BOPM Wacana

Anak Belanda

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Tantry Ika Adriati

Ilustrasi: Arman Maulana
Ilustrasi: Arman Maulana

Foto IntanPacarku yang bertubuh kurus itu menyodorkan buku setebal lima ratus halaman padaku. Lantas keningku mengernyit, belum pernah aku membaca buku setebal itu. Kecuali memang karena buku itu genre kesukaanku: roman atau misteri.

“Ini masih roman, roman Indonesia dengan latar abad dua puluh, kau akan suka,” ia tersenyum dan menampakkan lesung pipinya yang membuat jantungku memompa dua kali lipat dari biasanya.

Ah, aku lebih suka Sherlock Holmes dibanding buku-buku sastra Indonesia.

“Pramoedya Ananta Toer? Siapa dia?” tanyaku sekenanya, sebenarnya sedang menetralkan kejadian ajaib yang baru saja terjadi di tubuhku.

Aku memang tidak tahu siapa kakek tua di sampul belakang buku itu. Judulnya Aarde der Mensen. Kali ini mataku yang menyipit, mencoba berdamai dengan otakku memikirkan maksud judulnya. Bumi Manusia, terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Janson, lelaki itu menyadari kerisauanku, mungkin tak menyangka seorang berkenegaraan Indonesia sepertiku tidak mengenalnya, mengetahuinya pun tidak. Lantas ia menyipitkan mata, seakan ingin masuk ke dalam gulatan emosi diriku.

Ya mau bagaimana lagi, semasa sekolah di Indonesia aku hanya mengenal Khairil Anwar sebagai salah satu pelopor sastra Indonesia dengan puisi-puisinya. Pun novel sastra yang aku tahu hanya Harimau, Harimau karangan Mocthar Lubis dan Belenggu karangan Armijn Pane.

“Beliau salah satu sastrawan Indonesia. Tulisannya banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Belanda,” ucap Janson dengan logat Belandanya yang kental.

“Aku tidak yakin bisa membaca seluruh isi buku ini,” kubalik-balik lembarannya hingga berakhir di sampul belakangnya. Aku pun membaca sinopsisnya yang juga dalam bahasa Belanda.

“Kau akan menyelesaikannya.” Kini Janson yang tampak yakin. Ia kembali menggerakkan otot pipinya dan menarik bibirnya yang tebal. Dan lesung pipi itu lagi.

“Kau sangat yakin,” ujarku hendak melemahkannya.

“Tentu saja.”

Sejak awal kami bertemu, dia selalu memuji kefasihanku berbahasa Inggris dan Belanda. Katanya, “sebagai seorang warga negara Indonesia, kau bisa berbicara layaknya warga Belanda umumnya.” Aku pun menganggap itu suatu penghargaan atas usahaku selama ini.

Kami dipertemukan di sebuah yayasan penerjemah yang cukup ternama di Amsterdam. Janson dan aku bekerja di dalamnya. Janson sering menerjemahkan buku terbitan Perancis ke bahasa Belanda. Sementara aku lebih suka menerjemahkan buku terbitan Inggris ke bahasa Belanda.

“Mengapa tidak Indonesia?” tanyanya suatu waktu.

“Entahlah, aku lebih suka Inggris,” jawabku pendek.

“Kapan kau akan membawaku ke Indonesia?” kali ini ia memohon padaku. Entahlah, aku tidak tahu. Aku memang berniat ingin meninggalkan Indonesia dan menjadi warga negara Belanda.

Di lain kesempatan, ia terus saja menyodorkan pertanyaan yang sangat aku hindari itu.

“Mengapa kau suka Belanda?” tanyanya lagi.Pria pemurah senyum itu memang tidak pernah menyerah. Ia ingin tahu Indonesia, ia ingin tahu diriku sepenuhnya.

Tapi karena Janson yang menanyakannya, aku selalu menjawab, “karena aku suka kau,, Janson.” Dengan begitu ia tak akan mampu lagi melanjutkan percakapan. Ya, kami sudah menjalin hubungan dua tahun belakangan ini.

Janson menyukai Indonesia. Dia tahu bahwa Indonesia pernah dijajah oleh bangsanya. Melalui buku Pramoedya Ananta Toer-lah dia mengetahui sedikit gambaran Indonesia di masa dulu. Sedangkan aku sendiri, jauh lebih memilih negara diatas air ini untuk kujadikan tempat tinggalku.

“Kau bukan warga negara yang baik,” keluhnya. Ia tak habis pikir dengan diriku.

