BOPM Wacana

Sungai Deli, Kini dan Nanti

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Yulien Lovenny Ester Gultom

Sungai Deli sumber kehidupan dan sumber pencemaran. Sungai Deli, dibersihkan harus, kesadaran masyarakat perlu dan peran serta pemerintah dibutuhkan.

Seorang warga membuang sampah ke Sungai Deli, Sabtu (16/6). Sampah merupakan sumber pencemaran Sungai Deli | Yulien Lovenny Ester Gultom
Seorang warga membuang sampah ke Sungai Deli, Sabtu (16/6). Sampah merupakan sumber pencemaran Sungai Deli | Yulien Lovenny Ester Gultom

Air sungai sepanjang seratus meter ini sangat jernih. Perairan yang bersih menjadi tempat segala jenis ikan sungai hidup. Warga Kampung Aur biasa mandi, dan mencuci di sungai ini. “Kata mamak, dulu Sungai Deli nampak sampai ke dasar,” kenang Norma, ia tinggal di Kampung Aur.

Hal serupa juga dikatakan Mauzatul Hanasah, warga Kampung Aur. “Bahkan yang sudah punya kamar mandi pun, mandinya di sungai,” ujarnya. Selain itu, dulu warga juga sering mengelola air sungai untuk diminum.

Awal Januari 2011, hujan lebat mulai turun kira-kira pukul 01.00 dini hari. Lalu, suara toa masjid berkumandang. “Banjir . . . banjir. Segera mengungsi, angkat barang”, ujar Mauzatul menirukan pemberitahuan yang didengarnya. Hujan lebat mengguyur wilayah Kampung Aur selama dua hari, aliran air sepanjang seratus meter meluap.

Mauzatul bersama kedua orang tua dan sebelas saudaranya yang tinggal di rumah dengan sigap memindahkan barang ke atap rumah. Barang-barang elektronik seperti kulkas dan televisi diamankan ke atas atap. Mauzatul dan beberapa saudaranya segera mengungsi ke rumah sepupu, sedangkan sisanya berjaga di atap agar barang-barang tidak tenggelam akibat banjir.

“Baru itulah saya mengungsi, karena banjirnya besar kali,” terang Mauzatul.

Banjir yang menghadang Kampung Aur tidak terjadi sekali atau dua kali. Setiap hujan lebat, Kampung Aur selalu banjir. Mauzatul mengatakan karena seringnya banjir, warga seolah kebal jika banjir menghadang, “Sekarang, kalau banjir sudah biasa saja, kami tetap bertahan di rumah, takut barang kami hilang,” ujarnya.

Mauzatul bilang saat banjir, air akan naik setinggi kepala orang dewasa. Tapi, hampir semua warga di pinggiran Sungai Deli tetap memilih tinggal di rumah. “Bisa di kera (hitung) banjir itu, pagi-pagi sudah surut,” timbangnya.

Desmiati Ceniago, warga Kampung Aur juga punya pengalaman serupa. Ia hidup di Kampung Aur sejak masih kecil. Ia bilang, dulu masyarakat lebih memilih menggunakan air Sungai Deli untuk dikonsumsi di banding harus membeli dari perusahaan air.

Desmiati menceritakan kondisi sungai mulai tak bersahabat saat pertengahan tahun 1982, air sungai sudah mulai tercemar dan banyak sampah di sungai. Dampaknya, banjir besar mulai dirasakan warga.

Ia bilang rumahnya sempat tenggelam. “Nah sebagian itu hanyut rumahnya,” tunjuknya pada salah satu bangunan bertingkat tiga di sebelah Masjid Kampung Aur. “Waktu itu semuanya habis, dokumen banyak yang hanyut,” tambahnya. Desmiati bercerita tahun 2002 Kampung Aur kembali hadapi banjir kali ini ia telah siap mengantisipasi lebih awal. Caranya dengan melaminating dokumen penting agar tidak basah.

Mauzatul dan Desmiati tahu penyebab seringnya banjir di Kampung Aur karena sampah. Tapi ia bilang, kesadaran masyarakatnya masih kurang. Desmiati juga katakan masyarakat tetap lakukan upaya pelestarian Sungai Deli, hanya saja usaha ini kurang efektif. “Sampahnya kan dari atas, jadi mau bagaimanapun akan terus mencemari,” keluhnya.

