BOPM Wacana

Sekamar Berdua?

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Lazuardi Pratama

Alfat
Ilustrasi: Alfat Putra Ibrahim

Foto LazuKamu tinggal sekamar berdua dengan teman kamu. Teman biasa saja. Kalian dipersatukan saat kegiatan PMB kampus. Tidak satu jurusan, melainkan satu fakultas. Beberapa waktu setelah kegiatan itu, dia mengontakmu. Katanya butuh teman sekamar. Kamar yang cukup besar. Satu atau dua orang boleh saja. Tapi dia dengan kondisi keuangannya membutuhkanmu.

Kamu, dengan posisi segan menolak, sebab sudah punya kamar sendiri, menerimanya. Jadilah kalian sekamar berdua. Kontrak kamar setahun, persoalan duit bagi dua.

Kamar itu ada di lantai dua di pinggir jalan. Tidak di pinggir jalan raya. Masuk gang lagi. Tapi kamu bisa mendengar suara kendaraan. Jam-jam paling bising adalah pagi hari, sekitar jam 7 atau jam 8. Entah. Biasa saja. Toh kamu di rumah, sebelum masuk kuliah, juga tinggal dekat jalan raya.

Kamar itu punya kamar mandi di dalam. Kalian meletakkan dua ranjang pada masing-masing dinding. Agak berjauhan. Di sebelah ranjang ada lemari. Kalian punya lemari kecil. Cukuplah untuk tempat pakaian.

Temanmu itu, dia anak organisasi. Kamu anak kuliahisasi. Dia suka keluar malam. Entah lagi ngumpul, atau sekadar mau beli mi aceh, jalan kaki. Kalian berdua tidak punya kendaraan. Dia biasanya kembali saat kamu sudah tidur. Sementara kamu, suka bertelur di kamar sembari meninjau ulang materi kuliah tadi. Kalau kamu bosan, kamu membaca novel. Bosan membaca novel, kamu menelepon orang tua kamu untuk basa-basi.

Kamu sebenarnya tidak terlalu kenal siapa temanmu itu. Dia agak pemalu dan pendiam. Kalau kamu agak eksentrik dan terbuka. Kadang-kadang sikap temanmu yang suka memendam itu membuatmu segan. Temanmu itu juga sepertinya menyimpan suatu rahasia—rahasia-rahasia sepele, seperti celana dalam kamu yang direndam hingga dua minggu, atau ketakutanmu akan kecoa.

Dia kadang-kadang suka melamun sendiri. Di tempat tidur, ketika dia tidak bisa tidur. Atau ketika di kamar mandi, ketika dia sedang buang air tapi berjam-jam. Ketika kamu mengagetkannya dan membuyarkan fantasinya, dia tertawa. Kamu juga tertawa. Dia sebenarnya teman yang tidak buruk juga.

Kamu mestinya ingat kejadian ini. Kamu jangan lupa.

Pada semester dua, temanmu itu semakin aktif berorganisasi. Entah organisasi apa, kamu pernah bertanya, tapi jawabannya berputar-putar. Lagipula, kamu pun tidak tahu organisasi apa saja di kampus. Itu malam kesekian dari puluhan malam yang sama. Kamu mengerjakan tugas resume. Agak berat dan membuat suntuk. Untung saja kamu punya banyak waktu, sehingga kertasnya bisa dihiasi macam-macam. Kamu kan kurang kerjaan. Temanmu itu beli mi aceh.

Dia keluar kamar, turun tangga. Kamu masih bisa mendengar langkah sandal jepitnya. Larut sekali dia pergi malam ini. Jadilah kamu sendirian di kamar itu. Kamu masih berkutat dengan daftar isi. Formatnya agak sedikit tak wajar. Kamu ingin membuat titik-titik memanjang dari topik ke nomor halaman. Tapi barisan titik-titik itu tidak sejajar dengan barisan lain. Itu membuat resume-mu jelek. Kamu berselancar lewat mesin peramban, menemukan caranya, dan membuatmu suntuk.

Temanmu itu lama sekali pulang. Padahal kamu pengin sekali bercerita kisahmu mencari cara mensejajarkan barisan titik-titik pada daftar isi itu. Jarang sekali kamu menemukan temanmu itu kembali sebelum kamu sudah tidur. Kamu memang tidak pernah begadang, iya, kan?

Tiba-tiba kamu mendengar suara langkah kaki di lantai bawah. Suara yang lucu juga, seperti kecipak-kecipak. Seperti suara tabrakan antara telapak kaki dan sandal jepit butut itu.

Rasa suntuk dan entah hormon apa menyebabkanmu jadi kepikiran sesuatu yang menarik. Sesuatu yang jahil. Jahiliyah sekali.

Kamu mematikan lampu kamar. Menyibakkan gorden sehingga orang luar dapat melihat. Pintu kamu kunci. Malam itu agak pekat dan dingin. Kamu melihat warna biru gelap dalam kamarmu. Kamu sambar seprei warna putih. Buru-buru kamu melilit tubuhmu dengan beberapa syal. Kamu terlihat seperti pocong. Tidak pocong sekali. Lalu kamu menghadap pojok jauh dari pintu yang terlihat dari jendela. Menempelkan kepalamu ke dinding pojokan.

Dalam skenario jahiliyah-mu, temanmu itu pasti kaget dan teriak. Ia akan lari pontang-panting dengan perut penuh mi aceh sebelum orang-orang  di kamar sebelah membuka pintu dan menenangkannya. Kamu tidak berhenti terkekeh-kekeh. Atau minimal ketika dia tidak takut dan membuka pintu, dia mungkin bakal sedikit terkejut mengapa pintu terkunci. Dia pasti pikir kamu lagi di luar dan pocong itu real. Real adanya!

Kamu mendengar suara langkah sandal jepitnya di tangga. Temanmu itu naik dan suaranya mendekat. Perut kamu geli, tapi kamu berusaha tenang.

Kamu merasakan dia sudah berada di depan jendela. Tapi dia tidak berteriak. Dia juga tidak berusaha membuka pintu dan berkata dari luar bahwa kamu sedang bercanda dan candaan itu buruk. Kamu harap-harap cemas.

Butuh waktu beberapa detik hingga kemudian gagang pintu diputar dan pintunya terbuka. Padahal kamu hakkul yakin pintu telah dikunci.

Tidak ada suara siapa-siapa di sana. Bahkan, suara kendaraan di luar sudah tidak ada lagi. Senyap seperti di ruang kedap suara. Tidak ada suara tokek atau jangkrik. Tidak ada suara film yang biasa ditonton teman kamar sebelah.

Kamu mulai merasakan sesuatu yang dingin. Indra manusiamu merasakan sesuatu melihatmu. Melihatmu dengan tajam, memperhatikanmu dengan seksama. Kamu terlambat menyadari bahwa itu bukan sesuatu, itu banyak. Banyak mata.

Hening sekali. Tapi jantungmu berdebar-debar. Bahkan napasmu berbunyi nyaring.

Indra manusiamu merasakan ada yang tak beres. Ia merasakan marabahaya ketika indramu yang lain merasakan temanmu itu mendekat, semakin mendekat. Mereka mendekat. Ia kini di belakangmu. Kamu bahkan tidak berani menoleh, tapi kamu menoleh.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).