BOPM Wacana

Pembangunan Fisik BRT Mebidang Dimulai, Prioritaskan Transportasi Massal

Dark Mode | Moda Gelap
BUS LISTRIK | Armada bus listrik tampak beroperasi melintasi jalanan pembangunan jalur khusus BRT, Selasa (12/05/2026) | Muaz Alfattah Fadhani
BUS LISTRIK | Armada bus listrik tampak beroperasi melintasi jalanan pembangunan jalur khusus BRT, Selasa (12/05/2026) | Muaz Alfattah Fadhani

Oleh : Muaz Alfattah Fadhani dan Muhammad Nabil Farish

Medan, wacana.org – Pembangunan fisik Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang (Medan, Binjai, dan Deli Serdang) resmi dimulai. Tahap awal pengerjaan berlangsung di sepanjang Jalan Gatot Subroto, Medan.

Pekerjaan konstruksi di Jalan Gatot Subroto meliputi pembongkaran median jalan, pemasangan pagar proyek, serta penyiapan jalur khusus BRT. Sejumlah pohon di median jalan juga telah ditebang untuk mendukung pembangunan koridor BRT.

Pengerjaan tersebut menyebabkan penyempitan ruas jalan pada beberapa titik di Jalan Gatot Subroto. Selain pembangunan jalur BRT, persiapan pembangunan halte juga telah dilakukan di sejumlah ruas jalan utama Kota Medan, seperti Jalan Yos Sudarso, Jalan Putri Hijau, Jalan Pengadilan, dan Jalan Sudirman. Pagar proyek untuk pembangunan halte telah terpasang di lokasi tersebut.

Seorang pedagang di sekitar kawasan proyek, Dewi (51), mengatakan pembangunan konstruksi telah berlangsung sekitar dua pekan. Menurutnya, kawasan yang saat ini dibongkar akan digunakan untuk pembangunan jalur khusus BRT, depo, dan halte.

Dewi menilai pembangunan BRT merupakan langkah positif untuk meningkatkan layanan transportasi publik di Kota Medan.

“Saya senang dan mendukung pembangunan konstruksi ini. Kalau BRT nanti sudah beroperasi, saya berharap Kota Medan semakin rapi, semakin cantik, dan macetnya berkurang,” kata Dewi, Selasa (12/5/2026).

Terkait bus listrik yang saat ini beroperasi di Medan, Dewi mengaku belum pernah menggunakannya. Namun, ia memahami kehadiran layanan tersebut bertujuan menyediakan alternatif transportasi massal untuk mengurangi kemacetan.

“Kalau saya belum pernah naik bus listrik di Medan karena rutenya juga belum banyak. Tapi kalau BRT ini sudah selesai, rute dan jumlah busnya pasti bertambah, saya mungkin akan naik,” ujarnya.

Dukungan serupa disampaikan Farhan Dhawy (19), mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU). Ia berharap jalur BRT Mebidang dapat mengadopsi konsep BRT di Jakarta dengan jalur yang sepenuhnya eksklusif bagi bus.

“Harapannya agar jalur BRT ini seperti Transjakarta, mempunyai jalur yang benar-benar eksklusif hanya untuk BRT. Jadi, lebih aman dan lancar di perjalanan. Waktu tempuh pun bisa diprediksi,” katanya.

Farhan mengakui pembangunan konstruksi fisik BRT Mebidang berdampak pada kondisi lalu lintas di kawasan proyek. Menurutnya, beberapa ruas jalan yang sebelumnya terdiri dari dua lajur kini menyempit menjadi satu lajur, sementara jarak putar balik kendaraan juga menjadi lebih jauh.

“Pembangunan ini pasti bikin macet apabila menaiki kendaraan bermotor karena awalnya satu jalur terdiri dari dua lajur, kini hanya tersisa satu lajur. Laju kendaraan pasti tidak bisa sekencang dulu lagi,” ujarnya.

