BOPM Wacana

Klimaks dari Tidur Panjang Empat Ratus Tahun

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Amelia Ramadhani

Gunung Sinabung dari jarak jauh, Minggu (26/4). | Wenty Tambunan
Gunung Sinabung dari jarak jauh, Minggu (26/4). | Wenty Tambunan

Tak satu makhluk yang mampu memprediksi apa yang akan terjadi, bahkan teknologi termaju sekalipun. Siapa sangka setelah empat ratus tahun tertidur, Gunung Sinabung kembali memuntahkan isi perutnya.

[dropcap]C[/dropcap]uaca di Tanah Karo awal April lalu tampak mendung. Berbeda dengan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geologi bahwa April sudah masuk musim kemarau di Indonesia. Walau mendung, debu vulkanik pasca erupsi Gunung Sinabung sejak 2013 silam tak tunduk pada mendungnya cuaca.

Abu berterbangan. Menguap seperti asap di setiap derap langkah kaki anak-anak Desa Payung yang sedang asyik bermain bola kaki. Mereka sepertinya masih duduk di bangku sekolah dasar atau mungkin masih sekolah di taman kanak-kanak. Badan mereka kecil, kira-kira satu meter lebih sedikit tingginya. Mereka makin asyik bermain dan tak menghiraukan debu-debu yang berkeliaran bebas hingga terhirup saat bernafas.

We we, oper sini we,” ujar salah satu dari mereka.

Semakin memasuki kampung, rumah warga mulai ramai terlihat. Rumah-rumah kayu yang masih menggunakan arsitektur tradisional. Rumah berbentuk panggung yang di bawahnya terdapat kandang hewan ternak kira-kira setinggi lutut hingga pinggang orang dewasa.

Masyarakatnya suka berkumpul di depan pintu rumah sekadar untuk berbagi cerita. Tak lupa juga memamah sirih dan membawa wadah untuk menaruh air sirih. Sesekali mereka terkekeh secara bersamaan. Namun bukan berarti semua rumah warga Desa Payung, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, masih tradisional. Puluhan rumah sudah menggunakan arsitektur yang lebih kekinian. Dindingnya terbuat dari susunan batu bata. Masing-masing rumah memiliki teras dengan dua tonggak penyangga yang dipasangi keramik. Cat rumah yang digunakan sudah beraneka warna.

Dari jauh seorang kakek sedang duduk memilah pinang di teras rumahnya, duduk beralaskan kasur. Kasur itu merupakan bantuan saat ia masih mengungsi di daerah Kabanjahe saat erupsi Gunung Sinabung tahun 2014. “Ini mereka ni yang kasih,” ujarnya menepuk-nepuk kasur tersebut.

Namanya Mambar Ginting. Laki-laki berusia lanjut, 70 tahun sudah umurnya. Ia salah satu pensiunan dari salah satu sekolah dasar Desa Payung. Setiap hari ia ikut membantu anak bungsunya, Mutasi Ginting, di ladang. “Yang ringan-ringan aja, aku kan sudah tua,” tambahnya. Biasanya, Mutasilah yang menyiapkan segala keperluan untuk panen. Sedangkan Mambar hanya memastikan semuanya lengkap dibawa anaknya sebelum panen dimulai esok harinya.

|
Mambar Ginting

Waktu Gunung Sinabung meletus, kami sedang panen tomat waktu itu,” ujarnya.

Semua peralatan penen sudah dibawa sejak sore hari; keranjang, ember dan karung. Peralatan dikumpulkan di salah satu sisi kebun tomat. Setelah itu Mutasi dan Mambar pulang ke rumah untuk mengumpulkan tenaga ekstra saat panen esok hari.

Di malam harinya Mambar menonton televisi bersama istrinya dan menggelar kasur di ruang tengah rumah mereka. Mambar dan istri sejak dua tahun silam selalu tidur di ruang tengah. Istrinya sakit. Sudah tak kuat harus turun naik tempat tidur. Mambar tertidur bersandar ke dinding. Bahkan ia tak sempat memperbaiki posisi tidurnya. Kira-kira pukul sepuluh malam, ia dikagetkan oleh suara yang begitu yang berdentum-dentum di atas atap dan dinding rumahnya. Ia terkejut bukan main dan tak sanggup bergerak sedikitpun. Ia merasakan tubuhnya tak bertulang.

