BOPM Wacana

Keberadaan Transportasi Konvensional di tengah Tantangan Bertahan di Jalanan Kota Medan

Dark Mode | Moda Gelap
Angkot dan bus listrik melintas secara bersamaan di ruas jalan Kota Medan, Senin (15/06/2026). | Cyntia Lorena Br Tarigan
Angkot dan bus listrik melintas secara bersamaan di ruas jalan Kota Medan, Senin (15/06/2026). | Cyntia Lorena Br Tarigan

Oleh: Cyntia Lorena Br Tarigan dan Firda Elisa

“Kalau sekarang udah nggak ada harapan, yang penting bertahan hidup aja.”  

Teriknya siang mengiringi riuh persimpangan di jantung Kota Medan yang dipadati angkutan umum dengan suara klakson yang menggebu untuk menarik penumpang yang berlindung dari teriknya matahari. Di saat yang bersamaan, bus listrik meluncur senyap dari halte ke halte di jalur yang sama.

Sejak mulai beroperasi pada tahun 2024, kehadiran bus listrik digadang-gadang menjadi bagian dari upaya untuk mewujudkan Kota Medan sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang mengoperasikan massal transportasi (mastran) Bus Rapid Transit (BRT) melalui skema Buy The Service (BTS) dengan 100 persen bus listrik.

Dua armada bus listrik melintas bersamaan di daerah Kesawan, jalan Jenderal Ahmad Yani, Jumat (3/4/2026). | Winny Stefanie
Dua armada bus listrik melintas bersamaan di daerah Kesawan, jalan Jenderal Ahmad Yani, Jumat (3/4/2026). | Winny Stefanie

Hingga saat ini, bus listrik yang tersedia berjumlah 60 armada dengan 55 armada aktif beroperasi dan 5 armada sebagai cadangan. Setiap armada tersebut melayani 5 koridor utama serta 227 halte yang tersebar di sekitar Kota Medan. Dilansir dari Portal.medan.go.id., penumpang bus listrik kian mengalami peningkatan hingga tembus 2,7 juta sepanjang tahun 2025 dengan rata-rata 200 ribu penumpang setiap bulannya.

“Kalau bus listrik kan kita harus ke lokasi, kemudian dia kemacetannya bagaimana? Memang murah, tapi tidak praktis. Iya, kan? Dan dia nggak bisa masuk ke gang-gang. Efisiensinya yang kita cari,” ujar Indra, pengemudi ojek online (ojol) berusia 38 tahun yang telah lama mengamati perubahan wajah transportasi Kota Medan, pada Kamis (14/5/2026).

Pandangan Indra bukan tanpa dasar. Di tengah antusiasme publik terhadap bus listrik, survei yang dilakukan oleh Kalista mengenai kepuasan pelanggan terhadap layanan bus listrik Medan menunjukkan hasil yang beragam. Dari total 63 responden survei, diperoleh skor 4,1/5 yang diukur dari tiga aspek penilaian, yakni kenyamanan bus, kualitas layanan, dan fasilitas pendukung. Nilai indeks loyalitas pelanggan sebesar 71 persen, yang menunjukkan bahwa pelanggan merasa puas dan akan merekomendasikan layanan bus listrik Medan kepada orang lain.

Meskipun begitu, terdapat beberapa aspek layanan bus listrik yang perlu ditingkatkan, di antaranya persebaran halte yang belum merata di berbagai wilayah Kota Medan hingga belum tersedianya jalur khusus bagi bus listrik yang menyebabkan transportasi umum ini masih terjebak dalam kemacetan bersama kendaraan lain di jalan raya.

Selain bus listrik, transportasi online juga semakin meningkat popularitasnya sebagai salah satu pilihan transportasi yang lebih fleksibel, cepat, dan terjangkau. Salah satu layanan transportasi online yang muncul pertama kali di Indonesia adalah Gojek.

Dilansir dari Kumparan.com, pada tahun 2010, Gojek menjadi perusahaan pertama yang memulai layanan digitalnya lewat pusat panggilan yang menghubungkan pengemudi dan penumpang melalui layanan pelanggan. Menyusul popularitas Gojek di Indonesia, perusahaan Grab kemudian turut hadir pada tahun 2014 dengan armada taxi sebagai layanan pertamanya.