Namun, sebagai pengguna bus listrik di Medan, ia menilai kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Menurutnya, setelah pembangunan selesai, operasional BRT akan lebih lancar karena memiliki jalur khusus.

“Lalu lintas pasti macet selama pembangunan, tapi sifatnya hanya sementara. Kalau sudah selesai, lalu lintas tetap lancar karena BRT memiliki jalur khusus,” katanya.

Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Utara, Malik Harahap, menuturkan berdasarkan dokumen Indonesia Mass Transit Project (MASTRAN), proyek pengembangan transportasi massal ini mencakup pembangunan jalur sepanjang 21 kilometer dengan 31 stasiun BRT di jalur khusus (on-corridor).

“Jaringan ini turut didukung oleh sistem off-corridor, yaitu layanan bus yang beroperasi di luar jalur khusus atau koridor utama. Layanan ini mencakup 681 titik pemberhentian (bus stop) yang tersebar di berbagai lokasi strategis. BRT Mebidang diproyeksikan mampu mengakomodasi 150 ribu penumpang setiap hari, di mana 12 persen dari permintaan tersebut diprediksi berasal dari pengguna kendaraan pribadi yang beralih moda angkutan,” kata Malik, Selasa (12/5/2026).

Besarnya skala pembangunan BRT Mebidang tidak hanya terlihat dari panjang koridor yang dibangun, tetapi juga dari cakupan layanan, jumlah halte, hingga target perpindahan pengguna kendaraan pribadi ke transportasi umum. 

Infografis BRT Mebidang

Malik mengatakan, mengingat proyek ini melibatkan tiga wilayah, pemerintah daerah berkewajiban mendukung keberlangsungan proyek tersebut melalui penyediaan lahan, perizinan, mitigasi sosial dan lingkungan, serta manajemen lalu lintas.

“Kewajiban tersebut mencakup penyediaan lahan dan perizinan untuk konstruksi BRT Mebidang, mitigasi sosial dan lingkungan, serta manajemen dan legislasi lalu lintas. Selain itu, pemerintah daerah juga bertanggung jawab atas operasional dan tata kelola BRT Mebidang, termasuk pembentukan institusi dan badan manajemen, serta penetapan regulasi yang mendukung keberlangsungan layanan transportasi massal tersebut,” ujarnya.

Secara keseluruhan, proyek ini akan mengoperasikan 12 rute utama yang mencakup BRT01 (Simpang Pemuda–Terminal Amplas via Bunga Raya), BRT02 (Pancur Batu–Plaza Medan Fair), BRT03 (Terminal Amplas–Terminal Pinang Baris), BRT04 (Medan Labuhan–Terminal Amplas), BRT05 (Cemara–Terminal Pinang Baris), BRT06 (Belawan–Lapangan Merdeka), BRT07 (Karya Wisata–Plaza Medan Fair), BRT08 (Deli Tua–Stasiun KA Bandar Kalipah), BRT09 (Citraland–Gama City–RS Adam Malik), BRT10 (Terminal Amplas–Terminal Pinang Baris via Ring Road), BRT11 (Terminal Lubuk Pakam–Teladan), hingga BRT12 (Terminal Ikan Paus–Medan Mall). Total jangkauan layanan mencapai 553 kilometer di wilayah Medan, Binjai, dan Deli Serdang.

Kepala Bidang Infrastruktur Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan (Bappelitbang) Provinsi Sumatera Utara, Habibi Lubis, mengatakan pembangunan BRT Mebidang difokuskan pada penyediaan transportasi massal.

“Proyek ini merupakan bagian dari upaya mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal,” kata Habibi, Selasa (12/5/2026).

