BOPM Wacana

Laboratorium di USU, Jauh Panggang dari Api

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Febri Rahmania

Nyatanya, fasilitas vital bagi penelitian dan pendidikan mahasiswa USU ini masih belum ditangani serius. Kekurangan di sana sini. Jauh dari ekspektasi. Ya, ini cerita laboratorium (lab).

Asisten laboratorium  menilai hasil praktikum pada Mahasiswa Biologi, Jumat (5/6). Ruangan yang digunakan masih sangat perlu dibenahi karena tak sesuai dengan standart laboratorium | Vanisof Kristin Manalu
Asisten laboratorium menilai hasil praktikum pada Mahasiswa Biologi, Jumat (5/6). Ruangan yang digunakan masih sangat perlu dibenahi karena tak sesuai dengan standart laboratorium | Vanisof Kristin Manalu

Begitu masuk ruangan laboratorium beton di Fakultas Teknik (FT), tampak beberapa karung semen disusun di atas meja dari tegel putih. Di antara peralatan-peralatan pengujian beton, menyatu dengan dinding paling kanan agak ke belakang ada sebuah bak persegi berisi puluhan beton silinder dan kubus yang direndam dalam air. Tujuannya menjaga suhu benda uji, supaya proses hidrasi semen sempurna.

Rahmi Carolina, Kepala Lab Beton menceritakan kondisi lab yang diampunya itu. Peralatannya cukup memadai. Bahkan untuk uji komersil, pelaku proyek besar pembangunan yang ada di Medan pun percayakan pengujiannya pada Lab Beton USU.

Namun, beberapa peralatan di lab memang masih manual. Contohnya, alat uji kokoh tekan bahan beton. Di universitas lain, kebanyakan sudah memakai alat uji digital. Ke depannya, ia berencana mengganti dial alat ini, dari dial pembacaan jarum jadi dial digital.

Selain pengadaan peralatan, pemeliharaannya juga jadi masalah krusial. M Arif Affandy, mahasiswa FT 2013 bilang bila mesin mixer rusak, ia dan asisten lab perbaiki sendiri dengan dana pribadi. “Pakai kas pribadilah,” tuturnya. Hal ini lebih baik menurut Arif, daripada menunggu teknisi dari dekanat.

Mengenai pemeliharaan peralatan yang ada, dijelaskan Rahmi, saat ini Lab Beton punya dua mesin mixer untuk mengaduk campuran bahan pembuat beton. Karena sudah cukup lama dipakai, mixer beberapa kali rusak.

“Waktu zaman kami kuliah dulu pun masih itu yang dipakai,” ujar Rahmi.

Semester ganjil 2014 lalu, ia pernah ajukan penambahan mesin mixer. Hasilnya, didapat tambahan mixer dari dekanat, namun ukurannya lebih kecil. Diungkapkan Rahmi, biasanya fakultas lebih sering mengabulkan bahan habis pakai saja, misalnya semen. Sedangkan untuk permintaan peralatan lab tak selalu dikabulkan.

Kata Rahmi, semen datang sekali dalam satu semester, begitu pun kerikil dan pasir. Untuk semester genap ini ada dua puluh karung semen. Seringnya, semen dari fakultas tersebut kadang membeku karena lama tersimpan sebelum dipakai. Jadi bila kemudian kekurangan semen, mahasiswa harus rogoh kocek pribadi.

Kata Arif, dengan kondisi peralatan lab yang ada saat ini, memang tak menyebabkan kendala berarti untuk proses trial and error kegiatan praktikum sehari-hari maupun saat ada perlombaan. Namun Arif membandingkan dengan lab di universitas lain yang peralatannya sudah lebih maju teknologinya. Ia mencontohkan peralatan uji kuat tekan beton yang dial pembacaannya masih manual, “di Jawa enggak dipakai lagi peralatan kayak gitu.”

Ia juga pertanyakan soal kesesuaian lab yang ada dengan nama lab di kartu rencana studi. Pada mata kuliah Lab Rekayasa Bahan Konstruksi, idealnya lab harus punya alat pengujian tak hanya beton tapi juga kayu dan baja. Misalnya alat uji tarik baja dan pengujian kadar air kayu. Namun kenyataannya hanya lab beton yang ada. “Bahan rekayasa kan enggak cuma beton,” tegas Arif

Mengenai alokasi anggaran dana untuk lab di FT, Wakil Dekan II FT Hamidah Harahap saat ditemui SUARA USU menolak berkomentar. “Belum bisa sekarang,” katanya.

Nasib kurang berutung diterima mahasiswa prodi Teknik Lingkungan. Abdul Hafidz Nainggolan. Ia berkisah, sejak semester lima dan kini ia semester enam, ada dua praktikum yang ditunda. Di kartu rencana studinya tercantum Praktikum lab Lingkungan I di semester lima dan Praktikum Lab Lingkungan II di semester enam yang sedang ia jalani saat ini. Penyebabnya, belum ada lab lingkungan di USU.

“Gedung fisiknya saja enggak ada, apalagi peralatannya,” kata Hafidz.