Kemudahan layanan transportasi online tidak hanya dirasakan oleh para penggunanya, tetapi juga oleh mitra perusahaan tersebut. Indra adalah salah satunya. Pria yang menjadi mitra perusahaan Grab itu mengaku bahwa transportasi online menjadi pilihan pekerjaan yang fleksibel dan mudah. Meskipun kehadiran bus listrik tampaknya menggerus popularitas transportasi lain di Kota Medan, tetapi sebagai pengemudi ojol, ia tidak merasakan perubahan yang signifikan dari segi jumlah pelanggan.

Meskipun begitu, Indra tetap merasakan adanya beberapa kekurangan sebagai mitra Grab, seperti pembagian hasil yang dinilai perlu lebih bijaksana terutama promo kepada pengguna, serta fasilitas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan yang seharusnya diatur dengan lebih baik bagi seluruh mitra.

“Anggaplah kita sebagai karyawannya, bukan sebagai mitra. Karena kita disebutnya sebagai mitra, makanya mereka tidak berkewajiban untuk memberikan BPJS Ketenagakerjaan. Tapi kalau karyawan, wajib. Karena ada Undang-Undang Ketenagakerjaan,” jelasnya.

Angkot dan becak di persimpangan zaman

Salah satu unit angkot bernomor 32 diparkirkan di pinggir jalan Tahi Bonar Simatupang, Jumat, (15/05/2026). | Cyntia Lorena Br Tarigan
Salah satu unit angkot bernomor 32 diparkirkan di pinggir jalan Tahi Bonar Simatupang, Jumat, (15/05/2026). | Cyntia Lorena Br Tarigan

Jauh sebelum bus listrik dan ojol hadir di Kota Medan, angkutan kota (angkot) telah lebih dahulu menjadi bagian dari mobilitas masyarakat Indonesia. Dilansir dari laman Badan Pusat Statistik (BPS), angkutan umum di Indonesia mulai ada sejak tahun 1943 pada masa pendudukan Jepang. Seiring perkembangan zaman, moda transportasi ini terus berkembang dan menjadi salah satu sarana mobilitas utama masyarakat, termasuk angkot yang selama puluhan tahun mewarnai jalanan di Kota Medan.

Namun, kehadiran berbagai moda transportasi modern perlahan mengubah kebiasaan masyarakat dalam memilih sarana transportasi. Kemudahan yang ditawarkan transportasi online serta hadirnya bus listrik sebagai transportasi massal baru di Kota Medan membuat angkot tidak lagi menjadi pilihan utama bagi sebagian masyarakat.

Perubahan tersebut turut dirasakan oleh pengemudi angkot, Sutrisno, yang sudah bekerja selama lebih dari 20 tahun. Menurutnya, sekitar 80 persen penumpang terus berkurang sejak hadirnya moda transportasi baru yang kini menjadi saingan angkot.

“Berkurang, jauh berkurang. Karena banyak naik Grab, banyak naik bus listrik. Kalau menurut saya, bus listrik ini jangan diperpanjang terus, itulah yang bikin mati angkot ini,” ujarnya dengan raut wajah yang tampak muram, pada Selasa (2/6/2026).

“Memang enak untuk masyarakat, tapi sebagian pengemudi hancur,” ucap Sutrisno.

Tidak hanya angkot, becak juga merupakan salah satu bagian dari moda transportasi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dilansir dari Pemda DIY, becak pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1930-an melalui Negara Singapura dan kemudian berkembang menjadi sarana transportasi yang banyak digunakan oleh masyarakat.

Beberapa becak motor menunggu penumpang di kawasan Pasar Sore Padang Bulan, Kamis (14/05/2026). | Cyntia Lorena Br Tarigan
Beberapa becak motor menunggu penumpang di kawasan Pasar Sore Padang Bulan, Kamis (14/05/2026). | Cyntia Lorena Br Tarigan

Seiring dengan meningkatnya pilihan transportasi modern, peran becak sebagai moda transportasi tradisional kini mulai tergeser. Yanu, pengemudi becak yang telah bekerja sejak tahun 2008, mengaku jumlah pendapatannya kian menurun dibandingkan sebelumnya.

