BOPM Wacana

Jagat Maya

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Alfat Putra Ibrahim

Ilustrasi: Alfat Putra Ibrahim
Ilustrasi: Alfat Putra Ibrahim

 

foto alfatJagat Maya, arwah nenek moyangku yang bersemayam dalam sebuah tengkorak makhluk purba sejenis manusia. Bertaring layaknya binatang buas. Postur tengkoraknya persegi dengan rahang lebar. Ditambah balutan rambut lebat memanjang, tersemat dalam pori-pori tengkoraknya. Wujudnya sempurna dalam kompleksitas magis.

Tak ada yang tahu sejak kapan dan bagaimana Jagat Maya ada. Dalam pemahaman para leluhurku, ia ada karena dunia ada. Ia hidup menjadi penuntun bagi bangsaku menuju kemurnian. Jagat Maya menjadi wujud nyata karunia sang pencipta. Ia punya keistimewaan terbesar yang tak dimiliki makhluk mana pun kecuali Tuhan, yaitu kuasa untuk menentukan takdir bangsaku.

Namaku Mahesa, turunan ke-37 dalam silsilah keluarga bangsa Pengawal Roh. Aku anak kesepuluh dari sebelas bersaudara. Kami dibesarkan oleh seorang ibu tanpa sedikit pun kasih sayang seorang ayah. Tak ada yang tahu siapa, di mana, dan bagaimana rupa ayah kami.

Nama ibuku Larasati. Usianya tujuh puluh tahun dan tak pernah tahu sosok suaminya. Entah karena lupa atau sengaja melupakan. Selain membesarkan anak-anaknya seorang diri, Ibu ditunjuk sebagai Jagat Suci; generasi terpilih yang bertugas menjaga Jagat Maya selama sisa hidupnya.

Di sisi lain, Ibu juga pribadi yang sangat taat pada adat istiadat. Sangat menjunjung tinggi kedudukannya sebagai seorang Jagat Suci, menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati dan jiwa. Ia rela menyerahkan sisa umurnya untuk merawat mahkluk yang sering kusebut aneh.

Menjadi seorang Jagat Suci merupakan suatu kebanggaan terbesar dalam bangsa kami, karena dengan menjadi Jagat Suci tentunya akan senantiasa dekat dengan Jagat Maya selaku wujud paling mulia. Ia bisa berinteraksi dengan roh tertentu. Bila mati, rohnya dipercaya akan dijamin oleh Jagat Maya mendapatkan singgasana terindah di nirwana kelak.

Dalam kehidupan sosialnya pun Jagat Suci akan dimuliakan kedudukannya dalam bangsa kami. Menempati kedudukan tertinggi setingkat di bawah Raja Agung yang merupakan pemimpin bangsa Pengawal Roh. Namun Raja Agung tak punya jaminan mencapai nirwana dan hanya bisa turut serta menjadi pengawal Jagat Suci dalam mengemban tugasnya.

Dengan semua keistimewaan dan kemegahan yang ada, aku sama sekali tak tertarik menjadi Jagat Suci, Raja Agung, atau apa pun namanya. Aku hanya ingin hidup seperti orang normal dengan harta yang banyak dan bahagia.

Lagi pula dalam dunia yang serba modern ini aku rasa tak ada hal aneh seperti roh atau semacamnya. Aku hanya percaya dengan yang kulihat dan rasakan.

Seorang Jagat Suci hanya perlu menyisihkan seperdelapan waktunya dalam sehari untuk Jagat Maya dengan selalu menyucikannya mulai dari ujung-ujung rambut hingga ke ujung gigi-gigi taringnya.

Teriring mantra kemurnian berbunyi; “Kekal kuasamu, indah rohmu. Selalu terpuji dirimu, keindahan wujudmu akan selalu suci, selalu abadi, selalu…” kurang lebih seperti itu yang kudengar. Sebenarnya mantra ini biasa dihafal oleh para bangsa Pengawal Roh dan sudah diajarkan sejak dini.

Selanjutnya dalam melakukannya juga harus dalam keadaan hening, penuh kekhusyukan, dan keintiman. Sehingga Ibu sering melakukannya pada penghujung malam.

Akulah orang yang paling tidak setuju dengan segala cerita tentang roh-roh dari para pendahuluku. Dalam keluarga aku pula yang paling menolak kehadiran Jagat Maya di rumah kami. Sejak kecil hingga remaja aku sangat suka menjahili ibuku kala ia menjamu mahkluk aneh itu.