Dua hari setelahnya aku bertemu lagi dengan Jansondi tempat pertemuan kami waktu itu. Ia melambaikan tangannya setelah melihatku tak jauh dari pintu restoran.

“Hai, Anna, hoe gaat het (apa kabar)?” sapanya ramah, seperti biasa. Bagiku Janson adalah salah satu satu pria Belanda berwatak seperti orang Indonesia.

Aku tersenyum dan mengambil tempat duduk di seberangnya. Pelayan wanita datang meminta pesanan kami.

Ik wik rundvlees meet aardappel, Mevrouw. Dank u. (Aku ingin makan daging dengan kentang.)” Aku memberikan daftar menu dan Janson memesan makanan yang sama denganku.

“Jadi bagaimana menurutmu?” ia memulai percakapan. Aku tahu dia akan langsung menanyakan pendapatku mengenai Bumi Manusia.

“Kau tidak menyukainya?”

“Aku menyukainya,” jawabku. Nyatanya aku telah menamatkan buku setebal lima ratus halaman itu.

“Sepertinya aku adalah perwujudan Minke di masa kini,” ujarku pada Janson.

Janson melirikku. “Benarkah?”

Ya, aku tidak suka Indonesia karena orang-orangnya yang tidak pandai memilah mana yang benar dan mana yang salah. Yang kaya menindas yang lemah, bukan lagi menjajah dengan sistem kerja paksa, tapi dengan jalan hukum dan politik. Ayahku pernah divonis bersalah karena dugaan terlibat korupsi dua miliar, padahal tak ada bukti konkretnya.

Pengadilan Indonesia tetap menghukum ayahku dengan penjara seumur hidup, sementara atasannya yang juga terlibat kasus yang sama hanya dihukum penjara sepuluh tahun. Hukum sangat ramah pada kalangan elite politik di Indonesia. Tentu saja, siapa yang menghalangi jalan akan dijebak dan dimusnahkan dari kehidupannya, seperti ayahku.

Bagiku semua sama saja di Indonesia, yang kaya terlalu kikir dengan kekayaaan dan kekuasaanya, yang lemah tetap lemah tak berdaya dan tidak bisa melawan.

“Ternyata kondisi hukum Indonesia sama saja dengan masa penjajahan dulu.” Janson  menanggapi. Ia seperti menyesal terlalu fanatik menyukai Indonesia.

“Ya. Belanda ataupun Indonesia sama saja, pada akhirnya sama-sama negara,” kataku. Yang membedakan adalah orang-orangnya.

Janson mengangguk setuju dengan ucapanku. Janson pun langsung membayar makan siang kami seharga lima euro.

***

Kini aku dan berjalan menyusuri jalanan Amsterdam, menyeberangi kanal Netherland, hendak menaiki Trein meninggalkan Amsterdam.

Di Trein, diam-diam aku memikirkan pertanyaan terakhir Janson tadi. Kenyataan bahwa aku menyukai buku itu sama saja mengatakan aku menyukai Indonesia, tanah airku sendiri. Buku itu benar-benar telah mengubah persepsiku selama ini.

“Lalu, mengapa kau masih menyukai Belanda?”

Mengapa aku menyukai Belanda? Jawabannya tetap sama Janson, karena aku menyukaimu. Karena salah seorang anaknya berhasil mengalahkan rasa benciku terhadap negaranya. Toh kini aku hidup di masa yang sudah berabad berlalu sejak tanahku dijajah bangsa Belanda. Yang berubah sekarang adalah orang-orangnya, dan setahuku mereka bukan lagi berperang agar merdeka dari jajahan bangsa lain, tapi dari jajahan bangsa sendiri.

Suara Janson tiba-tiba memecahkan keheningan diantara kami. “Kau masih tidak menyukai Indonesia?” tanyanya lagi ketika kereta listrik tersebut sudah bergerak.

“Entahlah, kurasa tidak, aku hanya tidak menyukai orang-orangnya.”

Janson tersenyum mendengar jabawanku. “Het spijt me (Maafkan aku),” katanya.

Ik begrijp het(Aku mengerti),” jawabku tulus.

“Tapi aku tetap menyukaimu,” ucapnya lirih. Kini mata Janson yang membuat sirkulasi di tubuhku menjadi tak beraturan. Lesung pipinya lagi-lagi muncul, kali ini lebih menyipit dari biasanya.

Ik hou van jou(Aku cinta kamu),” bisiknya lembut. Oh, Janson-ku.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).