BOPM Wacana

Gedung Pencakar Langit Jadi Solusi Bertani Masa Depan

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Suratman

Ilustrasi: Suratman

Ketika petani menyoal kurangnya lahan bertani, siapa sangka gedung pencakar langit kini mampu dijadikan lahan bertani juga?Teknologi menjawab persoalan petani.

Tak melulu tahun ini kenaikan bahan pokok jadi soalan di masyarakat. Cabai, bawang, pun tak luput utamanya beras sebagai bahan pokok utama. Apalagi kurs rupiah saat ini turut melemah. Soal-soal krisis pun semakin buruk.

Barang jadi soal-soal itu dapat diselesaikan. Tapi, bagaimana petani memenuhi kebutuhan masyarakat? Lahan digarap jadi perkotaan. Pak Tani pun bingung mau menanam apa. Koar-koar bahan pokok naik. Lahan nyatanya tak ada. Siapa tak bingung?

Tapi, sekarang petani tak perlu ambil pusing. Siapa saja yang ingin bertani tapi tak miliki lahan, bisa mencoba cara terbaru ini. Apalagi kamu yang tinggal di perkotaan padat penduduk. Pastinya tak ada lahan untuk berkebun. Nah, sesuai perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi mampu menjawab permasalahan petani.

‘Low-Energy Paddy Vertical Farming Concept’merupakan sebuah gagasan bertani tanpa memerlukan sawah. Metode terbaru yang digagas lima orang mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung ini merupakan cara ampuh mengatasi kurangnya lahan bertani.

Dalam rancangan mereka, nantinya akan dibangun sebuah gedung ukuran 60×80 meter yang berlokasi di Kuningan, Jakarta Selatan. Gedung tersebut nantinya akan memiliki beberapa bagian. Lantai utama difungsikan sebagai kantor, lantai dua hingga sembilan sebagai tempat bertani padi, lantai sepuluh tempat menaruh tangki air, kemudian basement atau ruang bawah tanah sebagai gudang penyimpanan gabah.

Sedangkan kubah dengan bentuk elips dibangun di puncak gedung berbahan kaca setebal 4 milimeter dengan mengikuti sudut elevasi matahari di pagi hari, yaitu 29,45 derajat. Kubah difungsikan sebagai sistem skylighting.Sistem ini dibutuhkan karena banyak sisi gedung yang tidak terkena paparan sinar matahari, danpadadasarnya padi membutuhkan matahari lebih dari 500 PAR mol/meter persegi untuk fotosintesis.

Untuk cara kerjanya sendiri, saat sinar matahari menyinari kubah, cahaya matahari akan masuk ke terowongan kemudian akan dipantulkan oleh cermin cembung di dalam terowongan. Setelahnya, cahaya kembali dipantulkan ke cermin di setiap lantai. Cermin nantinya yang akan memancarkan cahaya matahari ke tanaman.

Pada dasarnya, pola bertani seperti ini sama halnya dengan bertani di sawah. Namun, bedasistem pengairannya yang memakai pompa. Lainnya, membajak, merawat, dan juga memupuk sama juga.

Selain itu, gedung ini sanggup memenuhi kebutuhan listriknya sendiri secara mandiri. Di mana terdapat dua panel surya yang dipasang padakedua sisi kubah untuk menghasilkan listrik. Tenaga matahari yang dihasilkan sebanyak 704 kilowatt-jam (kWh) per harinya. Digunakan untuk menghidupkan mesin, pompa air, lift, dan alat-alat kantor.

Dengan alat ini, nantinya dapat membantu Indonesiake depannya. Apalagi menyoal lahan untuk bertani yang semakin berkurang akibat pertumbuhan penduduk dan percepatan pembangunan yang gencar dilaksanakan.

Sementara itu, kelemahan pada inovasi ini adalah biaya pembangunan gedung yang amat mahal mencapai 40 miliar. Selain itu, efek dari penyinaran matahari pun belum diuji.

Tak melulu hanya sebuah inovasi, gagasan ini terbukti mendapat apresiasi besar, bahkan telah menyabet juara kedua dalam lomba Ashare International Competition (AIC) 2016. Ashare atau American Society of Heating, Refrigerating, and Air Conditioning Engineers merupakan suatu lembaga profesi bidang teknik di Amerika Serikat.

Semoga dengan inovasi bertani di gedung mampu menjawab persoalan-persoalan Indonesia ke depannya tentang masalah lahan yang tak tersedia. Pun, pemerintah harus terus berupaya membantu melakukan inovasi untuk pengembangan berikutnya. Agar nantinya kebutuhan bahan pokok dapat terpenuhi.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4