Suatu ketika aku mengganggu ritualnya. Melemparinya dengan sebongkah batu yang kudapat dari halaman rumah hingga Jagat Maya jatuh dari pangkuan Ibu. Seketika ia terbakar amarah lalu mencekik hingga mendorong tubuhku ke dinding. Ibu sangat bengis, hampir saja ia menjangkau pisau yang terletak di ujung meja untuk menikamku.

Lalu ia kembali tersadar, tubuhnya melemas. Ibu mendekatkan wajahnya ke telinga kananku, dan berkata, “kau masih diampuni Jagad Maya anakku, pujalah ia.” Cengkraman tangan Ibu yang mencekik leherku pun mulai merenggang. Ia melepaskanku dan kembali memungut sosok Jagat Maya dari lantai dan melanjutkan keintiman antara mereka.

Aku masih tercengang dengan kejadian yang kualami, pasalnya semua orang tahu Ibu adalah sosok yang lemah lembut bahkan sekali pun ia tak pernah kasar pada kesebelas anaknya.

Prosesi penyucian berakhir. Ibu mendekapku dan berkata, “Maafkan Ibu ya sayang, Ibu tidak bisa mengendalikan diri sendiri.” Ia mengecup pipiku dan menuntunku ke kamar untuk tidur.

Ibuku yang asli telah kembali, namun kejadian tadi masih menghantuiku hingga kini. Sejak saat itu aku tak berani dan tak acuh lagi terhadap apa yang Ibu lakukan dengan Jagat Maya.

Ibu mendidikku dengan cukup baik. Hanya saja aku yang tak tahu diri. Aku sudah nakal sejak kecil, pendidikan tentang bagaimana menjadi seorang bangsa Pengawal Roh tak pernah kupedulikan.

Sekarang usiaku telah menjelang tiga puluh tahun, sangat matang untuk menikah dan membangun keluarga. Namun kondisi ekonomi serta latar belakang hidupku yang sangat buruk menjadikan istri, harta, dan anak mustahil bagiku.

Aku hidup sebagai orang dewasa yang gagal. Tapi aku bukan sosok seperti itu, aku bukanlah sosok pemurung yang tak berdaya. Aku menjalankan hidupku selayaknya orang normal, bekerja, dan menghabiskan uang untuk kebutuhanku; mabuk, menghisap candu, dan main perempuan.

Sampai pada akhirnya Ibu menderita sakit keras, ia harus dirawat di rumah sakit selama berbulan-bulan. Aku dan beberapa saudaraku ikut menjaga Ibu. Inilah saatnya membalas budinya, pikirku.

Tak lupa ia juga membawa Jagat Maya di sisinya. Aku tak habis pikir, Ibu masih saja menjaga makhluk aneh itu. Kurasa Ibu sudah gila. Beberapa kali aku membangun jarak antara dia dan Jagat Maya, Ibu marah dan kondisinya semakin memburuk.

***

Hari itu suasana kelam. Semua orang dari keturunan golongan roh berkumpul memenuhi ruangan perawatan Ibu. Aku tak tahu apa yang sedang dan akan terjadi. Raja Agung mendekatkan wajahnya ke Ibu, mereka berbisik dan memangilku untuk mendekat. Seluruh orang di dalam ruangan tersentak, semua menatap ke arahku dengan sinis.

Aku mendekat. Raja Agung memindahkan Jagat Maya dari tangan Ibu ke tanganku. “Kau adalah Jagat Suci berikutnya, Mahesa.” Lalu Ibu menghembuskan napas terakhirnya. Semua orang menagis tanpa terkecuali aku. Aku mencengkram erat Jagat Maya, kutatap mahkluk aneh itu. Seketika amarahku muncul, semakin lama semakin kebencianku timbul kepada mahkluk kotor ini. “Kaulah penyebab kematian ibuku!” Aku sudah tak tahan lagi.

Kubawa Jagat Maya ke luar ruangan. Bergegas pulang, kucari cangkul lalu pergi ke belakang rumah. Aku bermaksud menanamnya agar membusuk di dalam tanah bersama kebencian dan kenangan burukku bersamanya. Setelah menggali dengan cukup, kumasukkan Jagat Maya dan kututup dengan tanah. Namun saat aku melakukannya, helai demi helai rambutnya mencengkram kakiku dengan sangat kuat.

Dalam sadarku, aku ditarik ke dasar tanah menuju alam yang gelap nan hampa. Tak tahu di mana dan ke mana aku akan pergi. Hanya satu yang kutahu, aku adalah Jagat Suci. Hal itu membuatku tenang dan damai.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).