BOPM Wacana

Ipak

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

 

Oleh: Widiya Hastuti

“Engonko so tanoh Gayo si megah mureta dele. Rum batang nuyem si ijo, kupi, bakoe.”

Kutanya pada mamak yang sedang mengaduk kopi dalam kuali hitam di atas bara, kenapa kopi manis itu dihanguskan hingga pahit? Dia bilang di sela-sela nafasnya yang diberi pada bara, manusia punya hidup yang sulit jadi mereka butuh sesuatu yang pahit supaya bisa menikmati hidup. Aku tak setuju. Kalau hidup manusia sudah pahit mereka harus makan kopi manis agar hidupnya tak tambah pahit.

“ko belum dewasa, Ipak” kata mamak.

Aku sudah dewasa, kata bapak aku sudah dewasa. Aku bisa kutip sendiri kopi itu dengan pasti semua buah sudah merah. Tak ada satu buah hijau pun masuk dalam kutipanku. Aku bisa kutip kopi itu tanpa tangkai, tak ada satu bunga pun gugur. Kakiku bisa menanjaki gunung-gunung berduri. Aku bisa angkat kopi, kupas kopi, dan ubah kopi jadi hitam dan pahit walau aku lebih suka kopi manis.

Bapak juga bilang, kopi manis lebih enak. Musang makan kopi manis, tikus makan kopi manis, tupai makan kopi manis, burung makan kopi manis, semua makhluk makan kopi manis. Tapi manusia repot-repot buat kopi jadi pahit.

“Sudah, nanti kalau ko sudah besar ko tau kopi pahit lebih enak,” kata mamak sambil dorong kayu-kayu masuk ke dalam bara.

Sini kau kuberi tahu, kopi itu rasanya manis! Dan yang manis lebih enak. Kalau kau masuk ke dalam kebunku kopi-kopi manis punya tempat-tempat sendiri. Buahnya sebesar ujung ibu jarimu. Di atas dan kena matahari yang banyak. Warnanya merah, ingat harus merah. Kalau kuning dia belum manis. Paling enak buah yang merah setelah diguyur hujan terus kena panas, airnya banyak. Nah, aww, itu ulat yang bulunya punya gigi jadi dia gigit kalau kita sentuh. Sudah, kau coba saja sendiri. Nanti. Kapan-kapan. Kopi manis lebih enak!

Sore-sore, pulang dari makan kopi manis aku tanya mamak ke mana bapak? Mamak bilang bapak jual kopi. Aku heran. Aku tanya mamak, Apa itu jual?.

“Jual itu tukar kopi dengan kertas,”

“Kopi manis, Mak?”

“Kopi manis murah dijual, orang suka yang pahit.”

“murah itu apa mak?”

“kertasnya lebih sedikit.”

“Kenapa bapak mau kertas? Kertas nggak bisa dimakan kan, Mak?”

“Ko belum dewasa, Ipak.”

Aku heran. Kenapa bapak tukar kopi dengan kertas? Kami tidak makan kertas. Aku lebih suka kopi daripada kertas. Baik kopi manis atau pahit lebih baik dari kertas. Kenapa bapak butuh kertas? Akan kutanya bapak nanti. Kutunggu dia dengan kaki dicelup dalam lumpur. Petang-petang bapak pulang. Waktu kutanya bapak diam saja. Kenapa bapak diam saja? apa karena kertas?

Waktu matahari mengusir embun-embun, membangunkan entok-entok, mematangkan kopi-kopi orang datang. Dia bilang kopi bapak tak bagus jadi, cuma dapat kertas sedikit. Sejak itu bapak pendiam, dia tak suka lagi kopi manis. Dia cuma minum kopi pahit setiap hari. Apa bapak hidup bapak sudah lebih pahit dari kopi kayak kata mamak?

Kertas-kertas sudah tak ada. Aku tau bapak sudah lebih suka kopi pahit daripada kopi manis, tapi bapak lebih suka lagi kertas. Bapak bilang dia mau pergi.

“ke mana, Pak”

“Jauh, ikut matahari terbenam.”

“Bapak mau cari kertas,”

“Iya, Ipak. Matahari terbenam itu ada di sebelah laut, bapak ikut air laut.”

“kenapa bapak suka kertas? Kita dulu naik ke gunung-gunung itu nyanyi lagu untuk Burung Enggang ‘engonko so Tanoh Gayo si megah mureta dele, Rum batang nuyem si Ijo, kupi, bako e. –Lihatlah di sana Tanah Gayo yang megah berharta banyak, dengan pinus yang hijau, kopi, dan tembakau—“

“Kuuurrrr, semangatmu Ipak itu hanya tembang lama, uang lebih megah dari kopi dan tembakau,”

“Tapi aku lebih suka kopi manis”

“Ko belum dewasa, Ipak.” Kata bapak yang pergi mencari kertas-kertas ke arah matahari terbenam.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4