BOPM Wacana

Surya Darma: You Only Get What You Give

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Kartini Zalukhu

Surya sedang memberikan intruksi mengenai tata cara menyampaikan pendapat yang baik dan benar dalam Bahasa Inggris. | Kartini Zalukhu
Surya sedang memberikan intruksi mengenai tata cara menyampaikan pendapat yang baik dan benar dalam Bahasa Inggris. | Kartini Zalukhu

Waktu menunjukkan pukul 11.35 WIB. Ruangan yang tidak lebar namun memanjang itu hanya bisa memuat tujuh buah kursi untuk dijejerkan. Karena angka ganjil, maka penyusunan kursi tidak seimbang. Tiga kanan dan empat kiri. Tatanan kursi tersebut menyisakan ruang di tengahnya. Di situlah Mariyadi dan 15 mahasiswa Fakultas Sastra lainnya menjalin komunikasi.  Mereka berhadap-hadapan tidak teratur. Sesekali ada tangan yang menggeser kursi untuk lebih rapat dengan kursi lainnya.

Mariyadi melontarkan kalimat yang putus-putus ke lawan jenisnya. Kedua tangannya bergerak-gerak mengisyaratkan sesuatu. Tidak sampai tiga menit, Mariyadi pindah ke mahasiswa lain untuk membuka pembicaraan. Semua yang berada di ruangan itu tampak semangat. Mimik bahagia dan tawa kecil menghiasi wajah mereka. Bila merasa cukup berdialog dengan lawan bicaranya, mereka pindah ke mahasiswa lain.

“Come on, speak up, speak up. Hey you! Move!” tiba-tiba suara lantang menambah keriuhan ruangan tersebut. Pemilik suara itu berdiri di dekat papan tulis yang sudah hampir penuh dengan tulisan Bahasa Inggris.  Tangan kirinya menggenggam alat penghapus dan selembar kertas putih. Sedangkan di tangan kanannya, terdapat spidol hitam yang telah menemaninya menulis selama satu jam lebih.

Ialah Surya Darma, pria tinggi dan berkulit terang yang memantau jalannya dialog. Oleh Mariyadi dan mahasiswa lainnya ia dipanggil Mr Surya. Mr Surya hanya berlaku di dalam kelas saja. Selanjutnya ia lebih suka dipanggil Surya.

Surya adalah pengajar Bahasa Inggris. Secara gratis ia meluangkan waktunya untuk berbagi ilmu. Kali ini ia bersama Mariyadi dan mahasiswa lainnya yang berasal dari berbagai angkatan di Fakultas Sastra USU, melakukan proses belajar mengajar di ruangan Sastra Jepang USU. Mereka sudah bersama sejak pukul 10.00 WIB.

Tepat pukul 12.10 mereka mengakhiri kegiatan tersebut. Dengan sedikit berlari, saya mengikutinya dan meminta waktu untuk bincang-bincang sejenak. Tampak ia merogoh Nokia 1202-nya lalu mengabari seseorang bahwa ia akan telat 30 menit. Setelah itu kami memilih kantin Sastra untuk melanjutkan obrolan. Di tempat inilah ia cerita tentang kegiatannya mengajar Bahasa Inggris secara gratis yang lantas ia sebut sebagai Taman Siswa.

Mengajar Secara Gratis

Surya adalah orang yang tidak setuju jika belajar Bahasa Inggris dikatakan sulit dan memakan waktu lama. Ia memberi contoh, kenapa anak kecil di luar negeri bisa Bahasa Inggris? Jangan bilang karena ia lahir di luar negeri, tapi pahamilah bahwa anak tersebut menggunakan Bahasa Inggris sebagai alat untuk meminta sesuatu. “Bahasa Inggris itu alat bukan hanya sekedar pelajaran untuk diketahui,’’ tegasnya.

Menanggapi pesatnya perdagangan Bahasa Inggris di Indonesia khususnya di Medan, Surya sangat menyayangkan orang yang mengeluarkan uang sekian banyak untuk belajar Bahasa Inggris namun belum tentu berhasil. Mantan pengajar di Briton Internasional English School ini merasa memiliki tanggung jawab sosial untuk berbagi ilmu yang ia dapat. Maka berdirilah Taman Siswa, sebuah wadah yang dibuat Surya untuk membumikan Bahasa Inggris secara gratis.

