BOPM Wacana

Dara

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Guster CP Sihombing

Sumber Istimewa.
Sumber Istimewa.

Perjalanan ini masih panjang, ini hanya secuil dari kisah yang harus kau tahu tentang
menjadi perempuan. Tergantung penilaianmu, aku perempuan yang bagaimana.
Dara

2014 - GusterUdara semakin dingin menusuk tulang hingga persendian ngilu tak karuan. Penglihatan di langit semakin memudar, awan gelap mulai menyerang. Matahari entah kemana larinya. Barangkali ia mau istirahat setelah kegerahan memanggang sentosa alam sepanjang hari. Bunyi guntur juga menganggu pendengaran.

Di ujung sana hujan sudah lebat. Tak lama lagi pasti tiba di tempat Dara tidur sambil mendengarkan Read All About It dari Emeli Sande lewat pemutar musik yang diberi seseorang tempo hari. Di tepi danau buatan dimana ia kini melarikan dirinya. Di sebuah kota kecil di Pulau Jawa.

Sepertinya ia tak hiraukan semua yang sedang terjadi. Rintik hujan jatuh di wajahnya yang tertutup kaca mata hitam penutup rasa malu akan kantong mata yang setiap hari ditabungnya. Dari earphone yang tertempel di telinganya terdengar Girl on Fire-nyaAlicia Keys.

Hujan semakin menjadi-jadi saat rokok di jari kanannya padam terhempas libasan hujan. Ia jatuhkan puntungnya di sekitar rumput hijau yang juga basah karena hujan. Tadi ia masih tertahan untuk rebahan di sana. Tapi kali ini setelah hujan membasahi hampir seluruh tubuhnya, ia mulai bangkit dan berjalan perlahan ke arah tempat ia kini tinggal. Sebuah kamar yang cukup luas untuk dua orang. Ia indekos di sebuah ruangan sederhana tanpa induk semang, letaknya di seberang kampus swasta khusus pelajaran ekonomi.

Bentuk tubuhnya masih sama seperti beberapa bulan lalu ketika ia dimasuki seseorang yang kerap ia undang. Tepatnya mereka saling undang. Rambut hitam panjang ia biarkan terurai di antara pundaknya. Kaki jenjangnya dibalutjins pendek dan kaos tanpa lengan membungkus perut rampingnya. Bot berwarna cokelat semata kaki jadi andalannya untuk bepergian. Semuanya basah.

Berkali-kali pintu kamar mandi dibuka dan ditutup. Entah keberapa kalinya hari ini ia masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ia buka bungkus test pack (semacam alat tes kehamilan) yang entah sudah keberapa juga yang ia beli kemarin. Ia tampung kencingnya dalam gelas kaca dan mencelupkan test pack ke dalamnya. Hasilnya tetap sama. Positif.

“Anjing! Anjing! Anjing!”

Ia memaki sejadi-jadinya. Ia hisap dalam-dalam rokok filter yang juga entah keberapa untuk hari itu. Ia hembuskan ke langit-langit dan terbang bersama angin.

***

Pagi-pagi sekali Dara sudah membuka pintu kamarnya.Udara tak dingin juga tak panas.Bau khas tanah basah sisa hujan kemarin masih tercium lewat hidungnya. Ia pakai sepatu bot warna cokelatnya. Kali ini tubuhnya dibalut gaun tanpa lengan sebatas lutut. Ia tutup pintu hijau lumut kamarnya. Ia berjalan keluar kompleks indekos menuju pinggir jalan raya. Ia setop angkutan umum berwarna hijau terang.

“Stasiun kereta, Kang!” katanya sambil naik ke angkot yang seandainya lebih lama dari itu akan dipenuhi anak-anak sekolah yang kejar-kejaran dengan waktu. Seorang anak berseragam abu-abu melirik jam tangannya dengan sesekali menatap jauh kearah angkot melaju. Waktu menunjukkan pukul 07.52 WIB. Barangkali delapan menit lagi bel sekolahnya berbunyi.

***

Benar saja, setelah melewati beberapa sekolah dan deretan toko, angkot yang ditumpangi Dara tiba di stasiun kereta. Ia berlari kecil memasuki antrean panjang orang-orang  yang sudah lebih dulu tiba darinya. Ada pedagang, karyawan, mahasiswa, ibu-ibu, juga siswa. Sekitar lima belas menit ia turut mengantre di sana. Panas. Gelisah.

