BOPM Wacana

Keberangkatan

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: M Januar

Hari ini aku jadi manusia paling menyebalkan dalam hidupmu. Ketika aku meminta mengantarkan ke stasiun kereta api sore. Sesak pertanyaan di hatimu. Mempertanyakan kepergianku yang cepat. Padahal saat ini adalah hari terakhir aku bisa menatap wajahmu langsung. Seharusnya kita manfaatkan waktu yang tersisa dengan makan malam bersama, atau berjalan keliling menikmati cahaya lampu kota.

Apalagi besok adalah harimu. Ulang tahunmu ke-21. Dalam hatimu berkata, “kenapa tidak menunggu besok?” Seharusnya aku berada di sebelahmu untuk jadi orang pertama yang mengucapkan selamat. Mungkin menjadi orang yang mengejutkan ketika mengetuk pintu flatmu di tengah malam sekadar memberikan kecupan kening. Paling tidak aku ada di dekapmu saat berjalan di atas pasir pantai kala senja.

Tapi seperti biasa kamu lebih memilih diam. Kita berjalan menuju stasiun dekat flat. Kamu kenakan sweter pink pemberianku, dengan rambut tetap dikuncir seperti biasanya. Dan aku dengan ransel berjalan di sebelahmu. Tak ada kata terucap dari kita, karena saling mencoba berpikir apa yang terjadi setelah hari ini.

Perjalanan kita terasa hangat. Ditemani sisa jatuh hujan dari dedaunan pohon. Daun-daun yang berguguran. Matahari siang yang menyinar setelah ditutupi awan murung. Langit pun membiru. Awan-awan putih dengan polosnya bergerak ke selatan karena angin April. Dan juga polosnya tanganku menggenggam erat tanganmu.

Merpati berkerumun di taman. Kamu berlari kecil ke dalam kerumunan, aku ikuti dari belakang. Merpati-merpati berterbangan. Kukeluarkan roti dari ransel. Merpati-merpati datang mendekat. Menanti lemparan cubitan-cubitan rotiku. Kamu duduk jongkok, melihat mereka lebih dekat. Kulemparkan potongan-potongan roti ke dalam kerumunan. Merpati-merpati berkerubung.

Kamu tertawa lepas. Aku ulurkan tangan, mengajakmu bangkit. Aku tak punya banyak waktu. Mengejar kereta sore. Kita kembali berjalan menuju stasiun. Kamu berjalan lebih cepat di depanku. Aku ikuti dari belakang, menatap pundakmu.

Aku berusaha menyamai langkah-langkahmu. Sekitar 100 meter di depan ada jembatan penyebrangan. Supaya sampai ke stasiun, dari flatmu harus lalui jembatan penyebrangan. Tepat di bawahnya jalan besar tempat kendaraan berlari-lari. Panjangnya sekitar 30 meter. Ketinggiannya sampai 10 meter.

Jembatan ini punya arti sendiri bagimu. Saat suatu sore menabrakmu dengan kencang. Orang-orang berlarian hiruk menuju jembatan. Terdengar kabar ada lelaki muda seorang mahasiswa berusia 21 tahun terjun lepas ke jalan dari jembatan. Tubuhnya terpental sejauh 20 meter. Setelah disambar mobil dan tubuhnya terlindas tak berbentuk. Ia adalah kakak lelaki kesayanganmu. Yang membuatmu tergucang.

“Menurutmu apa arti dari kehidupan?” katamu. Aku tak menjawabnya.

“Kenapa kita harus hidup, bila diciptakannya kematian? Perbuatan yang sia-sia bukan.” Kamu melanjutkan.

“Kamu percaya reinkarnasi?” katamu kembali. Sambil memandang ke bawah kamu silakan kedua tangan menopang kepalamu.

“Tidak,” kataku. Keheranan mengerut di dahimu.

“Kenapa?” tanyamu.

“Itu lebih sia-sia daripada sebuah kematian,” kataku.

“Menurutmu, kenapa ia memilih tempat ini?” Tanyamu.

“Aku tak tahu. Tapi ketinggian adalah tempat yang jelas untuk melihat kepergian,” kataku.

***

Stasiun itu sudah tua. Semua berjalan lambat di sini. Dari bapak penjual tiket, petugas kebersihan, penjaga toko serba ada, penjual surat kabar, putaran kipas angin, sampai dinding stasiun yang terkelupas. Tidak ada yang jadi pusat perhatian. Semua terasa sama dan penuh cerita bisu.

Ruang bisu menari-menari dalam imaji kita. Membisukan kata-kata tapi tidak buta. Memaksa kita untuk sama-sama dikalahkan kondisi. Membuat aku ingin lebih dekat dalam dekap di pangkuanmu dalam seribu malam penuh kegilaan nikmat racun anggur merah. Hingga aku tak lagi mejadi aku dan kamu bukan lagi kamu. Sampai kita tak sanggup mengungkapkan rangkaian aksara dalam ucap.

“Tadi malam aku bermimpi aneh. Tapi semua terlihat detail. Sampai-sampai aku tahu dengan pasti tiap detiknya. Kamu muncul dalam tidurku dengan gaun serba hitam masuk ke dalam kamarku. Lalu tidur di sampingku yang sedang lelap. Jarimu bermain dengan helai rambutku, lalu berjalan ke wajah. Kemudian berjalan ke mata hingga turun ke bibirku. Saat aku buka mata, kamu hilang. Ini sudah malam yang ketujuh aku mimpi yang sama,” kataku.

“Kira-kira apa arti mimpimu itu?” Jawabmu.

“Aku pun tak tahu. Tapi semuanya sangat nyata. Sejelas debu-debu saat kita membuka jendela di pagi hari,” kataku.

“Mimpi memang selalu seperti itu,” katamu. Aku sependapat denganmu. “Menurutmu, kemana orang-orang ini akan pergi? Lalu dari mana mereka yang datang?” tanyamu saat menyaksikan orang-orang yang bersiap menaiki dan baru saja turun dari kereta.

“Itu bukanlah hal yang penting, tapi apa saja yang sudah dan akan mereka lakukan dari sini.” Stasiun merupakan tempat yang paling unik. Ia sebuah metafora.

Keretaku telah tiba. Petugas kereta menyegerakan para penumpang untuk naik. Aku telah bersiap.

“Setelah tiba akan aku kirim pesan kepadamu,” kataku.

“Ya, terima kasih. Aku sangat senang hari ini. Maaf, aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini.”

“Maaf? Aku yang seharusnya meminta maaf. Yang tak bisa ada di sebelahmu saat usia ke-21,” kataku. Aku memberikan sebuah pelukan.

Kereta bergerak ke Barat. Menuju jingga matahari sore. Semakin lama bergerak jauh sampai tak lagi terlihat.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).