BOPM Wacana

Pantai Lagundri dan Sorake, Bak Mutiara dalam Lumpur

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Gio Ovanny Pratama dan Renti Rosmalis

“Kegiatan pariwisata di sini sekarang tak lagi hidup, sudah berubah. Bisa dikatakan hidup segan mati tak mau.” – Akila Wau (Ketua Komunitas Nias Surfing Club)

 

Kegiatan olahraga selancar di Pantai Sorake | Aulia Adam
Kegiatan olahraga selancar di Pantai Sorake | Aulia Adam

Tanpa kami sadari bensin salah satu sepeda motor yang kami sewa hampir habis setelah menempuh empat jam perjalanan. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) telah kami lewati beberapa kilometer lalu. Terpaksa kami mengisi di salah satu warung yang menjual bensin eceran di pinggir jalan.

Setelah mengisi bensin kami kembali lanjutkan perjalanan. Mencari-cari petunjuk jalan ke arah Pantai Lagundri. Terakhir kali berhenti di Teluk Dalam, Nias Selatan, kami disarankan melanjutkan perjalanan ke arah selatan sejauh dua jam. “Kalian akan lewat Lagundri dulu baru Sorake,” kata seseorang yang kami tanyai arah jalan. Maklum saja, ini kali pertama menginjak tanah Nias.

Tak dinyana, tak sampai sepuluh menit dari warung, kami malah menemukan papan petunjuk jalan menuju Pantai Sorake, salah satu tujuan kami selain Pantai Lagundri.

Kami ikuti jalan sesuai petunjuk. Ada simpang empat, dan Sorake belok ke kiri. Namun kami tak menemui tanda-tanda telah melalui Pantai Lagundri.  Sebab, di kiri jalan dari Gungungsitoli hingga ke Nias Selatan dihiasi dengan pemandangan serupa berupa pantai.

Kami tanya pada seorang penduduk di Sorake, dia bilang persis seperti orang di Teluk Dalam: kami kelewatan. Jadi kami kembali ke warung tempat mengisi bensin. Bertanya pada sang pemilik warung.

“Numpang tanya, dimana Pantai Lagundri, ya, Bu?”

“Itu di depan,” ia menunjuk laut di seberang rumahnya.

Kerangka penanda kepemilikan pasir. | Gio Ovanny Pratama
Kerangka penanda kepemilikan pasir. | Gio Ovanny Pratama

Pantas saja kami keliru. Tak ada papan penunjuk jalan ataupun gapura yang menandakan keberadaan pantai tersebut. Ditambah lagi keadaan pantai yang sepi, tak ada satu pun pengunjung.

Lautnya menjorok ke dalam membentuk teluk kecil lengkap dengan pasir putih. Airnya biru muda, menyatu dengan langit. Gemuruh ombaknya terdengar jelas. Syuurr.. syuurr.. si ombak membantingkan diri ke mulut pantai.

Yoreanis Dakhi nama si Ibu Pemilik Warung. Ia tinggal di daerah ini sejak 90-an, saat itu ia masih belasan tahun. Dulu Yoreanis dan orang tuanya punya penginapan dan restoran. Selain keluarganya, keluarga lain juga membuka usaha sama. Semuanya bergerak di sektor pariwisata. Pengunjung saat itu tak usahlah ditanya, ramainya minta ampun.

“Apa pun yang saya jual, langsung habis dalam sehari,” katanya.

Tak hanya penginapan dan restoran saja yang ramai, ada diskotek dan penyedia jasa perjalanan internasional. Bahkan kapal penyeberangan Sibolga-Teluk Dalam dan sebaliknya berlayar tiap malam.

“Dulu cantik, lengkap fasilitasnya, macem hotel di Putri Hijau (kawasan di Medan—red) itu,” katanya.

Kini tak ada lagi kapal penyeberangan Sibolga-Teluk Dalam, ataupun hotel bintang tiga. Jangan tanya apakah diskotek masih ada, rumah makan skala kedai kopi pun tak kelihatan. Hanya ada sisa reruntuhan. Sepertinya bekas penginapan, atau mungkin rumah makan. Tak heran juga kenapa pantai ini sepi. Sejauh mata memandang hanya ada pasir dan air laut.

