BOPM Wacana

Ironi

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Sri Wahyuni Fatmawati P

Ilustrasi: Arman Maulana
Ilustrasi: Arman Maulana

Foto Cerpen YuniAku berjalan menyusuri gang kecil kumuh. Rumah-rumah petak bersusun-susun tinggi di kanan kiri jalan. Ditumpuk-tumpuk seperti kotak korek api. Rumah susun.

Sudah tiga hari akudi daerah ini, disuruh editorku. Agar aku jadi wartawan pertama yang tahu semua yang terjadi. Editorku yang gembul tak mau tahu keadaanku, yang dia mau tahu hanyalah media kami yang menjadikannya headline untuk pertama kali.

Rokok yang sedari tadi kuhisap hampir mampir ke bibirku. Aku barubertemu salah satu pejabat negara. Wawancara eksklusif. Bicara tentang krisis moneter. Bicara tentang nasib rakyat yang semakin hari semakin tak jelas. Dia bilang pemerintah akan mulai cari jalan keluar. Menjadikan Indonesia negara maju dengan ekonomi rakyat yang baik.Bah, yang benar saja?!

Aku tiba di depan kamarku. Lelah, aku ingin tidur. Baru saja aku pejamkan mata, terdengar suara orang bercakap.

“Ini keterlaluan, pemerintah tak boleh kayakgini. Tanah kita ini!,” suara pertama. Terdengar menggebu-gebu menahan amarah. Gusar.

“Tak boleh gegabah, kita ngobrol dulu sama pemerintah,” suara ini lebih tenang, kebapakan.

“Tapi, Pak, kita udah pernah bicara sama mereka. Mereka akan usir kita. Sudah berpuluh-puluh tahun kita di sini, apa tak cukup jadi bukti untuk mereka?!” Suara gusar itu lagi.

Suara kebapakan itu diam tak menyahut.

“Kalau mereka ambil tanah ini, kita semua harus tinggal dimana, Pak?” Kali ini terdengar khawatir.

Lama mereka terdiam. “Besok, kita blokir semua jalan masuk kampung,” suara kebapakan itu menyahut.

“Baik, Pak, saya akan kumpulkan warga,” sahut suara gusar itu. Sekarang terdengar mantap.

Lalu diam. Tak terdengar apa-apa lagi.

Aku terdiam. Suara kebapakan tadi milik Pak Amin, Ketua RT setempat. Kami bertemu saat mereka melakukan aksi menolak keras keputusan pemerintah mengenai daerah ini. Ini tanah pemerintah, kata pemerintah. Namun mereka yang sudah menempati daerah ini puluhan tahun lamanya bilang ini milik mereka. Hal ini menjadi pembicaraan hangat di media selama duapekan terakhir. Untuk itulah editor gembul itu menyuruhaku ke sini.

Jadi mereka akan melakukan aksi lagi, pikirku. Untung saja aku di sini, bisa mendengar hal ini langsung. Keberuntunganku sepertinya. Tak terasa pelupuk mataku terasa berat. Rasa kantuk itu menyerang kembali. Semilir angin menggiringku menuju alam mimpi. Bersiap untuk aksi esok hari.

***

Aku terbangun. Kulirik sekilas beker di atas nakas, jam 4 subuh. Sekilas aku lihat ada cahaya di luar sana. Ku buka pintu kamar. Melihat kebawah. Kamarku ada di lantai tiga. Tak ada siapa-siapa. Aku memuaskan rasa penasaranku. Tetap tak kutemukan siapa-siapa.

Saat itulah aku mendengar suara tangisan perempuan. Aku menajamkan pendengaranku. Tak hanya tangisan. Ada orang bercakap-cakap. Beberapa terdengar seperti berdebat. Lama-kelamaan suara-suara itu terdengar jelas. Suara-suara panik.

Seketika aku berlari ke dalam kamar, menyambar celana pendek dan jaket di atas meja. Tak lupa kameraku. Secepat yang ku mampu aku berlari menuju keramaian.

Di halaman rusun hiruk pikuk lebih terasa. Tangisan terdengar keras, dimana-mana. Pun makian di sana sini.Menghujat seseorang. Sekilas akulihat banyak orang berpakaian hitam-hitam. Sepertinya mereka yang sedang di usir oleh warga.

