BOPM Wacana

Kesesatan Berpikir Orang yang Melabeli Dirinya ‘Open Minded’

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

 

Oleh: Nadiah Azri Br Simbolon

Memang sesuatu yang berlebihan tidaklah bagus. Sama hal nya dengan fenomena open minded yang terlalu sering menjadi perdebatan sehingga mengakibatkan pergeseran makna sebenarnya. Kini, open minded malah menjadi tameng bagi orang-orang egois.

“Kalo diperhatiin, orang-orang yang melabeli dirinya sebagai orang yang open minded itu justru biasanya orang yang paling kenceng menyerang orang lain yang punya pemikiran berbeda dengannya.” Ini merupakan salah satu cuitan pengguna twitter yang diunggah pada 9 Oktober dan telah di retweet 147 kali.

Cuitan tersebut salah satu dari sekian banyaknya kesalahan persepsi mengenai open minded. Bukan tanpa sebab, melihat fenomena yang sering terjadi di jagat maya saat para pengguna media sosial beradu pendapat. Banyak dari mereka yang melabeli dirinya sebagai orang yang open minded menyudutkan lawan bicaranya dengan embel-embel close minded untuk memperlihatkan bahwa lawan bicaranya adalah orang yang kolot dan egois. Sehingga makna open minded banyak mengalami peyorasi dari aslinya.

Pergeseran Makna Open Minded

Awalnya open minded sendiri diartikan sebagai seseorang yang memiliki pemikiran terbuka. Sedehananya orang yang open minded akan meredam egonya untuk mendengar pendapat dari orang lain dan menyaring informasi yang diterima guna mendapatkan keputusan yang terbaik. Dimana dia bisa melihat sesuatu dari berbagai perspektif.

Di dalam jurnal The Role of Actively Open-Minded Thinking in Information Acquisition, Accuracy, and Calibration yang ditulis Haran, Ritov, dan Mellers (2013) menyatakan bahwa seseorang dengan open minded akan lebih cermat dalam memproses informasi dan lebih berhasil dalam memperoleh pemecahan yang tepat. Individu dengan open minded juga akan lebih mampu mengesampingkan keyakinan pribadi sehingga bisa menghasilkan evaluasi yang lebih akurat.

Namun kini, open minded dimaknai sebagian besar pengguna media sosial sebagai golongan orang-orang yang sering mengolok-olok agama, merendahkan budaya-budaya nenek moyang yang tidak rasional, maupun suka melanggar batasan nilai dan norma. Peyorasi ini diakibatkan dari narasi yang dicuitkan para pelaku yang sok menganggap dirinya open minded, sehingga makna open minded itu akhirnya dianggap buruk.

Mereka yang merasa pemikirannya terbuka menganggap dirinya mudah menerima pandangan baru namun malah mengusik pilihan hidup orang lain dan meremehkan pemikiran orang yang tak terbiasa dengan pandangan baru atau yang disebut close minded.

Berbicara tentang close minded, sebenarnya hal tersebut merupakan bagian dari sifat alamiah manusia. Dimana tidak ada satu pun manusia yang ingin mendengar bahwa ia membuat kesalahan.

Hal ini terjadi karena bias yang diciptakan dari pemikirannya. Bias ini digunakan seseorang untuk mengambil keputusan yang ‘nggak mau ribet’. Sebab otak yang dimilikinya berupaya mengurangi aktivitas berpikir karena banyak menguras tenaga, energi, dan waktu. Ia terlalu malas menggunakan otaknya, alhasil otakpun menciptakan bias yang memudahkan penyelesaian masalah (tentunya dengan masalah).

Bias inilah yang digunakan untuk mempertahankan argumentasi, memojokkan rekan berpikir, cenderung memaksakan pandangan, dan menganggap hanya dirinya yang benar serta menolak fakta dan data yang ada.

Kembali ke topik open minded mengalami pergeseran makna, orang-orang yang menggolongkan dirinya open minded sering menggunakan istilah tersebut sebagai tameng untuk menyudutkan lawan. Dimana menurut saya itu termasuk bentuk dari kesesatan berpikir.

