BOPM Wacana

Brintik, Keriting, Nyeleneh Pula

Dark Mode | Moda Gelap
Qurbiansyah alias Brintik usai wawancara, Senin (15/10) di Ristreeto, Jalan Dr Mansyur No.132. | Dewi Annisa Putri

Oleh:  Dewi Annisa Putri

Gitar pertamanya didapat semasih SMP, dibelikan Ayah. Musik jadi hal yang tidak ingin dikecewakannya. Brintik, proyek ‘sejuta’ karya.

Nama Brintik iseng diambil dari gaya rambutnya yang keriting. Aslinya bernama Qurbiansyah, mahasiswa Keteknikan Pertanian USU 2014 ini sudah seliweran ke kafe-kafe sampai panggung-panggung musik untuk ‘menjual’ karyanya. Ia tidak ingin menanggung malu sebagai anak muda yang mandul karya. Jadi, ‘dibuatnya’ musik, tidak hanya sekadar ‘main’ musik.

“Cuma itu yang aku bisa, aku enggak jago melukis atau main bola soalnya,” ujarnya merendah.

Baru beberapa bulan ini ia bawa Brintik sebagai nama panggung. Sebelumnya, Qurbi sudah banyak gabung dengan band lokal dari Berastagi, memainkan banyak genre musik pula. Ada Rebung dengan genre hardcore; Second Sun memainkan stoner; Kemarau yang lebih pop; terakhir sebelum Brintik ada HabuHalimun yang banting ke folk.

Awalnya ia hanya cover musisi lain, sampai ia merasa perlu sebuah identitas untuk musiknya sendiri. Qurbi bersama satu orang temannya kemudian membuat HabuHalimun sekitar tahun 2016 lalu. Mereka berhasil membuat empat lagu yang sempat diunggah ke Soundcloud dan dibawakan sebagai opening musisi lain. Seperti Ucok Munthe dan Liberty Gong di konsernya. Ada lagu Rumput, Dipertikai Asa, Yang Tak Berperi, dan Ibu.

Pernah sekali HabuHalimun diundang ke sebuah kafe di Berastagi. Qurbi sudah girang menerima undangan pemilik kafe, apalagi dibilang mereka band pertama yang tampil di kafe itu. Alih-alih menerima respons baik dari pemilik kafe, seusai bernyanyi mereka hanya dibayar dengan  segelas air panas, di kafe yang menyediakan kopi.

“Enggak usahlah kopi, seenggaknya airnya dinginlah, biar bisa langsung diminum,” ingat Qurbi yang lidahnya terbakar karena minum air panas yang disajikan sambil kekeh.

Walau begitu ia menghargai beberapa penonton yang ‘melek’ dengan lagunya . “Kebetulan bule pula yang notice,” ujarnya.

Hanya bertahan lima bulan sebelum akhirnya HabuHalimun bubar. Teman se-band-nya memutuskan untuk keluar dari band karena alasan personal. “Sempat merasa sedih sih pas ‘diputusin’ waktu itu,” tuturnya sedikit bercanda, tapi tidak bohong. Tidak habis di situ, janji dan kecintaan pada yang ia lakukan membuatnya lanjut bermusik.

Terlebih, Qurbi sudah jelak melihat kawan-kawannya yang ‘melewatkan umur’ namun masih saja enggan berkarya karena takut oleh pasar. Ia sendiri pernah mendapat respons tidak mengenakkan dari teman-temannya saat merilis lagu Rumput.

“Dibilang ke-cholil-cholil-an lah,” ujarnya ketika temanya membandingkan lagu mereka dengan lagu Efek Rumah Kaca (ERK)—Cholil adalah vokalisnya.

“Ya ini, saya berkarya, kalian mana? Gitu loh,” tegasnya agak kesal. Qurbi merasa apresiasi dari orang-orang untuk anak muda yang berani berkarya masih kurang, terutama di daerahnya, Berastagi. Contohnya saja, banyak orang tua yang meremehkan anaknya ketika memutuskan untuk berkesenian. Sangat klise kalau Qurbi bilang.

Tak lama setelah HabuHalimun bubar, ia dan seorang temannya lagi, Agung Kurnia Ritonga, membuat Proyek Brintik. Qurbi membuat aransemen musiknya, Agung yang hobi buat puisi ditugasi menulis lirik. Lebih seperti musikalisasi puisi. Agung bernama pena patipadam, sudah menulis lirik untuk Qurbi bahkan semasih di HabuHalimun.

Agung Kurnia Ritonga alias Patipadam, penulis puisi untuk dilagukan oleh Brintik, Senin (15/10) di Ristreeto, Jalan Dr Mansyur No.132. | Dewi Annisa Putri

“Saya enggak ngerti sama sekali puisinya Agung,” jawab Qurbi menanggapi puisi Agung yang sureal.

“Bingung, mungkin ‘folk?’,” balas Agung mengenai genre musik yang dimainkan Qurbi, sama-sama heran dengan kerja sama ini.

Tapi keduanya sudah sepakat kalau seni memiliki banyak interpretasi bagi masing-masing penikmatnya. Mereka malah berpikir kombinasi nyeleneh ini akan menarik. Untuk melengkapi kombinasinya, Brintik bahkan mengajak pelukis realis untuk memvisualisasikan lagu di EP-nya nanti.

“Bayangkan saja, liriknya sureal, pakai aransemen ‘folk?’, dan divisualisasikan lewat lukisan realis,” jelasnya sambil terkekeh. Sejak awal Brintik memang dikonsepkan sebagai proyekan. Jadi Qurbi akan banyak mengajak anak-anak muda lain yang ingin berkarya, dijadikan satu proyek bernama Brintik.

“Tidak akan ada yang jadi maskot, aku bawa namaku, Agung bawa nama patipadam, yang lain juga seperti itu, sama-sama di depan,” tuturnya.

Brintik dan Patipadam, pelantun lagu serta penulis puisi yang bekerja sama dalam proyek musikalisasi puisi, Senin (15/10) di Ristreeto, Jalan Dr Mansyur No.132. | Dewi Annisa Putri

Sedikit mundur, pertemuan Agung dan Qurbi pertama kali dikarenakan sama-sama menggemari lagu-lagu ERK, berlanjut dengan diskusi tentang musik dan selera masing-masing. Tak butuh waktu lama Qurbi langsung menawarkan untuk melagukan puisi Agung.

Tawaran itu tak ditolak Agung, Ia merasa senang. Namun tetap membuatnya sedikit bingung, kerena tak biasa puisinya diapresiasi macam itu. “Kau nulis puisi apa sih, enggak jelas,” kata Agung menirukan tanggapan yang biasa ia terima dari orang-orang. Berbeda, Qurbi tertarik dengan puisi Agung yang biasa diunggah di blog.

Oktober ini, Brintik akan mulai merekam tiga lagu barunya secara independen. Salah satunya berjudul Di Sumeria, pernah ia bawakan secara langsung di acara kemahasiswaan. Sembari itu ia juga akan tampil di acara Panggung Rakyat yang dibuat oleh Ikatan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara pada 27 Oktober mendatang.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4