BOPM Wacana

USU, Pemerataan Pembangunan dan Fasilitas yang Tak Rata

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Deli Listiani dan Retno Andriani

Kursi rusak ditumpuk di dalam Laboratorium Hidrolik Teknik Sipil. Ruangan ini dipakai sebagai tempat belajar mahasiswa teknik lingkungan, Senin (2/5). | Yulien Lovenny E Gultom
Kursi rusak ditumpuk di dalam Laboratorium Hidrolik Teknik Sipil. Ruangan ini dipakai sebagai tempat belajar mahasiswa teknik lingkungan, Senin (2/5). | Yulien Lovenny E Gultom

Pengadaan gedung dan fasilitas tiap fakultas berbeda, RKAT yang tentukan. Pun, jumlah mahasiswa dan alumni jadi solusi pemerataan pembangunan dan fasilitas tiap fakultas.

Sekitar pukul setengah sepuluh pagi, Teguh Setiawan, Mahasiswa Departemen Sastra Jepang 2014 berjalan menuju ruang 301 di lantai tiga Gedung K, Fakultas Ilmu Budaya. Ia hendak mengikuti ujian tengah semester.

Sekitar tiga menit kemudian, ia tiba di pintu ruangan. Ia melihat teman-temanya sibuk dengan kegiatan masing-masing, ada yang membaca buku, berdiskusi, dan bermain gadget. Di sisi kanannya, tampak empat orang berdiri, mencari-cari tempat duduk yang kosong.

Nihil, hanya 47 kursi yang ada di dalam ruangan itu. Padahal, mahasiswa yang akan mengikuti ujian berjumlah 54 orang. Hal ini membuat Teguh dan teman-temanya harus memindahkan kursi dari ruangan lain. Mereka mencari ke ruangan sebelah, namun tidak ada kursi tersisa di sana. Mereka putuskan turun ke lantai dua.

Butuh waktu hampir sepuluh menit untuk mencari dan mengangkat kursi dari lantai dua ke lantai tiga. Teguh kesal karena terlambat ujian enam menit dari jadwal yang ditentukan. Pikirnya, telat yang mereka alami bukan kesalahan mereka. Sebab mereka telah datang lebih awal, hanya saja harus mencari kursi yang seharusnya sudah disediakan universitas sebagai sarana belajar.

Kondisi seperti itu juga dirasakan oleh Hary Vaujiah, Mahasiswa Departemen Teknik Lingkungan 2014. Ia tak merasakan fasilitas yang baik saat belajar, khususnya kelas yang nyaman. Selama ini ia dan teman-temannya, sering belajar di ruangan bekas Lab Hidrolika yang tak terpakai. Kadang mereka menumpang di kelas S-2 Teknik Sipil. “ Panas sekali saat belajar,” terang Hary.

Pun, kondisi kelasnya sebenarnya tak layak dipakai. Kursi-kursi berserakan, ruangannya tak punya loteng, dan beberapa peralatan harus meminjam dari departemen lain di Fakultas Teknik.

Sedang untuk laboratorium, biasanya Hary menumpang ke laboratorium jurusan atau laboratorium fakultas lain. Ia contohkan, jika ingin lab mata kuliah Kimia mereka menumpang di Lab LIDA FMIPA. Sedangkan mata kuliah Hidrolika mereka memakai Lab Teknik Sipil.

Pembangunan gedung baru yang ditawarkan sebagai solusi sudah didengar Hary saat ia masih menjadi mahasiswa baru Teknik Lingkungan. “Waktu itu dekan bilang tahun itu (2014-red) pembangunannya,” ujar Hary. Namun hingga kini pembangunannya belum ada terealisasikan. Kabar baiknya beberapa waktu lalu departemen memasangkan AC di ruangannya.

Kepala Program Studi (Prodi) Teknik Lingkungan, Netty Herlina membenarkan hal tersebut. Rencana pembangunan gedung Teknik Lingkungan sebenarnya sudah dicanangkan sejak akhir tahun 2014 lalu. Namun terkendala waktu karena Rancangan Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) baru cair di akhir tahun. Lalu diundur tahun 2015. Namun pembangunannya tetap mandek disebabkan proses pemilihan rektor USU. “Padahal dananya sudah ada,” terang Netty. Pun, denah gedungnya sudah selesai didesain sejak jauh-jauh hari.