Hafidz mengatakan untuk sementara mata kuliah Lab Lingkungan ditunda. Saat ini Hafidz bilang dosen Lab Lingkungan sedang mengupayakan kerja sama dengan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) Provinsi Sumatera Utara.

Kondisi serupa dialami Baja Hendriko Silaban, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat 2012 yang mengambil kelas peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Di semester enam ini ia ikuti praktikum K3. Sebanyak delapan kali pertemuan setelah ujian tengah semester. Namun karena di FKM belum ada lab khusus peminatan K3, ia dan 65 orang kawannya mesti bergiliran praktikum ke Lab K3 yang beralamat di Jalan Yos Sudarso Kilometer 11, 5.

Praktikum dibagi jadi dua gelombang, 33 orang di hari Rabu dan sisanya harus ke Balai K3 pada hari Kamis. Peralatan di sana cukup lengkap, tenaga pengajar dan teknisinya cukup profesional. Mahasiswa tak dipungut biaya lagi karena FKM sudah bekerja sama dengan Lab K3. Namun yang menjadi kendala adalah jarak tempuh yang jauh. “Jadinya kurang efektif,” kata Baja.

Kendala lain yang sering ia hadapi adalah saat waktu kegiatan praktikum tak sejalan dengan waktu kuliah ganti. “Tiba-tiba ada kuliah ganti, ya susahlah,” ujarnya. Sebab jarak yang jauh tak memungkinkan untuk mengejar waktu agar cepat kembali ke kampus.

Saran Baja, kampus harusnya sudah bisa sediakan peralatan untuk kegiatan praktikum kelas peminatan. Meskipun praktikum K3 hanya satu semester saja, ia harap stambuk selanjutnya yang akan mengambil kelas peminatan tak perlu jauh-jauh ke lab di luar kampus.

 Puluhan komputer digunakan saat pelajaran praktek Mahasiswa Statistika, Jumat (5/6).Laboratorium di USU secara kulaitas dan kuantitas belum memadai dikarenakan peralatan yang sangat mahal.| Vanisof Kristin Manalu
Puluhan komputer digunakan saat pelajaran praktek Mahasiswa Statistika, Jumat (5/6).Laboratorium di USU secara kulaitas dan kuantitas belum memadai dikarenakan peralatan yang sangat mahal.| Vanisof Kristin Manalu

Mengenai masalah menumpang ke lab di luar USU, Prof Zulkifli Nasution Wakil Rektor (WR) I berkomentar kalau ini merupakan hal yang wajar. Terutama bagi program studi yang baru dibuka.

Menurut Prof Zulkifli, dalam beberapa praktikum, terutama yang lebih spesifik disiplin ilmunya, masalah kekurangan lab ini sering jadi kendala. Sebab peralatannya tergolong sangat mahal sementara penggunaannya tak rutin.

“Makanya disiplin ilmu yang berkaitan bisa menumpang lab ke fakultas atau prodi lain,” ujarnya.

Ia memberi contoh, lab bahan rekayasa di Teknik Sipil yang tak punya peralatan uji kayu, bisa menumpang ke lab milik Fakultas Kehutanan. Sebab penggunaan di sana tentu lebih rutin.

Hafidz tak habis pikir, ia berpendapat, prodi yang baru dibuka tak jadi pemakluman segalanya kekurangan. “Masa USU sekadar mengadakan prodi baru saja, tapi tak mempersiapkan gedungnya?”

Yang paling krusial, lab pendukung wajib proses belajar pun tak ada. Ia pikir, jauh sebelum membuka prodi USU harusnya sudah punya master plan, harus sudah memikirkan sejak jauh hari.

Prof Zulkifli mengakui bahwa minimnya kualitas dan kuantitas lab sebagai prasarana wajib kegiatan akademik akan berdampak pada akreditasi program studi bersangkutan. Ia bilang universitas terus mengupayakan lab di USU lengkap dari segi peralatan maupun jenis labnya. Namun kesulitan dana selalu menjadi alasan.

Bicara mengenai perbaikan mutu lab. Devin Defriza Harisdani, Staf Ahli Perencanaan WR IV mengatakan sebenarnya USU sudah mulai melangkah dengan merilis panduan Rencana Strategis USU 2015-2019. Dalam buku setebal 85 halaman ini dimuat target USU di 2015 yakni punya tiga lab yang terakreditasi persentase program.

Namun dengan belum dicairkannya Badan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) tahun ini oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) belum ada pengembangan yang bisa dilakukan. “Tapi kan waktunya masih ada sampai 2019,” ungkap Devin.

Belum cairnya dana tersebut, Saat ini kata Devin sisa dana BOPTN sebelumnyalah yang dimanfaatkan.

Mengenai masalah kesulitan dana, Ikhwansyah Isranuri Direktur Unit Manajemen Mutu (UMM) USU berpendapat, bukan tak mungkin USU bisa dapatkan dana negara untuk pengembangan lab. “Kalau kita pandai memperjuangkannya, kita bisa dapatkan itu,” ujarnya.

