BOPM Wacana

Menolong Tanpa Pamrih, di Situ Relawan Merasa Senang

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Erista Marito Oktavia Siregar

Kalau ditanya, mereka hadir tak sekadar eksistensi, bahkan gaji. Demi revolusi mental untuk cita-cita tinggi. Cuma nurani yang tergerak spontan, menolong tanpa pamrih. Di situ relawan merasa senang.

Lapsus
Minon (47), salah seorang anggota relawan peduli lingkungan (RPL) sedang menyiram tanaman. Taman ini merupakan salah satu rancangan dari program Medan Berhias. | Erista Marito Oktavia Siregar

Lima tahun lalu, saat Gunung Sinabung mengalami erupsi, Erdianta S tengah masa libur sekolah. Saat itu, ia yang baru pulang ke kampung halamannya di Tanah Karo, menerima ajakan dari temannya untuk menjadi relawan. Spontan nurani Erdianta tergerak untuk membantu. Tak seperti anak sekolah lainnya, hari-hari libur Erdianta dihabiskan untuk menjadi relawan.

Kala itu, ia belum mafhum ihwal esensi relawan. Bermodalkan niat, ia menyelesaikan kegiatannya. Ia hanya mengikuti kata hati, melakukan kegiatan sosial, membantu banyak orang, begitu menurutnya.

Tak putus sampai di bangku sekolah, Erdianta terus menekuni aktivitas sebagai relawan saat memasuki perkuliahan. Ia diajak teman sejawatnya bergabung di organisasi keagamaan. Walau organisasi keagamaan, kegiatannya tak hanya keagamaan. Mereka punya kegiatan rutin di bidang sosial. Lagi, kegiatan relawan.

Pernah ada satu cerita yang menarik. Saat itu ia melakukan penyuluhan ke Desa Palipi, Samosir. “Menantang,” tegasnya. Ia sampai mempelajari bahasa Batak Toba agar dapat berkomunikasi dengan masyarakat di sana. Ia bilang, pesan penyuluh akan sampai dengan menggunakan bahasa daerah. Jadilah ia belajar, hingga hasil akhirnya benar memuaskan baginya.

Sampai akhirnya di Mei 2012. Ia dan temannya tengah bersama. Mereka berbincang sembari tiduran. Tetiba muncullah ide untuk membuat kegiatan besar relawan. Passion of Public Health (PPH). Itulah kegiatan yang mereka rancang. Salah satu kegiatan pengabdian masyarakat di FKM USU. Menyuluh tentang bahaya rokok di 24 sekolah di Kota Medan. Ini kali pertama, ia yang dulu diajak, menjadi si pengajak.

“Sejak merancang PPH, pertama kali saya sebut diri saya relawan,” tandas Erdianta.

Cerita sedikit berbeda datang dari Rizky Herman, relawan Kelas Inspirasi Medan. “Awalnya karena memang ada niat,” ujarnya untuk memulai bercerita.

Ia adalah mahasiswa pascasarjana di Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah USU. Selain menjadi mahasiswa, ia merupakan pegawai di Kantor Bupati Deli Serdang. Aktivitasnya cukup padat, namun Rizky masih merasa bosan dengan rutinitasnya.

Ia lalu mencari tahu informasi tentang kegiatan relawan. Pucuk dicinta ulam tiba, tak lama, ia temukan Kelas Inspirasi Medan yang saat itu sedang mencari relawan baru. Tanpa pikir panjang, Rizky mendaftar menjadi relawan. Ia terpilih. Bersama 99 relawan lainnya ia mendapat pembekalan.

Oktober 2014, relawan bergerak ke sepuluh sekolah di Medan. Ia dan lima temannya ditempatkan di SDN 060837 Medan Barat. Uniknya, yang mereka lakukan bukan mengajar seperti yang dilakukan guru pada umumnya, namun bercerita tentang masing-masing profesi para relawan untuk mengispirasi anak-anak sekolah. Rizky bercerita tentang profesinya sebagai pengusaha di Medan.

“Mereka semua butuh orang-orang yang bisa memotivasi untuk belajar,” terang Rizky.

Selama menjadi relawan banyak cerita mengejutkan yang ia dapat, salah satunya datang dari anak-anak SD yang memiliki cita-cita aneh. Ada yang bercita-cita menjadi maling. Saat ditanya mengapa, Rizky tertawa mendengar jawabannya, “Aku mau cepat-cepat kaya,” ujar Rizky sambil meniru ucapan anak itu.

Banyak pembelajaran yang ia dapat. Namun tak dipungkiri, harus ada waktu kumpul bersama keluarga yang ia korbankan demi tujuan mulia itu. Senin hingga Kamis ia bekerja di Deli Serdang, Jumat dan Sabtu kuliah di USU.