“Kok dipukul aku,” ujarnya dengan dialek Karo yang kental. Mambar mengira orang-orang jahat datang mengepung rumahnya. Mereka melempari atap dan dinding. Selama ini ia sama sekali tak pernah berbuat salah terhadap masyarakat sekitar. Mambar tak sanggup berdiri lagi. Ia dibopong oleh Mutasi keluar rumah.

Halaman rumah dipenuhi oleh pasir, debu dan batu dari erupsi gunung Sinabung. Dugaannya terhadap orang-orang jahat tidak terbukti. Bunyi gemuruh tersebut bukan dari orang jahat yang hendak memukulnya, tapi material erupsi Gunung Sinabung. “Sebesar inilah kira-kira” ujar Mutasi mengepalkan tinjunya.

Atap rumah warga Desa Payung banyak yang bolong karena tertimpa batu. Tak hanya itu, lemparan batu yang mengenai dinding rumah warga juga menimbulkan keretakan. Sisi-sisi rumah bergeser mengakibatkan pintu dan jendela tak bisa dibuka dan ditutup. “Ini retak waktu itu,” tambah Mutasi sambil menunjukkan salah satu sudut rumahnya yang sudah dipugar kembali. Terlihat dari bekas pugarannya yang masih berwarna hitam.

Saat dilarikan ke puskesmas terdekat, Mambar terkena stroke ringan yang mengakibatkan ia harus dirawat untuk beberapa hari. Menurut diagnosis dokter Mambar terkena stroke ringan akibat shock yang dialaminya saat erupsi. Akhirnya Mambar dirawat inap selama tiga hari untuk memulihkan keadaannya.

Mutasi, Mambar bahkan warga Desa Payung pada umumnya tak menyangka Gunung Sinabung akan erupsi, tak ada tanda-tanda yang dapat dijadikan warga untuk merasa was-was dan siaga. Peringatan akan meningkatnya suhu di sekitar kawah gunung juga tak ada sampai kepada masyarakat. “Tak ada hewan yang turun ke bawah. Ular pun tak ada, iya kan, Pak?” tanyanya memastikan kepada Mambar. Mambar mengangguk.

Setelah ayahnya mendapat perawatan dari puskesmas, Mutasi pulang ke rumah untuk melihat keadaan ternak dan kebun tomatnya. Kampungnya sudah berubah warna. Sejauh mata memandang hanya warna abu-abu yang terlihat. Tomat yang semula siap panen sudah hancur rata dengan tanah. Ia bergegas melihat kondisi di kampung sebelah untuk mendapatkan makanan untuk kambing. Di Desa Payung tak satupun rumput segar yang masih hidup. Sedangkan kambingnya belum makan sejak mereka meninggalkan rumah untuk mengungsi.

“Harus ke kampung sebelah cari nasinya (rumput –red), ” ungkap Mutasi.

Desa Payung tertutup abu dan dan kerikil waktu itu. Ini terjadi berulang-ulang setiap Gunung Sinabung erupsi. Dibandingkan dengan Desa Simacem, Desa Payung masih lebih baik kondisinya. Desa Payung terletak di radius 5 km dari kawah Gunung Sinabung. Desa Payung bukan jalur awan panas dan jalur lava pijar.

Desa Simacem, Desa Bakerah dan Desa Sukameriah benar-benar tak bisa dihuni lagi. Rumah masyarakat setempat rata dengan tanah. Masyarakatnya diungsikan ke Yayasan Universitas Karo dan tak diberi izin pulang oleh Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Karo.

