BOPM Wacana

The Afghan Girl

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Ika Putri A Saragih

Sumber Istimewa
Sumber Istimewa

Foto IkaDia terdiam di sudut kamar. Kristal menggumpal di sudut matanya. Dalam sekedip, kristal itu akan jatuh ke lantai. Pecah berserak, seperti hatinya saat ini.

”Apakah malam akan muncul setelah ini?” Aku menggeliat manja di pangkuannya.

”Ah, ya, tentu saja. Dia tak pernah berkhianat pada rangkaian waktu.”

”Kalau dia saja tak pernah berkhianat, mengapa Ibu mengkhianati Ayah,” mataku membesar menanti kata yang akan meluncur dari mulutnya.

”Kau sudah mulai besar,” Ayah tersenyum mengelus pipiku.

Aku hapal betul tatapan itu. Walau aku tak terlalu tua untuk mengerti. Tapi aku tahu arti dari pandangannya. Laten. Ingin sekali mengatakan padanya, Aku sudah cukup umur untuk mendengar ini! Namun aku menahan diri agar tak menambah lukanya.

***

”Hei, Arab, sudah pernah baca buku ini?” Ren memberi aku sebuah buku tanpa sampul, hanya bertuliskan Sejarah Kelam dari Barak Afghanistan. Menarik, pikirku. Kuputuskan untuk membelinya dari toko buku usang ini.

Setelah membayar beberapa puluh ribu rupiah, kami melenggang keluar. Ren membonceng aku pulang naik motor bebek yang dia beri nama Ken.

”Yakin kau tak mau singgah?” ujarku setelah kami tiba di depan rumahku. ”Aku baru beli camilan kemarin.”

”Sebenarnya aku mau sekali, Ra,” ia menunjukkan duckface-nya. ”Tapi aku harus diet.”

Aku melangkah masuk pascakepergiaan Ren dan Ken. Sepi sekali. Ayah pasti belum pulang. Aku merengsak masuk ke kamar. Entah mengapa pikiranku langsung bertumpu pada buku yang baru kubeli. Mungkin karena negara yang disebut buku ini tanah kelahiran ayahku.

Bab awalnya berjudul Bantuan dari Sahabat, menceritakan awal Revolusi Rusia 1919. Pemerintah Rusia memberi bantuan berbentuk jutaan rubel emas, senjata ringan, amunisi, dan sedikit pesawat untuk membantu orang Afganistan melawan Inggris dan bla bla. Darahku berdesir membaca bab demi babnya.

Aku tak pernah tahu jika negara kelahiran ayahku itu dipenuhi bayang-beyang kelam dari orang-orang barat yang ingin jadi penguasa. Padahal negeri ini sempat punya kota seperti Herat, Balkh dan Ghazni yang telah jadi pusat peradaban Asia Tengah selama berbagai masa. Namun sejak kedatangan Jenghis Khan pada 1221-1222, mimpi jadi angan. Tak jauh beda dengan sejarah modernnya yang penuh dengan usaha menentang pendatang menguasai negeri itu.

Ayah memang tak pernah bercerita banyak padaku tentang tanah asalnya. Seperti yang aku katakan di awal. Dia bungkam. Aku rasa dia terlalu trauma dengan ibu yang meninggalkan kami. Hingga aku pun selama ini tak berusaha cari tahu. Rasanya sama seperti yang dirasakannya, ada rasa sesak saat kau berusaha mencari tahu tentang orang yang kau sayang namun tak di sisimu atau mengkhianatimu.

Tapi sejak baca buku ini aku jadi menemukan titik terang. Tampaknya ada benang kusut di cerita ini. Aku jadi ragu apakah ibu benar-benar meninggalkan ayah. Mungkin . . . aku terlelap karena kepalaku jadi pusing memikirkan itu.

***

”Ayah, ini jatuh tempo. Kisahkan padaku,” aku menggenggam tangannya yang mengelus kepalaku. Ia tersenyum sambil menatap dalam ke mataku. Ah, tatapan itu lagi.

”Kau ternyata belum tidur,” ia mengulum senyum. ”Ya, aku rasa ini waktu yang tepat untuk kau tahu,” ia menarik napas panjang. Ayah bercerita padaku tentang Ibu sepanjang malam. Terkadang aku tak kuasa mencerna kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Aku sesegukan sepanjang kisah birunya.

”Istirahatlah, besok kita akan pulang kampung,” kata ayah sambil mencium ubun-ubunku.

***

Setelah menempuh perjalanan panjang, kami mendarat mulus di Bandar Udara Khawaja Rawash, enam belas kilometer dari pusat kota Kabul.

