BOPM Wacana

Lima Tahun Bersama Prof Syahril Pasaribu

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Tantry Ika Adriati

Bak lari estafet, kepemimpinan Rektor Prof Syahril Pasaribu hampir tiba di garis akhir. Tongkat yang memuat kinerja selama lima tahun akan diserahkan pada rektor berikutnya. Isinya: Warisan Sang Rektor.

Rektor | Rektor Prof Syahril Pasaribu saat ditemui di ruang kerjanya setelah Uji Sidang, Kamis (13/11). Masa jabatannya akan segera berakhir pada Maret tahun depan. | Yulien Lovenny Ester G
Rektor | Rektor Prof Syahril Pasaribu saat ditemui di ruang kerjanya setelah Uji Sidang, Kamis (13/11). Masa jabatannya akan segera berakhir pada Maret tahun depan. | Yulien Lovenny Ester G

Dahinya mengkerut, bibirnya melengkung ke bawah. Novzel Ridho A Hasugian sedang mengira-ngira berapa kali ia bertemu Rektor Prof Syahril Pasaribu.

“Entah tiga atau lima kali,” ujarnya. “Itu sejak jadi mahasiswa baru.”

Padahal sekarang ia sedang masuki semester tujuh di Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Di antara yang paling sedikit itu, pertemuannya dengan Prof Syahril dalam sebuah aksi demonstrasi di depan biro rektorat adalah yang paling diingatnya.

Siang itu, akhir Oktober tahun lalu. Kurang lebih seratus mahasiswa dari berbagai elemen berkumpul di depan biro rektorat. Novzel yang bergabung dengan Front Mahasiswa Nasional (FMN), salah satu organisasi ekstra di USU, ingat kalau Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Marzuki Alie tengah melawat USU hari itu.

Banyak tuntutan yang ingin disampaikan demonstran. Paling utama ialah transparansi keuangan.

Novzel ingat, Thariq Tsaqib salah seorang temannya yang merupakan Ketua FMN Ranting USU kala itu menjadi penyambung lidah antara demonstran dengan rektor. Thariq sibuk menjelaskan maksud mereka. Intinya menuntut transparansi laporan keuangan USU yang dianggap tak mudah diakses.

“Tapi waktu itu dia (rektor—red) malah teriak, ‘Kamu masih mahasiswa! Enggak usah sok tahu!’” ungkap Novzel.

Lagi, menurut Novzel, rektor sekarang jarang langsung turun ke mahasiswa. Masih banyak mahasiswa yang tidak kenal dengan rektornya.

Padahal, menurut Novzel, rektor harusnya lebih sering berinteraksi dengan mahasiswa. Misalnya dengan hadir dalam kuliah-kuliah umum yang bisa menginspirasi mahasiswa USU.

Sebenarnya rektor sesekali hadir di beberapa acara, seperti wisuda, dies natalis fakultas, dan kuliah umum. Paling diingat Wakil Rektor II Prof Armansyah Ginting adalah ketika rektor menghadiri acara Dies Natalis Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dan Fakultas Hukum (FH).

Bahkan saat Prof Arman masih menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik, Prof Syahril sering mengajak ia dan pimpinan fakultas lainnya untuk mengunjungi mahasiswa. Pun setelah ia dipilih menjadi Wakil Rektor II USU.

Namun, belakangan rektor merasa mengunjungi mahasiswa bukan satu-satunya cara untuk dekat dengan mahasiswa. Di dalam rapat pimpinanlah rektor mendengar masukan-masukan dari dekan. Sebab salah satu cara meninjau mahasiswa adalah dengan sering mengadakan rapat bersama pimpinan fakultas.

Lanjut Prof Arman, buat apa ada wakil rektor kalau malah rektor sendiri yang lebih sering turun ke bawah. “Makanya yang sering terlihat itu WR I atau WR III,” cerita Prof Arman. Toh di tiap fakultas ada dekan yang lebih tahu bagaimana keadaan mahasiswanya.

