BOPM Wacana

Teluh

Dark Mode | Moda Gelap

Dari sebuah bilik tak terpakai di dalam rumah. Bilik yang terkunci rapat,jauh di belakang. Tak terurus tak terperhatikan. Di dalamnya menguap aroma kematian, hawa lembab yang tidak sedap dan bau apek barang-barang usang. Kotor berdebu tak berpenerangan, gelap pekat adanya.

Tengah malam buta, seorang lelaki duduk bersila di dalam bilik itu. Ditemani sebuah lampu minyak sebagai satu-satunya sumber cahaya. Di hadapannya, semangkuk air bertabur kembang tujuh rupa dan seekor ayam hitam tergeletak diikat pada kakinya. Ayam itu, bernafas satu-satu. Rupanya sebilah bambu kecil menancap—atau mungkin ditancapkan—pada dadanya. 

Lelaki tadi, merapalkan mantra-mantra. Mungkin bersekutu dengan roh jahat untuk melancarkan bencana entah kepada siapa.  

Akibatnya, orang yang diteluh, yang sore tadi masih sehat berjalan kesana ke mari akan ditemui beku jadi mayat esok pagi. 

Entah harga diri siapa yang telah dilukai, sehingga teluh dikirimkan untuk membalas dendam.

***

 

Hari ini aku terlambat lagi, lantaran semalam tertidur larut sekali. Asyik membaca novel yang kemarin siang kupinjam di perpustakaaan keliling. 

Aku harusnya jalan cepat-cepat, karena benar-benar sudah telat. 

Jarak ke sekolahku yang tak begitu jauh, sudah biasa kutempuh dengan berjalan kaki. Tapi dasar anak tak tahu aturan, aku gontai saja. Lewat pagar belakang. 

Pasti semua orang sedang berbaris untuk senam pagi. Sedang aku tidak ikut, untuk kesekian kalinya. Aku pun tak melupakan, bagaimanaSabtu lalu Pak Rabai menyeretku yang ketahuan tidak ikut senam pagi.Ia memergokiku nongkrong di kantin belakang bersama kawan-kawan yang juga terlambat. 

Kemudian aku ambil posisi enak di bangku kantin, mengeluarkan novel yang harus segera kutamatkan. Ibu kantin membiarkan saja. Sepi sekali pagi itu. Hanya aku yang terlambat. 

Tapi kau dimana? Pandanganku beredar mencari sosok Aji, putra Zalman, sahabatku sejak kecil.  

Rumah kami berdekatan dan keluarga kami juga sudah kenal lama. Biasanya dia datang terlambat bersamaku. Mengobrol hingga senam usai. Bercanda, berdebat, menertawakan apa saja. Ya, dia memang lelaki tampan yang pintar dan baik.

Lelaki?

Sejak kapan aku menganggap dia lelaki? Bukannya semenjak sekolah dasar dia cuma temanku? Kedudukannya sama seperti yang lain, tak ada yang istimewa. Tapi kini, ceritanya sudah berubah. Duh, pubertas memang merubah banyak hal. 

Masih lekat di ingatanku, Senin pagi yang lalu ketika aku sengaja terlambat karena malas ikut upacara bendera. Ketika aku sedang asyikmembaca buku.

“Kau selalu saja terlambat. Kapan kau bisa mematuhi waktu?” katanyamengalihkan perhatianku dari buku di pangkuan.

“Aku akan tepat waktu kalau sang waktu mau menambah uang jajanku,” aku menjawab sekenanya sambil mencuri menatap mata indahnya.

Dia hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum. Tiba-tiba perutku berbunyi. Bergemuruh panjang, keroncongan karena belum sarapan. Lagi, ini kebiasaan buruk yang akan cepat mematikan otakku.

“Haha, lihatlah! Bahkan perutmu harus tepat waktu memberitahumu kapan kau butuh makan,” ujarmu lagi.

Sepotong roti dikeluarkannya dari dalam tas. Lalu dibaginya menjadi dua denganku. Kemudian dia tersenyum lagi.

Aku ingin bilang, “Senyummu itu dari dulu selalu manis, tapi sekarang lebih manis. Wajah teduhmu, suaramu yang kudengar, mulai berubah lucu. Aku suka….”

Tapi dalam hati saja.

Ah, aku juga sudah berubah. Dulu aku tidak secentil ini, tidak memperhatikan wajahmu sesering ini.

Dan Sabtu pagi yang indah ini, ketika aku terlambat dan tidak ikut senam pagi, aku memandang wajahmu lagi. Wajah tampan yang tersenyum menawan. Meski kau begitu pucat, begitu dingin, berbaring terpejam seperti mayat! Aku masih setengah sadar ketika Dayana terus menarik tanganku dan bilang “Ayo, Ni! Kita harus menjenguk Aji!”

