BOPM Wacana

Catatan Sejarah di Maret Berdarah

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Rati Handayani dan Apriani Novitasari

Halaman kanan Masjid Azizi Tanjung Pura Kabupaten Langkat dipenuhi makam. Di  sana, tepat sebelum pintu masuk halaman masjid bagian dalam, ada tugu penanda bertuliskan: Pusara Pahlawan Nasional T Amir Hamzah.

Makam T Amir Hamzah berada di taman pemakaman Masjid Azizi, Langkat. | Andika Syahputra
Makam T Amir Hamzah berada di taman pemakaman Masjid Azizi, Langkat. | Andika Syahputra

Minggu siang itu Masjid Azizi tak begitu ramai dikunjungi orang. Hanya ada satu keluarga dari Medan yang baru keluar masjid lalu menaiki mobil untuk pulang. Ada juga wanita paruh baya ditemani pemuda Langkat sedang berziarah ke pemakaman di halaman kanan masjid. Wanita itu mendekati satu makam.

“Itu makamnya Tengku Amir Hamzah, Buk,” kata si pemuda menunjuk makam yang dituju si wanita.

“Pahlawan nasional itu, ya?” sahut wanita itu.

“Iya. Dia meninggal kayak yang tertulis di nisannya, Buk,” jawab si pemuda.

Makam itu memang tak cepat bisa ditangkap mata. Sebab letaknya di dalam. Dikelilingi beberapa makam bermarmer putih. Namun pusaranya dibangun lebih tinggi, dengan nisan yang tak biasa.

“Ada ukiran puisinya juga, Buk,” lelaki itu menunjuk nisan di bagian kaki makam.

Itu puisi terakhirnya yang ditulis sebelum “dijemput” pada malam di bulan Maret 1946.

Tepatnya 7 Maret 1946, tepat 68 tahun silam.

Pangeran bungsu Kesultanan Langkat itu dijemput serombongan pemuda di rumah dinasnya di Binjai, salah satu residen kesultanan. Penjemputan itu disaksikan oleh istrinya, Tengku Kamaliah dan putri tunggalnya Tengku Tahura.

Sebelum penjemputan, istri Tengku Amir Hamzah membakar sejumlah dokumen milik Tengku Amir Hamzah. Kecuali surat pengangkatannya menjadi Bupati Langkat dari pemerintah Republik Indonesia. Ini dilakukan agar ia aman. Sebelumnya Tengku Amir Hamzah mendapat kabar dari abangnya, Tengku Sulaiman Hamzah, kalau akan ada orang PKI yang datang menjemputnya.

Namun saat serombongan pemuda itu “meminjam” Tengku Amir Hamzah dan katanya akan “dikembalikan”, mereka tak menghiraukan surat pengangkatan itu.

Akhirnya Tengku Amir Hamzah dibawa, ke mananya tidak ada keluarga yang tahu. Malamnya―pihak keluarga meminta Kepolisian Binjai untuk mencari―diketahui Tengku Amir Hamzah telah dibunuh. Kepalanya dipenggal di Hutan Kuala Begumit. Sebelum dipenggal, ia ditahan di Kebun Lada, enam kilometer dari Binjai.

Dari sana, jasad Tengku Amir Hamzah dibawa ke rumah Tengku Sulaiman Hamzah di Jalan Iskandar Muda, Medan untuk diperiksa. Ternyata memang jasad Tengku Amir Hamzah. Sontak, istrinya histeris.

Tepat 20 Maret, Tengku Amir Hamzah disemayamkan di halaman Masjid Azizi, tempat pemakaman keluarga dan kerabat Kesultanan Langkat.

Diketahui pembunuh Tengku Amir Hamzah adalah orang laskar merah.

Di hari yang sama. Sekitar dua jam dari Binjai, tepatnya di Istana Kesultanan Langkat, Tanjung Pura. Orang-orang dari kelompok yang sama menyerang serta merampas harta Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmadsyah, Sultan Langkat masa itu.

Ia  dikumpulkan bersama penghuni istana lainnya. Mereka dibawa ke Hutan Sawit Seberang. Di tengah perjalanan, rombongan ini dipecah dua. Kelompok pertama berisi pejabat istana, mereka dibawa ke sungai dekat Hutan Sawit Seberang. Dibunuh di situ. Sedangkan Sultan Mahmud, istrinya dan ketiga putrinya lanjut dibawa ke Hutan Sawit Seberang. Di sanalah mereka bertemu dua orang komunis dari PKI.

Dari sana Sultan Mahmud akan dibawa lagi seorang diri. Istri dan putrinya seketika histeris. Tak terima. Kedua komunis itu memanfaatkan situasi. Mereka bilang jika ingin selamatkan nyawa sultan, tiga putrinya harus bersetubuh dengan mereka. Tapi dua putri sultan yang remaja memohon untuk melepaskan adik mereka yang di bawah umur. Permintaan pun disepakati.

Sultan Mahmud hilang beberapa hari. Pasukan sekutu di Medan memerintahkan dokter Kesultanan Langkat dan pasukan sekutu di Langkat untuk mencarinya.

Tahu hal itu, kedua komunis tadi malah membawa Sultan Mahmud dan rombongan lebih jauh ke pedalaman, Perkebunan Namu Unggas. Di sana rombongan diserahkan ke laskar pimpinan Abu Daud.

Dua minggu setelahnya rombongan Sultan Mahmud dipindahkan ke Batang Serangan, lalu ke Tanjung Selamat. Di sini, rombongan Sultan Mahmud dibagi dua lagi: dua putrinya dikembalikan ke Sawit Seberang. Sultan beserta istri dan putri bungsunya dibawa ke Berastagi. Ikut juga bersama mereka beberapa tawanan Sawit Seberang, berisi kerabat kesultanan Langkat.

Peristiwa yang terjadi pada Sultan Mahmud itu dibenarkan Tengku Zulkifli, kerabat dekat Kesultanan Langkat. Ia termasuk orang rombongan Sawit Seberang yang akhirnya ikut rombongan sultan ke Siantar. Kala itu ia masih kecil, empat tahun. Yang dia ingat hanya ayahnya hilang dan belum ditemukan hingga sekarang.

Ayah Tengku Zulkifli dicari kerabat ke rumahnya. Hari itu juga 7 Maret 1946, kira-kira pukul dua siang. Katanya ada wawancara dengan PKI. ayahnya ikut kerabat itu, tapi waktu magrib ayahnya pulang lagi. Tak lama di rumah, ayahnya pergi lagi dan tak berkabar hingga sekarang.

Tengku Zulkifli bilang sebelum pulang ke rumah, ayahnya dan beberapa orang lain berkumpul di satu sekolah untuk berunding. Ia tahu saat sudah beranjak dewasa.

Empat hari sebelumnya, tepat di 3 Maret, kejadian serupa terjadi di Kesultanan Asahan.

Paginya, Tengku Muhammad Yasir tengah duduk santai setelah salat subuh di rumahnya yang terletak di lingkungan istana Kesultanan Asahan. Dari tempatnya, tetiba ia lihat orang-orang bersenjata tiarap menuju istana.

Orang-orang yang tiarap itu membawa tombak, senjata laras panjang juga pendek. Lingkungan istana yang masih berupa tanah lapang menyebabkan Yasir bebas melihat suasana istana.

Yasir tak tahu siapa mereka, belakangan ia baru tahu mereka adalah orang dari laskar merah. Kelompok yang terdiri dari berbagai laskar pro-republik, buruh, dan masyarakat. Ada orang-orang partai seperti Masyumi, PKI, Pesindo, dan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Sontak Yasir memanggil ayahnya yang baru kembali pukul 5 tadi dari istana untuk berjaga-jaga. Sebab ada isu istana akan diserbu, kondisi sedang tak aman.

“Pak, ada orang tiarap ke istana,” katanya.

“Mana?” tanya ayahnya balik.

“Itu,” jawab Yasir sembari menunjuk.

Masjid Azizi peninggalan Kesultanan Langkat di Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. | Andika Syahputra
Masjid Azizi peninggalan Kesultanan Langkat di Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. | Andika Syahputra

Satu dari ratusan orang yang sedang tiarap itu dikenal Yasir. Adalah Jamaluddin Tambunan, guru bahasa Belanda Yasir di Hollandsch Inlandsche School. Saat itu Jamaluddin telah menduduki rumah Tengku Musa, Pakcik Sultan Syaiboen Abdul Jalil Rahmadsyah, Sultan Asahan.

Tengku Musa “hilang” bersama anak dan istrinya. Rumahnya dijadikan tempat laskar mengatur rencana pembunuhan. Ada daftar orang yang akan dibunuh. Mereka dicoret merah di daftar itu.

Pagi terus beranjak, pukul tujuh. Orang bersenjata yang sedari tadi tiarap menyerbu istana dan mendudukinya.

