BOPM Wacana

Prajurit Bernama Nasser

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Ferdiansyah

Lelaki itu mengusap kasar peluh yang mengalir di dahinya. Disandarkan tubuh kekarnya di sebuah pohon. Tak jauh dari pohon itu, terlihat anak-anak bermain bola di atas kuning kemuning pasir yang terhampar. Kali ini ia termenung. Duduk sendirian sembari memandangi kalung bertuliskan nama yang teruntai di lehernya.

Tulisan itu bertuliskan: Nasser. Seorang tentara Israel berparas Arab. Seperti tentara-tentara lainnya, ia mengenakan helm bulat, lengkap dengan kacamata google yang melekat. Sepatunya keras, hitam kecoklat-coklatan. Pakaian army-nya cukup tebal, namun tetap saja otot-otot Nasser terlihat.

Nasser tidak tahu ketika seorang lelaki menghampirinya. Tentara Israel berparas Arab juga. Ia membawa sebotol wiski. Ditepuknya bahu Nasser.

Nasser menoleh dan berkata, “Eh, kau rupanya.”

Temannya tersenyum, lalu meringsut duduk di sebelah Nasser.

“Sedang apa kau kawan? Dari tadi aku terus memperhatikanmu termenung di sini,” sambil meneguk wiski temannya berkata.

“Aku hanya teringat keluargaku. 14 Maret 2011, sekarang ayahku berulang tahun.”

Kali ini temannya diam mendengarkan.

“Dulu, waktu aku masih kecil kami sekeluarga hidup damai. Namun, konflik berkepanjangan di kota kami menyebabkan kami harus mengungsi ke daerah yang lebih aman. Sayangnya aku terpisah dari mereka.”

“Sekarang di mana mereka?”

“Aku tidak tahu lagi di mana keberadaan Ayah, Ibu, dan Adikku yang waktu itu masih berumur dua bulan. Setelah terpisah, aku dibawa pamanku yang seorang perwira ke Amerika.”

Nasser menoleh temannya. Ia berkata, “Aku ingin seperti pamanku, menjadi tentara yang baik.”

Temannya tersenyum.

“Dan kau adalah sahabat terbaikku di camp ini,” tambah Nasser.

Sontak mereka berdua tersenyum. Tak lama, temannya mengajak Nasser ikut bergabung dengan anak-anak yang masih bermain bola di tengah teriknya matahari. Semuanya tampak riang dan konsentrasi berebut bola.

Namun, tiba-tiba terdengar suara gaduh beberapa kali. Seperti suara tembakan. Ya, ternyata terjadi tembak-menembak antara Hamas dan tentara Israel. Sontak, mereka berdua berlari ke camp. Mereka masuk ke sebuah ruangan dan keluar lagi dengan tergesa-gesa sambil membawa sebuah kunci.

Kali ini mereka menuju ke sebuah mobil Jeep. Namun ketika berada di atas Jeep, Nasser kembali merogoh-rogoh seluruh sakunya. Ada sesuatu yang ketinggalan, pikirnya. Nasser meninggalkan temannya di Jeep dan kembali ke camp secepat mungkin. Temannya bersiaga di Jeep, menunggu.

Baru sebentar masuk kembali ke ruangan Nasser mendengar suara tembakan lalu rintihan. Bergegas ia keluar setelah mendapat apa yang dicarinya tadi. Sayang, ia menemukan temannya tak berdaya. Kepalanya berlumuran darah, tergeletak di tanah. Ada dua bongkah batu besar di dekat tubuh temannya.

“Di mana mereka? Siapa yang melakukannya?” Nasser terisak memeluk temannya.

Temannya tak menjawab. Ia hanya tersenyum menghembuskan napas terakhirnya.

Nasser coba menenangkan diri. Ia kembali melihat dua bongkah batu besar yang terdapat percikan darah di salah satu sisinya. Pelakunya pasti tak jauh dari sini, gumamnya. Dan benar, sekali lagi sebongkah batu besar mengarah ke kepala Nasser. Meleset. Hanya mengenai sisi kiri kepala Nasser yang dilindungi helm.

“Berengsek kau, anak kurang ajar!”

Lalu terjadi kejar-kejaran antara pria bersenjata dan berbadan tegap dengan anak kecil kurus yang terus-menerus berteriak Allahu akbar! Sudah bisa ditebak, tak butuh waktu lama si anak kecil akhirnya tertangkap oleh tangan Nasser. Ia bawa anak tersebut ke sebuah ruangan kosong.

Nasser mengikat kaki dan tangan anak pemberani itu. Bagaimanapun Nasser belum pernah membunuh manusia. Namun, tiba-tiba komandannya dan beberapa pasukan yang ia bawa datang ke ruangan tersebut.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Komandan Nasser bertanya.