Ayah menghentikan taksi. Sang sopir turun dan memasukkan barang kami ke bagasinya.

Aku duduk di belakang dengan ayah. Kami tak banyak bercakap sepanjang perjalanan. Pikiran kami sama-sama berkecamuk.

Aku sengaja buka jendela taksi ini lebar-lebar. Aku ingin membaui kota ini. Aku seperti melihat sekelebat bayangan masa lalu kota ini. Pun ibuku. Baiklah itu mungkin efek yang diciptakan hormon endorfin yang diproduksi kelenjar pituitari di bagian bawah otakku. Hingga sekarang aku merasa excited. Aku genggam erat buku yang aku beli tempo hari.

Kendaraan yang kami tumpangi berhenti setelah masuk ke sebuah gang. Kami berhenti di sebuh rumah bertingkat bercat hijau. Warnanya kontras dengan bangunan di sekitarnya yang rata-rata berwarna coklat.

Rumah-rumah di sini umumnya sama seperti kebanyakan rumah di Timur Tengah. Kubus dan cokelat.

Ayah mengetuk pintu utamanya yang besar beberapa kali. Sesekali ia tersenyum padaku. Membesarkan hatinya, dan hatiku. Sekejap, muncul seorang wanita yang umurnya berkisar empat puluh tahunan membuka pintu. Matanya cokelat karamel, hidungnya mancung, pipinya tirus, berkulit putih, ia tetap menawan di usia senjanya. Tak salah lagi wanita ini pasti dari suku Pashtun. Sekejap ia menutup mulut dengan telapak tangannya.

Masha Allah, Ja’far,” ia tersedu sembari memeluk ayahku. Beberapa orang berhamburan dari dalam rumahnya. Mengerubungi aku dan ayahku. Aku terkejut. Aku menangis. Namun aku tak tahu mengapa.

Kami lalu masuk. Duduk di ruang tamu yang cukup besar, aku merasakan hawa yang masih mengharu biru di sini. Wanita yang membukakan pintu tadi duduk di sebelahku. Ia melihatku dengan sorot yang dalam.

Stasanum sa dai? (siapa namamu?)” katanya.

”Ara, Malalai Az-zahrah,” ucapku. Aku sedikit mengerti bahasa Pushtun karena Ayah sempat mengajariku beberapa kosa kata umum.

Dia kemudian bilang namanya Nadia Javed. Ia juga bilang kalau aku cantik. Padahal menurutku ia lebih cantik.

Semua keluarga ayah yang tersisa tinggal di rumah ini. Ada Nadia, kakak tertua ayah, beserta suami dan dua anaknya. Lalu, Malalai Ghazala, adik perempuan ayah dengan suami dan seorang anaknya. Juga Israr At-thariq, adik Ayah paling kecil yang akan menikah bulan depan. Ayah sebenarnya bersaudara tujuh orang, namun inilah mereka yang ada sejak invansi Rusia itu.

***

Tidak memahami bahasa Pashtu, aku jadi sedikit kesal. Aku tak paham betul dengan yang mereka ucapkan. Untung ada Yosafzai, anak perempuan Nadia yang paling besar, ia mengerti bahasa Inggris.

”Ara, ayo pergi ke pasar denganku,” Yosafzai berseru padaku. Aku mengangguk.

Ia berceloteh tentang apa yang diketahuinya waktu invansi negeri tirai besi itu di sini. Tak sengaja kami melintasi toko buku loak.

”Nah kau lihat wanita dalam sampul majalah itu? Dialah yang aku bilang The Afghan Girl tadi. Luar biasa kan?” katanya.

Aku melihat saksama wajah wanita itu. Menakjubkan, bagaimana sorot matanya yang tajam itu menyimbolkan keeksotisan sekaligus kemarahan atas apa yang terjadi.

***

Aku hela napas panjang di atas gundukan tanah tandus ini. Sial, air mataku tak berhenti. Jika aku beranjak, ibu akan sendiri lagi. Bisakah lebih mudah? Kulihat Ayah melambai padaku dari dalam mobil.

Selamat tinggal Ibu, aku mencintaimu. Selamat tinggal The Afghan Girl, terima kasih atas tatapan yang kau ceritakan pada dunia agar tahu betapa sakitnya orang yang diambil haknya untuk kepentingan yang dianggap suci. Selamat tinggal perang, jangan ciptakan lagi anak sepertiku, yang tak tahu rimba ibunya, bahkan sempat membencinya. Aku menyeka sudut mataku.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).