BOPM Wacana

Tamu Iblis Terhormat

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Mutia Aisa Rahmi

Ilustrasi: Yulien Lovenny Ester G
Ilustrasi: Yulien Lovenny Ester G

2014 - Mutia

Aku akan pulang. Betapa kebahagiaan akan menggerogoti jantungku saat aku bertemu ayah dan ibu. Itulah yang aku nantikan sejak berbulan-bulan, berada di rumah yang nyaman bersama orang-orang paling aku cintai di bumi ini.

Sungguh, banyak rencana indah kususun kala bayangan pulang semakin dekat. Entah itu sekadar berbelanja bersama ibu ataupun memasak brownies untuk ayah.

***

Aku di rumah, berkumpul bersama keluarga. Kebahagiaan yang akan menggerogoti benar-benar mengerogoti. Aku bahagia.

Namun siang itu, akan menjadi hari paling kelam di hidupku. Akan kubunuh setiap detik ingatan yang hidup tentang siang itu.

Tamu iblis datang. Awalnya, tak pernah kusangka akan memberi sebutan itu untuknya. Dia pamanku. Dia datang dengan tujuan mulia, memberi sedikit nasihat. Begitulah katanya ketika memberi kabar.

Prosesi berkunjung ke rumah keponakan perempuan yang dalam masa merantau adalah sangat wajar terjadi di keluargaku.

Dia datang, rumah sudah rapi menyambut kedatangannya. Entah itu kebetulan atau kesialan yang kebetulan, aku tengah sendiri di rumah.

Dia masuk sambil mengucapkan salam dengan sangat fasih. Dan aku menjawab salamnya.

Dia duduk di sofa—belum aku silahkan. Lalu aku pamit ke dapur, membuat teh dan menyiapkan sedikit kudapan.

Dia memulai pembicaraan. Tak ada yang aneh dengan topik pembicaraan—yang ia arahkan sendiri—di awal. Aku masih melihat kekakuan adat dalam nasihatnya dan percakapan kami.

Hingga dia memanggilku untuk duduk mendekat kepadanya. “Duduk di sini, Nak. Ada sesuatu yang ingin Paman katakan,” panggilnya sambil memukul-mukul sofa yang kosong di sampingnya.

Aku ikuti katanya. Dia orang yang aku hormati. Perannya—karena adat—hampir setara dengan ayah. Dalam masyarakat juga tak kalah ‘wah’, dia seorang pemuka agama di lingkungannya. Ia biasa membawakan khotbah jumat hampir setiap minggu.

Ia mengambil tanganku untuk digenggam. Aku biarkan tanganku seperti seorang anak kecil yang menyerahkan tanganya untuk dibersihkan dari kotoran dengan sepotong tisu basah yang wangi. Aku mengikutinya.

Ia mulai membolak-balik tanganku, bak seorang peramal. Dia mengatakan semua kepribadian yang bisa ia baca dari telapak tanganku. Aku tak ingat kepribadian apa saja yang ia baca dari telapak tanganku itu.

Satu yang kuingat, dia bilang aku hemat. Aku hanya tersenyum bingung. Jauh sekali dengan kenyataannya.

Apa yang ia lihat dari telapak tangan ini?

Banyak kalimat penafsiran yang ia ungkapkan, yang katanya merupakan arti dari bentuk tangan, garis tangan dan bla bla bla. Aku hanya membalas penafsiran yang sama sekali tak kupercaya itu dengan senyum yang dipaksakan—agar terlihat antusias—dan sedikit kata: oh!. Lagi, aku melakukan itu sebagai rasa hormatku.

Ia lanjutkan ramal-meramalnya. Namun, lama kelamaan, bagian tubuhku yang menjadi objek ramalannya semakin tak biasa. Ia menyentuh wajah, leher, hingga memintaku untuk menggulung celana panjangku hingga diatas lutut. Aku mulai berpikir, ini tak bisa lagi diteruskan.

Ia terus meminta memperlihatkan bagian tubuh lainnya. Semakin melewati batas kesopanan. Aku mulai berontak. Otakku tak lagi sanggup menerima sinyal hormat yang dipancarkan hati sebagai suatu bentuk apology untuk ketidaksopanannya.

Hingga ketika ia mencoba menyentuh dadaku, aku menepis tangannya dengan kasar. Aku muak. Rasa jijik seketika meledak dan melumeri seluruh buku otakku. Aku tak sanggup lagi berpikir.