Netty tak menampik bahwa mahasiswanya sering mengeluhkan kondisi kelas yang tak layak pakai. “Panas, orang-orang sering bilang itu kelas Sauna,” kata Nettty saat memperlihatkan kondisi kelas Teknik Limgkungan di ruangan Lab Hidrolika.

Netty bilang mulanya kelas tersebut dijadikan gudang bagi Teknik Sipil. Namun, atas inisiatifnya, ia menyulap gudang tersebut menjadi ruangan kelas mahasiswa Teknik Lingkungan.

Beberapa mahasiswanya sering mengeluh perihal kelas yang panas, sehingga awal tahun 2016 Netty berinisiatif membeli AC untuk mahasiswa. “Kalau menunggu dari rektorat gak bakalan dapat-dapat kita,” kata Netty. Paling kentara ialah tidak adanya lab inti untuk Departemen Teknik Lingkungan. Hal inilah yang menjadi penyebab beberapa tahun belakangan akreditasi Teknik Lingkungan tetap C. Ia berharap tahun ini pembangunan gedung Teknik Lingkungan segera terealisasi. “Lengkap dengan laboratoriumnya,” pungkasnya.

Jika Teknik Lingkungan hanyalah salah satu program studi dari Fakultas Teknik, berbeda halnya dengan Fakultas Kehutanan. Meskipun sudah berdiri sejak September 2014 lalu, tetapi fakultas ini belum memiliki gedung sendiri. mahasiswa Fakultas Kehutanan masih menumpang belajar di Fakultas Pertanian

Tapi, kondisi ini berbeda dengan bangunan Fakultas Hukum (FH). FH tergolong fakultas yang memiliki fasilitas memadai seperti Fakultas Keperawatan (FKep) dan Fakultas Kedokteran (FK).

FH tampak apik dengan papan nama berukiran gambar tokoh dan garuda sebagai lambang negara. Tepat di depan papan nama tersebut terdapat air pancur kecil lengkap dengan kolamnya. Di pintu masuk ada pos satpam dengan ukuran sekitar 2×2 meter berdiri kokoh menyambut siapa saja yang memasuki kawasan fakultas ini. Tak jauh dari sana, berdirilah gedung Peradilan Semu yang tampak elegan seperti gedung peradilan sesungguhnya.

Jika masuk lebih dalam, kita akan melihat ruang perkuliahan yang wajar. Kursi-kursi berjajar rapi, ada pendingin ruangan, proyektor, mikrofon, serta peralatan kuliah lainnya. Ada pula tempat khusus untuk mahasiswa sekadar bercerita tentang tugas kuliah, atau cerita lain. Beberapa kursi dan meja batu berlapiskan keramik juga ada di sana. Tempat ini hampir tak pernah sepi. “Nyaman. Banyak angin, enak buat ngumpul atau ngerjain tugas,” begitu ujar Amanda P Putri, Mahasiswa Fakultas Hukum 2013.

Sementara itu, Fakultas Kedokteran juga memiliki fasilitas yang baik. Semua ruangan memiliki pendingin ruangan, mahasiswa juga tak perlu menaiki tangga karena sudah tersedia eskalator di sana. Pun, hampir di semua sudut tampak bersih dan tertata rapi.

Kondisi ini jauh berbeda dengan FIB. Dosen Sejarah Nur Habsyah beranggapan bahwa bangunan di FIB tidak layak pakai. Ruangan panas, kursinya tidak sesuai dengan jumlah mahasiswa, tidak ada proyektor, tidak ada aliran listrik, dan kamar mandi yang merupakan kebutuhan dasar pun tidak layak untuk digunakan. Kondisi ini sangat jauh dari standar kelayakan untuk mahasiswa.

Bahkan dengan kondisi itu akhirnya ada sebagian mahasiswa yang lebih memilih membeli kebutuhannya sendiri seperti proyektor dan kipas angin sebagai pendingin ruangan. Menurut Habsyah, kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan fakultas lain seperti FH, FK, dan Fakultas Keperawatan (FKep).