Zona kawasan rawan bencana yang terdapat di jalan menuju Gunung Sinabung, Minggu (26/4). | Wenty Tambunan
Zona kawasan rawan bencana yang terdapat di jalan menuju Gunung Sinabung, Minggu (26/4). | Wenty Tambunan

Saat ditemui di pengungsian, Hemat Beru Sembiring, sedang memanaskan air untuk mandi. Ia tinggal di pengungsian sejak Gunung Sinabung meletus di tahun 2013 lalu. Sebelum Gunung Sinabung erupsi Hemat bekerja sebagai petani seperti yang dilakukan oleh warga lainnya. Ia hanya menanam tanaman tua, kopi arabika. Sesekali ia juga menanam padi. Saat erupsi di 18 September 2013 lalu Hemat sedang menjaga padinya dari burung agar tak gagal panen. Setiap hari ia berangkat lebih pagi menuju sawah. Kira-kira hanya lima hari lagi padinya bisa dipanen.

Warga Desa Bakerah lari kocar-kacir keluar rumah. Hemat tak tahu apa yang terjadi. Melihat warga berlarian meninggalkan rumah ia juga ikut serta walau ia sama sekali tidak tahu apa yang menyebabkan masyarakat lari. Setelah berada di desa yang dianggap aman, Hemat melihat ke arah gunung. Lava pijar erupsi Gunung Sinabung mengalir di lereng-lereng gunung. Hemat langsung mengungsi ke Berastagi  bersama dengan warga lainnya. Mereka dijemput oleh rombongan yang disediakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk proses evakuasi.

Sama halnya dengan Mambar, Hemat juga tak ada melihat tanda-tanda akan terjadi erupsi Gunung Sinabung. Tak ada peringatan sama sekali dari pemerintah dan dari orang-orang yang mengamati gunung.

Armen Putra, Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung yang berlokasi di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo tak dapat memprediksi waktu pasti akan terjadinya erupsi. Terlebih Gunung Sinabung yang sudah ratusan tahun tak terekam aktivitasnya. Gunung Sinabung merupakan gunung api strato vulkano, yaitu gunung api yang berbentuk kerucut. Sebelum tahun 2010 Gunung Sinabung merupakan gunung api tipe B. Gunung Sinabung tak pernah terekam aktivitas vulkanologisnya sejak tahun 1600 silam. Indikator inilah yang menjadikannya gunung api tipe B.

Erupsi pertama di tahun 2010 lalu mengubah status Gunung Sinabung dari B menjadi A. Armen dan timnya langsung diutus oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi ke Tanah Karo untuk mengamati aktivitas Gunung Sinabung setiap detiknya. Beberapa kendala dihadapi saat pertama kali didirikannya Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung ini. Tim sama sekali tidak memiliki tempat untuk pengoperasian alat pendeteksi aktivitas gunung berapi.

“Kita sewa rumah warga selama 2 tahun,” jelas Armen.

Tahun 2012 dibangunlah sebuah tempat permanen masih di daerah yang sama. Bangunan dua lantai tersebut dibagi menjadi beberapa ruangan. Lantai dasar dijadikan studio foto Gunung Sinabung sejak erupsi pertama di tahun 2010. Deretan foto dimulai dari kiri ke kanan. Foto sebalah kiri menggambarkan Gunung Sinabung di tahun 2010. Semakin ke kanan rupa Gunung Sinabung berubah signifikan. Awalnya hanya tumpukan abu di sekitar kawah yang terekam. Sedangkan hutan-hutan masih hijau, sama sekali belum tersentuh oleh abu vulkanik hingga ke pinggang gunung.

Di papan nomor dua terdapat foto lava pijar yang masih menyala. Warnanya kemerahan. Mengalir dari puncak Gunung Sinabung. Saat itu hampir sebagian dari Gunung Sinabung sudah tertutup abu vuklanik dan hutan-hutan di bawahnya sudah hampir gundul karena lelehan lava. Di sebelahnya ada foto awan panas Gunung Sinabung. Kondisi hutan sama sekali sudah hangus. Hanya ranting-ranting pohon yang berwarna kecokelatan nampak tegak menghiasi kaki gunung. Foto yang diambil awal tahun 2014 menggambarkan seluruh hutan Gunung Sinabung sudah gundul.

