BOPM Wacana

Mei

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Guster C P Sihombing

Ilustrasi: Lazuardi Pratama
Ilustrasi: Lazuardi Pratama dan Berbagai Sumber

2014 - GusterNamaku Mei. Sebut saja begitu. Aku terlahir dari sebuah keluarga tak bergelimang emas namun berlimpah kasih. Aku ditimang bak cendana di tengah belantara. Aku disusui seorang perempuan berparas bak peragawati.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Umurku ketika itu masih sekitar enam atau tujuh tahun. Masih baru masuk sekolah dasar. Baru mencicipi seragam putih merah darah dengan topi bertulis Tut Wuri Handayani. Baru juga merasa punya teman ketika berjalan riang pergi ke sekolah.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Ayahku bukan pegawai kantor. Bukan juga berseragam lengkap dengan pistolnya. Katanya ia hanya berkeliling kampung membacakan sajak. Sajak perjuangan. Warga memuji juga mencerca. Kata mereka ayahku kurang kerjaan. Bagaimana mungkin kurang kerjaan bila ia selalu pulang malam? Kadang ia juga tak pulang kok!

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Ibuku setiap pagi memasak makanan kesukaanku, telur dadar lengkap dengan nasi dan kecap manis. Aku tak tahu apa nama kecap itu, tapi manisnya selalu saja melekat di lidah. Temanku pernah sangka aku mimisan karena bajukutertumpah kecap sebelum berangkat ke sekolah.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Sepatu sekolahku tak pernah absen dari tukang jahit sepatu langganan keluargaku. Biasanya kalau tak sepatu ayahku, ibuku, ya pasti sepatuku. Berbagai warna benang jahit pernah melekat di sepatu ini. Kata ayahku, kalau ia nanti kembali ia pasti akan beli yang baru. Tapi yang ini saja sudah cukup kok!

Namaku Mei. Sebut saja begitu.Tetanggaku biasa panggil aku Mei-Mei. Katanya mata sipit dan badan kurus. Padahal kan aku mirip sekali dengan ibuku. Berparas cantik bak peragawati. Mungkin mata mereka sengklak kali.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Aku anak satu-satunya sejak orang tuaku menikah sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu. Aku juga cucu satu-satunya sejak kakek dan nenekku dibunuh tahun1965 karena dianggap PKI. Sayang sekali aku tak bisa kenal mereka. Seharusnya aku banyak tanya tentang orang tuaku.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Saat ayah dan ibuku menikah, mereka hanya undang beberapa kerabat dekat dan saudara. Kata mereka uang buat resepsi mendingan dibuat untuk modal usaha. Kebetulan ibuku pernah kursus menjahit. Cerdas sekali, ya, pemikirannya.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Saat usiaku menginjak angka sembilan, ibuku meringkih sakit di bidan sebelah rumah. Ia melahirkan Merah, adikku satu-satunya. Sekarang aku bukan anak satu-satunya. Juga bukan cucu satu-satunya sejak Merah dilahirkan tahun 1998.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Merah sedang merah-merahnya saat beberapa orang tiba-tiba menggedor pintu rumah kami. Saat itu ayah baru pulang keliling kampung membacakan sajak. Sajak perjuangan.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Kata mereka ayahku dipinjam sebentar untuk urusan negara. Tentu aku heran seketika. Bagaimana mungkin ada urusan dengan negara sementara ia bukan orang kantoran atau orang berseragam lengkap dengan pistolnya. Ia hanya pembaca sajak. Ya sajak perjuangan.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Ibuku masih memerah susu buat Merah agar ia bisa bertahan hidup. Bayangkan kalau ibu tak membagi susunya. Merah pasti tak memerah dan segera padam. Ia hanya andalkan susu kerbau dan sedikit sop tulang ayam yang ia masak sendiri sambil menimang Merah.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Kasihan Merah. Ia tak bisa mencicipi manisnya ujung hidung atau lembut tangan ayah. Ayah belum juga pulang saat Merah pertama kali tahu mengucap. Ia ucap mama tak lupa papa. Ia tak mengerti kalau papanya tak juga pulang.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Baru saja adikku Merah ingin mencicipi seragam putih merah darah dengan topi bertulisTut Wuri Handayani. Malah ia sudah diledek anak pemberontak. Ia juga dicerca beribu hujat tentang ibuku yang tak punya suami saat Merah masih merah-merahnya. Tahu apa mereka tentang ayah, ibu, aku dan Merah?

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Selain mereka sok tahu, mereka juga tak peduli. Mereka cuci nama baiknya di atas nisan tak bernama ayahku. Atau ayahku sebenarnya belum punya nisan. Aku bilang mereka jahat, aku enggak jahat kan? Ya memang begitulah mereka.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Aku dan  Merah mulai beranjak remaja saat ibu divonis penyakit yang tak seorang pun menginginkannya. Ibu memang belum terlalu renta. Tapi ibu terlalu rapuh untuk disinggung perihal ayah. Lukanya masih segar sepertinya. Atau luka itu sudah menua dan mulai bernanah.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Aku hendak melangkah ke pelaminan saat seorang lelaki tangguh itu melamarku. Derai air mata ibu saat ia merelakanku bersanding dengan seorang lelaki. Aku tahu ia senang. Tapi, yang pasti aku tahu ia sangat sedih ketika lelaki itu melamarku dan bukan ayah yang menjadi waliku nanti. Untung Merah sudah tak merah lagi. Ia seharusnya sudah bisa menjadi waliku. Tapi tak mungkin, sebab Merah juga belum meminang.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Belum lagi usia pernikahanku seumur jagung, ibu semakin renta. Penyakitnya semakin parah. Ia parau. Juga sengau. Sebab kerongkongannya terlalu kering meneriakkan semangat. Semangat mencari ayah, belahan jiwanya.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Ini entah sudah Kamis ke berapa kami berdiri di sini. Menanti jawab juga pertanggungjawaban. Hitam masih saja kelam. Putih masih saja jauh. Merah masih saja mendendangkan sajak-sajak ayah yang pernah ibu simpan.

Namaku Mei. Sebut saja begitu. Ayah meninggalkan aku, Merah, dan ibuku yang renta. Ia merantau atau di rantau. Aku tak tahu. Yang aku tahu ialah ia pergi. Ia tak pernah kembali. Ia belum lagi hilang dari ingatan ini. Aku tak mau lupa. Aku menolak lupa!

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).