BOPM Wacana

Negroito

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Nurhanifah

 

Ilustrasi : Alfat Putra Ibrahim
Ilustrasi : Alfat Putra Ibrahim

 

C360_2014-07-29-14-24-39-563

 

Negroito, namanya. Seperti namanya, cermin seorang Negro terlihat jelas. Kulitnya hitam, rambutnya ikal, dan kalau senyum giginya putih. Kalau malam aku benci sekali, dia persis hantu kalau tertawa. Tampak hanya gigi, yang lain tak telihat disembunyikan gelap.

Perkenalan kami singkat, lewat aksi mahasiswa. Kami dibilang provokator. Kata polisi, masyarakat berang karena kelakuan kami, jadilah kami di sini. Di penjara. Tempat yang bikin aku geram. Mana itu keadilan? Yang ada penyiksaan.

Lihat kami, pemuda-pemuda yang sedang mencoba jadi penyambung lidah malah terluka. Tapi sudahlah, toh akhirnya mereka malu sendiri. Berapa banyak korban? Berapa banyak nyawa yang mati karena aksi? Salah siapa? Salah mereka yang main tembak-tembak sesuka hati.

Cih! karena permainan ini kami salah, di bilang tak dengar peringatan. Tak mau di amankan. Main aksi sesuka hati. Padahal kalau kamu di sana, jadi bagian dari kami. Aku berani sumpah, kau akan mengebiri iblis-iblis yang membabi buta menembaki mahasiswa.

Sudahlah. Bagian itu biar jadi sejarah. Biar mereka tanggung dosa. Sekarang lebih baik kita pikirkan supaya tak mati di dalam penjara. Semakin hari, duniaku runtuh, terkurung di sini. Tapi, Negroito entah bagaimana berhasil curi perhatianku, bangkitkan api yang hampir mati.

Negroito sudahkah kau sadar?

***

Siang itu matahari terik, panasnya menusuk ubun-ubun. Massa dengan almamater hijau berbaris rapih, mengikuti Negroito ketua BEM yang berdiri di atas mobil komando. Biar panas begini, otak kami tak boleh ikut memanas. Salah-salah bukan dapat jawaban, justru korban berjatuhan.

Aksi hari itu adalah aksi aliansi dengan beberapa BEM Fakultas maupun ormawa kampus. Walaupun miliki visi yang sama, konsentrasi dan keamanaan massa harus dijaga. Bukan rahasia bila berbagai kepentingan pribadi maupun kelompok ikut di sini. Sebagai korlap, awak pegang peran penting untuk kendalikan massa siang itu.

“Saudara-saudara seperjuangan, sudah saatnya kita bersuara tuntut keadilan menangih janji yang masih sekedar wacana. Aksi kita adalah aksi damai, tak boleh ada korban berjatuhan! Untuk rakyat! Hidup Mahasiswa!” Negroito mengepalkan tangan, berteriak lantang.

“Bersabarlah saudara-saudaraku, panas ini kelak akan berganti dengan dinginnya kesejahteraan, kebahagian. Ingat korlap menggunakan pita hitam, massa kita beralmet hijau. Rapatkan barisan agar kita tetap solid, waspada provokasi! Mari bersama kita melangkah! Hidup Mahasiswa!”

Demonstran berteriak bersama. Panji-panji dikibarkan, tampak sekali betapa kompaknya seluruh massa. Arus lalu lintas macet, sebab satu badan jalan dipenuhi mahasiswa yang unjuk keberanian dan kebenaran. Suara klakson kendaraan bersaut-sautan, beradu dengan suara nyanyian Darah Juang dan Buruh Tani.

Para pemilik kendaraan perlambat laju kendaraan mereka, melihat sekilas atau bahkan perhatikan, berkomentar ringan, berkomentar bangga, bahkan mencaci aksi yang sedang berlangsung.

Orasi-orasi mewarnai aksi siang itu. Lagu-lagu khas demontrasi digaung-gaungkan. Tangan-tangan terkepal diacungkan keatas berseru “Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat! Hidup Indonesia!”

Tiga jam menunggu jawaban, petinggi-petinggi negara tak kunjung menjawab. Bejo masih bernegosiasi, ia ahlinya. Namun, entah bagaimana tak ada hasil. Aparat tak mau mengalah dengan mahasiswa. Bukannya dibukakan gerbang, kami justru diminta tinggalkan tempat aksi. Demi keamanan katanya, sebab di dalam ada pertemuan para delegasi negara–negara ASEAN.

