BOPM Wacana

Nasib Publikasi Jurnal Ilmiah di USU

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Amelia Ramadhani

Jika sudah punya nama, kualitas takkan diragukan lagi. Nama itulah yang tak dimiliki USU hingga akhirnya dipertanyakan.

Ilustrasi: Arman Maulana Manurung
Ilustrasi: Arman Maulana Manurung

Penelitian ilmiah akademisi USU sudah tersebar di mana-mana, blog pribadi, jurnal ilmiah online, maupun jurnal ilmiah yang dicetak. Banyak juga yang mengisi jurnal ilmiah di universitas lain, dalam atau luar negeri. Namun jarang yang mempublikasikan di jurnal tingkat universitas, Jurnal USU. Alasannya, tak terakreditasi.

Prof Zulkifli Nasution, Wakil Rektor (WR) I berkomentar panjang lebar tentang publikasi yang ia dan rekannya lakukan. Ia merupakan salah satu akademisi USU yang rajin publikasikan karyanya di universitas lain. Ia menulis setidaknya satu penelitian setiap tahun, bahkan dua. “Ini karya saya yang dimuat di salah satu universitas di Singapura,” ujarnya. Lebih dari tiga ribu klik jumlahnya, kira-kira sebanyak itu pulalah ia dijadikan referensi.

Prof Zulkifli bercerita publikasi penelitian akademisi USU tak difasilitasi universitas. Peneliti boleh lakukan publikasi di mana saja mereka mau. “Kita sediakan LP (lembaga penelitian–red) untuk pembimbing saat meneliti,” ujarnya.

Banyak hal yang disayangkan olehnya melihat hasil penelitian yang ada. Kesulitan biaya penelitian membuat hasilnya tak begitu baik. Pun, belum semua orang paham pentingnya melakukan penelitian dan dipublikasikan.“Meneliti kalau mau naik pangkat saja.”

Syahron Lubis, Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) benarkan perihal publikasi secara mandiri. Setiap tahun ia lakukan satu hingga dua penelitian dan publikasi sendiri di jurnal cetak atau jurnal online dalam atau luar negeri. Pun ia tak pernah publikasi di jurnal milik FIB atau USU. Kebanyakan, ia publikasi di jurnal ilmiah universitas luar, Universitas Negeri Malang contohnya. “Makin jauh publikasi makin bagus sebenarnya,” tambah Syahron. Selain itu jurnal ilmiah tingkat fakultas sudah tak ada lagi karena tak ada pengasuh. Sedangkan jurnal ilmiah tingkat universitas masih belum terakreditasi.

Syahron tak kesulitan biaya penelitian maupun publikasi. Setiap tahun ia dapatkan biaya penelitian dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi (Dikti). Ia dapatkan Rp 42,5 juta pada 2013 silam dan untuk penelitian yang akan dilakukannya pada 2015 dan 2016 mendapat dana sebesar Rp 100 juta. Publikasi di jurnal internasional membutuhkan biaya yang lebih besar jika dibandingkan dengan publikasi di dalam negeri. “Butuh 300 dolar di Kanada dan 2 hingga 3 juta di dalam negeri,” jelasnya.

Berdasarkan peraturan Ditjen Dikti, proses akreditasi jurnal ilmiah dilihat dari intensitas penerbitan karya. Syaratnya, jurnal ilmiah yang terakreditasi harus terbit dua kali dalam satu tahun dan minimal lima artikel tiap terbit. Prof Zulkifli sampaikan biasanya akademisi USU melakukan penelitian sebagai syarat pengajuan kenaikan pangkat.

Prof Zulkifli apresiasi akademisi USU yang melakukan publikasi karya di luar USU. Selama ia mencantumkan dirinya sebagai akademisi USU akan berdampak baik untuk promosi USU.

Meskipun publikasi secara mandiri diperbolehkan, akademisi USU yang melakukannya kerap tak melaporkan ke USU hingga bisa didata untuk keperluan pengajuan akreditasi universitas.

Poin penelitian yang tercantum dalam Rencana Strategis (Renstra) USU 2015-2019 dalam rangka peningkatan akreditasi universitas. Sampai saat ini USU belum ditempatkan dalam kategori penelitian Mandiri sebab budaya meneliti yang masih rendah. | Yulien Lovenny Ester Gultom
Poin penelitian yang tercantum dalam Rencana Strategis (Renstra) USU 2015-2019 dalam rangka peningkatan akreditasi universitas. Sampai saat ini USU belum ditempatkan dalam kategori penelitian Mandiri sebab budaya meneliti yang masih rendah. | Yulien Lovenny Ester Gultom

Himsar Ambarita, anggota Tim Penyusun Rencana Strategis (Renstra) 2015-2019 USU sampaikan dalam Renstra USU terdapat target berupa peningkatan jumlah penelitian dan publikasi di jurnal nasional terakreditasi dan internasional bereputasi. Cita-cita USU lima tahun ke depan. Dipaparkan USU harus membuat kebijakan sendiri sehingga mendorong peningkatan jumlah publikasi. USU juga harus melakukan penguatan kelembagaan sehingga dapat memfasilitasi dan membiayai perolehan paten dan hak atas kekayaan intelektual (HaKI).

Himsar coba tawarkan beberapa solusi nyata. Pertama, USU harus membentuk tim khusus yang fokus mengurusi jurnal ilmiah di USU, mulai pembuatan hingga peublikasi. Ini perlu agar ada yang memantau jurnal ilmiah di USU secara khusus. Pun, ia sarankan pemberian penghargaan untuk penelitian terbaik yang dipublikasi di Jurnal USU, peringkatnya disusun oleh tim tersebut.

Sepuluh juta rupiah diberikan untuk penelitian terbaik pertama dan tujuh juta rupiah untuk terbaik dua. Penghargaan dimaksudkan agar akademisi USU lebih tertarik melakukan penelitian hingga publikasi jurnal ilmiah di USU.

Kedua, perlu adanya evaluasi jurnal ilmiah yang sudah dipublikasi USU untuk perbaikan publikasi jurnal ilmiah ke depannya. Terakhir, ia sarankan agar USU mendaftarkan Jurnal USU ke Scopus, badan yang menginventariskan jurnal ilmiah di seluruh dunia untuk memperingkat sebuah universitas di internasional.

Ternyata Fakultas Keperawatan (FKep) sudah lakukan lebih dahulu. Departemen sediakan sepuluh juta rupiah untuk satu kali penelitian. Namun karena kurangnya sumber daya manusia dan minimnya staf pengajar mengakibatkan dosen jarang melakukan penelitian.

Menurut Dekan FKep, Dedi Ardinata, masalah yang dihadapi dalam publikasi jurnal ilmiah di FKep adalah melakukan penelitian secara mandiri. Meneliti secara mandiri bukan solusi yang baik untuk meningkatkan jumlah publikasi hasil karya ilmiah. “Kalau sendiri-sendiri sampai berjenggot pun tak akan bisa,” tambahnya.

Solusi yang baik menurutnya adalah membentuk kerja sama dengan universitas lain. Misalkan lima universitas bergabung dalam satu grup penelitian. Masing-masing mengirimkan seorang penguji barulah diterbitkan di universitas masing-masing. Cara ini akan menaikkan nama dari universitas yang bergabung. Namun perlu komitmen yang teguh dari masing-masing universitas yang tergabung.

Ia bercerita, sulit untuk mewujudkan sebuah jurnal ilmiah yang mendapatkan akreditasi nasional. Jurnal online FKep, Rufaidah, contohnya. Tak kunjung dapatkan akreditasi, menjadikan akademisi FKep lebih memilih publikasi di luar.

Dedi sampaikan standar jurnal tiap kali terbit adalah jurnal dicetak sekitar dua hingga tiga ratus eksemplar. “Dari mana dananya?” sambungnya. Apalagi, jumlah eksemplar tiap kali diterbitkan ditentukan oleh Ditjen Dikti.

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) sama sekali tak ada anggaran khusus untuk mendorong akademisinya melakukan penelitian. Hanya mengandalkan LP sebagai sarana penelitian.