“Anak ini telah membunuh temanku, Sir. Kejadiannya tadi waktu Hamas menyerang camp.” jawab Nasser.

Komandannya sontak memberi pistol yang ada di sakunya.

“Ini, balaskan dendammu,” ujarnya.

Nasser ragu.

“Cepat! Hanya membunuh anak ini saja kau tidak bisa?” komandannya berteriak.

Doorrrrr!

                                                                        *          *          *

23 Januari 2012. Nasser sudah jadi komandan tertinggi di camp. Penampilannya lebih garang kali ini dengan kumis yang lebih tebal. Ia juga sudah sering menginterogasi pemuda-pemuda Palestina yang berakhir dengan penyiksaan dan tembakan ke kepala.

Di dalam sebuah ruangan, Nasser berdiri dengan gagahnya. Di depannya, seorang anak kecil duduk di kursi kayu dengan kaki dan tangan terikat. Kejadiannya sama seperti anak sebelumnya. Nasser dilempar dengan sebongkah batu ketika sedang melakukan pengawasan daerah.

“Jawab aku anak muda! Apa yang kau mau dariku?” sebuah pukulan mendarat di perut anak tersebut.

“Kalian bangsa Palestina, bangsa yang lemah. Yang setiap hari hanya bisa melempari kami dengan batu!” lanjut Nasser.

Anak itu hanya diam. Namun, matanya menyeringai ke arah Nasser walaupun seluruh badannya sudah lemas membiru. Nasser terus memukulinya.

Ctarrrr

Anak itu dihujani cambuk. Tapi ia hanya meringis kesakitan. Tetap tak mau bicara.

“Kalau kau tetap memilih diam, maka aku akan membawa orang tuamu ke sini,” tegas Nasser.

Diperintahkannya anak buah untuk membawa orang tua anak itu. Tak lama, orang tua anak itu pun berada di ruangan di mana Nasser berdiri. Mereka diseret dua tentara berbadan besar. Wajah tua berkeriput yang meronta-ronta.

“Apakah ini ayah ibumu?” tanya Nasser.

Anak itu tetap diam. Kemudian Nasser menarik ayah anak kecil itu. Digantungkan tangannya pada seutas tali. Sementara si Ibu diikat pada jeruji jendela.

“Kau tahu? Anakmu dengan beraninya melempar sebuah batu ke kepalaku,” Nasser berujar pada ayah si anak.

“Ya, memangnya kenapa?” tanya si bapak.

Mendengar jawaban itu Nasser geram. Dicambuknya si ayah. Sekali, dua kali hingga belasan kali. Nasser berhenti sejenak.

Tiba-tiba si bapak bersuara lagi. “Kami jijik akan kalian semua. Bertahun-tahun aku tunggu, saat ada seorang anak Palestina yang melempar kepala seorang petinggi dengan sebuah batu. Ya, aku bangga ternyata dia anakku. Tak akan pernah aku meminta maaf.”

“Kalian hanya segerombolan pengecut. Melawan anak kecil pelempar batu dengan senjata-senjata otomatis!” sambung si bapak.

Emosi Nasser meluap. Wajahnya memerah. Tangannya mengepal kuat. Ia memberi kode ke dua orang anak buahnya untuk menyiksa si anak dan ibunya. Anak buahnya segera bertindak. Dilucuti seluruh pakaian si ibu kemudian tubuhnya ditempel dengan besi membara. Sedangkan si anak dibenamkan ke dalam tong berisi air.

Si bapak kini menangis melihat istri dan anaknya. Nasser tersenyum puas sambil terus memukuli si bapak. Entah pukulan yang keberapa, si bapak meneteskan air mata sekaligus menghembuskan napas terakhirnya. Begitupun dengan si anak yang kehabisan udara. Sedangkan si ibu telah lebih dulu menemui ajalnya.

Kini situasi hening. “Hmmm. Keluarga yang malang,” gumam Nasser.

Ia mendekati si bapak barangkali ada barang berharga yang bisa ia ambil. Diambilnya dompet si bapak. Ada foto keluarga, foto lama. Terlihat keluarga yang bahagia. Bapak, anak dan istrinya yang tengah hamil.

Seketika Nasser terjatuh berlutut. Ia tertunduk lesu di depan mayat si bapak. Nasser kemudian bersujud di kaki dan menangisi si bapak. Ia ambil kain kemudian diselimutinya si bapak. Ia berjalan ke arah mayat si ibu dan anak itu. Dipeluknya si ibu erat-erat. Berkali-kali Ia cium kening si anak kecil tadi.

Setelah melakukan semua itu, ia ambil pistol dari sakunya. Diarahkannya ke kepalanya.

Dorr

Ia mati seketika.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).