PROYEK | Sebuah alat berat ekskavator terlihat sedang beroperasi di balik pagar pembatas proyek, Selasa (12/05/2026) | Muaz Alfattah Fadhani
PROYEK | Sebuah alat berat ekskavator terlihat sedang beroperasi di balik pagar pembatas proyek, Selasa (12/05/2026) | Muaz Alfattah Fadhani

Habibi mengakui fasilitas bus listrik yang saat ini beroperasi masih perlu ditingkatkan, terutama dari sisi jumlah halte, armada, kenyamanan, dan jangkauan layanan.

“Mungkin fasilitasnya masih kurang sehingga orang masih enggan. Titik-titik halte juga masih kurang. Tapi sekarang sedang dibangun dengan memperbanyak titik halte, memperbanyak armada bus, meningkatkan kenyamanan, dan memperluas jaringan,” paparnya.

Ia optimistis masyarakat akan beralih menggunakan transportasi umum setelah pembangunan BRT Mebidang selesai.

“Bus listrik yang nyaman dan model yang menarik diharapkan menjadi promosi sendiri bagi masyarakat untuk beralih ke BRT,” katanya.

Warga Terdampak Tak Dibiarkan

Kepala Bidang Infrastruktur Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan (Bappelitbang) Provinsi Sumatera Utara, Habibi Lubis, mengakui terdapat sejumlah tantangan dalam pembangunan BRT Mebidang, termasuk pada kawasan yang telah ditempati masyarakat.

PEDAGANG | Gerobak pedagang soto ikut meramaikan pinggiran jalan pembangunan jalur khusus BRT Mebidang, Selasa (12/05/2026) | Muhammad Nabil Farish
PEDAGANG | Gerobak pedagang soto ikut meramaikan pinggiran jalan pembangunan jalur khusus BRT Mebidang, Selasa (12/05/2026) | Muhammad Nabil Farish

Namun, ia menegaskan hal tersebut tidak menjadi hambatan besar karena World Bank sebagai pihak pendana telah menyiapkan berbagai skema penanganan bagi warga terdampak.

“World Bank telah menjamin bahwa warga yang terdampak tidak akan dibiarkan begitu saja atau ditinggalkan. Para pedagang akan direlokasikan, dan ada juga diupayakan skema pemberdayaan seperti pelatihan kerja,” katanya.

Menanggapi keluhan masyarakat terkait penyempitan jalan selama masa pembangunan, Habibi menilai kondisi tersebut merupakan dampak yang umum terjadi dalam proyek transportasi massal.

“Bahwa memperlebar jalan bukan solusi yang tepat. Semakin jalan diperlebar, semakin banyak pula mobil yang masuk. Transportasi umum dan massal yang harus diprioritaskan, makanya diberikan jalur tersendiri,” tegas Habibi.

Pembangunan BRT Mebidang tidak hanya berkaitan dengan pembangunan jalur dan halte, tetapi juga melibatkan berbagai keputusan yang harus menyeimbangkan kepentingan masyarakat, kebutuhan transportasi, kondisi lalu lintas, serta ketentuan dari pihak pendana. Berbagai tantangan tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kompleksitas proses pembangunan transportasi massal di kawasan Mebidang.

Pembaca dapat mencoba simulasi kebijakan Mebidang Trans-Manager. Melalui simulasi ini, pembaca dapat merasakan langsung tantangan dalam mengambil keputusan terkait proyek BRT Mebidang dengan memilih berbagai opsi kebijakan berdasarkan fakta lapangan dan aturan yang berlaku.

Foto Tampilan Game

SIMULASI | Tangkapan layar halaman utama permainan Mebidang Trans-Manager untuk simulasi kebijakan proyek BRT
SIMULASI | Tangkapan layar halaman utama permainan Mebidang Trans-Manager untuk simulasi kebijakan proyek BRT

Mainkan simulasinya melalui tautan berikut:

https://bit.ly/gamebrtmebidang

 

***

Tulisan ini diterbitkan selama masa Olimpiade Jurnalis Muda Indonesia yang diselenggarakan oleh BaleBengong.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus