BOPM Wacana

Pak, Bisakah Bapak Dengarkan Itu?

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Amelia Ramadhani

Ilustrasi: Yulien Lovenny Ester G
Ilustrasi: Yulien Lovenny Ester G

IMG_129115 Desember 2014

Salam kangen buat, Bapak!

Pak, jangan merasa aneh ya, saat Bapak baca e-mail ini. Memang, ini pertama kalinya Uncu tulis e-mail khusus untuk Bapak, walau ribuan e-mail telah beterbangan untuk orang lain. Namun bukan berarti Bapak tak berarti bagi Uncu. Maaf ya Pak, jika selama ini Uncu tak pernah tanya kabar Bapak. Maaf ya Pak, jika selama ini Uncu diam-diam rindu Bapak. Paling Uncu hanya tanya, “mereka gimana?”. Itu pun di akhir jika Uncu berbicara dengan Kakak lewat telepon.

Pak, dulu saat Uncu masih kecil, Uncu sangat bangga dengan Bapak. Uncu sangat menyayangi Bapak. Uncu masih ingat ketika dulu belum sekolah, Bapak selalu mau diajak bermain walaupun Bapak penat bekerja seharian. Bapak teman bermain yang sangat Uncu nantikan jika waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Uncu selalu menunggu Bapak di dekat kandang sapi, supaya lebih cepat berjumpa dengan Bapak.

Tapi, seiring berjalannya waktu, Bapak mulai berubah. Uncu sudah masuk sekolah dasar. Waktu bermain Uncu berkurang karena sore harinya juga harus belajar mengaji. Malamnya juga tak seperti malam-malam sebelumnya. Dulu tiap malam kita menonton VCD Pokemon, lalu berganti dengan belajar membaca dan mengerjakan tugas sekolah. Bapak hampir tak pernah lagi menemani Uncu. Hari-hari Uncu pun hanya dihabiskan bersama Kakak.

Semakin Uncu melangkah ke tingkat yang lebih tinggi, Bapak terlihat makin menjauh dari kehidupan Uncu. Bapak mulai jarang pulang. Kalau pun ada, paling dua kali sebulan. Mungkin karena pekerjaan Bapak yang berubah, dari  petani menjadi inspektur di PT. Caltex, Riau.

Bapak berubah drastis. Bapak dulu teman bermain yang selalu Uncu nantikan menjadi sosok yang sangat ditakuti jika pulang. Bapak suka main fisik, marah sedikit langsung pukul. Uncu masih ingat Pak, waktu Uncu menolak untuk mengantarkan sayur ke penadah sebelum Uncu pergi mengaji. Bapak langsung pukul Uncu pakai ikat pinggang di punggung. Tak hanya itu, Bapak juga menyepak Uncu hingga jatuh dari tangga.

Sifat wibawa Bapak hilang seketika, Pak. Rasanya cinta Uncu ke Bapak semakin menipis, bahkan memudar. Kepergian Bapak ke Riau untuk bekerja merupakan hal yang Uncu tunggu, sebab Uncu takut melakukan apapun. Uncu takut Bapak akan marah jika Uncu melakukan satu kesalahan kecil sekali pun.

Salah sedikit, imbalannya pukulan. Iyakan, Pak?

Bapak makin kejam. Ingatkan Pak, ketika kalkulator Kakak hilang di sekolah? Bapak pukul Kakak pakai ranting jeruk nipis yang berduri. Kakinya berdarah tertusuk duri itu. Tapi, Bapak enggak peduli. Semakin kuat jeritannya, makin keras Bapak memukulnya.

Setelah puas, Bapak membawa Kakak ke rumah sakit untuk mencabut semua duri yang tertinggal di kakinya. Buat apa, Pak? Toh makin banyak duit yang Bapak keluarkan, karena harus membayar pengobatannya. Lebih baik Bapak belikan kalkulator baru. Bapak memang lelaki bodoh yang Uncu jadikan idola selama ini.

Uncu dan Kakak semakin dewasa. Uncu mulai bisa mengerti mengapa Bapak marah-marah sampai di rumah. Komunikasi kita pun semakin samar, Pak. Saat Bapak pulang Uncu masuk ke kamar, walaupun tak ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Telentang tidur dengan mata menerawang ke langit-langit kamar lebih berarti daripada melihat muka Bapak.