“Dulu pendapatan saya bisa mencapai Rp100 ribu sampai Rp150 ribu per hari, tapi sekarang hanya mencapai sekitar Rp50 ribu saja. Pernah terpikir untuk beralih jadi ojol tapi nggak ada modal,” tuturnya sembari menghela napas, pada Kamis (14/5/2026).

“Kalau sekarang udah nggak ada harapan, yang penting bertahan hidup aja,” imbuh Yanu.

Membaca Arah Transportasi Kota Medan 

Perkembangan transportasi umum di Kota Medan pada tahun 2026 ini semakin menunjukkan peran yang strategis sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi masyarakat. Salah satu akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Dr. Muhammad Syafii, S.E., S.Pd., M.Si., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), turut menyampaikan pandangannya mengenai kehadiran transportasi modern di Kota Medan.

Menurut Syafii, transportasi umum bukan hanya sarana mobilitas manusia, tetapi juga infrastruktur ekonomi yang menentukan efisiensi, efektivitas produksi, distribusi, dan konsumsi. Kehadiran bus listrik serta berbagai upaya peningkatan konektivitas perkotaan telah membantu mengurangi biaya transportasi masyarakat, mempercepat mobilitas dan memperluas akses ke pusat-pusat ekonomi seperti pasar, kawasan industri, perkotaan, dan institusi pendidikan.

“Kalau kita berbicara dari sisi ekonomi, katakan ekonomi rumah tangga, hadirnya transportasi umum yang semakin baik itu memungkinkan masyarakat menghemat pengeluaran transportasi. Penghematan tersebut bisa meningkatkan pendapatan real, sehingga daya beli masyarakat menjadi lebih kuat,” jelas Syafii, pada Rabu (20/5/2026).

Terkait solusi yang harus diambil pemerintah terhadap eksistensi transportasi konvensional, Syafii menegaskan, perlu adanya kombinasi kebijakan yang tidak melawan teknologi. Jika dibiarkan bersaing bebas dengan transportasi modern lain, angkot dan becak sudah pasti akan kalah dalam menarik penumpang.

Dengan beragam pilihan transportasi umum di Kota Medan, masing-masing memiliki target pengguna yang berbeda-beda. Syahirah, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU, memiliki preferensi untuk menggunakan bus listrik karena tarifnya yang cenderung terjangkau dibandingkan transportasi modern lain seperti ojol.

Bagaimanapun juga, dirinya mengaku bahwa bus listrik juga memiliki beberapa keterbatasan dalam layanannya. “Kekurangannya mungkin di waktu dan aplikasi aja, sih. Kadang jadwal busnya nggak bisa dipastikan lewat berapa menit sekali, terus aplikasi MitraDarat juga suka eror, misalnya saat posisi bus nge-stuck di aplikasi,” ujarnya kesal, pada Rabu (20/5/2026).

Pengalaman berbeda dalam menggunakan transportasi darat datang dari Siti, mahasiswa FISIP USU. Dirinya mengaku lebih sering menggunakan layanan ojol karena tarif yang tidak terlalu mahal untuk mencapai tempat yang biasa ditujunya. Menurutnya, dibandingkan transportasi lain seperti angkot dan bus listrik yang memiliki tarif lebih murah, ojol tetap menjadi pilihan karena lebih cepat dan mudah didapat.

Pengemudi ojek online mengecek pesanan di tengah lalu lintas Kota Medan, Senin (15/06/2026). | Cyntia Lorena Br Tarigan
Pengemudi ojek online mengecek pesanan di tengah lalu lintas Kota Medan, Senin (15/06/2026). | Cyntia Lorena Br Tarigan

Akan tetapi, Siti berpendapat bahwa transportasi konvensional lain seperti becak juga masih diperlukan oleh masyarakat. “Ada keadaan yang membuat kita harus naik becak. Misalnya kita mau ke daerah yang agak pedalaman dan gak terakses alamatnya di ojol. Nah, itu kan mau gak mau kita harus naik kendaraan lain, salah satunya becak,” jelasnya, pada Kamis (21/5/2026).

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus