BOPM Wacana

Kematian di Pantai

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Apriani Novitasari

Ilustrasi: Yulien Lovenny Ester G
Ilustrasi: Yulien Lovenny Ester G

AprianiCuaca pagi ini cukup cerah. Semilir angin pantai meniup rambut panjangku. Pasirnya yang halus menggelitik telapak kakiku. Aku perhatikan Linka melirik Mira. Mira juga sedang merangkul pundak sahabat karibnya itu. Mata Mira menyiratkan kesedihan yang mendalam.

Hah, Linka menghela napas berat untuk kesekiaan kalinya. Lagi, air asin itu meluncur melewati mata indahnya. Mata Linka sudah bengkak karena terlalu banyak menangis. Ia benar-benar lelah.

Suasana di sekitar pantai hari ini sangat ramai, berbeda jauh dari biasanya. Beberapa polisi bolak-balik di depan, banyak warga berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.

Linka menatap sosok yang telah dibalut plastik, tak menyangka kakak tercintanya ditemukan tak bernyawa pagi ini oleh nelayan sekitar, tersangkut pada jala.

“Maaf mengganggu Anda sebentar, saudari Linka, saya hanya ingin meminta beberapa keterangan,” ujar pria tegap berseragam polisi di depanku.

Aku menggangguk lemah, sebelum aku mulai berbicara, Mira angkat suara, “Maaf pak polisi, sahabat saya ini masih syok, biarkan dia tenang dulu.”

Polisi itu melirik Linka, kemudian menggangguk dan pergi. Tangan Mira membingkai wajah manis Linka, mengusap air matanya yang siap turun bila Mira tak mencegahnya. Mira memeluk erat Linka sambil sedikit terisak.

“Kau tahu, sampai sekarang aku tak percaya Lisa bunuh diri. Dia bukan orang bodoh yang merelakan hidupnya jadi sia-sia,” kata Linka.

Linka melepas pelukan Mira, meminta Mira menatap mata penuh kepedihan itu. “Aku juga berharap seperti ini. Lisa adalah oksigenku, bagaimana aku bisa hidup tanpanya,” jeritan lara Linka mengema di pantai. Semua orang melihatnya, menjadi saksi hati Linka yang telah remuk dan hancur. Ia terduduk di tepi pantai tak jauh dari mayat kakaknya. Linka menatap mayat itu dengan air mata menggucur deras.

***

“Jadi, Anda sedang berada di mana tadi malam?” tanya polisi di depan Linka dengan lembut, tak tega melihat keadaan Linka yang tampak sangat depresi.

“Saya ada di rumah Mira, kebetulan orang tuanya sedang keluar kota, dia meminta saya menemaninya. Tadi malam sebelum saya tidur kami sempat berhubungan via telepon, dia bilang akan pergi jauh, enggak balik lagi, kemudian dia mematikan teleponnya sepihak,” jelas Linka.

Polisi tersebut menggangguk, kemudian kembali bertanya, “Apakah sebelumnya Anda sempat bertengkar dengan beliau?”

Linka menggangguk, “Tidak ada, pak, hubungan kami baik-baik saja, hanya saja ia mengaku cukup tertekan perihal pekerjaannya di kantor, lagipula sebulan lagi ia akan menikah,” ujar Linka.

“Tadi malam dia menghubungi saya, tapi handphone saya mati, jadi saya tidak tahu. Seandainya saya tahu akan terjadi hal ini, saya pasti akan langsung menemuinya dan mencegahnya bunuh diri,” ujar Linka sambil menangis keras.

“Anda tak perlu seperti itu, mungkin ini memang jalan yang telah dipilihnya. Tapi kami masih akan terus mencari bukti-bukti ini kasus bunuh diri atau pembunuhan, motifnya belum jelas.” Kemudian polisi itu meminta izin untuk pergi.

Melihat Linka bagai manusia tanpa nyawa, Mira segera mendekati sahabatnya itu, menuntunnya masuk ke dalam mobil. Mira menghela napas panjang, benar-benar tak tega melihat kondisi sahabatnya.

“Waktu kematiannya tepat saat dia menghubungimu?” tanya Mira. Linka menggangguk, kemudian matanya melirik jam, dompet, kotak cincin, dan sebuah kertas origami berwarna biru. Barang-barang yang ditinggalkan Lisa di tepi pantai sesaat sebelum  meninggal. Dengan tangan bergetar Linka membuka origami itu untuk kesekian kalinya.