Semuanya makin berantakan waktu itu, Pak. Bapak makin tak bisa kontrol emosi. Akhirnya Uncu dan Kakak memutuskan untuk kuliah di luar kota. Tak lain supaya bisa jauh dari Bapak. Kami ingin hidup tanpa tekanan, Pak. Kami ingin belajar tanpa harus memikirkan tiap dua bulan sekali Bapak akan pulang. Selalu was-was dengan perilaku kasar seperti apa yang akan Bapak berikan, Uncu ingin berkembang di luar tekanan, Pak!

Saat diterima di perguruan tinggi, Uncu bingung, Pak. Uncu takut bilang sama Bapak kalau Uncu lulus, takut Bapak tak setuju. Uncu takut saat itu Bapak akan mengurung Uncu seperti yang Bapak lakukan saat Kakak bilang mau kuliah di Univesitas Gajah Mada. Uncu tetap bilang ke Bapak, namun…

Gajiku sebagai inspektur di Caltex tak cukup, mau jual diri di sana?” Bapak membentak Uncu. Kata-kata itu Pak. Tapi, sudahlah tak perlu Uncu tuliskan di sini.

***

Sepuluh tahun ya, Pak. Kita tak pernah bersua dan selama itu pula Bapak dan Ibu tak tahu Uncu di mana. Tapi Pak, sejauh Uncu melangkah Bapak selalu ada, Pak. Julukan Setan Bertanduk untuk Bapak selalu terarsipkan dengan rapi, walau sudah ribuan kali Uncu berusaha untuk mengahapusnya, Pak.

Mungkin karena sudah tertanam di hati ya, Pak? Masa lalu yang Uncu dapatkan dari Bapak, rasanya memang sangat pahit. Tapi semuanya sudah berlalu.

“Yang berlalu, biarlah berlalu.” Itu quote favorit Bapak saat mengajari Uncu untuk tidak mendendam. Uncu akan cerita sedikit tentang jejak yang sudah Uncu buat selama sepuluh tahun itu.

Uncu pernah mengajar pelajaran Bahasa Indonesia selama tiga tahun di Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Uncu pernah ke Jepang, Pak. Namun harus Uncu akhiri karena kontrak kerjanya sudah usai. Berbagai usaha Uncu lakukan, supaya tak kembali ke Indonesia. Mendaftar beasiswa S-3 di Jepang dan Amerika pun sudah Uncu coba, Pak. Supaya tidak kembali ke Indonesia.

Uncu tak menyerah semudah itu, Pak. Hingga suatu saat Uncu terima pesan ini. “Kakak tinggal di kampung, datanglah berkunjung jika Uncu sudah di Indonesia.” Itulah pesan singkat yang dikirim Kakak lewat chatroom di akun facebook. Tapi sayang Pak, Uncu tak pernah hiraukan pesan itu. Uncu kembali melancong ke negeri orang, Pak. Bertaruh hidup di Kanada sampai sekarang.

Menjadi bagian dari hidup Bapak merupakan hal yang sangat sulit bagi Uncu. Sulit untuk mendapatkan uang jajan yang cukup, sulit untuk mendapatkan izin menginap di rumah teman, dan sulit untuk melakukan kesalahan karena takut Bapak pukul. Semuanya terasa sulit jika itu berhubungan dengan Bapak.

Sayangnya, kesulitan yang Uncu rasakan selama tinggal bersama Bapak sirna setelah Uncu jauh, Pak! Uncu pernah ditolak saat melamar kerja, Uncu pernah dihajar orang saat bekerja pada sebuah bar di Kanada. Semuanya tak sesakit yang Bapak lakukan ke Uncu Pak.

Uncu benar-benar senang saat tak ada Bapak hingga Uncu lupa kasih tahu Uncu di mana. Maaf ya Pak!

Ini merupakan e-mail terpanjang yang pernah Uncu tulis Pak. Bahkan, lebih panjang dari surat perjanjian bisnis yang Uncu buat.

Salam untuk Ibu ya, Pak!

***

Benarkan, Pak! Segala urusan yang berkaitan dengan Bapak selalu membuat Uncu takut dan berujung sakit. Bapak itu memang tak ada akhirnya. Bapak bak virus yang selalu membuat semuanya menjadi sakit. Pak, rasanya sakit sekali saat e-mail ini harus Uncu bacakan sendiri di depan makam Bapak. Rasanya lebih sakit dibandingkan terjatuh dari tangga akibat Bapak tendang. Lebih perih dari bekas ikat pinggang yang selalu menghujam punggung jika Uncu berbuat salah.

Pak, bisakah Bapak dengarkan itu?

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).