Kadang-kadang rektor yang datang sendiri ke fakultas. Seperti dulu, ketika Prof Syahril meninjau pembangunan gedung baru FISIP atau mengunjungi mahasiswa Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Pertanian (FP) yang saat itu sedang kisruh. “Tetapi memang tak sesering dekan atau wakilnya,” kata Prof Arman.

Prof Arman malah merasakan dukungan yang baik dari Rektor Prof Syahril selama empat tahun ini. “Beliau orang yang bijaksana,” ucapnya. Baik dalam menjaga keseimbangan di USU maupun dalam menjalankan tugasnya sebagai rektor. Bagaimanapun, menurut Prof Arman, Prof Syahril terbuka dengan ide-ide baru yang digagas untuk kemajuan USU.

Salah satu usulan yang diterima Prof Syahril ialah pengadaan bus kampus USU. “Bus kampus kan sekarang banyak digemari mahasiswa,” ujar Prof Syahril. Bus kampus adalah salah satu program kerja (progja) di bawah naungan USU ASRI (Akademik, Sinambung, Relevan dan Integral).

Ialah Project Management Unit (PMU) yang dibentuk Prof Syahril untuk mewujudkan cita-cita USU yakni National Achievement with Global Reach. Kegiatan prioritas USU ASRI berkisar pada ruang kelas, laboratorium, fasilitas umum mahasiswa, dan lingkungan USU, seperti dilansir dari Tabloid SUARA USU Edisi 93, Mei 2013.

Dalam kata sambutannya saat Dies Natalis USU Agustus silam, Prof Syahril menyatakan sudah ada sebelas pembangunan gedung baru di enam fakultas 2012 lalu, dan lima fakultas di tahun 2013. Pun tahun ini ada pembangunan gedung untuk FT dan FKM.

Tak hanya pembangunan gedung kuliah baru. Dilakukan juga perbaikan drainase, pemeliharaan laboratorium, pemeliharaan rumah dinas rektor, gedung olah raga serta pengembangan fasilitas umum untuk mahasiswa. Perbaikan yang sama juga dilakukan di biro rektorat, taman di depan biro rektorat, auditorium, dan gelanggang mahasiswa. “Sekarang kan juga akan ada sepeda kampus,” tambah Prof Syahril.

FH misalnya. Dekan FH Prof Runtung Sitepu bercerita akhir tahun lalu selain pembangunan gedung baru, ditambahkan juga parkiran, serta pengecatan ulang semua gedung di FH. “Ada perbaikan toilet juga,” lanjutnya.

Laboratorium juga menjadi perhatian. Seperti pembangunan Laboratorium Ilmu Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Prof Runtung bilang, laboratorium berpengaruh pada penelitian dosen dan mahasiswa. Aspek yang memegang peranan dalam akreditasi USU.

Menurut Prof Syahril sebenarnya ada peningkatan akreditasi USU. Tahun ini, ada 28 program studi (prodi) yang memiliki akreditasi B. Jumlah ini meningkat dibanding tahun 2009, hanya ada dua belas prodi berakreditasi B.

Pun begitu dengan penelitian dosen. Kata Prof Syahril ada peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya.  Tahun ini ada 215 dari 346 usulan judul penelitian yang disetujui Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi (Dikti). Meningkat dari hanya 114 judul yang diterima tahun lalu.

“Enggak nurun, cuma naiknya pelan. Sementara orang naiknya cepat sekali,” ujar Prof Syahril.

Berdasarkan data Lembaga Penilitian (LP) USU, tahun 2010 hanya ada sepuluh persen dosen yang melakukan penelitian. Tak banyak proposal yang masuk ke LP, hanya sekitar 160 proposal yang berhasil lolos dan didanai Dikti.

“Mungkin dosennya sibuk mencari uang,” kata Prof Syahril sambil tertawa.

Tak hanya itu, banyaknya prodi dengan akreditasi C juga jadi alasan lain. Prof Zulkifli, WR I bilang akreditasi C banyak terdapat di prodi D-III. Pasalnya, tak ada ada dosen tetap untuk D-III, yang ada hanya dosen tidak tetap.

