BOPM Wacana

Jalan Panjang Pengelolaan Jaket Almamater

Dark Mode | Moda Gelap

Jaket almamater merupakan sebuah simbol mahasiswa dalam suatu universitas. Begitu juga halnya dengan Universitas Sumatera Utara (USU). Kini almamater USU dikelola oleh satu pihak secara terpusat yaitu Bagian Biro Administrasi Kemahasiswaan. Berbeda dengan dua tahun sebelumnya, mahasiswa yang butuh akan membuat sendiri. Selain itu mulai stambuk 2011 biaya almamater juga sudah dimasukkan dalam Dana Kelengkapan Akademik (DKA). Lantas bagaimanakah mahasiswa menanggapi hal tersebut?

Teorida Laia – Fakultas Keperawatan 2010

Teorida LaiaPengelolaanya lebih baik seperti dua tahun sebelumnya. Biarkan mahasiswa yang mengurus soal jaket almamater. Misalnya seperti fakutas kami yang dikelola oleh PEMA. Selain itu, mahasiswa sendiri yang lebih mengerti bagaimana ukuran, bahan, bahkan biar seragam warnanya. Kemudain juga menghindari proses yang begitu panjang. Sehingga mahasiwa tidak terlalu lama menunggu.

 

 

 

 

 

 

Imaniar Hasibuan – Fakultas Kesehatan Masyarakat 2010

Imaniar HasibuanPengelolan jaket almamater terpusat oleh Biro Rektor (Birek) menurut saya sangat positif. Apalagi setiap fakultas dan setiap stambuk itu berbeda-beda. Dengan pengelolaan terpusat yang ditangani oleh birek akan ada keseragaman warna. Selain itu juga dengan biayanya yang sudah dibayar bersamaan dengan DKA, sehingga tidak memberatkan mahasiswa saat ini. Prosesnya yang agak panjang tidak masalah kalau harus menunggu. Dengan adanya pengelolaan terpusat seperti ini, diharapkan warnanya akan seragam. Almamater adalah suatu identitas mahasiswa, apa lagi saat ada acara. Sangat tidak bagus bila harus berbeda warna padahal satu universitas.

 

 

 

 

 

Betaria SilabanBetaria Silaban – Fakultas Ilmu Budaya 2012

Proses pengelolaan jaket almamater terasa sangat lama. Sudah semester dua belum juga mendapatkan almamater. Sangat berbeda dengan universitas lain. Bahkan hari pertama masuk mereka sudah memakai almamater. Padahal kewajiban untuk membayar biaya alamamater ini sudah dibayar sekalian dengan DKA. Tapi hak kami menerima almamater tak kunjung terwujud. Hal seperti ini bisa menimbulkan prasangka buruk terhadap mereka yang mengelola. Apalagi almamater itu, menurut saya sangat penting, dan menjadi kebanggaan. Orang bisa tahu kalau kita mahasiswa USU.

 

 

 

 

Christon Maeda Ringo – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 2008

Christon Maeda RingoJaket almamater yang dikelola oleh Birek merupakan hal yang sudah tepat. Sangat positif, karena biayanya sudah termasuk dengan DKA. Selain itu juga sudah menjadi tugas bagian kemahasiswaan dalam penyajian almamater. Bukan tugas mahasiswa lah untuk mengurus almamater. Teknik pendataan dan pembagiaannya juga tidak perlu yang terlalu rumit. Bisa saja sekalian dengan pembagian Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) atau Kartu Rencana Mahasiswa (KRS). Soal warna yang tidak seragam menurut saya tidak masalah. Almamater itu tidak terlalu penting, Paling hanya dibutuhkan saat ada kunjungan keluar Universitas, misalnya ke instansi lain. Agar bisa lebih baik lagi yang mengelola harus membuat tenggat waktu yang baik.

 

 

 

 

Didi Satria Pratama Putra – Fakultas Ekonomi 2011

Didi Satria Pratama PutraPengelolaan jaket almamater saat ini cukup baik karena sudah terkoordinir. Hal itu jauh lebih baik dibandingkan dua tahun sebelumnya. Pengelolaan seperti ini menghindari kesulitan mahasiswa untuk mengadakan almamater. Karena kalau diolah sendiri bakal ada kebingungan untuk menentukan yang sama. Selain itu biayanya juga sudah diselesaikan saat pembayaraan DKA. Menurut saya prosesnya yang agak lama sudah biasa, karena almamater tidak terlalu penting untuk saya. Harapannya dengan sistem terpusat bisa lebih baik lagi dan agar seragam pada warna.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).