BOPM Wacana

Membaca Perlambat Penurunan Fungsi Otak

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Izzah Dienillah Saragih

Rutinitas dan frekuensi membaca memberikan pengaruh positif terhadap fungsi otak. Kebiasaan membaca ternyata membantu menjaga memori otak bekerja hingga usia tua. Temuan tersebut berdasarkan penelitian di Rush University Medical Centre, Chicago, Amerika Serikat (AS), yang menemukan kegiatan yang meningkatkan stimulasi mental seperti membaca buku dan mengerjakan teka-teki silang pada usia berapa pun dapat memperlambat penurunan fungsi otak. Ini menjadi bukti terbaru bahwa orang yang kerap melatih sel abu-abu mereka dapat terlindung dari penurunan dini fungsi otak.

“Studi kami menunjukkan bahwa melatih otak dengan mengambil bagian dalam kegiatan seperti ini di seumur hidup seseorang, dari masa kanak-kanak sampai usia tua, penting untuk kesehatan otak di usia tua,” ungkap Robert Wilson dari Rush University Medical Centre di Chicago, AS.

Penelitian tersebut dilakukan dengan melibatkan 294 orang responden berusia di atas 55 tahun. Mereka diberi tes kognitif setiap enam tahun sampai mereka meninggal. Rata-rata responden merupakan lanjut usia(lansia) hingga berusia 89 tahun. Mereka diberi pertanyaan seperti apakah mereka membaca buku, menulis, atau berpartisipasi dalam kegiatan lain yang terkait dengan rangsangan memori pada masa kanak-kanak, remaja, usia pertengahan, dan usia saat ini. Nantinya setelah responden meninggal dunia, tim dokter memeriksa otak mereka untuk menemukan yang mana yang lebih cepat mengalami penurunan fungsi otak.

Hasilnya, mereka yang sepanjang hidupnya melakukan kegiatan yang merangsang aktivitas otak, yaitu membaca, mengalami penurunan fungsi yang lebih lambat dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukan kegiatan serupa. Tingkat penurunan fungsi otak berkurang 32 persen pada orang dengan aktivitas otak yang lebih sering, dibanding dengan mereka yang melakukan aktivitas otak rata-rata. Sebaliknya, 48 persen responden yang jarang melakukan aktivitas otak seperti membaca mengalami penurunan fungsi otak lebih cepat. “Berdasarkan hasil ini, kita tidak boleh meremehkan efek dari kegiatan sehari-hari, seperti membaca dan menulis, pada anak-anak kita, diri kita sendiri, orang tua, atau kakek-nenek kita,” ungkap Wilson.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya di tahun 2012, yang diterbitkan oleh jurnal Neurologi, American Academy Neurology. Dalam penelitian sebelumnya ditemukan bahwa aktivitas fisik, salah satunya membaca, dapat mencegah penyusutan otak dan mempertahankan memori. Saat dilakukan pemindaian dengan menggunakan MRI, otak orang yang sering membaca mengalami peningkatan aliran darah yang lebih banyak ketimbang otak orang yang jarang membaca. Dengan meningkatnya aliran darah tersebut, berarti menjaga aktivitas otak supaya tetap seimbang sehingga penurunan fungsinya tidak cepat terjadi.

Selain memperlambat penurunan fungsi otak, membaca juga baik untuk meningkatkan respons diri. Respons diri, juga masih ada kaitannya dengan fungsi otak. Sebuah studi dari Institut National de la Sante et de la Recherche Medicale asal Gif-sur-Yvette, Prancis dengan menggunakan metode functional magnetic resonance imaging (fMRI) meneliti otak milik 63 orang dewasa. Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa otak orang dewasa yang sering membaca mempunyai daya tanggap yang lebih dinamis untuk kata-kata yang pernah dicetak di area otak ketika memproses informasi virtual atau gambar. Begitu pun respons pada area otak yang bekerja merespons informasi suara.

Tak sedikit orang menduga bahwa aktivitas otak akan bekerja lebih keras ketika mereka memproses kata-kata. Dugaan ini juga perlu diteliti lebih serius dan informatif. Tetapi, hasil penelitian-penelitian di atas bisa memberikan dukungan terhadap dugaan bahwa membaca adalah aktivitas yang baik bagi otak.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).