“Bagi saya, relawan ialah guru yang tidak resmi,” terang Rizky.

IMG_8796
Setiap sore RLP membersihkan taman yang abru saja dimulai proses pengerjannya di Aloha, Kecamatan Medan Labuhan. Taman ini melibatkan seluruh masyarakat di sekitar lokasi. | Erista Marito Oktavia Siregar

Ada juga Ismail. Ia adalah aktivis lingkungan yang kemudian menjadi relawan pengajar. Sempat tak terpikir olehnya untuk menjadi relawan pengajar, pendiri rumah baca, atau inspirator untuk anak-anak SD yang tergabung dalam Kelas Inspirasi Medan. Namun sekarang, ia benar-benar sudah membenamkan diri di dalamnya.

Sebagai aktivis lingkungan, ia prihatin dengan hutan bakau yang semakin berkurang di Desa Percut Kecamatan Sei Tuan. Ia ingin buat masyarakat peduli lingkungan. Akhirnya terpikir olehnya sebuah ide untuk menanamkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan melalui pendidikan.

Sampai Juli 2012 lalu, barulah gagasan itu terwujud lewat rumah baca di Desa Percut, yang kemudian diberi nama Rumah Baca Bakau (RBB). Tiga bulan ia merancang ide. Dibantu pemuda setempat, akhirnya ia menemukan rumah yang bisa dijadikan tempat baca dan menyimpan buku.

Dalam hal ini, anak-anak adalah sasaran utama. Mengapa? Baginya, anak-anak bisa menyadarkan orang tua mereka agar peduli terhadap lingkungan. Terlebih lagi mudah untuk menanamkan kepedulian lingkungan apabila diajarkan sejak usia dini.

Niat tulusnya itu tak diimbangi dukungan masyarakat. Pasalnya tak banyak pengunjung RBB saat awal terbentuk. Ia bersama relawan RBB mencari solusi. Persuasi adalah cara terbaik. Jadilah lima puluh sampai enam puluh anak per hari datang, setelah sebelumnya hanya sepuluh sampai dua puluh saja.

Tak puas sampai di situ, ia memaksimalkan pembekalan para relawan. Akhirnya, para relawan RBB dilatih oleh seorang berkewarganegaraan Singapura. Ia secara sporadis datang satu sampai dua kali sebulan untuk beri pembekalan.

“Dia relawan juga, datang sendiri tanpa digaji,” ujar Ismail. Sejak itu, RBB banyak mengadopsi program pendidikan di Singapura, yang tidak kaku seperti pendidikan di Indonesia.

Relawan pengajar di RBB berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, buruh, nelayan dan profesi lainnya. Tanpa imbalan. Mereka punya alasan sederhana. Ingin membantu memberi pendidikan pada masyarakat.

Sebagai Direktur RBB, Ismail juga membuat program agar anak-anak tetap bisa bersekolah, serta mengajari anak-anak membaca sebelum akan masuk sekolah. Mengadvokasi orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka juga merupakan bentuk nyata programnya.

Ada hal yang cukup mengejukan dan juga patut diapresiasi dari RBB gagasan Ismail ini. Pasalnya selama ini dirinya menggunakan dana pribadi untuk membangun rumah baca, yang kemudian setelah berjalan cukup lama baru diikuti para donator yang ingin membantu.

Rumah Baca Bakau
Suasana sore hari di Rumah Baca Bakau, Desa Percut, Deli Serdang, saat anak-anak belajar bersama dibimbing oleh relawan. Rumah Baca Bakau adalah kegiatan sosial yang bergerak di bidang lingkungan dan pendidikan. | Ananda Fakhreza Lubis

Meski perhatian pemerintah belum besar untuk ini, tapi melihat anak-anak pesisir Percut yang mulai perhatian dengan pendidikannya menjadi kesenangan bagi Ismail yang takkan dapat dibeli dengan rupiah.

Mengenai peran pemerintah dalam rumah bacanya, Ismail mengaku memang belum ada pendekatan khusus ke pemerintah. Selama ini pihaknya sudah cukup untuk menjaga keberlangsungan rumah baca.

Tak puas dengan RBB. Ismail memutuskan bergabung dengan Kelas Inspirasi Indonesia sebagai inspirator untuk menyalurkan kegemarannya menjadi relawan. Menurutnya, begitu banyak anak-anak yang tak berani bercita-cita. Karenanya, ia bermaksud menjadi inspirator.

“Kalau disebut revolusi mental, inilah baru revolusi mental, kalau kita bisa mengubah pikiran-pikiran pesimis itu,” tandas Ismail.