Sutarman, Dekan FMIPA, bilang Saintia, jurnal ilmiah online FIMPA diisi dengan hasil penelitian mahasiswa berupa skripsi atau tugas akhir. Sehingga kualitas artikel yang dimuat pun jauh dari standar akreditasi Ditjen Dikti. Ditambah kurangnya pendanaan, fasilitas, dan sumber daya manusia membuat Saintia tak berkembang. Apalagi dosen di FMIPA tergabung dengan asosiasi dosen se-Indonesia dan melakukan penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah asosiasi tersebut. “Entah kapan Saintia ini terakreditasi,” keluhnya.

***

ampilan Jurnal online Fakultas Teknik Universitas Andalas, Minggu (5/4). Jurnal online Fakultas teknik Universitas Andalas sudah mendapat akreditasi nasional dan menerbitkan minimal enam artikel per tahun.| Yulien Lovenny Ester Gultom
Tampilan Jurnal online Fakultas Teknik Universitas Andalas, Minggu (5/4). Jurnal online Fakultas teknik Universitas Andalas sudah mendapat akreditasi nasional dan menerbitkan minimal enam artikel per tahun.| Yulien Lovenny Ester Gultom

Universitas Andalas (Unand) miliki kebijakan khusus untuk tingkatkan minat meneliti mahasiswa juga dosen. Seluruh mahasiswa program beasiswa pendidikan bagi mahasiswa berprestasi (bidikmisi) diwajibkan untuk melakukan penelitian yang disebut dengan pekan kreatif mahasiswa (PKM). Setiap mahasiswa yang lulus seleksi akan dibiayai dan difasilitasi pembimbing oleh fakultas.

Mahasiswa S-2 dan S-3 diwajibkan melakukan penelitian setiap tahun. Kemudian mahasiswa wajib mempublikasikan artikelnya di jurnal ilmiah fakultas masing-masing atau di luar universitas. Sebelum kelulusan mahasiswa harus menyerahkan bukti publikasi. “Itu syarat kelulusannya,” kata Febrin Annas, Wakil Rektor I Unand.

Universitas juga berikan biaya untuk penelitian dosen sebesar Rp 6 juta untuk satu penelitian setiap tahunnya. Kemudian jika karya ilmiahnya terbit di jurnal ilmiah internasional maka Unand memberikan sepuluh juta rupiah sebagai penghargaan.

Tingginya minat meneliti sangat berpengaruh terhadap publikasi jurnal secara nasional. “Teknik Sipil mampu menerbitkan enam artikel setiap tiga bulan sekali,” tuturnya. Jurnal ilmiah di Teknik Sipil sudah mendapat akreditasi nasional.

Dengan sedemikian hal yang dipersiapkan Unand, ternyata berdampak pada mahasiswanya. Afifah Septika Nefri. Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unand 2013 mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh fakultas. Ia cerita ada empat tim dari teman-teman sekampusnya yang mendapat biaya penelitian yang ditangung oleh universitas.

Icha jelaskan proses penelitian akan dibimbing langsung oleh beberapa dosen. Dalam melakukan penelitian, universitas memberikan anggaran sebanyak Rp 11 juta untuk satu penelitian. Sedangkan dari fakultas memberi Rp 150 ribu sebagai ganti uang mencetak proposal kepada setiap peneliti.

Untuk publikasi, artikel mahasiswa akan dimuat di jurnal ilmiah online FKM, jurnal.fkm.unand.ac.id. Sedangkan untuk jurnal ilmiah dalam bentuk cetak dicetak di pers mahasiswa FKM. Tapi FKM lebih fokus publikasi online daripada dalam bentuk cetak. “Lumayan update, dua kali terbit dalam satu tahun,” ujar Icha.

Menurut Icha, partisipasi mahasiswa masih kurang. Hanya mahasiswa yang melanjutkan S-2 atau yang mengambill gelar profesor saja yang meneliti. “Mungkin kurang sosialisasi,” sahutnya.

Koordinator Liputan       : Amelia Ramadhani

Reporter                                : Fredick Broven Ekayanta Ginting, Yanti Nuraya Situmorang, Anggun Dwi Nursitha, dan Amelia Ramadhani.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).