BOPM Wacana

Sebuah Pemakaman

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Aulia Adam

“Akhirnya dia mati juga,” Henry berbisik.
“Hus! Jangan bicara begitu! Ini pemakamannya. Setidaknya hormati dia di sini, Henry.” Tante Sarah, ibunya Henry, menggerutu pada anaknya.

Aku tak sengaja mencuri dengar pembicaraan tante dan sepupuku itu. Tadinya aku hanya terkejut karena kehadiran Henry di pemakaman ini. Ia bukan tipikal orang yang tertarik dengan acara seremonial semacam ini. Lagipula, di keluarga besar kami, Henry adalah salah satu orang yang sangat jarang menghadiri pertemuan penting—jika pemakaman ini dihitung sebagai pertemuan penting.


Selain Henry, ada beberapa orang lain yang kehadirannya mengejutkanku. Misalnya Mama.

Setelah bercerai dari Pa lima tahun lalu, Mama tak pernah menampakan dirinya lagi. Bahkan untuk menemuiku, anak semata wayangnya. Terakhir kali aku bertemu Mama, usiaku masih tujuh tahun. Kabarnya, sekarang dia sudah menikah lagi dan punya bayi perempuan yang cantik. Well, kalau dia bahagia, kan tidak ada salahnya.

Ada juga Om Alex. Dia adik bungsu Pa. Sahabat sekaligus rival abadi Pa. Sejak kecil mereka selalu bersaing meski terikat hubungan darah. Bahkan tiga hari sebelum hari ini, Om Alex dan Pa bertengkar hebat. Kalau tidak salah sebabnya adalah bisnis mereka berdua yang mendadak anjlok karena Om Alex salah ambil keputusan.

Selebihnya adalah orang-orang yang menurutku wajar hadir di pemakaman ini: Om Atma, suaminya Tante Sarah, abang sulung Pa; Om Adi, Om Ferdi, Om Gustav dan Tante Rissa, karib sekaligus rekan bisnis Pa; ada juga pengacara pribadi Pa dan Tante Filla, dokter pribadi Pa yang belakangan katanya punya hubungan khusus dengan Pa.

Aku sendiri datang bersama kakek yang dari tadi hanya diam memandangi prosesi pemakaman.

Oh ya, aku lupa bilang. Ini pemakaman Pa. Dia meninggal kemarin karena kecelakaan lalu lintas. Jaguar pribadinya menabrak trotoar pembatas jalan dan disusul dengan tabrakan beruntun dari belakang. Untungnya, jasad Pa baik-baik saja. Pokoknya tidak seburuk yang orang bayangkan ketika sudah mendengar kronologi kecelakaan itu.

Menurut polisi sih, Pa dalam keadaan mabuk saat menyetir. Tapi seingatku, Pa sendiri bukan seorang pemabuk. Tapi itu kan tiga tahun lalu sebelum kami berpisah.

Oh ya, aku lupa bilang lagi. Pemakaman ini memang pemakaman pribadi, yang diikuti oleh orang-orang terdekat saja. Memang sudah tradisi di keluarga kami. Tapi untuk jumlah orang yang hadir, aku cukup terkejut. Pa punya banyak musuh. Henry, Om Alex dan Mama hanya segelintir contoh.

Di luar sana, siapa yang tak kenal Al Hadinata, pengusaha perkebunan sawit. Orang dengan tittle seperti Pa tentu punya banyak musuh. Belum lagi karena watak Pa yang begitu keras dan gampang menyinggung perasaan orang.

Contohnya Henry. Ia anak tunggal dari abang kandung Pa, Om Atma, satu-satunya anak kakek yang nasibnya kurang mujur. Kehidupan perekonomian keluarganya tidak stabil. Ia hanya bekerja sebagai sopir taksi. Sedangkan Tante Sarah adalah pegawai negeri sipil yang bekerja di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Mereka tidak mampu menyekolahkan Henry sampai ke luar negeri seperti yang diimpi-impikan Henry.