Pemerintah tak mau lihat anak-anak mereka berteriak-teriak dijalan, membuat sakit telinga dan mata calon investor. Tidak bubar artinya ganggu ketertiban umum dan melanggar undang-undang demonstrasi yang telah diatur pemerintah. Massa diberi waktu sampai pukul 17.00 WIB sebelum diciduk polisi.

Kebingungan di wajah demonstran terjawab, tampak barisan kepolisian bergerak menuju barisan massa. Kepanikan menjelma. Massa yang masih duduk, mulai berdiri menyusun barisan kembali. Panji-panji kembali berkibar. Negroito segera ambil megaphone mencoba tenangkan massa.

“Tenang, semua tetap tenang tetap di tempat. Ini hanya bagian kecil dari perjuangan. Kita anak negeri ini, kita pemuda negeri ini, masih ada waktu sepuluh menit milik kita,” tegas Negroito. Ia tenangkan massa, lihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 16.50 WIB.

Massa tak lagi peduli. Arus lalu lintas makin padat. Barisan yang bersusun dalam satu badan jalan mulai tak karuan, semua orang berusaha selamatkan diri sendiri. Negroito berdiri di atas dua meja yang tersusun di atas mobil komando berjenis pick up. Sekarang ia berada diposisi cukup tinggi dan telihat oleh semua demonstran.

“Saudara-saudaraku.Tenang.Sau…”

“Blaarrr”

“Itooo,”

Dalam sepersekian detik Negroito tak lagi berada di posisinya. Water canon yang seharusnya bertindak mulai pukul 17.00 WIB, telah menggantam tepat ke tubuh Negroito. Tak ayal, ia terpental lebih dari enam meter dan mendarat di aspal. Membabi buta water canon diarahkan kearah demonstran, untuk bubarkan mereka.

Massa yang masih bertahan bentuk benteng melindungi massa perempuan. Perlahan mereka bergerak mundur. Aparat gunakan kesempatan ini, bergerak maju memecah benteng yang dibentuk mahasiswa. Pentungan jadi serangan berikutnya. Arah pukulannya membabi buta, perempuan atau laki-laki yang penting kena. Semua digebuk, bak..buk..bak..buk.

Beberapa wajah demonstran dialiri cairan kental merah, beberapa tak sadarkan diri, yang bertahan coba melarikan diri memegang bagian yang terluka berusaha menahan laju darah. Mereka yang lihat rekan terjatuh dan dapat menjangkau segera menolong, menjauh dari aparat. Yang tak sempat ditolong, hanya diberi doa agar selamat dan dapat melangkah pergi.

“Argh…” Negroito membuka matanya perlahan, pandangannya kabur. Suara-suara disekitar terdengar ramai. Ia meraba pelipisnya, cairan kental terasa ditangannya.

“Argh…” Negroito mencoba bergerak,

“Argh…”

Sesak. Semua hening. Negroito tak lagi dengar suara maupun lihat cahaya. Tiba-tiba yang terlihat hanya gelap. Tubuhnya ringan.

***

Bejo masih muram, biar telah divonis bebas. Catatan kriminalnya tetap sama, pelajaran supaya jangan aksi lagi. Kata aparat. Tapi hatinya keluh bukan karena itu. Sahabat seperjuangannya masih tak sadarkan diri sudah enam bulan sejak kejadian itu. Ibu Negroito selalu menemani, cerita di telinga Negroito – kata dokter, ini dapat membantunya sadar- tentang usaha Negroito minta diajarkan menyanyi lagu Indonesia Raya.

Ah, sampai sekarangpun bocah ini masih minta diajarkan bernyanyi lagu itu. Setiap sore kami selalu bernyanyi bersama. Banyaknya aku tertawa, suara Negroito aneh. Tak apa, itu wajar ia masih belajar. Lama-lama suaranya indah, aku rasa keanehan itu perlahan tak pernah terdengar lagi.

Sedih rasanya, satu tahun setelah aksi kabar duka menyelimuti. Ketua BEM kami pergi, tiga tulang rusuk yang patah, pun perdarahan di otak membuatnya tak mampu bertahan.

Ia benar-benar beraksi hingga mati, walau bukan warga pribumi.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).