BOPM Wacana

Memoar Merindu Mei

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Ika Putri AS

Ilustrasi: Ika Putri A Saragih
Ilustrasi: Ika Putri A Saragih

foto ika 16Dewi Maia adalah anak tertua di antara ketujuh putri Atlas dan Pleione. Maia melahirkan Hermes yang atletik. Anak yang dilahirkannya ini berjasa menyampaikan pesan dari para Dewa Olimpus ke umat manusia. Maia yang baik hati lantas mengadopsi Arkas untuk melindunginya dari mantra jahat Hera. Bulan Mei didasarkan atas namanya.

Mei telah berlalu. Namun jejaknya masih lekat di kampus, fakultas, ruang kelas, rumah, dan rumah sakit. Hawa cerianya masih meliputi seluruh manusia yang disapanya. Guyonannya masih riuh terdengar di benak karibnya. Semangatnya masih terbakar di sudut-sudut waktu dan tempat yang pernah ia jamahi. Ungkapan atas betapa cepat Mei pergi masih wara-wiri di linimasa. Dan kami berlima masih terkatung-katung dalam batas antara bayan dan niskala. Hal ini membuktikan bahwa jelas Mei belum berlalu.

Mei membawa musim semi buat bumi bagian utara dan musim gugur untuk bumi belahan selatan. Saat Mei tiba bumi utara ia disambut bebungaan mekar yang akan menyambung kehidupannya setelah berhibernasi di bawah kendali salju. Sedang di Utara ia disambut dengan tumbuhan yang siap ditunai. Pepohonan deciduous melepas daun-daun mereka sehingga jalanan dengan pohon didominasi warna merah dan kuning.

Mei, saat dia pertama kali datang aku tidak melihatnya berbeda dari Januari, Februari, Maret, April, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, dan Desember. Bukan karena Mei tidak menarik. Ini lebih kepada aku sebagai seorang perasa memang punya tabiat menganggap semua hal istimewa. Maka buatku Mei adalah salah satu di antara miliaran keistimewaan yang hadir di bawah cakrawala biru.

Mei berbakat sekali dalam membuat sketsa. Sketsa yang ia buat kebanyakan mencerminkan sisi kefeminimannya. Dengan penggunaan warna-warna lembut seperti padanan tumbuhan di musim semi. Salah satu karya terbaiknya adalah Marutaro. Gambar anjing berbulu cokelat ini mendapat tujuh ratus ‘suka’ dan sempat masuk halaman populer di jagat Instagram.

Bakat Mei yang lain adalah melontarkan guyonan. Ia sering kali membuat orang yang ada di sekelilingnya tertawa. Sumber lawakannya berasal dari mana saja. Dan Mei tipe pelawak pintar yang tidak menggunakan kekurangan orang lain untuk menghibur orang lain.

Mei, aku rindu.

Aku rindu sekali bisikan lawakanmu di sela-sela dosen mengajar.

Mei juga berbakat menjadi kawan bagi beragam kalangan. Kami beristilah ia banyak ‘singgah’ jika melewati kerumunan manusia yang kami kenal. Ia tak akan sungkan meluangkan waktunya barang semenit dua menit buat bertukar kabar dengan mereka. Maka ia menjadi tempat yang nyaman bagi semua.

Mei, perawan yang cantik. Ia punya bentuk alis kekinian yang bagus. Mata yang tajam apalagi jika ia tak gunakan kacamatanya. Hidung yang lebih panjang dan mancung dari punyaku. Lekuk bibirnya tipis nan panjang. Dagunya lancip. Begitulah aku memandangnya. Makanya kadang aku heran ia ribut-ribut soal ketidapercayaan dirinya. Maka demi penampilan dan kesehatan juga ia menjalankan diet selama beberapa bulan terakhir.

Mei sering jadi pion yang berdiri di garda terdepan. Baik dalam organisasi maupun kesehariannya. Ia mendukung langkah Raja untuk mendapat tujuannya. Bahkan ia sempat bertransformasi menjadi Raja memimpin pion-pion lain membangun kerajaan mereka. Sayang sebelum namanya diukir di dinding-dinding istana, ia harus beristirahat.

Mei. Kami juluki ia Bunda. Entah dari mana muasal dan kapan julukan ini tersemat padanya. Seingatku itu karena perawakan dan pembawannya yang cukup dewasa. Maka ia jadi ratu dalam keluarga kecil kami, Cemara. Kami yang terdiri dari empat anak dengan ayah kami juga ada empat. Siapa ayah kami bergantung pada keinginan kami dan atas kesepakatan dengan Bunda.

Mei terakhir, aku mengingat ia dengan mahkota di kepala dan timpang dengan baju rumahan abu-abu yang dipakainya. Namun senyumnya mencerminkan kebahagiaan. Ia sampirkan Boneka Nemo di tangan kiri sebagai simbol kekuatannya.

Mei sebenarnya aku bermaksud membawakan Krisan kesukaanmu. Tapi aku takut terhadap makna bunganya yang banyak dianut masyarakat Eropa. Padahal kalau aku telusuri lebih jauh harusnya bisa kubawakan Krisan Ungu buatmu Mei. Atau warna perak cocok juga kuberi padamu. Mestinya kau bisa membaui harumnya di masa-masa terakhir waktumu.

Ah Mei, pikiran gilaku selalu bertanya tentang banyak hal. Termasuk bagaimana perasaan seseorang yang ditinggal oleh teman dekatnya ke tempat yang jauh. Ternyata pahit. Maafkan aku, Mei, tapi sungguh aku tidak berpikir itu akan terjadi padamu.

Mei sebenarnya sulit sekali menulis memoar tentangmu. Aku bukan perawi yang andal dan tiap kucoba merangkai kalimat tentangmu ada perasaan kehilangan yang amat mendalam. Akhirnya, kebanyakan memori kita tak tersampaikan di 5.078 karakter tulisan ini.

Maka semata-mata ini karena, aku rindu.

Rindu kau ada di hari-hariku lagi.

Mei-ku adalah preseden tentang sebuah perbahasaan “Orang baik pergi menemui Tuhan lebih cepat”. Kiranya begitu Mei, maka berbahagialah kau di sana. Di sini mudah-mudahan selalu ada orang yang akan selalu memanjatkan doa atas kebahagiaanmu.

Kota Melayu Deli,

Mei 1996 – Oktober 2016

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).