Ini semua akibat gempa dan tsunami di Aceh 2004 silam. Keduanya sukses memporak-porandakan kehidupan pariwisata di pantai ini. Terpuruknya geliat pariwisata di sini berakibat pada ekonomi masyarakat yang memang bergantung pada pariwisata.

Biru air di Pantai Lagundri. | Aulia Adam
Biru air di Pantai Lagundri. | Aulia Adam

Pemerintah daerah (Pemda) Nias Selatan tak perbaiki semua fasilitas, seakan dibiarkan begitu saja. Penginapan yang ada hanya sekelas losmen, itupun di Pantai Sorake sana. Sekitar sepuluh menit dari Lagundri bila berkendara dengan sepeda motor. Biasanya para pengunjung menginap di penginapan yang ada di sepanjang Pantai Sorake.

Keadaan diperparah dengan transportasi yang sulit. Tak ada bus khusus dari Gunungsitoli ke Teluk Dalam untuk mencapai pantai ini. Alhasil turis yang ingin berkunjung harus melewati jalan darat untuk sampai ke Teluk Dalam.

Kami teringat dengan awal perjalanan menuju ke sini. Kami sempat diperingati agar hati-hati selama di perjalanan oleh penduduk setempat. “Jika lewat dari jam empat sore lebih baik kalian menginap saja, tak aman jika masih mengendarai kendaraan jam segitu,” tegas ibu pemilik rumah yang kami tumpangi di Desa Muawӧ, Gunungsitoli.

Mereka bilang, tidak aman berkendara ke arah Nias Selatan bila hari telah gelap. Sering terjadi perampokan di tengah jalan. Banyak motif yang dilancarkan, mulai dari pura-pura minta tolong, hingga dengan sengaja memblokir jalan. Maka jika melewati jalan darat lebih baik sebelum pukul empat sore.

Namun, syukur saja selama empat jam perjalanan kami tempuh, tak ada hal-hal aneh yang terjadi. Justru para penduduk sangat ramah. Mereka tersenyum saat disenyumi, dan menyahut ramah saat ditanyai.

Sebenarnya jalanan menuju Teluk Dalam bisa dibilang mulus, tak terlalu banyak jalan yang rusak ataupun berlubang, jembatan penghubung juga sudah dibangun hasil kerjasama pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jepang. Walaupun begitu tetap saja belum ada kendaraan resmi yang bisa ditumpangi. Jika ingin ke Teluk Dalam harus sewa sebuah mobil, ongkosnya minimal Rp 60 ribu per kepala atau Rp 250 ribu untuk satu mobil.

Luke Christopher, salah seorang peselancar dari Australia. | Aulia Adam
Luke Christopher, salah seorang peselancar dari Australia. | Aulia Adam

Jalur ini juga yang biasa digunakan turis. Baik domestik maupun internasional.

Keadaan yang parah semakin parah dengan adanya penambang pasir liar di lingkungan pantai. Letaknya sekitar sepuluh meter dari bibir pantai, saat itu ada sekitar lima orang penambang pasir. Sebenarnya itu ilegal, tapi menambang adalah mata pencarian penduduk setempat, selain melaut dan bertani. Apalagi gairah pariwisata juga lesu.

“Masyarakat di sini pernah ngadu sama pemda, tapi tak ada respon,” tutur Yoreanis.

Kami coba dekati pantai. Jelas terlihat permukaan pantai menurun hingga dua meter. Hampir di semua pinggiran pantai dikeruk. Banyak pohon kelapa bertumbangan. Bonggolnya tercabut dari pasir. Pasir yang mereka gali milik salah seorang warga, sehingga pemda tak pernah mengganggu. Sudah tiga tahun Nao Tano dan teman-temannya mengeruk pasir Lagundri untuk digunakan sebagai material bangunan. Dalam sehari mereka diupah Rp 60 ribu.

Setelah berbincang dengan Nao Tano, kami kembali menuju warung Yoreanis untuk pamit. Melanjutkan pelesir ke Pantai Sorake.

Sedikit berbeda, di Sorake pantainya tak bertemu dengan pasir, namun batu karang. Sepanjang dua ratus meter dari bibir pantai hanya ada batu karang mati. Karang yang sangat keras sehingga jika berjalan harus hati-hati, jangan menginjak bagian tajamnya. Lebih baik gunakan alas kaki.

