BOPM Wacana

Gendong

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Yulien  Lovenny Ester Gultom

Ilustrasi: Alfat Putra Ibrahim
Ilustrasi: Alfat Putra Ibrahim

Foto Yulien

Menggendong dan digendong adalah hal yang paling aku sukai. Aku sangat suka ketika ibu menggendongku dalam sebuah gendongan berbahan kain, bermotif batik. Sesekali ditepuknya pantatku, mulutnya akan bersuara shu..shu..shu dan badannya juga akan bergerak naik turun seolah sedang berdisko. Tak butuh waktu lama, aku langsung tertidur pulas dan ilerku bertebaran di dalam kain panjang itu.

Bahkan dua puluh tahun silam saat masih dalam kandungan, ibu juga selalu menggendongku. Aku ingat betul bagaimana tangan hangatnya memeluk tubuhku yang diam di dalam perutnya, terkadang sambil memegang perut ia berbicara denganku agar aku tenang.

Tapi, kadang ibu kesakitan. Punggungnya jadi sakit karena menopangku.

Aku tahu ibu sangat kurus ketika mengandung, bobotnya hanya empat puluh kilogram, karena itu setidaknya ia butuh menaikkan berat badan hingga delapan belas kilogram. Perjuangan yang berat. Walau begitu aku senang ibu menggendongku. Tak bisa kubayangkan jika ibu lelah dan enggan menggendongku. Saat itu juga mungkin aku dilenyapkan. Ah, sayang kali aku sama ibu.

Aku sudah berumur dua tahun, kain gendongan batik itu tak lagi digunakan. Jelas dan pasti, karena bobotku bertambah. Kain itu akan robek seketika, jika menopang tubuhku yang semakin membesar. Tak hanya kain, ibu pun tak sanggup lagi menggedongku berlama-lama, kakinya akan kram, dan badannya pun bungkuk. Akhirnya, ayah membelikanku sebuah ayunan berbahan besi yang digantung di lubang angin. Aku juga senang digendong dalam ayunan itu, sebab tampak lebih kokoh dibandingkan ibu.

Kain berwarna merah muda terpancang indah, tubuhku yang mungil dimasukkan ke dalamnya. Nyanyian Nina Bobo hingga lagu grup musik Slank dinyanyikan agar aku tidur. Lagu yang paling aku suka saat itu I Miss You But I Hate You karangan abang-abang Slank. Ibu suka sekali menyanyikan lagu itu, apalagi ketika ayah sedang bertugas ke luar kota.

Ah, ayunan berwarna merah jambu itu mempunyai banyak kisah. Kisah duka hingga suka. Aku suka menangis ketika ibu mengayunku dan aku tertidur pulas. Bukan karena aku tertidur pulas, aku jadi sedih, tapi karena ketika aku bangun, ayunan berhenti dan ibu tidak tampak lagi. Ia sibuk mencuci dan memasak dan bersama ayah.

Saking sukanya digendong di sana, aku suka makan, minum, dan bahkan eek—buang kotoran— di situ. Kalau aku sudah eek, ibu pasti mengomel panjang dan menepuk pantatku. Tangisku pun meledak. Apa yang salah dengan eek? Toh, aku sudah menangis untuk mengatakannya.

Oke, itu ibu, lain lagi ayah. Ia sosok yang paling aku sukai setelah ibu. Ia juga hobi menggendongku. Ayah selalu mengajakku berkeliling dengan meletakkanku ke atas pundaknya. Saat itu, aku merasa diriku seperti raksasa dan semua orang di bawah adalah liliput. Kadang, ia meletakkanku di punggungnya. Tangan besar dan berurat itu mengenggam pantatku agar tak jatuh. Setelah meletakkanku dalam posisi itu, ia biasanya berlari untuk membuatku tertawa. Goncangan hebat kurasakan. Bumi terasa bergetar, kepalaku bergerak naik turun saat, suara tawaku terputus-putus dan bajuku basah karena keringat ayah. Sedikit, menjijikan.

Posisi menggendong yang paling aku suka ketika ayah mendekapku. Aroma tubuhnya terasa pekat, denyut jantungnya sedikit lebih lama dibanding detak jantungku. Jelas karena anak balita seperti kami punya denyut jantung yang sedikit lebih cepat dibandingkan mereka yang sudah dewasa. Dan yang paling bisa aku ingat adalah hangat tubuh ayah menjalar ke tubuhku. Sayang kali aku sama ayah.

Kegiatan gendong menggendong juga aku lestarikan kepada adikku, Tomi. Tomi lahir setelah usiaku lima tahun. Bukan berarti saat usia lima tahun aku langsung bisa menggendongnya, sejujurnya aku ingin tapi tak dikasih ibu.

Setelah Tomi berusia tiga tahun dan aku delapan tahun, Tomi sering aku bawa berjalan-jalan dengan gendongan. Peristiwa nahas setahun lalu membuatku harus menjaga Tomi terus menerus. Ibu meninggal. karena sakit leukemia. Kami baru mengetahuinya setelah ibu melakukan medical check up enam bulan setelah melahirkan Tomi.

Kain batik yang dulu digunakan untuk menggendongku, kini kugunakan untuk menggendong Tomi, begitu juga dengan gendongan merah jambu. Ayah tak punya banyak waktu di rumah, sejak PHK—Pemutusan Hubungan Kerjaenam bulan silam, ayah kerja serabutan. Uangnya tak cukup untuk menggaji pengasuh Tomi.

Menggendong kini menjadi hobiku, Tomi selalu aku gendong ke mana-mana. Ia paling senang kugendong di bagian punggung, karena kepalanya bisa bersandar.dan tentu ilernya mengalir deras di atas bajuku.

Usiaku sekarang sudah tujuh belas tahun, sedang Tomi lima belas tahun. Gendong menggendong sekarang tak lagi jadi hobi, kami sudah besar. Tomi suka keluar bersama teman-temannya. Hobi barunya adalah balapan. Ia suka balap liar, padahal ayah tak membelikannya sepeda motor. Tomi belajar mengendarai motor dari kawannya dan memakai motor itu untuk bertanding. Jika menang uangnya akan dibagi dua, janji teman Tomi.

Hobi berujung maut. Tomi tewas seketika saat balapan. Aku sangat sedih dan ayah frustasi. Ayah baru membelikan Tomi sepeda motor sebagai kado ulang tahun, bahkan ia belum sempat memberikannya karena Tomi sudah tiada.

Tujuh puluh tahun berlalu, ayah sudah tiada dan aku tinggal sebatang kara. Anak dan cucuku pergi merantau mencari nafkah. Tubuhku mulai renta. Efek gendong menggendong mulai kurasakan. Tubuhku bungkuk. Osteoporosis kata dokter. Ah, aku tak percaya dokter, aku yakin aku tak terkena osteoporosis.

Malam ini lain, badanku seolah ditepuk. Bayangan kecil berwarna hitam lewat mondar mandir. Tak enak aku bangkit. Tongkatku yang selalu kuletakkan di sebelah tempat tidur, kugenggam erat. Aku mau pipis, tekadku dalam hati. Perlahanku buka pintu kamar. Suara berdecit terdengar sedikit mengganggu.

Tak kuhiraukan bunyi itu sebab ada yang lebih menggangu. Yaitu Tomi kecil. Entah kenapa ia datang lagi, mau bermain sepertinya. Ia rindu kugendong. Tomi kecil bergantung manis di belakang punggungku, badannya sedikit menghitam.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).