Tak lama setelah penyerbuan, tiga orang laskar dengan tombak mendatangi rumah Yasir. “Menjemput” ayahnya. Ayahnya diminta datang ke markas mereka untuk diperiksa. “Markasnya di Jalan Asahan, bekas Javasche Bank. Sekarang gedungnya tak ada lagi,” cerita Yasir yang kini telah berusia 85 tahun. Saat peristiwa itu terjadi, ia masih berusia 17 tahun.

Saat ayahnya dibawa untuk “dipinjam”, Yasir juga sempat dibawa. Namun kakinya terluka, tapi tak diobati hingga infeksi. Ia pun berjalan dengan pincang.

Oleh karena itu ia disuruh balik di tengah perjalanan. “Barangkali belum di situ ajalnya,” ujarnya.

Semua yang ditangkap dan dikumpulkan di gedung Javasche Bank adalah keluarga kesultanan serta orang dekat kesultanan.

Di markas itu ayah Yasir ternyata tak diperiksa. Malah namanya masuk daftar akan dibunuh. Ia pun melarikan diri. Tapi akhirnya tertangkap dan diserahkan lagi ke markas laskar. Kemudian dibawa ke Sungai Lendir, tak jauh dari Tanjung Balai. Ia dibunuh.

Penyerbuan itu tak hanya menghilangkan nyawa, seperti ayah Yasir, melainkan juga harta benda. Sebab saat orang-orang ditahan, rumah-rumah dalam keadaan kosong. Perampasan harta pun dilakukan.

Pada hari yang sama, tak hanya Kesultanan Langkat dan Asahan yang diserang. Penyerangan dan perampasan harta juga dilakukan terhadap kesultanan lain di Sumatera Timur. Seperti Kesultanan Kualoeh, Kota Pinang, Serdang, Tanah Karo dan Simalungun.

Dosen Sejarah FIB USU Suprayitno menyebut peristiwa ini terjadi karena sebab yang kompleks. Indonesia baru saja merdeka dan belum genap berusia satu tahun. Medan tengah diselimuti konflik politik dan sosial serius. Baik Medan maupun wilayah lain di Sumatera Timur tak punya kepemimpinan tunggal yang dapat menyatukan fraksi yang bertikai.

Sebagian masyarakat mengharapkan hadirnya penguasa lama. Belanda. Mereka tak ingin berada di bawah lindungan Republik yang belum jelas.

Pengalaman buruk selama penjajahan Jepang juga membuat mereka berhati-hati menyiasati perubahan zaman.

Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia sampai di Medan pada Oktober 1945, membuat Gubernur Sumatera Tengku Muhammad Hasan mempersiapkan segala sesuatu untuk menjalankan pemerintahan.

Ia mengeluarkan dekrit mengangkat sepuluh orang residen untuk seluruh Sumatera dan Wali Kota Padang, Medan dan Palembang pada 3 Oktober 1945.

Tengku Muhammad Hasan juga memerintahkan mobilisasi umum, membentuk tentara keamanan rakyat, mengambil alih gedung pemerintahan serta memerintahkan semua pegawai dan pejabat untuk mematuhi perintah pembesar Republik.

Perkembangan gerakan Republik sangat cepat dan meluas di awal Oktober itu. Sampai ke kota di luar Medan. Khususnya Tebing Tinggi, Binjai, Berastagi, dan Kabanjahe.

Pertengahan Oktober berdiri National Control dan BPKI di kota-kota tersebut. Mereka aktif menghimpun semangat rakyat melawan Belanda.

Walau Medan telah menjalankan pemerintahan republik, namun belum cukup kekuatannya. Daerah swapraja di Sumatera Timur belum mengakui eksistensinya. Sebab Republik adalah posisi yang tak menguntungkan menghadapi Belanda.

Suprayitno pun angkat bicara. Perbedaan ekonomi karena kerja sama kesultanan dengan Belanda jadi pemicu penyerangan Maret 1946 itu. Padahal Indonesia baru lepas dari penjajahan Belanda. Sehingga orang-orang laskar, partai dan masyrakat yang pro-republik menilai kesultanan adalah ancaman Republik.

Namun Tengku Syahputra, cucu abang Tengku Amir Hamzah, tak sepakat penyerangan Maret 1946 itu dinamai revolusi sosial itu akibat kesenjangan ekonomi. “Hampir tidak ada yang susah di bumi Langkat waktu itu,” katanya.

Sekolah Tinggi Agama Islam Bekas sekolah T Amir Hamzah di Langkat. | Andika Syahputra
Sekolah Tinggi Agama Islam Bekas sekolah T Amir Hamzah di Langkat. | Andika Syahputra

Kesultanan Langkat adalah kesultanan terkaya di Asia Pasifik masa itu. Semua rakyat hidup makmur, malah pihak kesultanan sering membagi beras dan minyak gratis pada rakyatnya.

Tengku Syahputra pun menyebut peristiwa itu perampokan yang dilakukan untuk kepentingan pergerakan komunis yang ingin menguasai Republik. Bukan revolusi sosial.

Namun mereka yang pro-Republik dan radikal dari berbagai laskar dan partai tetap menilai kesultanan feodal dan pro-Belanda. Pun tak menjalankan pemerintahan dengan demokratis. Oleh karena itu sempat diadakan pertemuan di 12 Februari 1946 antara Tengku Muhammad Hasan dan Wakil Gubernur Amir dengan sultan muda Langkat dan wakil Kesultanan Deli.

Waktu itu Amir minta kesultanan mencontoh demokratisasi di wilayahnya. Seperti yang dilaksanakan Kesultanan Yogyakarta.

Dibilang tak demokratis pun Tengku Syahputra tak setuju. Kesultanan yang berlandaskan Islam menjadikan sultan adalah penolong bagi rakyatnya.

Saat itu, orang-orang Republik yang radikal membentuk diri menjadi Persatuan Perjuangan. Mereka masih menilai kesultanan tak demokratis.

Akhirnya 3 Februari 1946, bertempat di Gedung KNI Medan, diadakan musyawarah antar pemerintah Republik dan Kerajaan. Di sana dijelaskan Undang-undang Dasar Republik Indonesia mengakui secara resmi posisi istimewa raja-raja. Tengku Muhammad Hasan minta kerajaan memutuskan hubungan dengan Belanda. Kerajaan diminta melakukan demokratisasi dan mendukung Republik. Sebab Republik berdasarkan kepada rakyat.

Sultan Langkat atas raja-raja Sumatera Timur menyatakan sepakat dengan hasil pertemuan itu. Maka dibentuklah Panitia Mahadi untuk melakukan proses demokratisasi di wilayah kerajaan.

Tapi kesultanan mendukung Republik, Tengku Syahputra menampik. Terbukti Tengku Amir Hamzah dijadikan Bupati Langkat pertama.

Pun begitu di Kesultanan Asahan, Yasir bilang kesultanan pro-kemerdekaan. Buktinya pun ada. Saat berita kemerdekaan sampai di Asahan, bendera merah putih dikibarkan berdampingan dengan bendera kuning Asahan.

Walau demikian, dijelaskan Suprayitno, tampaknya Panitia Mahadi tak perlihatkan progres dalam menjalankan tugas.

Oleh karena itu, saat Tengku Muhammad Hasan berkunjung ke Sumatera Selatan, orang-orang Persatuan Perjuangan melakukan penculikan dan pembunuhan serta perampasan harta kesultanan. Peristiwa itulah penyerangan terhadap Kesultanan Asahan dan Langkat pada Maret 1946 yang membuat Tengku Amir Hamzah dibunuh.

Tengku Syahputra bilang peristiwa itu masih menimbulkan trauma di masyarakat Langkat. Bekas lahan istana Kesultanan Langkat di Tanjung Pura saat ini dibangun Madrasah Aliyah Negeri 2 Tanjung Pura. Yang tinggal hanya puing-puing istana setelah dibakar saat penyerangan Maret 1946 itu. Generasi Kesultanan Langkat tak bisa lagi membangunnya.

Satu hal lagi yang dibilang Tengku Syahputra, sejarah runtuhnya kesultanan di Sumatera Timur karena peristiwa yang dinamai revolusi ini terkesan ditutupi.

Tak begitu dengan Suprayitno. Ia menilai buku yang bercerita tentang peristiwa masih banyak. Suprayitno pun menulis buku Mencoba (Lagi) Menjadi Indonesia, menceritakan hal serupa.

Dalam menulis buku, pada 1994 Suprayitno sempat mewawancarai Ketua II Persatuan Perjuangan yang waktu itu tinggal di Binjai. Saat ini menemukan pelaku langsung amatlah susah sebab peristiwa itu telah dilakukan puluhan tahun silam.

Pun begitu kata Yasir, “Pelakunya saat ini sudah pada meninggal semua.”

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4