Ramai orang yang menangis. Tubuh dingin yang kaku berselimut kain panjang, ibu dan adikmu meraung-raung di sisi kiri dan kananmu, jugakawan-kawan kita yang tertunduk antara terkejut dan sedih. Juga kau yang tidak kunjung bangkit dari tidurmu. Nyatakah ini?

Aku bermimpi kan? Hei, ini tidak mungkin! Kau kan, yang menemaniku siang lalu meminjam buku ke perpustakaan keliling? Kau kan yang bilang aku cinta pertamamu? Kau tidak mungkin mati.

***

 

Setelah enam tahun ayah menceraikan ibu—ketika aku masih kelastujuh madrasah sanawiah—ayah menikah dua kali. Terakhir dengan seorang janda muda beranak dua. Dari pernikahan mereka lahirlah lagi seorang anak—yang juga adik tiriku.

Sekarang, setelah mendengar ibu akan menikah dengan orang lain, menangis-nangis ayah memohon agar ibu mau menerimanya kembali. Ditinggalkannya istrinya. Sehingga, janda itu pun kini menjanda lagi,dengan tiga anak.

Aku tahu ibu tak akan pernah mau kembali pada ayah.

Beruntung, aku punya ibu yang hebat dan pandai bekerja. Siang malam ibu menjahit pesanan baju agar kami bisa tetap makan dan sekolahmeski tak ada ayah.

Untungnya lagi, kami hanya tiga beradik kakak. Hm, sedikit anak memang lebih baik. Untuk mengantisipasi kalau-kalau Indonesia krisis moneter lagi. Jadi tidak banyak anak yang harus diberi makan.

“Aku berjanji akan berubah, Mai. Aku ingin kembali, demi anak-anak kita. Tiada tenang rasa-rasaku. Aku ingin keluarga kita berkumpul lagi,” mohon ayah.

Berkumpul?

Apakah dia tidak tahu? Sejak aku Lulus SMA, ibu sendirian di rumahsetiap waktu. Aku diterima di sebuah universitas di Kota Utara. Abang sulungku jauh di rumah istrinya. Sedangkan abang keduaku berkeluarga di sebuah kota kecil di timur Indonesia.

Berkumpul katanya? Bertemu muka pun kami jarang!

Kembali?

Apakah dia lupa? Dia telah meninggalkan ibu dengan tiga orang anakdan luka besar di hatinya! Satu lagi, juga hutang yang banyak.

Ayah meraung-raung, sementara ibu bergeming sedikit pun. Tetanggapun ramai menonton.

***

 

Di hari yang lain, ayah datang lagi.

Harusnya hari itu aku tidak pulang biar tak kudengar ayah mengaku dosa.

“Memang sudah berlipat dosaku, Mai, tapi kini aku ikhlas saja. Bahagialah kau dengan siapapun. Aku tidak akan mengganggu lagi.Namun aku ingin mengaku satu hal, Mai, yang tidak pernah kusampaikan pada siapapun. Biar berkurang beban batinku.”

Aku masih menyimak di balik pintu, mengira-ngira apa yang akan dikatakan ayah.

“Apa kau masih ingat Zalman? Enam tahun silam dia datang sore-sore ke rumah kita. Marah-marah menagih hutang padaku. Aku benar belum bisa membayar uangnya kala itu. Jual beliku merugi dan uangku habis banyak.”

Aku masih menyimak.

“Aku sungguh tidak pernah ingin melakukan itu, Mai. Tapi aku juga tidak bisa mengatasi kekuatan jahat dalam diriku. Aku yang telah meneluh satu-satunya anak lelaki si Zalman. Anak bujangnya mati karena aku!Hingga Zalman sakit jiwa dan kini keluarganya jatuh miskin dalam kesusahan. Sungguh besar dosaku, Mai.”

***

 

Dari sebuah bilik tak terpakai di dalam rumah. Bilik yang terkunci rapat jauh di belakang. Tak terurus tak terperhatikan. Di dalamnya menguap aroma kematian, hawa lembab yang tidak sedap dan bau apek barang-barang usang. Kotor berdebu tak berpenerangan, gelap pekat adanya.

Tengah malam buta, seorang lelaki duduk bersila di dalam bilik itu.Ditemani lampu minyak sebagai satu-satunya sumber cahaya. Dihadapannya semangkuk air bertabur kembang tujuh rupa dan seekor ayam hitam tergeletak diikat pada kakinya. Ayam itu, bernafas satu-satu. Rupanya sebilah bambu kecil menancap—atau mungkin ditancapkan—pada dadanya.

Lelaki tadi, merapalkan mantra-mantra. Mungkin bersekutu dengan roh jahat untuk melancarkan bencana entah kepada siapa.

Oh, Ayah, rupa-rupanya engkau yang telah tega mengirim petaka pada pangeranku, cinta pertamaku.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).