BOPM Wacana

Percakapan Tersembunyi

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Yulien Lovenny Ester Gultom

Ilustrasi: Retno Andriani
Ilustrasi: Retno Andriani

Foto YulienIni bukan cerita mistis atau cerita-cerita seram ala Indonesia yang dibungkus konten porno. Bukan pula cerita ala film-film dewasa yang tak bisa dibaca semua umur.

Halaman yang luas ini kami sebut istana dan rumah mungil kami berdiri di sana, di sekitarnya ada banyak tanaman perdu dan bunga-bunga. Aku paling suka aroma mawar dan melati. Tetangga kami pun banyak. Ada si Paolo, pria belasteran Jawa dan Inggris, Bu Maya dan Pak Parto pemilik warung Wajik di Berastagi, dan banyak lagilah.

Walau terletak agak masuk ke dalam hutan, tapi inilah kelebihannya. Suara kendaraan tak bisa masuk. Kebisingan yang ada disaring dedaunan pohon tua. Suasananya remang-remang kalau malam—bukan karena tak ada lampu tapi memang karena kami tak terlalu membutuhkannya—dan menambah kesyahduan malam kami di rumah.

Malam ini suasana rumah cukup ramai, biasalah kalau lagi hari raya Idul Fitri atau tahun baruan, keluarga datang, mau jumpa kangen katanya. Isak tangis selalu mewarnai kedatangan mereka, entahlah mungkin mereka sedih karena jarang berjumpa, tapi kami di sini senang-senang saja.

“Ini untuk Ibu dan Ayah,” ujar Agus, anak sulung kami.

Seikat bunga tanda cinta kasih selalu diberikan anak-anak kami, kadang mereka memberikannya sambil memeluk dan mencium. Tetes demi tetes air mata mereka berjatuhan. Ah, rindunya.

“Ayah, ini rokok buat Ayah, jangan marah ya, Bu. Sekali ini saja,” pinta Agus sambil meletakkan sebatang rokok.

Walau ia tahu ini salah, Budi selalu diberi rokok oleh anak sulung kami, padahal aku sudah melarangnya. Tak baik tua bangka seperti kami menghirup asap rokok. Bahkan mengonsumsinya. “Biarlah Mak, sekali-kali,” ujarnya. Sekali-kali pun bisa jadi ketagihan, pikirku.

Aku rindu rasanya memasak makanan untuk mereka namun tubuhku mulai lelah dan tak bisa memegang spatula, sepertinya tubuhku berisi banyak cacing sehingga memberatkannya. Ha ha.

Sudahlah, kali ini kubiarkan mereka makan di warung Wak Atuk, tukang bakso langganan kami. Ah rindu juga masakan Wak Atuk, tapi gigiku tak sekuat dulu. Satu buah bakso yang kukunyah bisa merontokkan gigiku.

Hari sudah hampir malam, anak-anakku izin pamit pulang. Besok cucuku yang paling besar akan masuk sekolah. Aduh senangnya, cucuku sudah besar.

Kini tinggal aku dan Budi suamiku, dulu jarang ia pulang karena bekerja di perkebunan, tapi kini aku dan Budi akan selalu bersama.

Di tengah kesyahduan malam kami, dua sejoli tak kalah mesranya. Tapi kenapa mesti di pekarangan rumah kami? Mereka asik berpelukan, berciuman, dan melakukan hal-hal yang dilakukan pemuda ala kampung kami.

Aih makjang bukannya bahagia, aku dan Budi meringis geli. Aku ingat betul bagaimana Budi coba menggengam tanganku saat pertama pacaran dulu, tangannya gemetaran, dingin, dan hanya berani memegang seujung kecil kelingkingku. Hari itu aku sadar Budi sangat menghormatiku sebagai wanita dan benar-benar menjaga aku seutuhnya.

Mata kami kembali tertuju pada kedua sejoli itu, nampaknya adegan-adegan panas mereka mulai berhenti, mungkin mereka sadar sedang diperhatikan. Aku dan Budi cekikikan. Mendengar tawa kami, dua sejoli itu lari pontang panting ketakutan. Ah anak muda sekarang.

Malam romantis itu kembali jadi milik aku dan Budi. Kami mengenang masa-masa tersulit dan paling bahagia kami. Aku ingat bagaimana kerasnya usaha Budi untuk memperoleh susu formula untuk anak kami. Pagi ia bekerja sebagai buruh panggul di Pajak Pagi, siang ia mengojek di pangkalan dan malamnya menjaga dagangan di Pasar Malam. Budi, karena itulah aku mencintaimu.

***

Hujan masih turun rintik-rintik, payung-payung berwarna gelap menutup liang berukuran 2×1 meter itu.

Isak tangis melingkupi acara yang katanya sakral. Budi ditanam di samping istrinya, Susi. Usianya yang renta membuatnya terkena penyakit kronis. Tepat pukul 00.00 ia mengehembuskan napas terakhir.

Orang-orang berpayung gelap, berkacamata, dan berbaju hitam mulai berdatangan. Menyaksikan Budi dikubur. Istrinya sudah duluan pergi lima tahun silam. Pemakaman Budi dihadiri keempat anaknya. Agus, Bella, Cinta, Dedy datang dan memboyong keluarganya.

***

Hari Raya Idul Fitri telah tiba, Aku berkunjung ke makam orang tuaku, Budi dan Susi. Mereka telah meninggal dan dikubur bersebelahan. Hari ini pemakaman ramai, mungkin karena Hari Raya, banyak peziarah. Ada keluarga Bu Maya dan Pak Parto pemilik warung Wajik di Berastagi. Seluruh keluarganya dari kota jeruk itu datang.

Mereka dikubur di pemakaman berhalaman luas, di sekitarannya ada banyak tanaman perdu dan bunga-bunga. Kalau ibu di sini ia pasti suka aroma mawar dan melati di halaman.

Seikat bunga kuletakkan di atas batu nisan. Air mataku berjatuhan. Aku rindu mereka. Kuciumi dan kupeluk batu nisan itu, berharap mereka dapat merasakan rindu yang kini dosisnya semakin parah.

Kini, aku datang bersama anakku yang sebentar lagi akan sekolah. Aku ingin mengenalkan anakku sebagai cucu mereka. Setelah ini aku akan pulang.

Tak lupa, sepuntung rokok kuletakkan di atas kuburan ayah. Kata orang, mereka—yang telah meninggal— akan merokok di dalam kuburan. Ah entahlah. Semasa hidup dulu ibu pasti akan mengomeliku jika memberikan ayah rokok.

Aku harus segera pulang, sebelumnya kami berdoa agar ibu dan ayah diberi ketenangan.

Agus beserta anak istrinya berjalan meninggalkan pemakaman. Sebelum masuk ke mobil ia menoleh lagi ke belakang, ia melihat bayangan Ibu dan Ayahnya berdiri, melambaikan tangan, tanda perpisahan. Agus tersenyum.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).