Macam lagi cerita dari Dewi Budiati Teruna Jasa Said, Koordinator Medan Berhias Kota Medan yang juga penggagas Relawan Peduli Lingkungan (RPL) Kota Medan. Sejak awal, Dewi lebih dikenal sebagai aktivis kemanusiaan. Namun, saat ini ia dikenal sebagai relawan lingkungan.

Nama Dewi tidak lagi asing bagi masyarakat Kota Medan. Ketik saja namanya di mesin pencari, berbagai portal berita tentangnya langsung muncul.

Bermula pada tujuh belas tahun lalu. Kala itu, Dewi hamil tua. Ia hanya duduk, tak bisa berdiri. Matanya mengamati sampah dan botol-botol bekas di depannya. Terpikir olehnya untuk membuat kerajinan tangan dari barang bekas itu. Dibuatnya pot bunga dari botol bekas. Ia tambahkan cat. Jadilah sebuah pot bunga yang menarik dan bernilai jual.

Hal tersebut terus berlanjut, ia semakin sering mengolah sampah menjadi benda layak pakai. Ia buat tempat telepon genggam dan mainan kunci. Ia juga buat patung dari tanah liat. Karyanya ia pajang di rumah. Banyak yang tertarik. Ia sadar, karyanya bernilai jual. Ia semakin menikmati kegiatannya. Ia ingin menyalurkan ilmunya ke banyak orang.

“Saya sering disebut ratu sampah,” katanya sambil tertawa.

Kecintaannya terhadap lingkungan sudah sangat lama. Menanam pohon dan bunga adalah hobinya. Ia menggagas suatu kegiatan untuk memberdayakan orang banyak agar cinta lingkungan. Sasarannya adalah kaum perempuan dan anak muda. Mereka diajarkan untuk menanam bunga, pohon dan membuat pupuk kompos. Satu waktu, Dewi membentuk Asosiasi Perempuan Peduli Lingkungan (APPEL).

Menyadari ia tidak bisa sendiri, ia mendekatkan diri pada pemerintah. Mengenalkan gagasan adalah modal awalnya. Program 3R (Reuse, Reduce, Recycle) yang mengawali Dewi untuk mempunyai akses terhadap pemerintah.

“Kalau kita bergerak tanpa pemerintah pasti terlalu lama,” ujar Dewi.

Tak hanya di situ, salah satu gagasan Dewi adalah Medan Berhias. Gagasan yang ia tawarkan menarik perhatian pemerintah dan menjadi salah satu program pemerintah. Masih ada juga Gerakan Pemuda Peduli Lingkungan yang digagasnya untuk pemuda.

Di awal, ditolak sering ia alami. Ia korbankan materi pribadi merancang kegiatan. Sisanya ia minta sumbangan dari teman. Begitulah berulang-ulang hingga komunitasnya semakin besar. Saat ini, Dewi memiliki lebih empat ribu relawan, tiap organisasi berbasis lingkungan. Ia juga membantu menggagas Bank Sampah di Fakultas Kesehatan Masyarakat USU. Ia bilang mahasiswa juga dapat menjadi relawan lingkungan.

“Kalau sudah diniatin, apa sih yang enggak bisa,” ungkap Dewi.

Terkait perhatian pemerintah terhadap aktivitas para relawan, Rizky mengatakan pihaknya cukup mendapat dukungan dari pemerintah. Misal dengan memberi perizinan untuk sekolah yang akan didatangi. Belum ada pendekatan yang khusus dari Rizky terhadap pemerintah. Menurutnya, yang sekarang dilakukan sudah cukup dan tak ada kendala berarti.

M Tengku Dzulmi Eldin, Walikota Medan mengatakan mendukung penuh kegiatan masyarakat selama itu bermanfaat bagi orang banyak. Pemerintahan Kota Medan akan selalu mendukung kegiatan untuk kepentingan masyarakat. Hal yang familiar baginya mengenai relawan adalah medan berhias dan relawan peduli lingkungan. Ia mengatakan Medan Berhias yang sudah dirancang sejak tahun lalu menjadi jargonnya Medan. Rancangan medan berhias berasal dari masyarakat. Dirasa itu ide yang baik, jadilah jargonnya kota Medan saat ini. Ia ingin seluruh masyarakat sadar atas pentingnya memelihara lingkungan. “Kalau kegiatannya baik, pasti akan didukung,” pungkasnya.

Koordinator Liputan      : Erista Marito Oktavia Siregar

Reporter                               : Amanda Hidayat, Tantry Ika Adriati, Yulien Lovenny Ester G, dan Erista Marito Oktavia Siregar

Laporan ini pernah dimuat dalam Tabloid SUARA USU Edisi 101 yang terbit Maret 2015.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).