Sedangkan dalam penilaiannya, Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) tak memperhitungkan dosen tak tetap. Terlebih lagi Prof Zulkifli bilang USU tak punya kuasa. Sebab masalah dosen bukan ditangani USU langsung, namun oleh Badan Administrasi Kepegawaian Negara.

Upaya untuk menjadikan USU akreditasi A, kata Prof Zulkifli sebenarnya perlu dilakukan seluruh civitas akademika. Sebab penilaian terhadap akreditasi sangatlah kompleks, baik mahasiswa maupun dosen sama-sama punya peran penting.

Terlebih dosen, yang tugasnya jelas terpapar di dalam tri darma perguruan tinggi yakni: mengajar, meneliti, dan mengabdi. “Kita di sini sebagai pengajar, kalau enggak, bukan di sini tempat kita, kan?” sambung Prof Syahril. Inilah yang menurutnya perlu ditingkatkan.

Kini status USU berubah dari Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT-BHMN) menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Ke depannya, menurut Prof Arman, USU tak bisa main-main lagi.

Sebab salah satu indikator utama pencapaian PTN-BH dengan mencapai nilai tertinggi, yakni akreditasi A. Ditambah lagi, penilaian pola audit bukan hanya dengan hasil audit Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) saja, melainkan juga melihat hasil yang dicapai USU.

“Penelitian dosen sudah ada belum?” katanya. Prof Arman pikir tak ada gunanya dua tahun ini hasil audit laporan keuangan mendapat nilai tinggi, tetapi, “Tak ada output pada akreditasi USU.” Hal ini yang harus dikejar ke depannya, jelasnya lagi.

Pun, menurut Prof Arman ia selalu sediakan anggaran untuk penelitian dosen. Tetapi tetap tak ada peningkatan. “Buktinya akreditasi USU masih B,” sahutnya.

Prof Syahril tuturkan USU kini sudah mewajibkan setiap prodi membuat dua penelitian per tahun. Penelitian ini akan dibiayai oleh universitas. “Mudah-mudahan akan membantu,” ucap Prof Syahril.

Bus Kampus | Sejumlah mahasiswa akan naik bus kampus di halte depan FIB, Jumat (14/11). Bus kampus adalah salah satu progja Rektor Prof Syahril Pasaribu yang tercapai selama menjabat. | Wenty Tambunan
Bus Kampus | Sejumlah mahasiswa akan naik bus kampus di halte depan FIB, Jumat (14/11). Bus kampus adalah salah satu progja Rektor Prof Syahril Pasaribu yang tercapai selama menjabat. | Wenty Tambunan

Harus Berbenah

Kini, masa Rektor Prof Syahril tak lama lagi. Maret tahun depan, masa kepemimpinan Prof Syahril akan resmi berakhir. Lima tahun lalu, saat dinyatakan resmi menjadi Rektor USU periode 2019-2014, ada tujuh program kerja yang digadang-gadang.

Yakni: tata kelola yang handal dan sumber daya manusia yang berkomitmen; peningkatan reputasi universitas menuju achievement with global reach; peningkatan relevansi dan daya saing disertai pemertaan dan penelusuran akses; peningkatan kemandirian melalui wira usaha (enterpereneurship); pengembangan perilaku kecendikiawanan yang beretika; peningkatan income generating dan penataan infrastruktur dan fasilitas kampus.

Namun, setelah lima tahun tak semua diselesaikan dengan baik oleh Prof Syahril.

Prof Syahril mengamini. Menurutnya yang paling ia rasakan belum maksimal adalah kemananan dan akademik. Prof Syahril tak bicara banyak terkait keamanan. Namun, mengenai akademik, menurutnya USU sudah punya fasilitas penunjang akademik sudah maksimal, hanya peningkatan nilai akademik saja yang kurang.

Contohnya, riset dan penelitian yang dilakukan dosen dan mahasiswa. Menurutnya, USU akan dengan mudah mencapai akreditasi A di tahun 2017 nanti kalau riset dan penelitian ini ditingkatkan.

Erwin Nasution, alumni sekaligus Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Faultas Pertanian (FP) setuju dengan hal tersebut. Menurutnya, akreditasi universitas berpengaruh pada peluang kerja tamatan USU nantinya. “Kalau masih B, perusahaan nggak akan langsung terima,” terangnya.

