperti ini,” bentaknya.

Ia tidak memedulikan walau prajurit sedang sekarat pun untuk berkumpul jika ia datang ke kamp kami. Setelah aku bangkit sambil memegang perut, Sersan Oxlade salah seorang prajurit berbisik padaku, “Intelijen telah menemukan persembunyian Gucho –pemimpin pemberontak.”

Kolonel Jackson kembali melanjutkan instruksinya kepada kami.

“Lokasi Gucho delapan kilometer dari selatan sungai Minera. Sebuah gudang tak terawat. Malam ini atas izin panglima tertinggi tentara negara kita akan melakukan penyergapan. Kita akan bersama-sama tentara Angola. Hidup atau mati, aku ingin kalian membawa kepala Gucho ke hadapanku

Mau tidak mau operasi ini harus berhasil. Jaga kehormatan Korps Marinir Blue Point!”

Kolonel Jackson memberi kesempatan kepada Letnan Leary menjelaskan strategi dan pergerakan yang akan kami lakukan. Aku akan bersama regu penyergap bersama Sersan Oxlade dan Letnan Leary sendiri. Kami bertiga memanglah marinir yang berspesialisasi menggunakan senjata M18 jarak dekat. Dari 48 marinir yang tersisa di divisi ini, hanya kami bertiga yang punya lencana M18 Masters di seragam kami.

Setelah persiapan selesai, marinir Blue Point ini menuju sasaran. Tak hanya kami, tentara nasional Angola juga bergabung. Koordinasi ini memang dijaga oleh kesatuanku. Kami membantu tentara lokal ini dengan pasokan senjata dan diperintah untuk melatih mereka.

“Demi Presiden Rodrigues, negara dan keluarga kita,” seru komandan mereka. Sebagian dari mereka terlihat menitikan air mata. Maklum saja, mereka tentara yang belum menyelesaikan pendidikannya terpaksa sudah berperang akibat tentara negara ini yang semakin sedikit akibat konflik dengan pasukan Gucho.

Setelah truk yang kami tumpangi berjalan sekitar 15 menit, kami diperintahkan turun. Dan akan melanjutkan perjalanan menuju lokasi. Letnan Leary menengadahkan lengan kirinya dan menggerak-gerakkannya seperti menekan ke bawah. Tanda kami harus menahan gerakan dan berdiam di tempat.

Letnan Leary berbicara dengan komandan tentara Angola. Hanya dia yang mengerti bahasa Portugis yang digunakan tentara Angola. Meskipun ibuku keturunan Portugal, aku sama sekali tak bisa berbahasa Portugis.

“Rencana diubah. Kita semua berjaga di sini. Tunggu perintahku sampai kita bergerak,” ujarnya kepada kami. Sementara sekitar 30-an tentara Angola sudah bergerak.

Dalam hatiku bingung. “Mengapa hanya tentara muda itu yang menyergap? Sementara ketika di tenda tadi, Letnan Leary berkata mereka berjumlah sekitar 50-an pasukan.”

Aku adalah campuran Amerika-Portugal, sementara negara yang kupijak ini bekas jajahan negara ibuku, Portugal. Di mana banyak orang keturunan Portugal mendiami negara ini juga. Perasaan berkecamuk ini bergejolak di pikiranku. Berdosa rasanya membunuh rakyat Angola ini. Ibuku meninggalkan Portugal dibawa kakekku empat puluh tahun lalu karena menolak keras pembantaian yang dilakukan Portugal terhadap rakyat Angola.

Ibuku bilang, “Kakekmu tentara Portugal yang dipersiapkan untuk membantai dan menduduki wilayah Angola saat itu. Tapi ia mengikuti rasa kemanusiaannya. Ia membawaku kabur dari Portugal karena tidak tahan.”

Glak! Letnan Leary menghentikan lamunanku dengan tongkatnya.

“Kita kembali,” ujarnya. Aku tak tahu apa yang telah terjadi, tapi kini hanya tinggal aku dan Letnan Leary yang kulihat.

“Ayo naik!” perintah Letnan Leary agar aku menuju ke truk. Kami kembali naik dan kembali ke tenda.

Kami kembali ke tenda dengan jumlah yang lengkap, tapi tak satupun tentara Angola kulihat. “Dimana mereka?” tanyaku pada Sersan Oxlade. Ia hanya menggelengkan kepala. Perasaan aneh menggelayuti kepalaku.

***

Malam ini, aku terbangun dari tidurku. Firasat buruk yang menghantuiku tiga hari yang lalu telah hilang. Aku hendak keluar untuk mencari angin. Secara tak sengaja aku melihat kendaraan Jeep milik Kolonel Jackson terparkir di depan tenda utama.

”Ada apa?” tanyaku dalam hati dan segera menebak-nebak.

Suasana yang sepi mendorongku untuk mendekati tenda utama mengetahui apa yang terjadi di sana. Layaknya seorang pengintai aku mendengar percakapan di dalamnya. Dari suara mereka kuketahui ada Kolonel Jackson, Mayor Collins, Letnan Leary, juga perwira-perwira lain.

“Pasukan tentara Angola dan pemberontak semakin berimbang. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi ke depan. Tapi kalau perang ini tidak berakhir, misi kita gagal. Panglima tertinggi marinir Laksamana Serrington telah mengultimatum kita agar menyelesaikan misi ini dalam semingggu ke depan. Jika tidak kita dikembalikan dan pulang ke rumah dengan gagal. Hukuman korps marinir di Pulau Idle telah menunggu jika gagal,” kata-kata tegas Kolonel Jackson yang merupakan khasnya sambil memukul meja yang membuatku terkejut.

“Kita ubah strategi. Kita tetap memasok senjata kepada Angola dan pemberontak. Laporan intelijen mengatakan pasukan Gucho lebih banyak meskipun selisihnya sedikit. Mayor Collins, perbanyak pasokan senjata kepada pemberontak. Prediksi saya pasukan pemberontak akan berhasil menggulingkan Rodrigues yang kolot itu.”

“Siap!” jawab Mayor Collins.

“Tapi ingat tetap jangan sampai pasukanmu bertemu pasukan Letnan Connor yang berada di timur,” lanjut Kolonel Jackson kepada Letnan Leary.

“Dan jangan sampai pasukan Rodrigues dan pasukan Gucho bertemu kita.”

Pertanyaanku terjawab sudah. Aku mengetahui alasan kesatuan mengirim kami yang tergolong masih muda. Untuk menjaga kerahasiaan misi yang sebenarnya. Baret marinir yang kuperjuangkan dengan nyawa untuk memperolehnya terasa seperti potongan kain dari bak sampah. Korps ini munafik.

“Bruuuuk!” aku tersungkur, seseorang telah memukulku. Sebelum pingsan aku melihat tongkat Letnan Leary yang menghantam belakang leherku.

***

Aku terbangun dan mendapati diriku telah berada di sel tahanan marinir di Pulau Idle.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).