Namun begitu pun Sorake tetap punya pasir. Sebelum kita menginjak batu karang pasirlah yang ada. Di sini berderet penginapan.

Aktivitas penambangan pasir di Pantai Lagundri. | Aulia Adam
Aktivitas penambangan pasir di Pantai Lagundri. | Aulia Adam

Pantai Sorake tak sesepi Lagundri, gairah pariwisata lebih hidup di sini.

Ombak adalah salah satu alasan yang membuat pantai ini menarik. Puluhan turis terlihat berkumpul di satu titik pantai yang miliki ombak terbesar, tentu saja, untuk berselancar. Tak henti-hentinya ombak besar berdatangan, namun pada April ini ombak hanya mencapai tinggi sekitar dua meter. Hal ini karena belum masa badai—istilah masyarakat sekitar kala ombak tinggi—biasanya Juni hingga Agustus. Peselancar tadi baru beranjak pulang saat malam. Tak ada cahaya buatan untuk mendukung aktivitas berselancar. Gelap, kecuali cahaya temaram bulan.

Di sana kami bertemu dengan empat orang pemuda, mereka tengah berbincang di pendopo kecil di pinggir Sorake. Pendopo yang dibuat sederhana dari semen, tiga tempat duduk mengelilingi sebuah meja persegi, beratapkan seng tipis, tanpa pencahayaan. Jadilah mereka berbincang dengan pencahayaan seadanya yang datang dari penginapan sekitar. Ditemani suara gemuruh ombak dan angin malam Sorake.

Ialah anggota Nias Board Rider, komunitas anak pantai pencinta olahraga selancar. Salah satunya Justin Bulolo. Justin bilang komunitas ini hadir untuk balas dendam pada dinas pariwisata.

Salah satu peselancar cilik beradu dengan ombak Pantai Sorake. | Gio Ovanny Pratama
Salah satu peselancar cilik beradu dengan ombak Pantai Sorake. | Gio Ovanny Pratama

Ceritanya, 2011 silam, Dinas Pariwisata Nias Selatan mengadakan kejuaraan selancar internasional. Bekerjasama dengan komunitas selancar dari Bali. Semua persiapan sudah siap. Peserta, wisatawan, dan jurnalis sudah memesan tempat penginapan.

“Namun tiba-tiba seminggu jelang hari H, kejuaraan dibatalkan. Alasannya tidak ada dana, padahal kami tahu dananya ada,” cerita Justin.

Sejak itu reputasi Nias jadi buruk. Berdirinya Nias Board Rider untuk menunjukkan mereka bisa mengembalikan citra pantai ini jadi baik lagi. Justin terlihat yakin dengan ucapannya.

“Apa benar ombak di sini nomor dua di dunia?” kami bertanya.

“Kalau dari segi keindahan pantai, ombak di sini jelas nomor dua,” jawabnya. “Air di sini tak terlalu hangat sehingga nyaman kalau pengin selancar, perairan di sini juga dalam sehingga aman kalau misalnya jatuh,” tambahnya.

Akila Wau, Ketua Nias Surfing Clubkomunitas pencinta selancar serupa, sependapat dengan Akila. Ia yang kami temui di keesokannya, menjelaskan ombak di Sorake tak berbahaya, ketika badai pun tetap bisa berselancar dengan aman karena jarak ombak dengan karang jauh. “Makanya ombak di sini terbaik ke dua setelah Hawaii,” ungkapnya.

“Kalau lautnya surut bagaimana?”

“Tak masalah, laut surut masih bisa berselancar. Di tempat lain kalau surut harus tunggu pasang dulu, di sini bisa berselancar selama 12 jam. Selain itu di Sorake tak ada pertukaran angin,” jelasnya.

Pertukaran angin akan berpengaruh pada ombak.  Ombak jadi hilang, kadang melemah dan juga berpindah arah.

Pemandangan di Pantai Lagundri. | Aulia Adam
Pemandangan di Pantai Lagundri. | Aulia Adam

“Kalau dari segi urutan ombak terbesar palingan nomor enam atau tujuhlah,” tambah Justin.