Akreditasi tentu menjadi salah satu evaluasi di masa kepemimpinan Rektor Prof Syahril, kata Erwin.

Lanjut Erwin, ada evaluasi lain di masa kepemimpinan Prof Syahril. Kampus II USU Kwala Bekala. Kampus kedua USU yang sudah dimulai sejak kepemimpinan Rektor Prof Chairuddin Panusunan Lubis─disapa CPL─hingga kini tak menujukkan perkemajuan yang signifikan. Pembangunan di sana masih berupa pendopo, asrama mahasiswa, pos-pos jaga, gudang, beberapa kantor administrasi, pagar pembatas, bengkel dan gapura “Sayang sekali, padahal sudah lama,” sahutnya.

Pun Erwin sepakat masih ada prioritas lain yang harus dikejar ketimbang Kwala Bekala, yaitu perumahan dosen. Bagaimanapun, perumahan dosen adalah milik USU. Seharusnya rektorat lebih tegas kepada dosen-dosen yang sudah pensiun, agar tak menggunakannya menjadi rumah pribadi. Apalagi sampai dijadikan lahan bisnis untuk kontrakan mahasiswa. “Padahal lahan rumah-rumah dosen itu bisa digunakan untuk pembangunan USU juga.”

WR V Yusuf Husni sampaikan kesulitan utama dalam pembangunan Kwala Bekala adalah keterbatasan ketersediaan dana yang dimiliki USU. Sebab dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk USU tak cukup untuk membangun lahan seluas 300 hektare tersebut. “Pun susah jalin kerja sama dengan pihak luar,” sahutnya.

Namun Yusuf bilang pemeliharaan tetap dilakukan di sana. Gedung untuk Fakultas Kehutanan (Fahuta) juga baru tahun depan akan mulai dibangun di sana.

Terkait rumah dosen, jauh hari sebelumnya rektorat layangkan surat kepada dosen yang sudah pensiun agar meninggalkan perumahan dosen. Namun, berbagai alasan diterima pihak rektorat. Yusuf bilang, beberapa dosen beralasan tidak memiliki rumah selain di USU. Pun untuk penggunaan rumah sebagai kontrakan, malah mahasiswanya mengaku sebagai kerabat dosen. ”Jadi susah untuk bersikap tegas,” sahutnya.

Keduanya menjadi pekerjaan rumah yang ditinggalkan Prof CPL lima tahun lalu. Ada satu lagi yang ditinggalkan Prof CPL untuk diteruskan oleh Prof Syahril. Rumah Sakit (RS) USU. Sejak  rampung 2011 lalu, RS USU tak kunjung diresmikan. Ketersediaan fasilitas menjadi masalah saat itu. Hingga kini, saat bangunan fisik, fasilitas, tenaga kepegawaian sudah lengkap, RS USU masih belum diresmikan.

Prof Syahril bilang tak ada masalah apa-apa tentang RS ini.  Yang jadi masalah adalah tak ada dana untuk mengundang presiden agar resmikan RS. Akhirnya dibuatlah rencana mengundang menteri pendidikan sebagai gantinya.

Kini, November adalah bulan peresmian RS USU, meskipun belum ada tanggal pastinya. “Kan sudah ganti menteri baru,” sahutnya.

Masa Prof Syahril tak lama lagi. Empat bulan waktu yang tersisa belum tentu cukup untuk perbaiki kinerja yang menurut Prof Syahril belum maksimal. Bagaimanapun akreditasi tetap menjadi pekerjaan rumah yang utama untuk rektor selanjutnya, sahut Prof Syahril. “Mudah-mudahan lebih baik ke depannya,” pesan Prof Syahril.

Koordinator Liputan: Tantry Ika Adriati

Reporter: Aulia Adam, Guster CP Sihombing, Rati Handayani, dan Tantry Ika Adriati

 

Laporan ini pernah dimuat dalam Tabloid SUARA USU Edisi 100 yang terbit November 2014.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).