Aku Menyayangimu.

Hanya dua kata memang, tapi sanggup membuat hati Linka tersayat-sayat. Linka membuka kotak cincin itu, didalamnya ada sebuah cincin emas yang diberikan Adrian, pacar Lisa sebulan yang lalu saat Adrian melamarnya. Linka tersenyum miris sambil mengusap cincin tersebut.

“Kau tahu, ini bagaikan mimpi buruk bagiku. Padahal, semuanya persiapan pernikahan sudah matang. Sekarang apa yang harus aku katakan pada Adrian,” Linka menutup wajah dengan kedua tangannya, terisak.

Mira membelai rambut lusuh Linka, tak tahu harus berkata apa.Ia tahu jelas sahabatnya ini sangat menyayangi kakak sulungnya itu.

“Tadi malam kita sama-sama tertidur, Linka, handphone-mu ada di atas tempat tidur, namun dalam keadaan mati, kita tak tahu ini akan terjadi. Biarkan polisi yang mengatasi masalah ini. Aku akan bantu jelaskan ini pada Adrian. Tapi, sebelum itu tegarkan hatimu Linka, ini semua bukan kesalahanmu,”ujarnya.

Linka mengangkat wajahnya, atmosfer di mobil membuat napasnya sesak. Ia keluar dari mobil, Mira mengikutinya.

“Aku sangat menyayanginya, Mira.  Adrian juga. Mereka saling mencintai, bukan?” ujar Linka pelan, nyaris tak terdengar. Mira menggangguk dan memeluk Linka lagi.

“Ya, saling mencintai,” ujar Mira lirih. Ia menatap laut. Mira mencintai Lisa, sangat. Tapi tak terbalas.

Lisa tahu perasaan Mira sejak awal, jauh sebelum Lisa berhubungan dengan Adrian. Tapi Lisa tak peduli dan menolak Mira dengan alasan “aku normal”. Mira mencoba bertahan sampai Minggu lalu Lisa datang ke rumahnya dengan undangan pernikahannya, membuat hatinya beku. Tentu Mira tak kan sanggup melihat Lisa dimiliki orang lain selain dirinya. “Lebih baik mati daripada jadi milik orang lain,” batinnya

“Terima kasih, Mira, aku tak tahu bagaimana keadaanku kalau kau tak ada,” perkataan Linka membuyarkan lamunan Mira. Menusuknya secara berlahan.

Mira tersenyum dan menggangguk. ”Itulah gunanya sahabat, kau tak akan sendiri menghadapinya, aku selalu ada untukmu.”

‘Maaf Linka, aku telah membuat kakak tersayangmu tidur untuk selamanya, tapi itu salahnya, bukan aku,”’batin Mira.

Linka dan Mira masuk ke dalam mobil. Mira terdiam sesaat. Mengingat kejadian tadi malam. Ia datang ke rumah Linka kemarin sore, membius Lisa, membawanya pulang ke rumah dan membiarkan Lisa tertidur di bagasi mobilnya. Tak lama, Mira menyambut kedatangan Linka dan membiarkannya tidur pulas dengan obat tidur yang ia larutkan dalam secangkir teh.

Ketika Linka tertidur pulas, Mira pergi ke tepi pantai bersama Lisa di bagasi mobilnya, lalu memindahkan lisa di atas perahu karet, mengeluarkan barang-barangnya, memanupulasi bahwa ini adalah bunuh diri. Kemudian Mira merobek perahu tersebut dan berpura-pura menelepon Linka dengan handphone Lisa beberapa kali dengan mengggunakan sarung tangan plastik. Setelahnya, Mira kembali ke rumah, tidur di samping Linka dan berpura-pura tak tahu apa-apa.

“Ini,” kata Mira sambil memberikan sebotol kecil obat tidur, ”Aku yakin kau akan membutuhkannya.” Itu, obat tidur yang sama dengan yang Mira berikan pada Linka tadi malam sebelum tidur.

Linka menerima obat tidur itu. “Kau tahu Mira, Lisa sangat menyukai pantai,” ujarnya sambil memandang laut luas.

Mira mengangguk. ”Sekarang kita cuma bisa berdoa kan, semoga Lisa tenang di sana,” Mira tahu Lisa sangat menyukai pantai, maka dari itu ia berikan pantai pada Lisa, membiarkannya pergi bersama hal yang ia suka. Lihat, betapa Mira sangat mencintai Lisa.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).