Aku belum mengerti apa yang terjadi. Tapi tanganku tetap menjepretkan kamera kemana saja. Pasti jadi dokumentasi menarik. Sekilas kulihat Pak Amin. Kasihan, dia didorong-dorong oleh seseorang.

“Pergi, pergi kalian! Ini rumah kami. Ini tanah kami! Kalian tak punya hak atas tanah ini!”

“Bakar! Bakar!”

“Tolong, jangan dibakar. Kami tak tahu mau tinggal dimana lagi.” Suara rintih perempuan.

“Dasar sial! Pergi kaliaaan! Pemerintah sialan! Apanya yang menyejahterakan rakyat. Rumah kami saja mau direbut!”

Hujatan, tangisan, terdengar sahut-sahutan. Semua panik. Membela diri. Kehilangan kontrol.

Kudekati Pak Amin. “Ada apa Pak? Kok ricuh?” tanyaku.

“Eh, Nak Ando, saya tak tahu, Nak,” sahutnya lirih.

Aku terdiam.

“Sialan mereka semua. Datang saat semua orang terlelap. Mengendap-endap seperti pencuri. Sial! Mereka memang pencuri!” tiba-tiba Pak Amin dihinggapi emosi.

“Mereka berniat membakar semua bangunan di sini, agar kami pergi dari tanah ini. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah, mereka bilang ini tanah mereka. Ini tanah kami! Dari kakek buyut saya kecil, beliau sudah di sini!,” lanjutnya lagi.Aku paham apa yang terjadi

“Apa Bapak yakin orang-orang tadi suruhan pemerintah?” tanyaku.

“Tentu saja, siapa lagi. Mereka licik. Nak Ando yang wartawan tentu lebih tahu kejamnya dunia perpolitikan Indonesia,” suara Pak Amin.

“Matikan apinya!”

“Cepat! Airnya mana! Air!”

“Sial, di sini terbakar! Air! Mana Air!”

Hiruk pikuk terjadi lagi. Beberapa sudut bangunan sudah mulai dilahap api. Aku dan Pak Amin segera membantumemadamkan api. Tak ada waktu untuk bercakap-cakap. Nasib dua ratusan orang di kampung ini sedang dipertaruhkan.

Api padam tiga puluh menit kemudian. Syukur tak terjadi kebakaran besar. Sepertinya semua warga juga selamat. Tapi nahas, kamarku yang terletak di bagian paling pinggir bangunan rusun hangus terbakar. Tak semua memang. Tapi cukup membuatku harus kehilangan baju-baju, handphone dan laptopku. Sial,Si Gembul nanti harus bertanggung jawab untuk ini semua.

***

Pukul 06.30 pagi. Aku bersiap-siap menuju kantorku. Melaporkan semua yang kudapat. Aneh, tak kulihat wartawan lain di sini. Mungkin masih sibuk meliput hasil sidang DPR tentang UU pilkada langsung. Atau aksi demontrasi mahasiswa di Bundaran SIB. Terkabul juga harapan editor gembulku, kami jadi yang pertama.

Sekilas kulirik ke arah kananku. Seorang anak kecil sedang menangis. Kepalanya terluka, darah mengalir terus. Beberapa orang dewasa mengobatinya. Aku ingat,dia anak laki-laki yang kemarin sore berlarian mengejar layangan putus di gang rusun.

Aku harus bergegas. Motorku melaju kencang. Di Jalan Sudirman aku melewati kafe—entah apa namanya. Seseorang berbaju olahraga sedang duduk, di hadapannya seorang lain dengan penampilan tak jauh beda. Tertawa santai, seolah tak ada beban.

Aku kenal mereka.Pejabat negara yang kemarin berkoar-koar di hadapanku tentang kesejahteraan rakyat. Satunya lagi, pejabat negara yang sering nongol disemua stasiun televisi, bicara tentang tingkat kemiskinan di Indonesia. Mereka selesai berolahraga dan sedang ngopi-ngopi.Tak tahu dua ratusan rakyat baru saja mempertaruhkan nyawa. Tak tahu apa hasil sidang di kantor mereka tentang pilkada. Tak tahu kalau ratusan mahasiswa mengayunkan parang, sedang menuntut penurunan harga pangan sembako dan BBM.

Aku berhenti, mengabadikan mereka dengan banyak gaya. Aku tersenyum.

Tak sabar rasanya ingin segera bertemu Si Gembul. Menceritakan semua yang kudapat hari ini. Ini akan jadi hari yang sangat panjang.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4