Misalnya, saat ini UMM sedang dalam proses rekapitulasi data pemetaan lab di USU seluruhnya. “Outputnya, mengetahui gambaran kondisi lab di setiap prodi di USU,” terang Ikhwansyah. Dijelaskan Ikhwansyah, cita-cita UMM salah satunya ialah supaya, dengan data-data yang akurat mengenai kondisi lab di USU saat ini, USU mudah mendapatkan dana dari negara, misalnya Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Prof Marlon Sihombing, Ketua prodi Administrasi Bisnis (AB) berujar, prodinya dan prodi-prodi lain di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) tidak punya lab fisik yang rumit seperti prodi-prodi eksakta. Pengakuannya, untuk AB sendiri tidak punya lab khusus.

Padahal, kriteria lab AB sangat sederhana. Menurut Marlon, kriteria itu tidak seperti lab-lab eksakta yang perlu banyak alat dan bahan. AB ‘hanya’ butuh sebuah ruangan multifungsi. Di dalam ruangan itu bisa dilakukan berbagai kegiatan bisnis seperti jualan oleh mahasiswa. Kemudian ada praktisi bisnis yang bisa mengajar mahasiswa sambil praktik langsung dan fasilitas pendukung seperti buku dan komputer. “Jadi semacam bisnis semu,” ujarnya, “Itu sangat kita butuhkan.”

Namun kondisi FISIP yang sulit untuk menambah ruangan baru menjadi halangan selama ini. Usulan lab ini pernah diusulkan, namun tak kunjung terealisasi.

Untuk mengakali hal itu, AB membuat kerja sama dengan lembaga atau pengusaha luar seperti dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Kerja sama itu berupa pelatihan mahasiswa untuk menjadi pebisnis-pebisnis muda. Selain itu juga ada company visit ke perusahan-perusahaan. “Ini semacam lab-nya lah,” katanya.

Di ujung pembicaraannya, Marlon menyesalkan tidak sesuainya fasilitas yang disediakan universitas dengan kebutuhan mahasiswa. Ia mengambil contoh pembangunan kanopi di trotoar-trotoar. Bila dibandingkan, menurutnya anggaran untuk membangun fasilitas-fasilitas semacam itu bisa digunakan untuk membangun satu ruangan yang dibutuhkan AB.

Washtafle yang biasa digunakan saat praktek biologi tampak berkarat, Jumat (5/6). Hal ini menyebabkan mahasiswa yang melaksanakan praktik menjadi tidak efektif |  Vanisof Kristin Manalu
Washtafle yang biasa digunakan saat praktek biologi tampak berkarat, Jumat (5/6). Hal ini menyebabkan mahasiswa yang melaksanakan praktik menjadi tidak efektif | Vanisof Kristin Manalu

Lab komputer milik Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sedikit lebih beruntung, karena mendapat tambahan fasilitas. Di bawah pimpinan Elisabet Siahaan, kini keadaan lab ini lebih baik daripada tiga tahun lalu. Bila sebelumnya lebih banyak bangkai komputer menumpuk di lab dari pada komputer yang layak pakai, kini ada 75 komputer layak pakai. Dulunya masih bermonitor tabung, sekarang sudah layar LCD.

Elisabet cukup senang melihat perkembangan labnya, walaupun masih ada rasa kurang puas. Itu disebabkan masih ada beberapa fasilitas lagi yang perlu dilengkapi agar kondisinya layak, seperti penambahan asisten lab, pemasangan komputer dan proyektor tambaha serta Wi-Fi.

Terakhir Elisabet mengungkapkan kalau pihaknya berulang kali mengajukan permintaan fasilitas dari rektorat melalui Dekan FEB. Itu pun dari seratus komputer diminta yang diberikan hanya enam puluh komputer. “Itu pun setelah diminta-minta,” ujarnya.

Kepala Biro Aset dan Perlengkapan Yedi Suhaedi benarkan kalau-kalau fakultas yang menginginkan penambahan atau perbaikan fasilitas lab harus mengajukan proposal dulu ke universitas saat penyusunan Rancangan Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT). Karena fakultaslah yang paling tahu kebutuhan mereka. Setelah dipertimbangkan di bagian Perencanaan dan disetujui, bagian Perlengkapan yang akan melakukan pengadaannya. “Itupun sesuai anggaran yang ada,” sahutnya.

Kerap kali saat universitas atau negara tak memiliki anggaran pengadaan fasilitas lab, departemen atau fakultas diharapkan mencari pemasukan anggaran dari pihak swasta. “Hibah,” tuturnya.

Untuk tahun ini, Yedi masih belum tahu apakah akan ada permintaan pemeliharaan atau pengadaan fasilitas lab karena RKAT masing-masing fakultas masih di Perencanaan. Kalau tahun lalu, “tidak ada penambahan fasilitas atau pemeliharaan yang dilakukan universitas,” ujarnya.

Kordinator Liputan  : Febri Rahmania

Reporter                     : Dewi Annisa Putri, Lazuardi Pratama, Sri Wahyuni Fatmawati P dan Febri Rahmania.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).