Naik ke lantai dua. Sebuah seismograf yang mengukur getaran yang disebabkan oleh gempa bumi vulkanik Gunung Sinabung. Tiga komputer dijejarkan di atas meja untuk mendokumentasikan aktivitas gunung. Kamera tele untuk mengamati gunung diletakkan di balkon yang tak begitu luas. Kamera ini juga diletakkan secara permanen begitupun fokus dan jaraknya sudah diatur sedemikian rupa supaya gambar yang dihasilkan tampak detail.

Setiap peningkatan aktivitas gunung, tim pengamat pos akan mengirimkan laporan kepada Pemkab Karo untuk segera memperingatkan warga untuk tidak beraktivitas di sekitar gunung. Namun laporan sebelum tahun 2010 tak ada karena Pemkab Karo belum memiliki pos pengamatan gunung api. “Jadi memang tak ada peringatan sama sekali,” tutupnya.

 Seismograf yaitu alat pencatat getaran gempa. alat ini terjadi atas benda stasioner, jarum dan pita, Minggu (26/4). | Wenty Tambunan
Seismograf yaitu alat pencatat getaran gempa. alat ini terjadi atas benda stasioner, jarum dan pita, Minggu (26/4). | Wenty Tambunan

Saberina Mars, Sekretaris Daerah Kabupaten Karo menyebutkan Pemkab Karo saat itu terlena. Sebelumnya daerah Karo tak pernah terkena bencana. Ditambah lagi dengan status Gunung Sinabung saat itu gunung api tipe B. Sehingga tak ada posko yang mengamati aktivitas gunung api secara intens. “Semuanya dikomandoi oleh TNI,” sambung Saberina.

Keterlenaan waktu itu membuat Pemkab Karo harus kerja dua kali saat evakuasi bencana. BNPD yang harusnya langsung bergerak ke lapangan digantikan dengan tim khusus yang dibentuk saat bencana. Tak banyak yang berpengalaman dalam bidang mitigasi bencana dalam tim. Anggota tim direkrut dari berbagai bidang, seperti: kesehatan, keamanan, TNI, lembaga swadaya masyarakat dan lain-lain.

Administrasi penerimaan bantuan lama diteken oleh Pemkab Karo sebab untuk serah terima bantuan dalam skala besar harus melalui BPBD. Saat itu Pemkab Karo belum memliki BPBD dan akhirnya bantuan tersebut dicairkan melalui tim tanggap darurat yang dibentuk saat terjadi bencana.

Syukur penanganan korban bencana Gunung Sinabung bisa berjalan dengan baik. Kebutuhan pokok pengungsi dipenuhi. Semboyan tidak boleh tak memiliki tempat tinggal, tidak boleh tak makan, tidak boleh tak sekolah dan tidak boleh tak sekolah digaung-gaungkan saat itu. Anak-anak usia sekolah dipindahkan ke sekolah yang berada di dekat pengungsian. Kebutuhan logistik pengungsi dapat dipenuhi dengan berbagai macam bantuan yang datang, nasional dan swasta.

Sadar akan kekurangan Pemkab Karo selama ini, dibentuklah BPBD yang dikepalai oleh Subur Tarigan Tambun pada tanggal 24 Januari 2014. Penangangan mulai rapi jika dibandingkan degan penanganan yang dilakukan oleh tim bentukan khusus. Bantuan yang bernilai besar bisa didistribusikan lebih cepat kepada masyarakat. BPBD telah memiliki sistem administrasi sendiri sehingga proses pencairan bantuan lebih cepat.

Daerah berada di radius 3 km dari kawah Gunung Sinabung seperti Desa Simacem, Desa Sukameriah dan Desa Bakerah langsung diungsikan ke yayasan Universitas Karo. Sebanyak 32.210 orang diungsikan.  Selain itu warga dengan radius 5 km dari kawah mendapatkan bantuan seng untuk perbaikan atap.

Saberina berharap masyarakat tak putus asa dengan keadaan sekarang. Anak–anak usia sekolah juga tak boleh berhenti sekolah, “karena mereka aset Karo ke depan,” ujarnya.

Harapan dan semangat yang sama juga ada pada mutasi, ia katakan masyarakat di kaki Gunung Sinabung tak akan pernah berhenti untuk bertani, “sampai kami kembali penen,” tegas Mutasi di akhir ceritanya.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).