Istilah Ad Hominem merupakan sesat pikir dimana saat seseorang yang merasa terdesak maka ia akan bertindak menyerang pribadi lawan berpikirnya. Saat argumentasinya lemah dan terdesak, ungkapan seperti ‘makanya jangan close minded’ menjadi senjata andalan bagi orang seperti ini.

Tujuannya biar lawan bicara terbuka pikirannya untuk pandangan baru. Namun jika berbalik menggunakan istilah atau ungkapan yang memojokkan lawan bicaranya bisakah kita melihatnya sebagai orang yang open mind?

Backfire Effect: Ujian untuk Menjadi Open Minded

Nah sebenarnya saat perang pendapat terjadi, orang yang berusaha untuk menjadi open minded bisa saja menjadi sebaliknya. Hal ini diakibatkan backfire effect. Berdasarkan A Dictionary of Thought Distortions (2014) yang disusun Morten Tolboll, backfire effect ini merupakan respon ganjil ketika menemukan fakta yang bertentangan dengan keyakinan. Sebab biasanya setiap orang akan cenderung berusaha mempertahankan pendapatnya.

Dilansir dari tirto.id, Profesor Dartmouth College Brenden Nyhan dan Profesor University of Exeter Jason Reifler menyatakan bahwa kontradiksi fakta dapat membuat keyakinan ideologis seseorang menjadi lebih kuat. Sangkalan malah meningkatkan mispersepsi antar kelompok, karena itu mengancam pandangan filosofis mereka.

Nah, sederhananya saat perang pendapat terjadi, orang yang awalnya ingin open minded pada pandangan dari lawan bicara malah lebih menjadi yakin terhadap pendapatnya. Kedua pihak cenderung defensif pada pendapatnya masing-masing. Hingga tak jarang mengaburkan logika dan emosi pun memuncak.

Pemikiran yang berbaur dengan emosi negatif cenderung menghasilkan perasaan yang tak mau mengalah hingga berakhir kepada debat kusir yang tak berujung. Mengedepankan logika saat sedang beradu argumen tentu bukanlah hal yang mudah. Oleh karenanya, menurut saya backfire effect ini merupakan rintangan yang cukup sulit dilewati bagi orang yang ingin open minded.

Jadi, berbicara open minded bukan hanya persoalan bisa menerima hal baru saja, tapi mau mempelajari dan memahami lebih dalam permasalahan dari berbagai perspektif. Setiap manusia diilhami pola pikir dan pandangan yang berbeda-beda akan suatu hal. Maka bersikaplah bijak dengan menghargai pendapat yang tak sesuai ekspektasimu.

Kemudian perkaya perspektifmu dengan memperluas jaringan pertemananmu. Semakin banyak kamu kenal dengan orang-orang yang berlatar belakang berbeda, semakin banyak kamu diskusi bersama mereka, dan semakin banyak kamu mencoba hal baru maka akan mempengaruhi tingkat toleransimu. Kamu akan terbiasa dengan keunikan yang dimiliki setiap manusia dan tidak langsung skeptis dengan suatu hal yang baru.

Terakhir, kamu juga harus bisa mengontrol emosi negatif saat beradu pandangan. Gunakan logika. Memang menerima hal yang baru tentu bukanlah hal yang mudah. Terlebih bila itu bertentangan dengan pandanganmu. Oleh karenanya, bila terjadi pergolakan di dadamu, hendaknya berikan dirimu waktu untuk menganalisisnya hingga akhirnya kamu bisa lapang dada menerima hal baru tersebut.

Proses menjadi orang yang open minded memang sulit, tapi bukan berarti kita tak bisa melakukannya, bukan? Untuk itu, lakukanlah prosesnya dengan kesabaran yang penuh dan komitmen yang teguh.

Komentar Facebook Anda

Nadiah Azri Br Simbolon

Penulis adalah Mahasiswa Manajemen FEB USU Stambuk 2017.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4