Jika dilihat secara kasat mata, USU seperti bukan satu universitas. Lambang kesatuannya tidak ada. Baik dari segi pembangunan gedung maupun fasilitas. “Mungkin karena UKT, tapi enggak tahu pasti,” ujar Habsyah.

Namun, Dekan Fakultas Keperawatan (FKep) Dedi Ardinata tidak mempermasalahkan kondisi keberagaman gedung yang ada di USU. Menerutnya yang terpenting adalah memenuhi kebutuhan belajar mahasiswa. Di Fkep sendiri gedung dan fasilitasnya sudah baik. Semua kebutuhan mahasiswa seperti proyektor, peralatan laboraturium, pendingin ruangan, kursi, dan kamar mandi juga layak untuk digunakan.

Menilai pembangunan gedung dan fasilitas yang tidak merata. Dedi mengatakan fakultas tidak tahu tentang perbedaan pembangunan ini. Selama ini dana pembangunan tidak pernah turun langsung ke fakultas. Fakultas hanya mengirimkan proposal yang berisikan tentang penambahan fasilitas atau permohonan perbaikan gedung yang berbentuk Rancangan Kinerja dan Anggaran Tahunan (RKAT). Setelah itu, universitas yang merealisasikan langsung. “Fakultas hanya sebagai pengontrol saja,” ungkapnya.

Tak hanya pembangunan gedung, kebutuhan lain seperti laboratorium, proyektor, dan peralatan belajar mahasiswa juga langsung dari universitas.

Hal ini juga dibenarkan Syamsul Pembantu Dekan II FIB. Ia bilang dana pembangunan dan perawatan memang tidak pernah turun langsung ke fakultas. Tapi langsung di bawah naungan universitas.

Menanggapi hal ini, Wakil Rektor V Luhut Sihombing mengatakan, universitas sudah mengupayakan pemerataan pembangunan dan fasilitas di tiap fakultas. Lagi pula, tidak ada kebakuan dari universitas mengenai bentuk bangunan setiap fakultas. “Tergantung dengan pimpinan fakultasnya. Karena yang tahu kebutuhan fakultas sebenarnya fakultas itu sendiri” jelas Luhut.

Universitas juga memberikan dana yang sesuai dengan bangunan perkuliahan yang akan dibuat. Tapi selain dana dari universitas, fakultas juga bisa menggunakan dana pribadinya sendiri. Seperti dana dari mahasiswa yang mengikuti jalur mandiri di fakultas tersebut atau sumbangan alumninya. Karena sebenarnya, uang kuliah mahasiswa juga menentukan banyaknya dana yang akan dikeluarkan untuk pembangunan dan perawatan fakultasnya.

Luhut mencontohkan pembangunan gedung di FK dan FEB, dua fakultas ini mendapatkan sumbangan dana dari alumni dan mahasiswa jalur mandiri yang banyak. Sumbangan ini bisa diberikan langsung ke fakultas atau melalui universitas. “Sebenarnya yang bagus makin bagus, begitu juga yang jelek,” ungkapnya.

Fahrul Rozi Panjaitan, Mahasiswa Fakultas Kehutanan (Fahuta) 2013 bilang jumlah alumni dan mahasiswa seharusnya bukan alasan. Sebab harusnya tidak ada perbedaan bangunan dan fasilitas di USU, semua fakultas adalah bagian dari USU, jadi berhak mendapatkan fasilitas serta pembangunan gedung layak yang sama. “Kita kan satu, bukan gabungan yang disatukan” tukasnya. Meskipun ada beberapa fakultas yang memiliki banyak donasi, tapi masih dalam lembaga yang sama yaitu USU. Tidak perlu ada perbedaan.

Mengenai pembangunan yang tak merata, Luhut tak dapat memungkiri. “Yah, kalau mau di bangun sama semua kaya FK mana ada uang USU sebanyak itu,” ungkapya.

Koordinator Liputan     : Deli Listiani dan Retno Andriani

Reporter                       : Alfat Putra Ibrahim dan Retno Andriani

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).