Ada sorot terkejut dan marah yang keluar dari matanya. Mungkin karena aku berontak dan tak lagi mengindahkan kata hatiku untuk tetap hormat dan mengikuti keinginannya. Aku tak peduli.

Aku bangkit menjauh dari sofa yang aku duduki. Aku tak bicara, hanya memandang jijik padanya. Satu hal yang terlintas di benakku saat itu:Dia sakit! Sakit! Dia ingin memakanku!

Otakku meronta, merenggut rasa hormatku padanya yang sudah tertanam sejak otakku mulai mampu berpikir.

Lama kami diam. Aku larut dalam pikiranku sendiri. Menyiapkan kalimat yang cocok untuk dilontarkan kepadanya. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan, aku tak peduli.

“Paman yang aku hormati, tak lagi dan tak akan pernah lagi aku hormati. Pergi!” ucapku datar, benar-benar datar.

Sungguh, kontrol emosi paling sulit yang pernah aku lakukan dalam hidup. Aku berusaha menyembunyikan rasa jijikku padanya. Namun aku yakin dia tahu betapa jijiknya aku dengan ekspresi datarku.

Dengan menahan rasa mual yang muncul sejak rasa hormat terenggut dari otakku, aku mulai memperhatikan ekspresinya. Dia kelabakan. Seperti seorang pencuri yang tertangkap basah sedang menggenggam barang curian.

Aku tahu, ada yang ingin ia katakan. Entahlah, aku seketika mampu membaca pikirannya. Dia ingin ini dirahasiakan, mengingat posisi dia yang terhormat.

Aku memalingkan wajah darinya. Aku tak peduli lagi dengan apa yang ia pikirkan. Tak lama, ia bergerak, menuju pintu. Dia pergi.

Aku menghela napas. Seketika air mata keluar membanjiri wajahku. Marah, jijik, sesal, dan pedih.

***

Satu minggu setelah tamu iblis itu pergi. Aku tak bicara apa-apa kepada siapapun tentang kebobrokan moralnya.

Pagi itu, aku terbangun karena suara panggilan Ibu. Dengan kantuk yang menggelayut di mata, aku meraih gagang pintu sambil menjawab panggilannya. Ibu bilang aku harus bersiap-siap untuk pergi bersamanya ke pemakaman paman.

Tunggu. Paman?

Keningku seketika berkerut bersamaan dengan meledaknya kata-kata itu dikepalaku.

“Paman meninggal, Bu?” tanyaku dengan nada terkejut yang tak bisa aku sembunyikan.

“Ya, beliau terkena serangan jantung,” jawab Ibu seraya menyuruhku bersiap untuk menghadiri pemakaman yang akan dilaksanakan siang harinya.

Aku tak lantas langsung mengikuti perintah Ibu, aku tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Aku kembali mengingat hari-hari yang aku lalui setelah kejadian itu, aku selalu mengutuknya dan meminta kematian untuk segera datang menjemput iblis itu. Dan semua terjadi hari ini.

Dia meninggal, Iblis itu meninggal. Aku tak bisa berbohong, ada ledakan rasa senang yang tiba-tiba datang. Oh, apakah aku berdosa? Berbahagia atas kematian orang lain? Aku tak peduli.

Di pemakaman itu aku berdiri sendiri, memperhatikan suasana duka yang menyelimuti. Ibu yang berdiri di samping Tante memeluk menenangkan. Aku tak memperhatikan prosesi pemakaman. Meskipun sudah tertutup kafan, aku rasanya masih tak ingin melihatnya.

Ku perhatikan orang-orang disekelilingku. Pemakaman yang sangat ramai. Mata para pelayat dihiasi air mata dan raut wajah sedih. ‘bagaimana jika mereka tahu seperti apa lelaki itu sebenarnya? Apakah pemakaman ini akan seramai ini? Apakah suasana sedihnya akan sekental ini? Aku tersenyum prihatin.

Jasad laki-laki itu hilang tertimbun tanah pemakaman. Aku menghela napas. Kuputuskan untuk mengubur ingatanku tentang kejadian itu bersama dengan jasadnya. Tuhan sudah memberikan keadilannya,pikirku.

Aku meninggalkan area pemakaman ketika orang-orang mengadahkan tangan berdoa. Bukan karena aku tak sudi berdoa untuknya, hanya aku tak perlu berdoa untuknya. Dia sudah tak ada lagi dalam hidupku.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).