Selain itu, Mauzatul bilang kendala lainnya adalah fasilitas. Fasilitas seperti tempat sampah sangat dibutuhkan. Mauzatul sempat ingat kalau kepala lingkungan pernah memberikan tempat sampah tapi karena banjir tempat sampah tersebut hanyut. Ia pun mengeluhkan karena tidak tahu di mana harusnya mereka membuang sampah, sungailah yang selama ini dijadikan tempat sampah.

Norma ditemani putrinya mencuci kain di pinggir Sungai Deli, Sabtu (16/6). Norma memanfaatkan Sungai Deli jadi Mata Pencahariannya.| Yulien Lovenny Ester Gultom
Norma ditemani putrinya mencuci kain di pinggir Sungai Deli, Sabtu (16/6). Norma memanfaatkan Sungai Deli jadi Mata Pencahariannya.| Yulien Lovenny Ester Gultom

Menanggapi hal ini, Syafri Tanjung, Ketua Komunitas Peduli Anak, sekaligus pengawas Sungai Deli bilang saat ini, jumlah volume sampah yang dibuang masyarakat mulai berkurang. Sebab, tiap minggu mereka rutin melakukan kegiatan gotong-royong.

Syafri tambahkan kalau mereka juga sudah menyediakan fasilitas bank sampah. Namun, tidak semua warga membuang sampah pada tempatnya. “Anak-anak di sini sekarang perlu diberi edukasi untuk tidak membuang sampah di sungai,” ujarnya.

Banjir terus melanda Sungai Deli, untuk itu diperlukan perbaikan. Angin segar datang saat Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho mengeluarkan surat edaran 2014 silam untuk menjadikan Sungai Deli jadi tempat wisata. Hal ini dibenarkan oleh Siti Bayu Nasution, Sekretaris Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Ia bilang Pemerintahan Provinsi Sumut punya program yang akan dilaksanakan selama rentang 12 tahun.

Program ini bernama Gerakan Penyelamatan Sungai. Program jangka panjang ini punya target akhir: sungai bersih. Sehingga Sungai Deli memungkinkan untuk dijadikan kawasan ekowisata air. “Dimulai 2014 lalu, langkahnya kita bagi dalam tiga tahap,” ujar Zico F Silalahi, Staf Badan Lingkungan Hidup membuka penjelasan.

Zico jelaskan dalam waktu 12 tahun, ada tiga tahap yang harus dilakukan. Rentang empat tahun pertama, tergetnya sungai bebas sampah dan sempadan tertata. Empat tahun kedua, targetnya status sungai tidak tercemar dan air sungai menjadi layak konsumsi. Sedang empat tahun terakhir sungai dapat dilayari dan telah menjadi kawasan ekowisata Sungai Deli.

Posma Samosir, Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Sumber Air Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) II mengatakan solusi untuk menjadikan Sungai Deli sebagai objek wisata adalah cara yang bagus. Hanya ia belum dapat surat edaran tersebut, tapi jika ingin menjadikan Sungai Deli tempat wisata hal pertama yang harus dilakukan yaitu dengan relokasi warga di pinggiran sungai.

Tahun 2008, sosialisasi untuk memindahkan masyarakat sudah dilakukan, namun masyarakat menolak. Ada dua lokasi yang rencananya akan menjadi rumah susun untuk warga yaitu di sekitar kampung Aur dan Marelan.

Norma, salah satu warga memang mendengar sosialisasi untuk pemindahan masyarakat. Tapi ia menolak untuk pindah. “Enakan di sini, mudah cari makan, mudah cari uang, sekolah untuk anak-anak dekat,” ujarnya.

Norma bekerja sehari-harinya sebagai tukang cuci, ia biasa mencuci di Sungai Deli. Ia bilang jika ia mencuci di kamar mandi, ia hanya bisa mencuci satu ember penuh. Sedangkan jika ia mencuci di pinggiran sungai, jumlah ember berisi kain untuk dicuci lebih banyak, dengan demikian pundi-pundi rupiah yang ia dapat lebih banyak.

Menanggapi hal ini, Posma tidak bisa berkomentar banyak, ia bilang lokasi masyarakat yang sebenarnya salah dan kesadaran memiliki yang kurang.

Ia jelaskan daerah Kampung Aur dan daerah di pinggiran Sungai Deli memiliki batas yang disebut sempadan sungai, lokasi inilah yang dijadikan tempat bermukim warga. Padahal sempadan ini salah satu fungsinya adalah menahan banjir. Selama ini yang dikira warga sebagai banjir adalah debit air yang sedang meninggi di daerah sempadan saja, bukan banjir yang sebenarnya.

