BOPM Wacana

Sanusi, Kolak dan Semangkuk Kejayaan

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Lazuardi Pratama

            “Uuuuuugh!”

            “Uuuuuugh!!”

            Sebagai bentuk kesuksesannya berpuasa penuh kemarin, hari ini Sanusi merayakannya dengan memasak kolak pisang sebagai menu berbukanya. Sudah lama ia tidak makan kolak pisang. Apalagi hari ini dia dapat bonus dari kliennya—Sanusi menyebutnya klien, padahal kerja Sanusi hanya membersihkan selokan salah seorang warga yang tersumbat—sehingga uangnya bisa dipakainya untuk membeli menu yang sedikit lebih mewah ketimbang tiga buah kurma dan segelas teh manis panas yang rasanya tawar.

            “Uuuuuugh!!!”

            Sanusi mengejan sampai urat-urat di lehernya tampak. Tubuhnya menegang beberapa saat sampai…

            Plung!

            Kejayaan Sanusi berakhir di lubang kakus.

            Sanusi sedikit lega karena bentuk yang tadi itu lumayan besar dan menyeramkan.

            Perjuangan tidak berlangsung sampai di situ saja. Gelombang kedua dari parade kejayaan versi Sanusi datang tidak diinginkan.

            “Uuuuuugh!”

            “Uuuuuugh!!”

            Sanusi mencium bau tajam. Tidak, bukan bau yang berasal dari bawah selangkangannya.

            Ini bau gosong. Sepasti-pastinya Sanusi yakin bau gosong ini dari rumahnya. Lebih tepatnya dari dapur tempat kolak pisang perayaannya dimasak.

            Sanusi panik. Buru-buru ia keluar kamar mandi dan pontang-panting lari ke dapur, tanpa bercelana. Ditemukannya asap mengepul memenuhi dapurnya, berasal dari panci di atas kompor minyak. Sanusi kemudian menyadari kalau perayaannya petang ini terancam.

            Jadi Sanusi terduduk di hadapan kompor minyak yang menyala-nyala dengan panci yang mengepulkan asap. Ia matikan kompor dan membuka tutup panci. Lalu ditatapnya nanar gumpalan-gumpalan kehitaman di bawah sana.

            Sanusi membatin, ini adalah berkah dari Tuhan dan pasti ada hikmah di belakang semua ini. Seperti cerita-cerita dalam film sore hari di televisi 14 incinya. Yang penting, selalu berdoa dan bersabar. Masih di depan kompor minyak, Sanusi menengadahkan tangannya setingkat kepala, lalu komat-kamit berdoa.

            Ya Allah, berikanlah kesabaran pada Sanusi, Ya Allah!

            Belum terucap kalimat doa lainnya, bau menyengat lain datang menghampiri hidung Sanusi. Bukan asap bukan gumpalan hitam dalam pancinya. Bau ini masih dalam rumahnya dan Sanusi yakin ini datang… dari kamar mandi.

            Sanusi berjalan tergopoh-gopoh menuju kamar mandinya.

            Benar saja, bau ini berasal dari seonggok kejayaan dalam kakus. Sanusi tadi terburu-buru meninggalkan kamar mandi sampai-sampai lupa menyiram kakusnya. Bahkan Sanusi juga lupa ia belum cebok.

            Ia harus bergegas cebok dan menyiram kakus agar bisa kembali ke dapur dan menyiapkan sesuatu sebelum waktu berbuka yang akan datang beberapa menit lagi. Tapi Sanusi terhenti ketika hendak menyiram, ditatapnya kejayaan dengan saksama, tampak lembut dan menghitam di beberapa tempat.

            Sanusi berpikir sejenak lagi, tiba-tiba sebuah bohlam sekonyong-konyong muncul di atas ubun-ubunnya. Mengapa Sanusi tidak gunakan kejayaan ini sebagai menu pengganti kolak? Ia berpikir lagi. Tentunya ide ini sinting dan tidak waras, tapi orang-orang tidak pernah mencobanya dan tidak etis untuk menghakimi kalau makan kejayaan adalah perbuatan yang sinting.

            Sanusi bergegas kembali menuju dapur dan mengambil sendok teh, lalu kemudian kembali lagi ke kamar mandi. Orang-orang pasti tidak pernah mencobanya, batin Sanusi. Jadi di sambarkannya sendok teh itu ke permukaan kejayaan, mencongkelnya sedikit, lalu mencicipinya.

            Tidak buruk, batin Sanusi sekali lagi. Untung saja mencicip tidak membatalkan puasanya.

            Dengan hati gembira, Sanusi pergi ke dapur. Ia kemudian datang lagi dengan membawa sendok nasi dan sebuah mangkuk besar. Tergesa-gesa Sanusi memindahkan kejayaan dari kakus ke mangkok besar. Kejayaan yang sebelumnya terlanjur nyemplung diambilnya perlahan-lahan agar tidak terburai dalam air.

            Senyum Sanusi sumringah ketika ia tiba di dapur dengan semangkuk kejayaan. Ia menyalakan kompor minyaknya, sembari menunggu api merata, panci tadi ia cuci sampai bersih kemudian meletakkanya diatas kompor minyak. Tidak lupa pisang kepok yang tinggal beberapa buah lagi ia potong-potong kecil agar kelihatan banyak.

            Saat api kompor minyaknya menyala dengan merata. Ia masukkan semangkuk kejayaan tadi ke dalam panci. Suaranya mendesis dan menciptakan bau-bau tajam. Tapi bagi Sanusi bukan bau lagi, tapi semerbak wangi.

            Sanusi bertanya-tanya darimana wangi ini tercipta. Seingatnya tadi sahur ia hanya makan nasi dengan ikan gembung. Kemarin waktu berbuka, ia ingat makan durian hasil berburunya pada sahur sebelumnya. Mungkin saja wangi ini berasal dari durian, mungkin.

            Ia aduk kejayaan sampai menjadi kental dan meletup-letup. Ia tambahkan sedikit air agar tidak terlalu kental. Ia senang dan merasa kasihan pada orang-orang karena terlanjur berpikiran buruk terhadap makanan potensial ini. Padahal menurutnya, orang-orang bisa terhindar dari kelaparan.

            Dicampurkannya potongan-potongan pisang tadi ke dalam panci. Diaduknya sampai merata. Sanusi yakin aroma yang keluar dari panci ini membuat tetangganya ngiler. Jadi Sanusi berniat esok hari untuk membuat kolak pisang kejayaan ini lebih banyak dan membagikannya kepada tetangga-tetangganya.

Tepat saat azan berkumandang, kolak itu pun selesai dimasak. Sanusi mencicipi kejayaan yang telah berubah menjadi kuah kolak tersebut dengan ujung lidahnya.

            Sulit dipercaya! Sanusi takjub.

            Disajikannya kolak tersebut di atas sebuah mangkok. Diseduhnya juga teh manis minim gula. Sanusi duduk di meja makan sederhananya, berdoa dan menikmati kolak pisang kejayaan dengan jaya.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).