Taman Siswa masih sangat muda, ia berdiri pada Mei 2010. Selain di fakultas-fakultas yang ada di USU, Surya juga mengajar di IAIN Sumatera Utara, tempat di mana ia melanjutkan studi S2. Murid Surya sendiri ialah mahasiswa-mahasiswa yang ingin mendalami Bahasa Inggris secara gratis. Dengan modal menyocokkan waktu dan tempat maka di lakukanlah proses belajar mengajar tersebut.

Meski gratis, Surya tidak pernah main-main dalam mengajar. Ia sudah merencanakan materi setiap pertemuan. Materi tersebut dibagi kepada murid lantas dibahas bersama. Metodenya pun tak setengah hati. Setelah menjelaskan teori, murid langsung mempraktekkan pelajaran tersebut. Di akhir pelajaran murid juga berkesempatan menyampaikan saran dan kritiknya bahkan jika waktu mendukung akan diadakan permainan.

Tidak ada perjalanan yang mulus. Ungkapan ini menyiratkan kendala yang dihadapi Surya. Ia mengeluhkan murid yang tidak bisa diprediksi. Ada saja mahasiswa yang tidak datang sampai dua sampai tiga kali, padahal waktu kosong sudah dicocokkan. Namun, Surya bukanlah orang yang egois untuk membuat suatu keputusan. Setelah diskusi dengan muridnya, mereka membuat kesepakatan-kesepakatan demi kebaikan bersama. Misalnya, bila ada murid yang tidak datang dua sampai tiga kali tanpa alasan maka murid tersebut tidah berhak mengikuti pelajaran selanjutnya. Begitu juga jika ada murid yang terlambat namun tidak mengabari terlebih dahulu, ia akan dikenai denda. Denda tersebut digunakan untuk memperbanyak materi.

Kaya Pengalaman

Bisa dibilang Surya banyak menghabiskan waktunya di luar negeri. Sejak kelas lima SD ia sudah menjelajahi Malaysia tepat ketika ayah dan ibunya melanjutkan S2. Mulailah perjalanannya yang panjang. Ia mendapatkan beasiswa dan berkesempatan mengecap ilmu di salah satu SMP terbaik di dunia yakni Raffles Institution yang berada Singapura.

Pria kelahiran 15 Agustus 1982 ini memang terdaftar dalam berbagai macam institusi pendidikan dalam dan luar negeri. Ia pernah terdaftar di tiga Sekolah Dasar, tiga Sekolah Menengah Pertama, dan tiga Sekolah Menengah Atas. Sedangkan untuk perkuliahan ia merupakan sarjana Teknik Sipil di National University Of Singapura. Sempat juga belajar di London Schools of Economics, Columbia University dan Universitas Indonesia. Hingga akhirnya Surya mlanjutkan pendidikan magister di tanah kelahirannya,  IAIN Sumatera Utara.

Ada banyak Penghargaan yang didapat anak pertama dari tiga bersaudara ini. Salah satunya pernah dikirim ke Autralia oleh pemerintah Singapura untuk menyelidiki ikan terbesar di dunia. Pengalaman kerjanya pun bertaraf Internasional sehingga ia pernah menginjakkan kakinya ke berbagai tempat di dunia seperti New York, London, Zurich, Pert dan Exmouth, Singapura, Malaysia dan Thailand.

Kebanyakan orang yang sudah matang seperti Surya lebih memilih untuk mempertajam perisainya. Namun, semua yang ia dapatkan tidak serta merta membuatnya lupa diri. You only get what you give, itulah motto Surya. Pria berdarah Angkola-Toba ini memberikan perhatian yang khusus untuk pendidikan. Hal itu ia wujudkan dengan memberikan pelajaran Bahasa Inggris secara gratis.  Ia tidak merasa rugi untuk membagi ilmunya. Ditanya sampai kapan ia berbagi ilmu, sambil tersenyum Surya menjawab “Sampai nanti, sampai mati.”

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).