Oleh karena itu, pernah sekali keluarga mereka meminta bantuan pada Pa. Karena menurut Henry, om kandungnya itu bisa membantu mewujudkan mimpinya. Karena sesungguhnya Pa memang mampu. Toh, pendidikanku saja dulu sudah disiapkan. Rencananya aku akan ditransfer ke Amerika ketika sudah berumur 17 tahun.

Tapi, yang didapatkan Henry bukanlah sesuatu yang diinginkannya. Dia malah dihina dan dikatai ‘tak tahu diri’ oleh omnya sendiri. Sejak itu, Henry menyimpan dendam pada Pa.

Mama juga begitu. Ia selalu disalahkan Pa jika mood Pa sedang bermasalah terkait hal apa pun. Tak jarang Mama juga kena gampar kalau berani melawan.

“Semoga Saudara kita Al Hadinata, diberikan-Nya tempat yang telah Ia janjikan…” pastor masih membaca doanya yang panjang.

“Menurutmu, kenapa Henry mau berlama-lama di sini, Kek?” pertanyaan itu sebenarnya sudah daritadi menyangkut di kepalaku.

Kakek tertawa dulu sebelum menjawab pertanyaanku, “Entah juga. Namanya manusia. Mungkin saja dia sudah memaafkan ayahmu. Atau…” dia tertawa lagi. “Dia terhibur melihat jasad ayahmu ditelan Bumi.”

“Kalau Mama, Kek?”

Kakek diam sejenak, kemudian menoleh ke arah Mama. “Aryati mungkin hanya ingin memberikan penghormatan terakhir. Dia memang gadis baik yang melakukan kesalahan terbodohnya dengan menikahi ayahmu.” Lalu dia diam kembali. Tapi wajah kakek tidak tenang; ekspresi yang biasa ia tunjukan ketika ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi ia tahan.

Aku juga hanya diam. Perhatianku juga teralihkan ke arah Mama berdiri. Ada kesedihan yang mendadak menyesakkan dadaku saat melihat wajahnya. Mungkin rindu.

“Halo, Riko! Halo Husni!” sebuah suara yang mendadak menggema di pemakaman sunyi ini mengejutkanku dan kakek.

“Hai, Harry!” ujarku menyapa balik si empunya suara. “Kenapa datang lama sekali? Untung si pastor punya doa panjang untuk Pa.”

Harry tertawa. “Sorry. Sorry. Hari ini pekerjaanku menumpuk. Untung ayahmu belum keluar ya.” Dia masih tertawa. “Hei, Husni! Aku kira kau tidak mau datang ke pemakaman anakmu yang satu ini.”

Di saat yang sama, pastor selesai membacakan doanya. Dan sekonyong-konyong arwah Pa muncul di samping nisannya. Ia terlihat sangat terkejut. Wajar sih, dia kan meninggal karena kecelakaan. “Lucu sekali muka kagetmu, Al,” celetuk kakek.

“Ayah?! Riko?” Pa semakin kaget.

“Hai Pa,” sapaku sekenanya. Tujuan awalku datang juga bukan ingin bertemu-kangen dengan Pa, hanya sekadar penghormatan terakhir untuk orang tua.

“Al Hadinata, lahir 7 Juni 1970, meninggal 14 Juni 2013, akibat kecelakaan lalu lintas. Waktu kamu sudah tiba,” Harry memulai tugasnya.

Ah ya, aku lupa bilang kalau Harry itu adalah malaikat pencabut nyawa. Itu sih sebutan orang-orang yang masih hidup, karena kenyataannya mereka tak seseram namanya.

Pa masih kelihatan bingung. Dan semuanya wajar saja. Aku dan kakek lebih memilih untuk pulang. Kami kembali ke tempat yang orang-orang masih hidup sebut akhirat. Tempat yang akan ditawarkan Harry pada Pa. Tempat yang juga akan dituju semua orang setelah melewati tempat persinggahannya: sebuah pemakaman.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).