“Perhatian! Perhatian! Kereta menuju Jakarta sudah tiba!”

Sesaat setelah bunyi pengeras suara yang tergantung di sekitar stasiun terdengar, tanpa ba-bi-bu antrean panjang tadi berubah jadi atraksi mengharukan serta tak pantas jadi tontonan. Siapa cepat (sebenarnya kuat) ialah yang dapat tempat duduk. Padahal kereta belum betul-betul berhenti.

Dara yang datang belakangan hanya kebagian tiang tepat di depan pintu masuk kereta. Mau tak mau ia berdiri di sana berpegangan pada tiang. Kereta yang awalnya lambat kini melaju semakin cepat. Sebenarnya ia mau naik kereta khusus perempuan. Tapi karena terlalu lama datang ke stasiun, ia harus rela naik kereta umum. Kereta khusus perempuan berangkat setibanya ia di stasiun.

“Cangcimen-cangcimen! Kacang kuaci permen! Cangcimen-cangcimen! Kacang kuaci permen!”

Berjenis-jenis dagangan dijajakan pedangang. Tapi tak satu pun menarik perhatian Dara. Padahal ia belum makan apa-apa dari tadi pagi.Someday melantun di telinganya.Ia pasang volume paling keras agar ia tak terus-terusan berkelahi dengan pikirannya. Kadang pikirannya bilang lanjut, kadang bilang pikirkan ulang. Ia gelisah sejadi-jadinya. Lagi, dalam hatinya ia mengumpat pada kenyataan.

***

Setibanya didepan sebuah bangunan putih, langkahnya terhenti. Jantung keduanya serasa berdebar kencang.

Ia langkahkan lagi kakinya kedalam ruangan itu. Sepi. Padahal ada beberapa orang yang sudah duduk deretan kursi biru cerah tepat setelah pintu kaca. “Mau paket apa, Mbak?” tanya sekuriti tanpa basa-basi. Sesuai informasi yang ia lihat di internet, paket yang cocok untuknya adalah konseling tahap III. Langsung saja ia sebut paket itu dan menerima nomor antrean.

013.

Begitu tulisan yang tertera di kupon antrean yang ia terima dari sekuriti yang menyapanya tadi. Jantungnya dan jantung keduanya serasa beradu untuk berdetak. Ia tak nyaman dengan kedua jantungnya. Berkali-kali ia masuk kekamar mandi hanya sekadar menghisap rokok filter yang dibawanya dalam tas. Itupun tak sampai sebatang ia habiskan. Ia hanya butuh teman.

Hampir satu jam ia menunggu giliran. Di pukul 12.13 WIB nomor antreannya dipanggil. Ia bergegas, merapikan tatanan rambut. Ia lalu berjalan kearah ruangan yang dimaksud si pemanggil tadi. Ruangan yang tak terlalu kecil untuk pemeriksaan satu orang.

Ia naik ketempat tidur berpenyangga kaki. Dokter perempuan paruh baya menyuruhnya menaikkan kakinya keatas penyangga. Kakinya terkangkang menatap tajam si dokter. “Umur segini masih gampanglah!” kata dokter menyuntik anastesi kearah selangkangan Dara.

Tak berapa lama janin Dara sudah keluar. Dua kepalan tangan tanpa wujud. Ia menangis dalam hati. Tentu ia tak mau kelihatan lemah dihadapan janinnya. Perempuan macam apa yang menangisi janin yang telah ia semai dan tabur sebelum waktunya? Dara tak termasuk perempuan golongan itu.

Dara berdarah. Setelah ia selesaikan urusan administrasi di klinik jahanam itu, ia masuk lagi ke kamar mandi. Ia hidupkan lagi rokok filter kesayangannya. Telepon genggam yang sedari kemarin ia matikan dikeluarkan dari dalam tas. Setelah hidup, ia hapus pesan terakhir dari laki-laki yang diundangnya. Tepatnya mereka saling undang.

Aku sudah punya istri.

Begitu isi pesan terakhir yang ia hapus.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).