Norma tetap bersikukuh menolak pindah, “Penghasilan kami pas-pasan, kalau pun kami pindah dari sini kayak mana kami bayar uang sewa rumah susun itu,” ujarnya. Oleh sebab itu, ia tetap bertahan walau air sungai meluap dan menggenangi rumah mereka.

Posma mengatakan, BWSS II juga telah melakukan upaya untuk mengatasi banjir yaitu dengan pembangunan kanal di Marendal, Alasannya karena selain biaya yang lebih murah dari pada pelebaran sungai, pembangunan kanal lebih efisien. “Saya lupa anggarannya, tahun 2012 dibangun,” ujarnya.

Air dari kanal akan dialirkan ke Sungai Sei Percut dan rencananya tahun 2017 mendatang akan dilakukan pembangunan Waduk Sei Meimei untuk menampung debit air Sungai Deli. Saat ini prosesnya masih pada tahap meminta izin menteri kehutanan karena wilayah Waduk Sei Meimei termasuk hutan produksi. Posma juga berkomentar, untuk menjadikan Sungai Deli sebagai objek wisata masih butuh waktu yang sangat lama.

5

“Membangun masyarakat itu butuh waktu lama,” tuturnya.

Muhammad Darwis Nasution, Pendiri Save Our Rivers sepakat dengan Posma. Ia bandingkan dengan sebuah sungai di Korea yang tahap pembersihannya hanya membutuhkan waktu 57 hari. Hal serupa juga bisa dilakukan pada Sungai Deli. Bedanya, jika di Korea pada hari ke 58 masyarakat tidak lagi membuang sampah di sungai, masyarakat di Sungai Deli tetap membuang sampah pada sungai, “Membangun kesadaran masyarakat butuh puluhan tahun,”ujarnya.

Save Our Rivers adalah komunitas peduli lingkungan untuk melestarikan sungai-sungai di Sumatera Utara dengan melakukan operasi pembersihan Sungai Deli.

Darwis juga mengatakan selain masyarakat, peran aktif pemerintah juga diperlukan. Air Sungai Deli membatasi tiga wilayah Karo, Deli Serdang, Medan, oleh karena Darwis bilang pemerintah daerah harus saling bekerja sama.

Save Our Rivers sudah mulai menjadikan Sungai Deli sebagai objek wisata sejak September 2014. Pembangunan ini sebagai pengembangan upaya untuk penyelamatan sungai. September 2014 lalu, ada kegiatan bersama Istri Gubernur Sumut untuk mengarungi Sungai Deli. Di sini, pengunjung yang mau berwisata di sepanjang sungai, bisa sekaligus melakukan upaya membersihan daerah pinggiran sungai.

Posma sepakat kalau koordinasi sangat diperlukan untuk memperbaiki Sungai Deli, tak hanya kesadaran masyarakat, pemerintahan juga harus ikut berperan untuk memulihkan kondisi Sungai Deli dan menjadikan Sungai Deli objek wisata nantinya. “Bukan objek wisata air saja, pembangunan lapangan sepak bola dan ruangan terbuka hijau bisa dibuat,” tutupnya.

BLH Provinsi Sumatera Utara bilang kesadaran yang harus berubah bukan hanya untuk masyarakat di pinggiran sungai tapi seluruh masyarakat Kota Medan dan dua kabupaten lainnya.

Siti menjelaskan limbah yang paling banyak di Sungai Deli adalah limbah domestik—rumah tangga. Sedangkan untuk perusahaan ataupun instansi, Siti bilang kalau perusahaan harus punya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang mengelola limbah sebelum dialirkan ke sungai, agar tak berdampak buruk ke sungai.

Terakhir Siti tegaskan kalau tak hanya BLH Provinsi Sumut saja yang harus bekerja sama, pemerintah Kabupaten Deli Serdang dan Karo harus saling mendukung untuk mewujudkan program 12 tahun ke depan. Siti bilang peran serta pemerintah dan masyarakat yang terpenting. “Kita harus saling berkoordinasi,” tutupnya.

Koordinator Liputan   : Yulien Lovenny Ester Gultom

Reporter                            : Shella Rafiqah Ully, Amelia Rahmadani, Nurhanifah, Yulien Lovenny Ester Gultom

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).