BOPM Wacana

Gara-gara Alat Ajaib

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Maria Patricia Sidabutar

Ilustrasi: Maria Patricia Sidabutar
Ilustrasi: Maria Patricia Sidabutar

 

Foto mariaPerkenalkan, namaku Ala Kadar. Emak sering memanggilku Ala. Seorang pria normal yang ingin memancungkan hidung sebab hidungku kurang sempurna bentuknya. “Maunya seperti Michael Jackson lah mancungnya. Atau bisa juga kayak si Mancung,” ujar Emak.

**

Setelah memancungkan hidungnya dengan jangka waktu yang telah ditentukan, sekarang Ala tampak tak seperti biasanya. Ia menampakkan wajah baru.

Sayang, nasibnya tak semanis kopi yang ditambahkan gula dan diminum pada pukul sembilan atau sepuluh pagi oleh anak kesehatan masyarakat. Tapi tak pahit pula seperti kopi merek Raker, yang diseduh dengan cinta dan kasih oleh baristanya. Tak pula seperti kopi gayo ataupun kopi mandailing yang katanya nikmat dan mendunia. Katanya! Begitulah bila diibaratkan. Hidung Ala yang semula terlihat unyu-unyu, mungil, dan memesona telah berubah akibat sebuah alat ajaib. Sebut saja namanya Jepitan. In Indonesian speech kayak begindang, Kawan.

Dari kejauhan, Afa Tar, teman Ala sejak kecil, sudah dari tadi berdiri di tepi jalan rumah Ala. Niat hati Afa ingin mengajak main Ala. Melihat Afa di depan rumah, Ala pun berjalan ke luar dari rumahnya menghampiri Afa sambil merepet. Tentu, wajahnya saat itu tak senang. Setelah mencapai titik koordinat yang dekat dengannya, Afa mulai menyapa.

Ala terlihat tidak bersemangat saat ditanyakan tentang kabar dan alasan wajahnya yang tak bersemangat itu. Juga Afa bertanya tentang hal apa yang sedang menimpanya. Ala menjawab, “Tidak apa-apa, Afa,” dengan nada tak bersemangat. Setelah berulang-ulang Afa menanyakan lagi apa yang telah menimpanya, akhirnya Ala pun bercerita. Bak menunggu hujan di musim kemarau.

Dalam ceritanya, Ala begitu KZL dan juga MLZ terhadap nasib yang menimpanya. “Bukan mancung, malah bengkak,” jelasnya kepada Afa dengan nada kesal saat itu.

Dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya, Ala luapkan isi hatinya dengan gairah dan emosi yang tinggi. Kalah perbincangan kaum mahasiswa yang ada di media sosial Line. Ia keluarkan semua unek-uneknya dengan deras, melebihi waduk Jakarta yang jebol akibat musim hujan. Juga melebihi air bah di zaman dulu.

Afa marah karena hidung Ala berubah bentuk menjadi sesuatu yang aneh dan ajaib menurutnya. Ia menyalahkan alat ajaib yang Ala pakai untuk memancungkan hidungnya itu. “Ya, niat awal memancungkan, tapi hasilnya malah jadi ajaib gini,” ungkapnya. Mungkin seperti namanya alat ajaib, pasti hasilnya ajaib pula.

Dengan berhati-hati, takut memotong pembicaraan, Afa pun mulai mengeluarkan nasihatnya. Ia menasihati Ala supaya jangan mencoba dan memakai alat seperti itu lagi. Menurutnya, merombak bentuk komponen tubuh itu tidaklah baik. Misalkan saja seperti kisah si Ala Kadar ini. “Itu sama saja merusak rancangan ciptaan Sang Pencipta loh, Al,” jelas Afa kepada Ala. Bila diibaratkan, ini sama dengan ketika seseorang telah melakukan aksi menjiplak dan merombak lagu ciptaan seorang komposer. Itulah ibaratnya. Semacam tidak menghargai hak cipta orang, bukan?

Nasihat Afa Tar tersampaikan setelah menunggu cerita Ala Kadar yang panjang kali lebar kali tinggi. Afa berikan seluruh kata-kata mutiara yang ia miliki dengan terperinci, mulai dari kata pengantar sampai ke penutup. Juga Afa sampaikan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Sesudah sesi curhat-curhatannya selesai, mereka berdua pun berpisah satu sama lain. Ala masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Afa pulang ke rumahnya. Mereka ingin berbuka puasa dengan yang manis-manis. Begitulah kata pengiklan di televisi.

**

Di kamar, tepat di depan cermin Ala berdiri. Ia menatapi wajahnya. Ia pegang hidungnya itu. Ia raba dengan perlahan. Dan siap gerak lagi. Kembali ia lakukan hal serupa sampai berulang-ulang. Ia berharap hidungnya kembali ke kondisi semula. Namun, apa daya, nasi telah menjadi bubur. Bubur telah dimakan. Dan makanan itu sudah dicerna di dalam perut dengan lancar. Semua telah terjadi. Ala Kadar tak bisa mengembalikan kondisi hidungnya ke semula. “Alamak, cemana pula hidungku ini?” ratapnya sambil melakukan gerakan pegang hidung, raba perlahan, dan siap gerak lagi.

Sambil melakukannya, Ala sejenak terdiam. Apa yang terjadi? Ternyata ia memikirkan sesuatu hal. Tentu ia sedang memikirkan sesuatu. Tapi apa ya? Pikiran itu tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Ya, Ala mengingat majalah yang dibelinya kemarin dulu. Ia membelinya bukan di Sekretariat SUARA USU, Jalan Universitas, Medan. la tak pernah membeli majalah SUARA USU. Tak pernah sebab ia tak suka baca berita kampus apalagi memikirkannya. Ia hanya memikirkan gaya pakaian yang lagi jaman. Mengenai gaya penampilan, ia tak perlu diajari sebab ia sudah merajainya. Namanya juga anak jaman, Kawan.

Ia membuka lembaran demi lembaran. Lembar pertama, kedua, ketiga, keempat,…, keduapuluh, dan kesekian. “Nah, ketemu,” ujar Ala sambil membaca iklan yang terpampang nyata di lembar itu. Majalah tersebut ternyata berisi iklan tentang alat untuk memancungkan hidung.

Selang waktu, muncullah ide di pikiran Ala. Lampu kuning dengan memancarkan sinar muncul di samping kepala Ala seperti adegan yang ada di acara kartun televisi. Ternyata Ala merencanakan untuk mengganti alat ajaibnya itu dengan yang lebih canggih lagi. Alamak! Bukannya bertobat, ia malah makin menjadi. Tak mempan apa nasihat Afa tadi?

Alat itu disebut Ala dengan nama nose up clipper. Parahnya, ia akan membelinya secara online hari ini juga. Supaya pengirimannya bisa sampai tiga atau empat hari kemudian. Intinya bisa cepat sampai dan bisa cepat dipakai oleh Ala. Ia sangat berharap agar hidungnya bisa kembali unyu-unyu, mancung, dan seksi memesona seperti dahulu. “Lihat saja, aku bakal pesan alat ini,” katanya berapi-api.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).