Organisasi yang dipimpin Akila juga alami hal yang sama dengan organisasi Justin. Keduanya merasa kalau keindahan pantai ini tak sebanding dengan pengembangan pariwisata yang ada. Justin sendiri malah menyesalkan tidak adanya dukungan pemerintah terkait ini. Perhatian pemerintah baru terasa akhir-akhir ini, itu pun bulan lalu berupa pemberian tong sampah dan pemasangan lampu jalan.

Menurut Justin pemda cenderung fokus pada pengembangan kebudayaan Nias Selatan, seperti lompat batu dan rumah adat ketimbang objek wisata. Justin berharapnya bantuan pemda dalam pengelolaan pariwisata di kedua pantai ini. Setidaknya bantu jaga kebersihan dan sediakan fasilitas. “Fasilitas yang ada punya masyarakat setempatlah ini,” ungkap Justin.

Fabowosa Laia, Kepala Dinas (Kadis) Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Nias Selatan tak menampik banyak kekurangan dalam pengembangan fasilitas dan promosi pariwisata.

Tak maksimalnya dukungan promosi dari pemda lantaran anggaran yang kurang. Wajar saja, mengingat pembangunan pariwisata oleh Pemda Nias Selatan bukanlah menjadi fokus utama. Pertama pendidikan, kedua kesehatan, dan ketiga pengembangan sarana prasarana.

Meski begitu, pemerintah tetap akan dukung kegiatan yang diadakan oleh komunitas setempat. “Tapi enggak banyak dana yang dianggarkan,” kata Fabowosa.

Meskipun begitu Fabowosa memiliki kabar baik. Tahun 2015 nanti, pemda akan memfokuskan pembangunan dan pengembangan objek pariwisata. Karenanya berbagai perbaikan fasilitas meliputi perbaikan akses jalan hingga fasilitas pendukung segera dianggarkan.

Fabowosa mulai mendesain model sarana dan prasarana pariwisata. Niatnya akan menggandeng Universitas Gajah Mada untuk bantu penyusunan rencana pembangunan pariwisata. Nantinya rencana ini berlangsung selama tiga hingga lima puluh tahun ke depan.

“Kita tinggal ajukan ke DPRD baru nanti,” kata Fabowosa.

Akila Wau, Ketua Komunitas Nias Surfing Club. | Aulia Adam
Akila Wau, Ketua Komunitas Nias Surfing Club. | Aulia Adam

Akila berharap semoga pemda tak main-main dengan rencana ini. Ia menyimpan harapan besar untuk kembali menggairahkan kehidupan pariwisata di kedua pantai ini.

Sama seperti Luke Christopher. Turis dari Australia yang pertama kali mengenal Sorake dari majalah internasional, saat sekolah di kampung halamannya di Brisbane. Dan tak ragu menjadikan berselancar di Sorake suatu hari kelak sebagai sebuah mimpi.

Dan mimpinya terwujud. Ia telah menetap di Medan sejak 10 tahun. Dan pulang-pergi Nias-Medan-Australia jadi rutinitasnya selama dekade terakhir. Ia cukup mengenal Sorake, sebelum dan setelah tsunami.

Luke bercerita, Sorake memiliki ombak yang dicari-cari oleh peselancar dunia; ombak berupa terowongan. “Di sini tinggal tunggu aja, langsung dapat ombak bagus, kalau tempat lain sudah menunggu pun belum tentu dapat,” katanya.

Luke bilang tak hanya pemerintah yang harus peduli dengan pariwisata di sini. Masyarakat punya peran menjaga kebersihan dan keindahan pantai. Seharusnya masyarakat bisa kembangkan pariwisata yang ada sebagai sumber penghasilan.

Ia bilang kalau masyarakat sekitar serius mengelola kampung halaman mereka ini, maka Sorake dan Nias Selatan bisa saja seterkenal Bali. “Bule-bule itu cuma butuh pelayanan yang bagus. Kalau mereka senang dengan pelayanannya, duit pasti mulus,” kata Luke dengan Bahasa Indonesia berdialek aneh; campuran Medan-Australia.

Bak mutiara dalam lumpur, Lagundri dan Sorake pun bisa bersinar kalau diasah dengan baik.

 

Laporan ini pernah dimuat dalam Majalah SUARA USU yang terbit tahun 2014.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).